
Langit cerah mulai menyapa Minggu pagi. Arga baru saja meninggalkan kantin rumah sakit setelah ia menghabiskan waktunya beberapa lama hanya untuk mengisi perutnya yang kosong sejak semalam.
Arga membawa langkahnya masuk ke ruangan Bianca, menatap Bianca beberapa saat lalu tersenyum kemudian duduk di sofa untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Satu jam berlalu, Arga menutup laptopnya lalu merapikan meja di hadapannya. Arga kemudian membawa langkahnya untuk duduk di samping ranjang Bianca.
"Kapan putri tidurku akan bangun dari tidur panjangnya?" Tanya Arga dengan tersenyum pilu, menatap Bianca yang seolah tidak menghiraukannya.
Arga menggenggam tangan Bianca lalu memberikan kecupan singkatnya sebelum ia membaringkan kepalanya di samping Bianca.
Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia mengingat kembali saat-saat pertama ia bertemu Bianca, saat ia dan Bianca menikah, saat ia dan Bianca menghabiskan waktu berdua, saat pertama kali ia memeluk Bianca sampai saat Bianca tiba-tiba mendaratkan kecupan singkat di bibir Arga.
Arga tersenyum tipis mengingat semua hal yang sudah terjadi antara dirinya dan Bianca. Mengingatnya saja sudah membuat Arga merasa bahagia. Cinta dalam hatinya seolah semakin merekah saat memori kebersamaan mereka memenuhi kepala Arga.
Tiba-tiba Arga merasa sesuatu bergerak dalam genggaman tangannya, membuat Arga segera mengangkat kepalanya dan menatap Bianca yang masih terpejam.
"Sepertinya aku terlalu larut dalam kenangan kita, aku bahkan merasa jika jarimu bergerak dalam genggaman tanganku," ucap Arga dengan tersenyum tipis.
Arga kemudian melepaskan tangan Bianca dari genggaman tangannya dan kembali membaringkan kepalanya di samping Bianca dengan menatap jari-jari Bianca yang ada di hadapannya.
Namun tiba-tiba Arga melihat jari-jari Bianca bergerak dengan sangat pelan, membuat Arga begitu terkejut dan kembali mengangkat kepalanya untuk memastikan apa yang dilihatnya.
"Apa aku hanya berimajinasi?" Batin Arga bertanya dalam hati.
Arga kemudian menatap jari-jari Bianca dan kini ia yakin jika Bianca memang sudah menggerakkan jarinya dengan pelan.
"Bianca, apa kau mendengarku? Bangunlah Bianca, aku mohon bangunlah, tunjukkan pada semua orang bahwa keyakinanku tentangmu menang benar!"
Bianca masih terpejam, namun jari-jarinya masih terlihat bergerak dengan sangat pelan.
Arga kemudian menekan tombol yang ada di dekat ranjang Bianca dan tak lama kemudian dokterpun datang.
"Saya melihat jari-jarinya bergerak dok, saya yakin dia sudah mengerakkan jari-jarinya!" Ucap Arga pada dokter.
"Saya akan memeriksanya lebih dulu, silakan menunggu di luar sebentar," balas dokter.
Dokter kemudian memeriksa keadaan Bianca, sedangkan Arga sudah keluar dari ruangan Bianca.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter akhirnya keluar dari ruangan Bianca dengan tersenyum.
"Apa dia sudah sadar dok? Apa istri saya sudah bangun?" Tanya Arga tak sabar.
"Selamat, penantian panjang untuk menunggu kesadaran pasien sudah berakhir, pasien saat ini masih tertidur, mungkin beberapa jam lagi pasien akan bangun," jawab dokter yang membuat Arga seketika jatuh terduduk di kursi yang ada di depan ruangan Bianca.
Apa yang dokter katakan seolah membuka dunia baru Arga. Tinggal menunggu beberapa jam lagi dan penantian panjangnya akan berakhir. Keyakinannya pada Bianca benar-benar membawa keajaiban pada Bianca.
