
Setelah cukup lama terdiam membeku di tempatnya berdiri, Bianca segera menghapus air mata di pipinya setalah ia menyadari apa yang terjadi padanya.
"Air mata sialan!" umpat Bianca kesal sambil berlari pergi.
Karena jaraknya dengan Arga yang tidak begitu jauh, Argapun seketika menyadari keberadaan Bianca saat Bianca baru saja berlari pergi.
Dengan cepat Arga meninggalkan perempuan yang bersamanya dan segera mengejar Bianca.
"Bianca tunggu!" teriak Arga yang berusaha mengejar Bianca.
Bianca yang mendengar suara Arga sengaja mengabaikannya dan memilih untuk terus berlari sampai ia tiba di mobilnya.
Biancapun segera masuk dan meminta pak Dodi untuk segera mengendarainya pergi. Arga yang sudah kehilangan Bianca hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat kepergian Bianca.
Dengan langkahnya yang tak bersemangat, Arga kembali menghampiri perempuan yang baru saja ditinggalnya pergi begitu saja.
"Apa yang baru saja kakak lakukan? kakak berlari seperti melihat maling saja!" tanya perempuan cantik itu dengan menggerutu.
"Kakak memang mengejar maling," jawab Arga dengan raut wajahnya yang sendu.
"Maling? sungguh? apa yang dia curi dari kakak?" tanya Luna Narendra, adik kandung Arga sekaligus anak kedua dari keluarga Narendra.
Arga hanya tersenyum tipis sambil menepuk dadanya sendiri, membuat Luna terdiam dengan mengernyitkan keningnya.
"Dia sudah mencuri hati kakak," ucap Arga yang membuat Luna seketika menggelengkan kepalanya jengah lalu berjalan pergi begitu saja.
Argapun segera berlari kecil sambil menarik koper milik adik yang sangat disayanginya itu.
"Kakak berhentilah bersikap bodoh, Karina sama sekali tidak pantas untuk kakak," ucap Luna saat ia sudah berada di dalam mobil Arga.
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan Karina?" tanya Arga yang sudah berada di balik kemudinya.
"Kakak baru saja berlari seperti orang gila karena mengejar Karina bukan? mama sudah menceritakan semuanya pada Luna, jadi Luna sudah tahu sebodoh apa kak Arga sekarang!"
"Kau sok tau sekali," balas Arga sambil mendorong kepala sang adik.
"Memangnya kenapa? apa Luna salah? apa...."
"Apa saja yang mama katakan padamu?" tanya Arga memotong ucapan Luna.
"Mama menceritakan tentang bagaimana kakak kehilangan Karina dan karena kebodohan kakak itu, Luna sudah tidak ingin mendengar apapun tentang kakak, jadi mama sudah tidak menceritakan tentang kakak lagi pada Luna," jawab Luna.
"Baguslah kalau begitu, sekarang kau harus tau apa yang tidak kau tau," ucap Arga dengan tersenyum tipis.
"Jika itu menyangkut Karina, Luna tidak mau tau, cepat antar Luna pulang karena Luna sudah merindukan mama dan papa!" ucap Luna.
"Kakak sedang tidak membicarakan Karina dan kau jangan pernah lagi menyebut nama itu di depan kakak," ucap Arga kesal.
"Kenapa? jadi perempuan yang kakak kejar tadi bukan Karina?" tanya Luna terkejut.
Arga hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Siapa dia kak? apa dia kekasih kak Arga yang baru?" tanya Luna penasaran.
"Kau akan tau setelah kita sampai di rumah kakak," jawab Arga.
Berkali-kali Luna menanyakan tentang perempuan yang Arga maksud, namun Arga hanya diam tidak menjawab pertanyaan Luna, membiarkan Luna penasaran karena Luna yang sama sekali tidak mempedulikannya selama Luna berada di luar negeri.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumahnya.
"Apa perempuan itu ada disini?" tanya Luna setelah ia keluar dari mobil Arga.
Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Luna yang menunggu di ruang tamu.
Arga kemudian berjalan ke arah kamar Bianca, mengetuk pintu beberapa kali, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar Bianca.
Di sisi lain, Bianca sedang berada di balkon saat itu. Ia hanya diam melihat Arga yang pulang ke rumah bersama perempuan yang dilihatnya saat di bandara.
Bianca sudah cukup menumpahkan air matanya sejak ia baru saja sampai di rumah setelah ia meninggalkan bandara.
Bianca berusaha untuk bisa menguasai dirinya sendiri, ia tidak ingin kesedihan tanpa alasan membuatnya terlihat lemah di hadapan Arga, apalagi membuat Arga berpikir jika dirinya sudah jatuh cinta pada Arga.
Biancapun memutuskan untuk menyibukkan pikirannya dengan membaca buku meskipun sebenarnya ia tidak bisa fokus saat itu.
__ADS_1
Bianca merasa ia harus menunjukkan pada Arga bahwa ia baik-baik saja meskipun ia baru saja melihat Arga bermesraan dengan perempuan lain.
"Aku baik-baik saja, aku tidak akan bersedih apalagi menangis di hadapan Arga, aku bukan Bianca yang cengeng dan aku bukan Bianca yang lemah, aku tidak akan membiarkan Arga berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya," ucap Bianca dalam hati sambil mengusap dadanya.
"Bianca!"
Terdengar suara Arga yang memanggil namanya, namun Bianca memilih untuk diam dan fokus dengan buku yang ada di tangannya.
Sampai akhirnya suara langkah mendekat ke arah balkon namun Bianca berusaha untuk mengabaikannya.
"Aku tahu kau pasti disini," ucap Arga lalu duduk berjongkok di hadapan Bianca yang sedang duduk di kursi balkon.
Bianca hanya diam dengan membalik buku yang dipegangnya meskipun sebenarnya ia sedang tidak membaca buku itu.
Arga yang melihat Bianca mengabaikannyapun segera menarik buku dari tangan Bianca lalu menaruhnya di meja.
"Aku tahu kau sedang salah paham padaku, tapi tolong dengarkan aku," ucap Arga sambil menggenggam kedua tangan Bianca, namun dengan cepat Bianca menarik kedua tangannya dari genggaman Arga.
"Bianca, aku....."
"Aku sama sekali tidak peduli lagi padamu Arga, aku tidak peduli apapun yang kau lakukan di luar sana dengan perempuan lain, jadi tidak perlu menjelaskan apapun padaku," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
Arga tersenyum dengan kedua matanya menatap Bianca yang sangat terlihat jelas tengah menahan cemburu saat itu .
"Kau pasti sedang cemburu bukan?" tanya Arga.
"Kau pasti gila," ucap Bianca lalu berjalan hendak meninggalkan Arga, namun ia begitu terkejut saat melihat perempuan yang ia temui di bandara sekarang berada di hadapannya.
Menyadari keberadaannya yang sudah diketahui oleh Bianca, Lunapun hanya tersenyum canggung lalu membalikkan badannya hendak pergi karena takut jika keberadaannya mengganggu Arga dan Bianca.
"Jangan pergi!" ucap Arga yang segera menahan tangan Luna dan tentu saja hal itu membuat Bianca semakin marah, namun ia berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"Bianca, ini Luna adik kandungku," ucap Arga sambil memegang kedua bahu Luna di hadapan Bianca.
Mendengar hal itu Biancapun begitu terkejut dan hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Hai kak," sapa Luna dengan melambaikan tangannya pada Bianca.
"Perkenalan dirimu dengan sopan, dia kakak iparmu!" ucap Arga sambil mengulurkan tangan Luna pada Bianca.
Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum karena sudah berhasil membuat Luna dan Bianca sama-sama terkejut.
"Apa kau tidak ingin berkenalan dengannya, Bianca?" tanya Arga yang melihat Bianca masih terdiam mengabaikan uluran tangan Luna.
