
Setelah Bianca menaruh cek di bawah pintu kamar Arga, iapun segera masuk ke kamarnya untuk mengerjakan artikel yang harus ia selesaikan.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Lola.
"Bianca, apa kau sedang sibuk?" tanya Lola setelah Bianca menerima panggilan Lola.
"Tidak, kenapa?" balas Bianca.
"Bisakah kau membawakan obat ke tempatku sekarang? aku merasa sangat pusing dan tidak bisa beranjak dari ranjang!"
"Astaga Lola, kenapa kau baru menghubungiku? aku akan segera kesana sekarang juga, tunggulah sebentar!"
Setelah panggilan berakhir Bianca segera bersiap untuk keluar dari rumah. Bianca memesan taksi yang akan mengantarnya ke tempat kost Lola, namun sebelum itu ia membeli makanan dan beberapa obat untuk Lola.
Sesampainya di tempat kost Lola, Bianca segera mengetuk pintu kamar Lola sebelum ia membukanya dengan kunci duplikat yang ia miliki.
Bianca segera menghampiri Lola yang terbaring di ranjang. Ia bisa melihat raut wajah sahabatnya yang tampak sangat pucat saat itu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Bianca yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Lola.
"Sudah kuduga, kau harus makan dulu sebelum minum obat!" ucap Bianca sambil membantu Lola beranjak.
Lola kemudian duduk di atas ranjangnya lalu memakan bubur ayam yang Bianca bawa setelah Bianca memaksanya untuk makan.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja Lola?" tanya Bianca.
"Tidak perlu, aku akan sembuh setelah minum obat dan beristirahat," jawab Lola.
"Semoga saja begitu, tapi jika besok keadaanmu masih seperti ini aku akan memaksamu untuk ke rumah sakit!" ucap Bianca.
"Aku sedang sakit Bianca, seharusnya kau memanjakanku bukan memaksaku!" gerutu Lola.
Bianca hanya tersenyum lalu mengambil obat dan minuman untuk Lola.
"Beristirahatlah setelah kau minum obat, aku akan menjagamu disini!" ucap Bianca.
Setelah Lola meminum obatnya, iapun kembali membaringkan dirinya di atas ranjang dan tak lama kemudian iapun tertidur.
Sedangkan Bianca kembali melanjutkan mengerjakan artikelnya dengan duduk di samping ranjang Lola.
Sesekali Lola terbangun karena ingin pergi ke toilet, dengan sigap Biancapun membantu Lola untuk beranjak dari ranjang dan mengantar Lola ke toilet.
Hingga waktu berlalu Bianca masih berada di tempatnya, mengerjakan artikel sekaligus menemani Lola.
Tiba-tiba Lola menepuk punggung Bianca dengan pelan membuat Bianca segera menoleh ke arah Lola.
"Ada apa Lola? apa kau ingin ke toilet lagi?" tanya Bianca yang dibalas gelengan kepala oleh Lola.
"Aku baru saja memesan makanan, mungkin sebentar lagi akan datang, kau harus makan siang sebelum meminum obatmu lagi!" ucap Bianca.
"Terima kasih Bianca, setelah ini kau pulang saja, kau pasti sangat bosan disini!" ucap Lola.
"Aku akan tetap disini sampai kau sembuh Lola, jika sampai besok pagi kau tetap seperti ini maka aku akan memaksamu untuk segera ke rumah sakit!" balas Bianca.
"Apa kau sudah meminta izin pada Arga? apa Arga mengizinkanmu untuk berada disini sampai besok pagi?" tanya Lola.
"Tenang saja, dia pasti mengizinkanku, aku akan menghubunginya nanti," jawab Bianca.
"Jika dia tidak mengizinkanmu sebaiknya kau pulang saja, aku tidak ingin kalian bertengkar karena aku," ucap Lola.
"Jangan khawatir, aku....."
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Bianca menghentikan ucapannya lalu segera berjalan ke arah pintu dan mendapati makanan pesanannya datang.