"Dia akan segera bangun dalam waktu dekat, jadi silakan masuk dan temani dia," ucap dokter sambil menepuk pelan bahu Arga.
"Terima kasih dok," ucap Arga dengan kedua mata berkaca-kaca.
Arga kemudian segera beranjak dari duduknya lalu masuk ke ruangan Bianca. Dengan penuh senyum Arga duduk di samping ranjang Bianca tanpa mengatakan apapun bahkan tanpa menyentuh Bianca sedikitpun.
"Aku tidak akan mengatakan apapun dan tidak akan menyentuhmu sedikitpun karena aku tau kau benar-benar sedang tidur saat ini, aku akan membiarkanmu bangun setelah kau puas tertidur," ucap Arga dalam hati dengan menatap kedua mata Bianca yang masih terpejam rapat.
Satu jam berlalu, Arga masih duduk dengan menatap Bianca tanpa berpaling sedetikpun. Ia ingin hanya dirinyalah yang Bianca lihat saat Bianca pertama kali membuka matanya.
Meskipun hanya diam tanpa melakukan apapun, senyum di wajah Arga tidak pernah hilang sedikitpun, justru degup jantungnya semakin berdetak kencang menunggu detik-detik bangunnya Bianca dari tidur panjangnya.
Saat Arga tengah menatap wajah cantik Bianca, tiba-tiba Arga melihat mata Bianca yang mulai bergerak sampai akhirnya kedua mata yang Arga lihat itu benar-benar mulai mengerjap dan dengan perlahan terbuka.
Seketika kedua mata Arga berkaca-kaca melihat Bianca yang benar-benar sudah terbangun dari tidur panjangnya.
Bianca yang saat itu baru sadar hanya terdiam dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya tanpa menyadari jika ada Arga di hadapannya yang duduk dengan air mata menggenang di kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Bianca, apa kau bisa melihatku? Apa kau bisa mendengarku?" tanya Arga yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya menatap Arga.
Bianca hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, membuat Arga seketika beranjak dari duduknya dan segera memeluk Bianca yang masih terbaring di atas ranjang.
"Terima kasih Bianca, terima kasih sudah bertahan dan berjuang!" ucap Arga yang tidak bisa menahan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya.
"Arga....." ucap Bianca sambil sedikit merintih karena Arga tiba-tiba memeluk dirinya yang masih berbaring.
"Maafkan aku, aku hanya terlalu senang," ucap Arga yang segera beranjak sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Apa kau menangis?" tanya Bianca yang melihat mata Arga tampak merah.
Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum sambil menggenggam tangan Bianca.
Bianca hanya terdiam, membiarkan Arga menggenggam tangannya, bukan karena ia sengaja membiarkan Arga melakukan hal itu melainkan karena ia sedang berusaha untuk mengingat apa yang terjadi padanya yang membuatnya terbaring di rumah sakit.
Tak lama kemudian Bianca teringat apa yang terjadi padanya dan Arga saat di jalan raya pagi itu.
Bianca mengingat dengan jelas saat dirinya berlari dan mendorong Arga agar terhindar dari mobil yang melaju kencang, ia juga ingat bagaimana mobil itu menghantamnya dengan keras, membuatnya terpental dan terbentur trotoar jalan raya.
Untuk beberapa saat Bianca masih tersadar dan mendengar teriakan serta samar-samar melihat banyak orang mulai berkumpul di sekitarnya hingga akhirnya pandangannya benar-benar gelap dan tidak ada suara apapun lagi yang ia dengar.
"Arga, sepertinya ada yang salah denganku," ucap Bianca saat ia merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya.
"Ada apa Bianca? apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Arga.
"Tanganku terasa sangat lemah dan aku tidak bisa menggerakkan kakiku, apa yang terjadi padaku Arga? apa aku lumpuh? apa kakiku patah? Apa aku....."
