
Sudah cukup lama Bianca dan Arga duduk di dalam mobil, sampai langit barat mulai tergores cahaya jingga.
"Sepertinya dia tidak ada di rumah orang tuanya," ucap Arga yang melihat ke arah jendela kamar Lola.
"Lola biasa menyalakan lampu kamarnya saat benar-benar sudah gelap, kita tunggu saja," balas Bianca.
Benar saja, setelah hari benar-benar sudah gelap, lampu kamar Lola tampak menyala.
"Dia ada di rumah, Arga!" ucap Bianca senang.
"Kau benar, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Arga.
"Apa sebaiknya kita ke rumahnya saja? setidaknya kita tau jika Lola ada di rumah, Lola pasti tidak akan membiarkan orang tuanya mengusir kita bukan?" balas Bianca.
"Sebelum Lola menyadari kedatanganmu, satpam rumahnya tidak akan mengizinkanmu masuk Bianca!"
"Aahh iya, kau benar," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.
Saat Bianca dan Arga tengah berpikir tentang apa yang harus mereka lakukan, tiba-tiba Bianca melihat Lola yang menjatuhkan dirinya dari atas pagar rumahnya.
Bianca melihat Lola yang berlari meninggalkan rumah mewahnya dengan kaki yang tampak terluka.
"Arga, itu Lola!" ucap Bianca pada Arga.
Tanpa menunggu lama, Argapun mengendarai mobilnya mendekati Lola. Namun karena ketakutan, Lola terus berlari tanpa ia tau jika seseorang yang berada di dalam mobil yang mendekatinya adalah Bianca dan Arga.
"Lola berhentilah, ini aku!" ucap Bianca yang membuat Lola seketika berhenti dan membawa pandangannya pada Bianca.
"Bianca!"
Bianca segera turun dari dalam mobil lalu segera menghampiri Lola.
"Ayo masuklah!" ucap Bianca sambil membantu Lola masuk ke dalam mobil.
Arga kemudian mengendarai mobilnya pergi dari perumahan itu.
"Lola, apa yang terjadi padamu? mereka memukulmu lagi?" tanya Bianca yang memperhatikan luka dan lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh Lola.
"Kenapa kau kesini Bianca? kenapa kau bersama Arga?" tanya Lola tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu Lola, aku tidak punya pilihan lain selain mengajak Arga kesini, karena Arga juga aku bisa masuk kesini," jawab Bianca.
"Apa kau menceritakan semuanya pada Arga?" tanya Lola.
"Tidak, aku hanya..... aku....."
"Aku yang memaksanya untuk bercerita, tapi tidak banyak yang dia ceritakan padaku," sahut Arga.
"Seharusnya kau tidak perlu kesini Bianca, kau tau aku tidak suka jika orang lain mengetahui apa yang terjadi padaku!" ucap Lola.
"Aku minta maaf Lola, aku....."
"Kau mengingkari janjimu Bianca," ucap Lola memotong ucapan Bianca.
"Aku memang salah, tapi aku melakukan ini karena aku mengkhawatirkanmu Lola!" balas Bianca.
"Kau....."
Lola menghentikan ucapannya, tiba-tiba ia terlihat meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.
Lola merasa tangannya basah oleh sesuatu di kepalanya lalu melihat tangannya yang sudah berlumuran darah dari kepalanya.
"Lola.... Arga kita harus ke rumah sakit sekarang!" ucap Bianca pada Arga.
"Tidak perlu..... Bianca...."
BRUUGG
Lola ambruk di samping Bianca. Biancapun menahan tubuh Lola yang sudah pingsan di sampingnya, berharap agar ia segera sampai di rumah sakit sebelum keadaan Lola memburuk.
Saat mereka sudah sampai di rumah sakit, Lolapun segera di bawa ke ruang UGD. Setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Lola segera dipindahkan ke ruang rawat.