Bianca kemudian menikmati makan siangnya bersama Lola lalu menyiapkan minuman dan obat untuk Lola.
Sama seperti sebelumnya, Lola segera tertidur setelah ia meminum obatnya.
Waktupun berlalu, matahari kini sudah hampir terpejam di ujung barat langit sore.
"Dia masih demam, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian," ucap Bianca sambil menyentuh kening Lola yang masih tertidur pulas saat itu.
Bianca kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Arga.
"Malam ini aku akan menginap di tempat kos Lola, dia sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya disini, aku harap kau mengerti dan tidak melarangku!"
Menit-menit berlalu dan tidak ada balasan apapun dari Arga. Bianca kemudian menghubungi telepon rumahnya dan diangkat oleh bibi.
__ADS_1
"Halo bi, ini Bianca," ucap Bianca setelah bibi menerima panggilannya.
"Apa Arga sudah pulang Bi?" lanjut Bianca bertanya.
"Tuan Arga belum pulang non," jawab bibi.
"Bianca minta tolong Bi, jika Arga pulang tolong katakan padanya jika Bianca malam ini menginap di rumah teman Bianca karena teman Bianca sedang sakit," ucap Bianca.
"Baik non, nanti akan bibi sampaikan saat Tuan Arga sudah pulang," balas bibi.
"Terima kasih Bi," ucap Bianca lalu mengakhiri panggilannya.
Di tempat lain, Arga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera membawa langkahnya meninggalkan kantor.
Saat ia sedang berjalan di lobby tiba-tiba seseorang memanggilnya dan segera berlari ke arahnya.
Arga hanya menghela nafasnya kesal saat melihat gadis cantik berlari ke arahnya. Argapun segera mempercepat langkahnya meskipun akhirnya gadis itu berhasil mendekati Arga.
"Aku baru saja pulang dari luar negeri dan aku membawa oleh-oleh untukmu!" ucap Clara lalu memberikan sebuah paper bag pada Arga.
Arga kemudian menerima paper bag itu, bersamaan dengan itu ia melihat Daffa yang berjalan ke arahnya.
"Untukmu!" ucap Arga sambil memberikan paper bag pemberian Clara pada Daffa.
Untuk beberapa saat Daffa hanya terdiam dengan paper bag yang sudah ada di tangannya.
"Tidak, ini bukan untukmu!" ucap Clara lalu merebut paper bag dari tangan Daffa dan kembali memberikannya pada Arga.
"Aku tidak membutuhkannya, buang saja jika kau mau!" ucap Arga ada Clara.
"Tapi aku membelikannya untukmu Arga, setidaknya lihatlah dulu, aku yakin kau akan menyukainya!" ucap Clara namun diabaikan oleh Arga yang terus berjalan meninggalkan Clara.
Daffa yang baru memahami situasi saat itu hanya tersenyum tipis lalu merebut paper bag di tangan Clara.
"Aku akan menerimanya daripada kau membuangnya!" ucap Dafa kemudian berlari meninggalkan Clara dengan paper bag yang kini sudah ada di tangannya.
Clara hanya terdiam di tempatnya berdiri, ia menghentakkan kakinya dengan kesal melihat sikap Arga dan Daffa.
"Apa kau tidak ingin melihat isinya? sepertinya ini sesuatu yang kau sukai," tanya Daffa pada Arga sambil memamerkan paper bag di tangannya.
"Aku tidak akan menyukai apapun pemberiannya," balas Arga.
"Kau benar dan itu sangat menggangguku," balas Arga
"Mungkin Karina juga merasakan apa yang kau rasakan saat ini!" ucap Dafa yang membuat Arga menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Dafa.
"Apa maksudmu?" tanya Arga.
"Kau tidak suka jika Clara terus menerus mendekatimu bukan? bisa jadi Karina juga tidak menyukaimu yang terus-menerus mendekatinya, sangat mengganggu," jawab Daffa lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi begitu saja.