"Tidak Bianca, kau baik-baik saja, jangan panik, aku akan memanggil dokter agar memeriksa keadaanmu," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
Arga kemudian menekan tombol merah yang ada di dekat ranjang Bianca dan tak lama kemudian dokterpun datang untuk memeriksa keadaan Bianca.
"Saya merasa tangan saya sangat lemah Dok, saya bahkan tidak bisa menggerakkan kaki saya," ucap Bianca pada dokter.
"Lebih dari 3 bulan? apa saya sudah berada di sini lebih dari 3 bulan?" tanya Bianca yang terkejut mendengar penjelasan dokter.
Dokter menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu membawa pandangannya pada Arga.
"Cinta memang penuh keajaiban, bahkan mengalahkan pengetahuan medis yang sudah puluhan tahun saya pelajari sebagai dokter," ucap dokter dengan tersenyum.
"Apa maksud dokter? kenapa tiba-tiba dokter berbicara seperti itu?" tanya Bianca tak mengerti.
"Yang terpenting sekarang semuanya baik-baik saja dan jangan lupa untuk selalu mengikuti terapi setiap hari, saya yakin tidak lebih dari satu minggu semuanya akan kembali normal," ucap dokter tanpa menjawab pertanyaan Bianca lalu berpamitan untuk keluar dari ruangan Bianca.
Kini hanya ada Bianca dan Arga disana.
"Kenapa dokter tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti itu? apa terjadi sesuatu yang aku tidak tahu?" tanya Bianca pada Arga.
"Banyak hal yang terjadi selama kau koma Bianca, salah satunya adalah saat aku menyadari bahwa aku....."
"Aahh ya, aku koma masih selama 3 bulan bukan? bagaimana dengan kak Bara? apa kau membawa ponselku? apa kau melihat kak Bara menghubungiku? dia pasti sangat mengkhawatirkanku jika selama 3 bulan aku tidak mengabarinya sama sekali," tanya Bianca memotong ucapan Arga.
Seketika Arga terdiam dengan menghela nafasnya mendengar pertanyaan Bianca yang tampak mengkhawatirkan Bara, laki-laki yang bahkan sama sekali tidak menghubungi Bianca sejak Bianca berada di rumah sakit.
"Kau baru sadar dari koma selama 3 bulan Bianca dan yang pertama kali kau tanyakan padaku adalah Bara, apa kau serius?" balas Arga yang berusaha menahan kekesalannya.
"Kak Bara pasti mengkhawatirkanku Arga, apa kau membawa ponselku sekarang? bisakah kau memberikannya padaku?" tanya Bianca.
Argapun beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel Bianca yang memang selama ini dia bawa kemudian memberikannya pada Bianca.
Karena tangannya yang masih lemah, Bianca tidak bisa memegang ponselnya dengan baik.
"Arga, tolong bantu aku untuk bersandar!" ucap Bianca pada Arga.
__ADS_1
Argapun membantu Bianca untuk duduk bersandar di atas ranjangnya kemudian meletakkan ponsel Bianca di pangkuannya.
Biancapun memeriksa ponselnya mulai dari riwayat panggilan hingga pesan yang masuk, namun sama sekali tidak ada panggilan ataupun pesan masuk dari Bara.
"Kenapa sama sekali tidak ada panggilan ataupun pesan dari kak Bara? apa kau menghapusnya?" tanya Bianca pada Arga.
"Untuk apa aku melakukan hal itu, dia memang sama sekali tidak menghubungimu sejak kecelakaan itu," balas Arga.
"Tidak mungkin, pasti kau menghapusnya!" ucap Bianca tak percaya lalu segera menghubungi Bara.
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan tersambung namun sama sekali tidak ada jawaban dari Bara, Bianca mencobanya sampai beberapa kali dan tetap saja nihil, Bianca kemudian mengirim pesan pada Bara.
"Tolong hubungi Bianca jika kak Bara sudah tidak sibuk."
