Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kecemburuan Arga


__ADS_3

Arga, Daffa dan Lola masih berada di ruangan Bianca. Mendengar apa yang Bianca dan Lola bicarakan tentang Bara membuat Daffa penasaran.


"Sepertinya kita harus keluar, biarkan mereka berdua mengobrol setelah lebih dari 3 bulan mereka tidak mengobrol!" ucap Dafa sambil mendorong Arga untuk keluar dari ruangan Bianca bersamanya.


Daffa kemudian duduk di depan ruangan Bianca bersama Arga, karena memang ia sengaja ingin mengobrol berdua bersama Arga.


"Siapa kak Bara? apa kau mengenalnya?" tanya Daffa pada Arga.


"Aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku tahu jika dia adalah satu-satunya laki-laki yang Bianca suka," jawab Arga.


"Benarkah? jadi selama ini Bianca sudah menyukai laki-laki lain?" tanya Daffa terkejut.


"Mereka sudah saling mengenal jauh sebelum aku mengenal Bianca dan sudah sejak lama juga Bianca menyukainya."


"Apa mereka sudah memiliki hubungan khusus?" tanya Daffa yang dibalas gelengan kepala oleh Arga.


"Kalau begitu itu bukan masalah, selama mereka tidak memiliki hubungan khusus kau bisa terus menunjukkan pada Bianca bagaimana kau sangat mencintainya, aku yakin Bianca akan menyadarinya dan melupakan laki-laki itu," ucap Daffa.


"Itu bukan hal yang mudah bagiku Daffa, Bianca bukan perempuan yang mudah tergoda oleh materi ataupun fisik laki-laki, dia sangat menyukai Bara karena dia berpikir jika Bara adalah laki-laki satu-satunya yang tulus padanya," balas Arga tak percaya diri.


"Meskipun itu tidak mudah bagimu tapi kau tidak akan menyerah bukan?" tanya Daffa memastikan.


"Tidak ada apapun yang membuatku menyerah untuk mendapatkan Bianca, aku tidak peduli sejauh apa hubungan mereka berdua, aku akan tetap berusaha untuk membuat Bianca jatuh cinta padaku," jawab Arga.


"Kalau begitu kau harus yakin pada dirimu sendiri, kau pasti bisa melakukan hal itu, aku dan Lola pasti akan mendukungmu," ucap Daffa.


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


Di sisi lain Daffa masih menyimpan banyak pertanyaan tentang Bara, laki-laki yang begitu disukai oleh Bianca. Ia ingin tahu seperti apa laki-laki yang sudah berhasil merebut hati Bianca dan ia menyimpan banyak pertanyaan itu untuk ia tanyakan pada Lola saat Lola sudah meninggalkan ruangan Bianca.


Sebagai sahabat Daffa pasti mendukung Arga dan membantu Arga untuk mendekati Bianca, terlebih saat ia tahu bagaimana Arga sangat mencintai Bianca bahkan hampir mengakhiri hidupnya hanya demi Bianca yang sudah tidak memiliki harapan hidup saat itu.


Sempat terbesit di kepalanya jika ia ingin memberitahu Bianca tentang apa yang Arga lakukan saat itu, namun ia mengurungkan niatnya setelah Mama Arga memberitahu Daffa tentang apa yang Arga katakan pada mama dan papanya.


"Jangan memberitahu Bianca tentang apapun yang terjadi saat Bianca koma, terlebih tentang bagaimana sikap Arga dan apa saja yang Arga lakukan demi Bianca, Arga tidak ingin Bianca merasa bersalah dan merasa terbebani atas apa yang sudah terjadi, jadi tetap rahasiakan hal itu karena itu adalah permintaan Arga."


Itu adalah ucapan Nadine pada Daffa saat Nadine menghubungi Daffa untuk memberitahu keadaan Bianca.


Daffa menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya pada dinding di belakangnya. Ekor matanya menatap Arga yang hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong.