"Apapun yang terjadi selama 2 tahun ini aku akan terus mendekati Karina, aku yakin dia akan kembali padaku," ucap Arga dalam hati lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Argapun segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Saat ia akan menaiki tangga, bibi memanggilnya dan memberitahunya jika Bianca menitipkan pesan untuknya.
"Non Bianca bilang malam ini akan menginap di tempat temannya, karena temannya sedang sakit Tuan," ucap bibi.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga sambil mengambil ponsel yang ada di saku jasnya.
"Kenapa dia tidak menghubungiku?" tanya Arga sambil memeriksa ponselnya dan mendapati beberapa pesan masuk dari Bianca.
"Ternyata selama ini dia sering mengirim pesan padaku, tapi aku tidak pernah menyadarinya," ucap Arga lalu kembali menyimpan ponselnya kemudian membuka pintu kamarnya.
Arga begitu terkejut saat ia menyadari ada selembar kertas yang berada di bawah pintu kamarnya. Iapun segera mengambil kertas itu dan mendapati selembar cek dengan nominal 60 juta, sama persis seperti cek yang tadi pagi ia berikan pada tante Felly.
"Kenapa cek ini ada disini? apa Bianca yang menaruhnya disini? apa dia tahu jika aku memberikan cek ini pada tantenya?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
Arga kemudian mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Bianca.
"Halo Bianca, apa kau ada di tempat Lola sekarang?" tanya Arga setelah Bianca menerima panggilannya.
"Iya, dia sedang sakit jadi aku ingin menemaninya disini," jawab Bianca.
"Kau tidak melarangku untuk menginap disini bukan?" lanjut Bianca bertanya.
"Tidak, aku menghubungimu untuk menanyakan tentang cek yang ada di pintu kamarku, apa kau yang menaruhnya disana?" balas Arga bertanya.
"Iya, aku yang menaruhnya," jawab Bianca.
"Kenapa Bianca? apa kau sudah memberikan uang 50 juta yang diminta tantemu?" tanya Arga.
__ADS_1
"Aku akan memberikannya dengan cara mencicil, kau tidak perlu ikut campur aku akan menyelesaikan masalahku sendiri dengan tante Felly," jawab Bianca.
"Sebenarnya aku sudah mendengar semuanya Bianca, aku mendengar bagaimana tante Felly mengancammu dengan melibatkan mama dan papa, itu kenapa aku memberikan cek ini pada tante Felly agar tante Felly tidak mengganggu dan mengancammu lagi!" ucap Arga.
"Kita bicarakan hal itu nanti, aku sedang tidak ingin membahasnya, tapi yang pasti jangan pernah menemui tante Felly lagi, aku akan menyelesaikan masalahku sendiri kali ini!" ucap Bianca.
"Tapi Bianca....."
"Jika tidak ada hal penting yang lainnya aku akan menutup teleponnya, ada hal lain yang harus aku kerjakan!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku harap kau bisa berubah pikiran tentang masalahmu dengan tante Felly," ucap Arga.
Bianca kemudian mengakhiri panggilan Arga begitu saja, ia tidak ingin membahas tentang masalahnya dengan tante Felly. Ia sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan Arga dan keluarganya, jadi ia tidak akan merubah keputusannya bagaimanapun Arga membujuknya.
Di sisi lain Arga tidak mengerti kenapa Bianca menolak bantuannya, terlebih saat Bianca mengatakan jika ingin mencicil uang 50 juta itu pada tante Felly.
"Kenapa dia harus mencicilnya? apa uang di ATM yang aku berikan padanya sudah habis?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
**
Waktu berlalu, malam semakin larut. Arga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera keluar dari ruang kerjanya. Saat ia akan memasuki kamarnya, ia membawa pandangannya ke arah tangga.
Entah kenapa ia merasa malam itu rumahnya begitu sepi, padahal dia memang menyukai suasana sepi di rumahnya sejak dulu.