Biancapun segera menerima uluran tangan Luna dan menjabatnya.
"Bianca," ucap Bianca canggung.
"Maaf kak Bianca, Luna sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan kak Arga dengan kak Bianca, Luna juga minta maaf jika apa yang Luna lakukan di bandara tadi membuat kak Bianca salah paham," ucap Luna pada Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan canggung, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat itu karena ia benar-benar malu dengan apa yang sudah ia lakukan saat berada di bandara.
"Oke baiklah karena kalian berdua sudah berkenalan, lebih baik kita mengobrol di ruang tengah," ucap Arga sambil meraih tangan Bianca dan membawa Bianca menuruni tangga diikuti oleh Luna.
Mereka bertigapun duduk di ruang tengah, Arga memberitahu Bianca jika Luna adalah adik kandungnya yang sudah lama tinggal di luar negeri untuk menempuh pendidikannya disana.
"Melihat kak Bianca yang terkejut sepertinya kak Bianca belum tahu jika kak Arga memiliki adik perempuan, apa kak Arga tidak memberitahu kak Bianca?" ucap Luna sekaligus bertanya pada Arga .
"Sejak kau pergi ke luar negeri kau sudah bukan adikku lagi, jadi untuk apa aku menceritakan tentangmu pada Bianca!" Sahut Arga yang segera mendapat pukulan dari Luna.
"Hahaha.... tidak cuma kakak yang tidak menceritakan tentangmu pada Bianca, tapi juga mama dan papa, jadi jangan hanya memarahi kakak, kau bisa marah pada mama dan papa jika kau mau!" ucap Arga membela diri.
"Aku sama sekali tidak melihat ada fotomu di rumah mama dan papa, jadi aku tidak tahu jika Arga memiliki adik perempuan," ucap Bianca
"Kalau soal itu Luna memang tidak suka berfoto kak, jadi Luna melarang siapapun untuk menaruh foto Luna di tempat terbuka," balas Luna.
"Kenapa?" tanya Bianca.
"Luna hanya merasa tidak percaya diri melihat wajah Luna yang terpampang di tempat terbuka, rasanya sangat malu hehe..." jawab Luna.
"Bukankah dia sama sepertimu Bianca? kau juga tidak pernah memiliki foto dirimu sendiri!" sahut Arga bertanya pada Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Bianca, Arga dan Luna kemudian membicarakan banyak hal tentang bagaimana pernikahan mereka terjadi.
__ADS_1
Berkali-kali Luna tampak merengek karena ia sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan itu padahal dia adalah bagian dari keluarga Narendra yang seperti tidak dianggap oleh orang tua dan kakaknya.
"Sebenarnya apa yang membuat kak Bianca memutuskan untuk menikah dengan kak Arga? Apa kak Bianca tidak melihat jika dia laki-laki yang sama sekali tidak romantis?" tanya Luna pada Bianca.
"Dia..... dia laki-laki yang baik," jawab Bianca.
"Hanya itu saja?" tanya Luna yang merasa tidak puas mendengar jawaban Bianca.
"Aku rasa itu sudah menjelaskan bagaimana sempurnanya Arga di mataku," jawab Bianca dengan tersenyum.
"Aaaahhh so sweet sekali, apa kak Bianca jatuh cinta pada kak Arga pada pandangan pertama?" tanya Luna penasaran.
"Sepertinya tidak, cinta datang seiring waktu berjalan dan semakin kita saling mengenal cinta itu semakin tumbuh dalam hati kita," jawab Bianca.
"Bagaimana dengan kak Arga? Apa kak Arga jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya Luna pada Arga.
"Tidak ada cinta pada pandangan pertama Luna, sama seperti yang Bianca katakan, waktu yang akhirnya menyadarkan kita bahwa kita saling mencintai," jawab Arga dengan membawa pandangannya menatap Bianca.
"Tapi Luna sudah merasakannya, cinta pada pandangan pertama memang benar-benar ada kak, Luna sendiri yang membuktikannya," ucap Luna.