5 menit Bianca menatap layar ponselnya dan belum ada balasan apapun dari Bara, bahkan pesannya belum mendapatkan centang dua yang artinya Bara belum membaca pesan Bianca.
"Sudahlah Bianca jangan terlalu memikirkannya, kau baru bangun dari tidur panjangmu, semua orang mengkhawatirkanmu tetapi kau malah mengkhawatirkan Bara yang bahkan tidak tahu bagaimana keadaanmu!" ucap Arga.
"Apa mama dan papa mengetahui apa yang terjadi padaku?" tanya Bianca.
"Tentu saja, mama dan papa setiap hari menemanimu disini, Lola dan Daffa juga sering datang kesini untuk menjengukmu," jawab Arga.
"Aku pasti sudah merepotkan banyak orang," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.
"Kalau kau memang merasa merepotkan banyak orang cepatlah sembuh dan keluar dari rumah sakit," balas Arga lalu mengambil ponsel Bianca yang ada di pangkuan Bianca dan menaruhnya di meja.
"Menyebalkan sekali, dia bilang semua orang mengkhawatirkanku tetapi dia sama sekali tidak terlihat mengkhawatirkanku, dia malah marah padaku hanya karena aku menanyakan tentang kak Bara," gerutu Bianca dalam hati.
"Aku akan menghubungi Mama dan papa, mereka pasti senang melihatmu," ucap Arga yang segera menghubungi kedua orang tuanya.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia memikirkan tentang apa yang sudah ia lakukan.
"Aku koma disini selama 3 bulan hanya karena aku berusaha menyelamatkan Arga dari kecelakaan itu, kenapa aku melakukan hal itu? kenapa aku melakukan hal yang membahayakan nyawaku hanya demi dia? laki-laki yang hanya sebatas suami di atas kontrak bagiku," batin Bianca bertanya dalam hati.
Bianca menghela nafasnya panjang sambil berusaha menggerakkan kedua kakinya.
"Aku harus bisa segera sembuh dan menjalani hari-hariku dengan normal, aku tidak ingin merepotkan siapapun apalagi orang tua Arga, Lola ataupun Daffa," ucap Bianca dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan Bianca? apa kau masih memikirkan Bara?" tanya Arga yang duduk di samping Bianca setelah Arga menghubungi orang tuanya.
"Kak Bara pasti sedang sibuk dengan kegiatannya, dia pasti akan segera membalas pesanku setelah dia membacanya," balas Bianca.
Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu menggenggam tangan Bianca.
Namun seketika Bianca menggeser tangannya dari genggaman Arga, membuat Arga tersadar jika ia tidak bisa sembarangan menyentuh Bianca seperti saat Bianca masih dalam keadaan koma.
"Apa kau sangat mencintainya Bianca?" tanya Arga tanpa membawa pandangannya ke arah Bianca.
"Kau sudah tahu apa jawabanku jadi jangan pernah menanyakannya lagi," jawab Bianca.
"Baiklah," balas Arga.
"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya terlihat berbeda padaku? saat dia marah tentang kak Barapun dia sama sekali tidak berbicara dengan nada tinggi, tetapi aku bisa tahu jika dia sedang kesal hanya dengan melihat raut wajahnya," batin Bianca bertanya dalam hati.
Si sisi lain Arga memikirkan tentang apa yang seharusnya ia lakukan pada Bianca yang baru saja sadar dari komanya.
"Aku tidak bisa memberitahu Bianca tentang bagaimana perasaanku saat ini, dia tidak akan mungkin mempercayaiku dan bisa jadi dia akan semakin menjauhiku, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah terus mendekatinya dan membuatnya tahu dengan sendirinya jika aku jatuh cinta padanya," ucap Arga dalam hati.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Bianca yang saat itu juga tengah menatap dirinya.
Kedua mata mereka saling menatap untuk beberapa saat dengan pikiran mereka masing-masing yang tidak diketahui satu sama lain.
__ADS_1