Namun malam itu berbeda, seperti ada sesuatu yang hilang dari rumahnya.
"Apa sebaiknya aku meminta Bianca pulang?" tanya Arga pada dirinya sendiri sambil menggenggam ponsel di tangannya.
"Tapi apa yang akan aku katakan padanya nanti? aku harus beralasan seperti apa agar dia mau pulang?"
Arga menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Arga terdiam untuk beberapa saat dengan memejamkan matanya dan tak lama kemudian ia membuka matanya dan segera mencari nama Bianca di penyimpanan kontaknya.
Tanpa pikir panjang lagi Argapun segera menghubungi Bianca.
"Apa kau sungguh tidak akan pulang malam ini?" tanya Arga setelah Bianca menerima panggilannya.
"Aku hanya akan pulang setelah Lola sembuh, aku tidak mungkin membiarkannya berada disini sendirian," jawab Bianca.
"Bukankah sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit saja? disana ada dokter dan suster yang menjaganya!"
"Aku juga berpikir seperti itu, tetapi dia menolak untuk aku antar ke rumah sakit," balas Bianca.
"Sebagai sahabatnya bukankah kau bisa memaksanya demi kesembuhannya?"
"Aku akan menunggu sampai besok pagi, jika besok pagi keadaannya masih seperti ini aku akan memaksanya untuk ke rumah sakit, tapi semoga saja keadaannya sudah membaik besok pagi," balas Bianca.
"Tapi bagaimana jika mama tiba-tiba datang kesini dan mencarimu? apa yang harus aku katakan pada mama?" tanya Arga.
"Katakan saja yang sebenarnya, tidak mungkin mama Nadine marah karena aku menemani temanku yang sedang sakit," jawab Bianca.
"Kau benar, tapi......"
"Sudahlah Arga jangan menggangguku, ini sudah malam dan aku ingin tidur!" ucap Bianca memotong ucapan Arga kemudian mengakhiri panggilan Arga begitu saja.
Arga hanya mengenal nafasnya kasar. Entah kenapa ia merasa kesal karena tidak berhasil membuat Bianca pulang.
Arga kemudian mengambil buku di mejanya lalu membacanya, namun ia tidak bisa fokus dengan buku yang dibacanya. Entah karena ia masih kesal atau karena ia memikirkan Bianca.
Arga kemudian menghubungi Daffa, meminta Daffa untuk datang ke rumahnya dan setelah beberapa lama menunggu Dafapun datang.
"Ada apa denganmu? kenapa kau terlihat kesal?" tanya Daffa pada Arga yang raut wajahnya tampak kesal saat itu.
"Bianca tidak pulang," jawab Arga singkat.
"Kemana dia pergi? apa kalian baru saja bertengkar?" tanya Daffa.
"Tidak, dia hanya sedang menemani Lola karena Lola sakit," jawab Arga yang membuat Daffa segera beranjak dari duduknya.
"Lola sakit? dimana dia sekarang?" tanya Daffa khawatir.
"Kenapa kau bertanya? apa kau juga ingin menemani Lola? tidak..... tidak bisa.... kau harus tetap berada disini bersamaku," balas Arga lalu menarik tangan Daffa agar kembali duduk.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya, aku....."
"Sudah ada Bianca yang menjaganya, Bianca akan memaksanya ke rumah sakit jika sampai besok pagi Lola masih belum membaik, jadi jangan khawatir berlebihan seperti itu!" ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Kau menyebutku khawatir berlebihan, lalu bagaimana denganmu? kenapa kau kesal karena Bianca tidak pulang? apa sebegitu pentingnya Bianca di rumah ini?" balas Daffa.
"Aku hanya...... aku..... aku tidak suka dia bermalam di luar," ucap Arga beralasan.
Daffa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Ia merasa jika Arga saat itu merasa kesepian karena tidak ada Bianca di rumahnya.
__ADS_1