"Apa maksudmu kau sudah jatuh cinta? apa jangan-jangan kau sudah memiliki kekasih?" tanya Arga terkejut mendengar ucapan Luna, gadis cantik yang baginya masih seperti adik kecil yang selalu merengek padanya.
Luna hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan, terlihat jelas raut wajahnya yang tampak malu saat itu.
"Siapa dia? apa dia mahasiswa di kampusmu?" tanya Arga.
"Dia senior di kampus Luna, dia juga orang Indonesia," jawab Luna penuh senyum.
"Benarkah? kalau begitu kenalkan dia pada kakak, kakak akan memeriksa semua hal tentangnya, apakah dia pantas untukmu atau tidak!" ucap Arga.
"Berhentilah bersikap seperti itu kak, kak Arga akan membuat laki-laki takut untuk mendekati Luna," balas Luna kesal melihat sikap Arga yang sangat protektif padanya.
"Kakak hanya ingin menjagamu Luna, kakak tidak ingin kau menjatuhkan hatimu pada laki-laki yang salah," ucap Arga.
"Terserah kakak saja, lebih baik Luna pulang sekarang daripada mendengarkan ocehan kakak yang menyebalkan!" ucap Luna lalu beranjak dari duduknya.
"Kakak tidak akan mengantarmu, kau bisa pulang dengan Pak Dodi!" ucap Arga.
"Luna juga tidak ingin diantar oleh kakak yang menyebalkan," balas Luna dengan memanyunkan bibirnya.
"Kak Bianca harus bersabar menghadapi kak Arga yang sangat menyebalkan, jika bukan karena wajah tampannya kak Bianca jangan ragu untuk meninggalkan kak Arga!" ucap Luna lalu memeluk Bianca.
"Hey jaga ucapanmu itu anak kecil!" ucap Arga sambil memukul pelan kepala Luna.
"Kaaakkk..... berhentilah melakukan hal itu, Luna bukan anak kecil lagi!" rengek Luna.
"Baiklah, tapi beritahu kakak siapa laki-laki yang sedang dekat denganmu itu," ucap Arga.
"Dia laki-laki yang baik kak, bulan depan dia akan datang jadi saat itulah Luna akan mengenalkannya pada kakak," balas Luna.
"Katakan saja siapa namanya, kakak akan tahu semua hal tentangnya hanya dengan mengetahui namanya," ucap Arga.
"Huuh sombong sekali, dari dulu kak Arga selalu saja seperti itu, membuat laki-laki takut untuk mendekati Luna!" Gerutu Luna.
"Itu artinya dia sangat menyayangimu Luna, dia hanya tidak ingin kau disakiti oleh laki-laki yang tidak baik," sahut Bianca.
"Tapi mencari tahu semua hal tentang laki-laki yang dekat dengan Luna itu sangat berlebihan kak," balas Luna.
"Bukankah kakakmu memang seperti itu?" tanya Bianca dengan tersenyum.
"Benar sekali hehehe..." balas Luna dengan tertawa.
"Baiklah, Luna akan memberitahu kakak siapa namanya tapi kakak harus berjanji untuk tetap mau menemuinya bulan depan!" ucap Luna yang segera dibalas anggukan kepala oleh Arga.
"Namanya Bara, dia kuliah di jurusan sosial sciences," ucap Luna yang membuat Bianca dan Arga begitu terkejut.
"Nama lengkapnya?" tanya Arga yang berusaha untuk berpikir positif.
"Rahasia hehehe...." jawab Luna lalu berlari sambil menggeret kopernya.
"Nama Bara tidak hanya dimiliki satu orang bukan?" tanya Arga pada Bianca saat Luna sudah berlari pergi.
"Dimana Luna kuliah, Arga?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Dia kuliah di Harvard, apa Bara juga kuliah disana?" jawab Arga sekaligus bertanya.
Seketika Bianca terdiam, tenggorokannya seperti tercekat yang membuatnya tidak mampu mengatakan apapun.