"Jangan terlalu memikirkannya, Arga Narendra pasti akan mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Daffa sambil menepuk pelan bahu Arga.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


Tak lama kemudian Lola keluar menghampiri Arga dan Daffa.


Lola dan Daffa kemudian berpamitan pulang, sedangkan Arga segara kembali masuk ke ruangan Bianca lalu duduk di samping Bianca.


"Rasanya aku masih tidak percaya jika kak Bara benar-benar tidak menghubungiku sama sekali," ucap Bianca dengan memanyunkan bibirnya kesal.


"Bukankah itu artinya dia tidak memiliki perasaan apapun padamu?" tanya Arga.


"Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat kak Bara sama sekali tidak menghubungiku selama lebih dari 3 bulan," jawab Bianca yang masih berusaha untuk tetap berpikir positif.


"Kenapa kau bisa saya yakin itu Bianca? dia bahkan belum membaca pesanmu bukan?" tanya Arga.


Bianca hanya menghela nafasnya sambil menatap ponsel miliknya yang ada di meja.


"Beristirahatlah, jangan terlalu memikirkan apapun yang memberatkanmu, fokus saja pada dirimu sendiri agar kau segera pulih dan bisa kembali ke rumah," ucap Arga.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu membaringkan badannya dan Argapun segera menarik selimut Bianca sampai menutup dada Bianca.


"Apa kau akan tetap disini?" tanya Bianca pada Arga yang masih duduk di samping ranjangnya.

__ADS_1


"Tentu saja, kenapa?" balas Arga.


"Kau membuatku tidak bisa tidur jika kau terus duduk disini," ucap Bianca.


"Baiklah, aku akan duduk di sofa, kau beristirahatlah," balas Arga lalu beranjak dari duduknya, membelai pelan rambut Bianca lalu membawa langkahnya untuk duduk di sofa.


Bianca hanya terdiam menatap Arga yang kini sudah duduk di sofa dengan membaca buku. Entah kenapa ia merasa sikap Arga berbeda padanya.


"Mungkin hanya perasaanku saja, dia memang berusaha untuk memperlakukanku dengan baik selama ini, jadi mungkin karena aku sedang berada di rumah sakit dia jadi semakin bersikap baik padaku," ucap Bianca dalam hati lalu memejamkan matanya.


Di sisi lain, Arga yang sedang membaca buku diam-diam membawa ekor matanya ke arah ranjang Bianca, memastikan jika Bianca benar-benar sudah tertidur.


"Aku memang tidak tahu apa yang membuatmu begitu mempercayai Bara, tapi aku yakin jika aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku suatu saat nanti," ucap Arga dalam hati dengan menatap Bianca yang sudah tertidur saat itu.


**


Waktu berlalu, hari telah berganti. Pagi itu Arga sengaja berangkat terlambat karena ia ingin menemani Bianca untuk melakukan terapi.


"Kenapa belum berangkat ke kantor?" tanya Bianca pada Arga yang baru saja duduk di samping Bianca.


"Aku ingin menemanimu melakukan terapi," jawab Arga sambil membantu Bianca untuk duduk.


Tak lama kemudian dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Bianca, suster kemudian meminta Bianca untuk duduk di kursi roda karena Bianca harus segera melakukan terapi.


Dengan sigap Arga segera mengangkat tubuh Bianca dari ranjang dan menundukkannya dengan hati-hati di kursi roda lalu mendorong kursi roda itu keluar.


"Saya dokter Galih, mulai hari ini setiap pagi dan sore hari saya akan menemanimu melakukan terapi, saya harap kau bisa memiliki kemauan yang tinggi agar keadaanmu cepat pulih," ucap dokter muda dan tampan yang sudah berada di tempat terapi.


"Baik dok, Bianca akan melakukan terapi dengan penuh semangat setiap hari," balas Bianca dengan penuh senyum.


"Bagus sekali, saya suka semangatmu!" ucap dokter Galih sambil menepuk pelan kepala Bianca.


