
Bianca dan Arga baru saja turun dari taksi, mereka berduapun masuk ke dalam rumah lalu masuk ke kamar masing-masing.
Bianca masih memikirkan tentang apa yang terjadi semalam, ia berusaha keras mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang dengan menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil memijit keningnya.
Kejadian terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya meminta bartender untuk menuang minuman ke dalam gelasnya, Bianca ingat bagaimana dia meminum minuman itu tanpa ragu sampai habis tak tersisa.
Setelah itu sudah tidak ada apapun lagi yang Bianca ingat dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
"Semoga saja tidak terjadi apapun yang lebih memalukan, ini adalah terakhir kalinya aku meminum minuman itu, aku akan benar-benar menghindar dan menolak apapun alasan Arga saat dia memintaku untuk meminum minuman itu," ucap Bianca bertekad.
Bianca kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja, entah untuk ke berapa kali ia memeriksa pesan masuk dan panggilan dari Bara, namun ia hanya bisa menghela nafasnya kesal karena sampai detik itu juga tidak ada pesan ataupun panggilan dari Bara.
"Bianca tidak tahu apa yang terjadi pada kak Bara disana, tapi tidak bisakah kak Bara menghubungi Bianca sekali saja?" tanya Bianca dengan menatap nama Bara yang ada di layar ponselnya.
Tiba-tiba Bianca teringat ucapan Luna tentang laki-laki yang bernama Bara yang disukainya.
"Namanya Bara, dia kuliah di jurusan sosial sciences."
Ada sedikit kekhawatiran dalam hati Bianca jika laki-laki yang dimaksud Luna itu adalah Bara yang selama ini ia tunggu kedatangannya.
Meskipun Bianca berusaha untuk berpikir positif, namun kekhawatiran itu masih mengganggu pikirannya.
Bianca tidak akan bisa tenang sampai ia bertemu dengan laki-laki yang Luna sukai bulan depan dan Bianca berharap jika laki-laki itu bukanlah Bara Aditya, satu-satunya laki-laki yang berhasil mencuri hatinya.
"Kak Bara akan kembali satu tahun lagi, tidak mungkin bukan jika kak Bara tiba-tiba kembali bulan depan?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada dirinya sendiri.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, berusaha untuk kembali berpikir positif di tengah kekhawatirannya.
"Kak Bara pasti menghubungiku jika dia akan pulang lebih cepat, lagi pula selama ini dia selalu memintaku untuk menunggunya," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Di sisi lain, Arga juga sedang terbaring di kamarnya. Apa yang terjadi antara dirinya dan Bianca semalam masih membekas dalam ingatan Arga.
Bahkan mengingatnya saja membuat jantung Arga berdetak begitu cepat. Saat Arga memejamkan matanya, kejadian malam itu seolah kembali terjadi dalam pejam matanya.
"Bianca pasti akan sangat marah jika dia mengingat hal itu, apa yang harus aku katakan padanya jika dia sudah mengingat semuanya, aaargghhh....aku benar-benar sangat bodoh!" ucap Arga merutuki kebodohan dirinya yang tidak bisa mengendalikan dirinya malam itu.
Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari ranjangnya untuk pergi ke kamar mandi.
Arga mengguyur badannya di bawah shower sampai beberapa lama lalu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Arga kemudian mengisi daya ponselnya lalu mengaktifkan ponselnya dan tanpa menunggu lama dering ponselnya memenuhi kamar.
Banyak panggilan dan pesan yang masuk dari Daffa karena dia tidak pergi ke kantor dengan tiba-tiba, Argapun segera menghubungi Daffa.
"Kau kemana saja Arga? kenapa aku tidak bisa menghubungimu? kenapa kau belum berada di kantor sampai siang seperti ini?" tanya Daffa sebelum Arga sempat mengatakan apapun pada Daffa.
"Aku sedang tidak enak badan Daffa, bisakah kau menghandle semuanya?" balas Arga.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Daffa.
"Aku hanya..... tidak enak badan saja, aku hanya perlu beristirahat dan akan segera baik-baik saja," jawab Arga.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghandle semuanya hari ini, beristirahatlah dan cepat sembuh agar kau tidak merepotkanku di kantor," ucap Daffa.
Arga hanya tersenyum tipis lalu mengakhiri panggilannya pada Daffa.
**
Waktu berlalu, langit malam mulai menghilangkan sinar senja di ujung barat. Bianca yang baru saja keluar dari kamarnya begitu terkejut melihat Daffa yang berada di dalam rumahnya.