Beruntung tidak ada hal buruk yang terjadi pada Lola. Kepalanya berdarah karena lapisan luar kepalanya terluka dan itu bukanlah luka yang serius menurut penjelasan dokter.
Bianca kini hanya bisa terdiam, duduk di samping ranjang Lola, berharap agar Lola segera sadar.
"Kau belum makan malam Bianca," ucap Arga pada Bianca.
__ADS_1
"Aku tidak lapar," balas Bianca.
"Tapi kau harus tetap makan, tunggu disini, aku akan membeli makanan untukmu," ucap Arga lalu berjalan keluar untuk mencari makanan.
Tak lama kemudian Arga kembali dengan membawa makanan untuk Bianca.
"Lola pasti sangat marah padaku, aku memang sahabat yang buruk, aku mengingkari janjiku sendiri padanya," ucap Bianca dengan raut wajah yang muram.
"Jangan terlalu memikirkannya, Lola hanya kesal padamu, lagipula kau melakukan hal itu untuk membantunya," balas Arga.
"Tentang apa yang aku katakan padamu mengenai Lola, bisakah kau merahasiakannya? aku mohon padamu Arga," ucap Bianca memohon.
"Aku mengerti, aku akan menjaga rahasianya dengan baik," balas Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.
"Sekarang cepat makan sebelum perutmu sakit," lanjut Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Dia menggemaskan sekali saat memohon seperti itu," batin Arga berkata dalam hati sambil tersenyum.
Waktu berlalu dan malam semakin larut. Namun Lola belum juga terbangun.
"Ini sudah malam, kita harus pulang Bianca," ucap Arga.
"Aku ingin menemani Lola disini," balas Bianca.
"Ada suster yang menjaganya Bianca, besok pagi aku akan mengantarmu kesini," ucap Arga.
"Tidak Arga, aku akan tetap disini sampai dia bangun, kau bisa pulang sendiri!" ucap Bianca dengan sifat keras kepalanya.
"Aku akan meminta suster untuk memindahkannya ke ruang VIP agar kau lebih nyaman saat menemaninya," ucap Arga lalu berjalan keluar untuk menemui suster.
Setelah Lola dipindahkan ke ruangan VIP, Arga kemudian meninggalkan Bianca disana. Arga harus pulang karena ia harus mengerjakan beberapa pekerjaannya di rumah.
"Jaga dirimu baik-baik dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Setelah Arga pergi, kini hanya ada Bianca bersama Lola yang terbaring di atas ranjang.
Bianca kemudian membawa langkahnya ke arah sofa lalu membaringkan badannya disana. Ia sudah cukup lama duduk saat ia menunggu Lola di dekat rumah Lola dan itu membuatnya lelah.
Tak lama setelah ia berbaring, malampun membawanya ke alam mimpi.
**
"Kenapa kau belum bangun juga Lola?" tanya Bianca dengan suara yang sangat pelan.
Bianca kemudian membawa langkahnya ke toilet untuk membasuh wajahnya. Saat Bianca keluar dari toilet, sudah ada dokter dan suster yang memeriksa keadaan Lola.
Bianca tersenyum senang saat ia melihat Lola yang sudah terbangun saat itu. Dokter kemudian menjelaskan pada Bianca jika keadaan Lola sudah membaik, tapi dia tetap harus di rawat selama beberapa hari di rumah sakit.
"Baik dok, terima kasih," ucap Bianca pada dokter.
"Selamat pagi Tuan Putri, sekarang aku yang akan menjadi dayang-dayangmu!" ucap Bianca dengan tersenyum lalu duduk di samping ranjang Lola.
"Kenapa kau melakukannya Bianca? bukankah kau tau jika itu adalah rahasia terbesar dalam hidupku?" tanya Lola dengan raut wajah yang datar.
"Maafkan aku Lola, kau pergi tanpa memberi kabar pada siapapun, aku dan Daffa sangat mengkhawatirkanmu, itu kenapa aku memutuskan untuk mencarimu ke rumah, aku tidak ingin kejadian burukmu di masa lalu terulang lagi Lola," jawab Bianca menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Arga? sejauh apa Arga mengetahuinya?" tanya Lola.