Melihat hal itu, Arga hanya bisa menahan emosinya tapi sepertinya ia bukan sedang emosi, melainkan cemburu melihat dokter tampan itu yang tampak begitu ramah pada Bianca.


Biancapun hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Dokter galih kemudian berjongkok di hadapan Bianca, memegang kedua kaki Bianca dan membawa kaki Bianca menginjak lantai dengan hati-hati.


"Cobalah untuk berdiri dengan memegang tangan saya, percayalah pada dirimu sendiri bahwa kau pasti bisa melakukannya!" ucap dokter Galih pada Bianca.


Bianca yang saat itu tidak bisa merasakan apapun pada kakinya merasa ragu untuk melakukan hal itu. Namun karena ia harus segera pulih ia berusaha untuk membulatkan tekadnya melawan ketakutan dan keraguannya.


Bianca kemudian memegang kedua tangan dokter Galih yang berdiri di hadapannya dan berusaha untuk beranjak dari duduknya meskipun ia merasa sangat kesusahan.


"Kau pasti bisa Bianca, percaya pada kemampuanmu sendiri," ucap dokter Galih berusaha memberi semangat pada Bianca.


"Sepertinya ini tidak semudah yang Bianca bayangkan," ucap Bianca dengan kedua tangannya yang bergetar.


"Kau pasti bisa Bianca, jangan ragu untuk melakukannya!" ucap Arga yang saat itu berdiri di belakang Bianca untuk memegang kursi roda Bianca.


Bianca lalu menjatuhkan dirinya di kursi rodanya bahkan sebelum ia sempat berdiri dengan tegak.


"Aku tidak bisa Arga.... aku.... aku benar-benar lumpuh sekarang," ucap Bianca yang mulai ketakutan.


"Tidak Bianca, kau tidak lumpuh, keadaanmu akan segera membaik jika kau rajin melakukan terapi, aku yakin kau pasti bisa Bianca," balas Arga yang berusaha meyakinkan Bianca.


"Aku bahkan tidak bisa merasakan kakiku sama sekali, kakiku seperti tidak memiliki tenaga untuk menopang beban tubuhku sendiri," ucap Bianca.


"Ini hal yang wajar terjadi Bianca, jangan takut dan jangan ragu cobalah lagi, saya akan menangkapmu jika kau terjatuh!" ucap dokter Galih.


Setelah berusaha untuk menepis semua ketakutan dan keraguannya, Bianca kembali memegang kedua tangan dokter Galih yang ada di hadapannya. Dengan kedua tangannya yang bergetar, Bianca mengerahkan seluruh tenaganya agar ia bisa berdiri.


Untuk sepersekian detik Bianca berhasil meninggalkan kursi rodanya dan berdiri tegak sebelum akhirnya ia terjatuh di hadapan dokter Galih.

__ADS_1


Dengan sigap dokter Galih menahan Bianca, membuat mereka berdua seolah berpelukan saat itu.


Melihat hal itu, Arga segera mengunci kursi roda Bianca lalu mendekati Bianca dan membawa Bianca kembali duduk di kursi rodanya.


"Apa yang dokter lakukan pada istri saya? tolong jangan keterlaluan!" ucap Arga penuh emosi pada dokter Galih.


"Saya hanya berusaha menangkapnya saat dia akan terjatuh, apa saya salah melakukan hal itu?" balas dokter Galih.


"Tentu saja salah, dokter....."


"Arga... sudahlah, dokter hanya membantuku, kakiku tidak cukup kuat untuk menahanku berdiri jadi aku terjatuh dan dokter berusaha menahanku," ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil menarik tangan Arga agar menjauh dari hadapan dokter Galih.


"Dia sudah bersikap kurang ajar padamu Bianca!" ucap Arga yang masih terlihat emosi.


"Sebelum saya melakukan terapi ini saya sudah mengatakan jika saya dan Bianca akan terlibat banyak kontak fisik, saya juga sudah mengingatkan agar tidak ada kesalahpahaman jika hal itu terjadi!" sahut dokter Galih.


"Terima kasih atas waktu dan niat baik dokter, tapi sepertinya saya sudah tidak membutuhkan dokter untuk membantu Bianca terapi," ucap Arga yang segera mendorong kursi roda Bianca pergi meninggalkan dokter Galih.


"Arga apa yang kau lakukan? kenapa kau bersikap seperti itu pada dokter Galih?" tanya Bianca Arga yang terus mendorong kursi rodanya menjauh dari dokter Galih.


"Aku akan mencari dokter yang lebih baik daripada dokter Galih," balas Arga yang berusaha untuk menahan emosinya.


"Ada apa denganmu Arga? apa yang salah dengan dokter Galih? dokter Galih hanya menjalankan tugasnya dan dia....."


"Berhenti menyebut namanya Bianca, kau membuatku sangat kesal!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


Biancapun hanya menghela nafasnya membiarkan Arga bertindak semaunya.


Namun setelah Arga berkonsultasi dengan dokter, tidak ada satupun dokter yang lebih baik dari dokter Galih untuk melakukan terapi pada Bianca.


Alhasil, Arga tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan dokter Galih yang membantu Bianca untuk melakukan terapi.


"Bagaimana? apa kau sudah menemukan dokter lain yang lebih baik daripada dokter Galih?" tanya Bianca pada Arga.


Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu membawa dirinya duduk di samping ranjang Bianca.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Bianca.


"Aku tidak punya pilihan lain, tapi aku akan membuat kesepakatan dengan dokter Galih agar dia tidak melakukan hal yang kurang ajar padamu," jawab Arga.


"Kau sangat berlebihan Arga, dokter Galih bukan orang seperti itu, dia hanya melakukan tugasnya sebagai dokter yang membantu terapiku," ucap Bianca.


"Kau baru mengenalnya Bianca, kau tidak tahu bagaimana dan apa yang dia pikirkan tentangmu!" balas Arga.


"Baiklah terserah kau saja, sekarang cepat pergi ke kantor, kau sudah sangat terlambat!" ucap Bianca.


"Aku akan pulang cepat hari ini, jadi jangan melakukan terapi sebelum aku pulang!" ucap Arga lalu mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kantor.


"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu dan jangan menemui dokter Galih tanpa sepengetahuanku atau aku akan sangat marah!" ucap Arga dengan membelai pelan rambut Bianca lalu berjalan keluar dari ruangan Bianca.


"Ada apa dengannya? tidak mungkin dia cemburu bukan?" tanya Bianca dalam hati sambil menatap Arga yang sudah berjalan keluar dari ruangannya.


Di sisi lain, sebelum berangkat ke kantor, Arga menemui dokter Galih terlebih dahulu.


"Saya sudah mendengarnya dari dokter yang menangani Bianca, terima kasih sudah mempercayakan Bianca pada saya," ucap dokter Galih pada Arga saat Arga baru saja masuk ke ruangannya.


"Saya kesini hanya ingin memperingatkan dokter agar tidak bersikap berlebihan pada Bianca, dia istri saya dan saya tidak akan membiarkan siapapun mendekatinya," ucap Arga tanpa basa-basi.


Dokter galih tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Arga yang masih berdiri di dekat pintu ruangannya.


"Tolong jangan salah paham, saya akan melakukan yang terbaik untuk Bianca secara profesional, jadi saya harap kita bisa saling memahami dan tidak akan terjadi salah paham lagi ke depannya," balas Dokter Galih sambil mengulurkan tangannya pada Arga.


"Saya pegang ucapan dokter Galih dan saya pastikan dokter Galih akan menyesal jika dokter Galih melakukan hal yang tidak seharusnya dokter lakukan pada istri saya," ucap Arga dengan menjabat tangan dokter Galih dengan sangat erat.

__ADS_1


Dokter Galihpun hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Arga kemudian menarik tangannya lalu keluar dari ruangan dokter galih tanpa permisi, membuat dokter Galih hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Arga.


__ADS_2