"Aku harus mempunyai alasan yang pasti agar dia mau membantuku untuk masuk ke area rumahmu Lola, jadi aku mengatakan padanya tentang keadaanmu yang kritis karena perlakuan orang tuamu," jawab Bianca dengan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Lola.
"Dia pasti menertawakanku sekarang," ucap Lola dengan tersenyum tipis.
"Tidak, Arga sama sekali tidak seperti itu, justru dia mengkhawatirkanmu setelah dia mendengar ceritaku tentangmu, Arga juga mengkhawatirkanmu saat melihatmu pingsan di mobil, dia bahkan menggendongmu keluar dari mobil," jelas Bianca yang membuat Lola begitu terkejut.
"Kau pasti berbohong padaku!" ucap Lola tak percaya.
"Untuk apa aku berbohong padamu Lola? tidak ada keuntungan apapun yang aku dapat dengan membohongimu tentang Arga," balas Bianca.
Lola hanya diam, ia tidak menyangka jika Arga akan bersikap seperti itu padanya. Sejauh yang ia tau, Arga adalah laki-laki sombong dengan segala sifatnya yang menyebalkan.
"Lola, di matamu mungkin Arga tidak lebih dari laki-laki angkuh yang dingin, tapi di balik itu dia adalah laki-laki yang sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya, aku baru mengetahuinya setelah aku lebih mengenalnya dan dia tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya," ucap Bianca.
"Apa mungkin dia nanti akan memberi tahu Daffa tentang apa yang dia ketahui?" tanya Lola.
"Tidak, dia sudah berjanji padaku, dia akan menyimpan sendiri apa yang dia tau tentangmu," jawab Bianca dengan menggenggam tangan Lola.
Lola menghela nafasnya panjang lalu membalas genggaman tangan Bianca dengan satu tangannya yang lain.
__ADS_1
"Maafkan aku Bianca, aku sudah bersikap berlebihan padamu," ucap Lola menyesali sikapnya pada Bianca.
"Tidak perlu meminta maaf Lola, aku mengerti, kau pasti panik karena tiba-tiba aku ada disana bersama Arga, wajar jika kau marah padaku karena aku sudah mengingkari janjiku padamu," balas Bianca.
"Aku meminta maaf bukan hanya karena itu Bianca, tapi juga karena sikapku saat di restoran," ucap Lola.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya membuatmu marah padaku, tapi satu hal yang harus kau tau Lola, aku dan Arga tidak benar-benar menjalani pernikahan kita sebagai pasangan suami istri," ucap Bianca.
"Arga memberiku uang agar aku bersedia menjadi istrinya selama dua tahun dengan segala konsekuensi yang harus aku terima dan dengan keadaan kita yang seperti itu kita memiliki batasan yang tidak boleh kita langgar, termasuk tentang masalah pribadi kita masing-masing, jadi aku harap kau bisa mengerti," lanjut Bianca.
"Apa kau sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya Bianca? apa kau tidak pernah berdebar saat bersamanya?" tanya Lola yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat
"Berdebar? aku pernah merasakannya, tapi aku yakin itu hanya debaran sepintas yang terjadi karena kita terlalu lama menghabiskan waktu berdua, itu bukan cinta!" ucap Bianca dalam hati.
"Jujurlah padaku Bianca," ucap Lola membuyarkan lamunan Bianca.
"Aku hanya menunggu kak Bara kembali Lola, kau tau itu!" balas Bianca.
"Aahhh dia lagi, baiklah kalau begitu, jalani saja apa yang menurutmu baik karena hanya kau yang paling mengerti apa yang terbaik untukmu," ucap Lola.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, begitu juga Lola yang memberikan senyumnya pada Bianca.
Tak lama kemudian pintu ruangan Lola terbuka, Arga berjalan masuk sambil membawa buah dan makanan untuk Bianca.
"Aku yakin kau pasti belum makan," ucap Arga sambil memberikan makanan yang ia bawa untuk Bianca.
"Hai Lola, bagaimana keadaanmu?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada Lola yang duduk di atas ranjangnya
"Sudah membaik, terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit," jawab Lola.
"Jika bukan karena Bianca yang memaksa untuk menemanimu, kau mungkin berada di ruang rawat umum sekarang," ucap Arga.
"Terima kasih juga untuk ruangan yang sangat nyaman ini," balas Lola.
"Terima kasih lagi? ada apa denganmu? sepertinya luka di kepalamu cukup parah!" tanya Arga yang sedikit heran melihat sikap Lola.
"Arga!!" ucap Bianca sambil memukul pelan tangan Arga.
"Dia berterima kasih padaku Bianca, bukankah itu hal yang aneh?" ucap Arga pada Bianca.
"Pergilah jika kau kesini hanya untuk mengganggu," ucap Bianca sambil mendorong Arga agar menjauh.
"Kalian berdua lucu sekali, kalian terlihat seperti suami istri sungguhan, romantis sekali!" ucap Lola dengan bertepuk tangan kecil.
Mendengar hal itu, Bianca seketika membawa pandangannya pada Lola lalu beralih pada Arga.
"Sepertinya kau benar, luka di kepalanya memang cukup parah," ucap Bianca pada Arga.
"Sudah ku duga," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya pelan yang membuat Lola terkekeh.
"Aku harus berangkat ke kantor, cepat makan makananmu sebelum perutmu sakit," ucap Arga lalu berjalan keluar dari ruangan Lola.
"Kau beruntung Bianca," ucap Lola.
"Beruntung karena?"
"Karena mendapatkan suami seperti Arga, apapun fakta pernikahan kalian, tapi kalian tetaplah suami istri yang terikat oleh pernikahan yang sakral, aku harap dia akan menjadi laki-laki yang baik untukmu," jawab Lola.
"Kau harus beristirahat Lola, aku akan meminta dokter untuk memeriksa kepalamu lagi," ucap Bianca sambil menarik selimut Lola.
Lola hanya terkekeh sambil kembali menyibakkan selimutnya.
"Arga sudah memberi tahuku tentang pertemuannya denganmu di restoran saat itu, sepertinya kau salah paham padanya," ucap Bianca.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Lola.
"Dia memang berada di restoran itu untuk meeting dengan kliennya, aku juga sudah menanyakan hal itu pada Daffa dan Daffa bilang Arga memang sering menemui kliennya di restoran ataupun kafe," jawab Bianca.
"Mereka bersahabat Bianca, mereka....."
"Aku tau, aku tidak bisa mempercayai Arga dan Daffa sepenuhnya, tapi aku tidak akan menutup diriku dari kebenaran yang mereka katakan padaku," ucap Bianca memotong ucapan Lola.
"Jadi kau mempercayai ucapan Arga dan Daffa?" tanya Lola yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Bagaimana jika ternyata mereka berbohong padamu?" tanya Lola.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa senyumnya pada Lola.
__ADS_1
"Arga memang pernah berbohong padaku tentang kepergiannya ke luar kota, bisa jadi banyak kebohongan lain yang dia sembunyikan dariku, tapi aku selalu ingat siapa diriku yang tidak lebih hanya pengganti uang 50 miliar yang dia berikan padaku," ucap Bianca dalam hati.
"Lola, aku tidak peduli dengan masalah pribadi Arga, aku tidak peduli apakah dia berbohong padaku atau tidak, tugasku hanya untuk menjadi istrinya saat di depan orang lain, selebihnya aku hanya pengganti uang 50 miliar yang dia berikan padaku, itu adalah konsekuensi dari apa yang sudah aku sepakati dengannya," ucap Bianca.