"Apa kau mencari Arga?" tanya Bianca pada Daffa
"Iya, aku membawa buah dan kue untuknya, bagaimana keadaannya?" jawab Daffa sekaligus bertanya.
"Keadaannya? apa maksudmu?" tanya Bianca tak mengerti.
__ADS_1
"Bukankah dia sedang tidak enak badan? itu kenapa dia tidak pergi bekerja," balas Daffa.
"Aaahhh itu..... mmmmm.... sebaiknya kau masuk saja ke kamarnya dan lihat keadaannya sendiri," ucap Bianca dengan tersenyum canggung lalu berjalan cepat meninggalkan Daffa.
Daffa yang sudah mulai curigapun segera membawa langkahnya menaiki tangga lalu mengetuk pintu kamar Arga beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Kau pasti berbohong padaku!" ucap Daffa yang segera masuk ke kamar Arga saat Arga baru saja membuka pintu kamarnya.
"Berbohong apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.
"Aku kesini membawa kue dan buah karena aku pikir kau sedang sakit, tapi sepertinya kau baik-baik saja, Bianca bahkan tidak tahu jika kau sedang sakit," jelas Daffa menggerutu.
"Hehe maafkan aku, aku memang sedang tidak bisa bekerja hari ini, sebenarnya bukan karena aku sakit tapi karena ada hal lain yang tidak bisa aku ceritakan padamu ditelepon," ucap Arga.
"Sekarang jelaskan padaku kenapa kau tidak berangkat ke kantor dengan tiba-tiba, kau membuatku sangat sibuk di kantor dan ternyata kau sendiri bersantai di rumah seperti ini!"
Arga kemudian menjelaskan pada Daffa tentang apa yang terjadi semalam tentang rencananya yang sengaja membuat Bianca mabuk sampai hal yang tidak terduga terjadi.
"Aku memikirkan hal itu sampai pagi, aku bahkan hanya bisa tertidur satu jam sebelum Bianca membangunkanku lalu kita pergi dari hotel," ucap Arga di akhir penjelasannya.
"Waaahhh sepertinya kau sudah bertindak terlalu jauh Arga," balas Daffa yang terkejut mendengar cerita Arga.
"Aku menyesal Daffa, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku saat itu," ucap Arga dengan menghela nafasnya.
"Tapi sepertinya Bianca tampak baik-baik saja, dia tidak terlihat sedang marah padamu!" ucap Daffa.
"Itu karena Bianca belum mengingatnya, Bianca selalu melupakan semua kejadian yang terjadi saat dia mabuk, tapi tidak menutup kemungkinan dia akan mengingat beberapa hal dan aku takut dia akan mengingat apa yang terjadi di hotel malam itu," balas Arga.
"Katakan saja padanya jika kau mabuk malam itu, jadi kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan," ucap Daffa.
"Aku juga sudah memikirkan hal itu tetapi aku masih tidak bisa melupakan apa yang terjadi malam itu, kau mengerti maksudku bukan!"
"Aku mengerti," balas Daffa dengan tersenyum tipis.
**
Waktu berlalu, hari-hari telah berganti dengan kebersamaan Arga dan Bianca yang semakin hangat.
Malam itu Bianca dan Arga sedang makan malam bersama orang tua Arga dan juga Luna.
Mereka semua membicarakan banyak hal sampai akhirnya papa Arga berpamitan untuk pergi ke ruang kerja, sedangkan Mama Arga pergi ke kamarnya, meninggalkan Bianca, Arga dan Luna yang masih berada di meja makan.
"Kak, apa kakak ingat tentang laki-laki yang pernah Luna ceritakan pada kakak?" tanya Luna berbisik pada Arga.
"Laki-laki yang kau sukai itu?" balas Arga bertanya.
"Sssstttt..... pelankan suara kakak," ucap Luna dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Apa Mama dan papa tidak mengetahui hal itu?" tanya Bianca berbisik pada Luna.
"Tidak, Luna belum memberitahu mama dan papa, jadi hanya kak Bianca dan kak Arga yang mengetahuinya," jawab Luna dengan suara yang cukup pelan.
"Kau harus memberitahu mama dan papa, Luna!" ucap Arga.
"Luna akan mengenalkannya pada mama dan papa setelah hubungan Luna dengannya jelas, karena sampai sekarang hubungan Luna dengannya masih ambigu," ucap Luna.
"Masih ambigu? apa maksudnya dia belum memberikan kepastian apapun padamu?" tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala oleh Luna dengan memanyunkan bibirnya.
"Kasihan sekali adik kecilku," ucap Arga sambil menepuk-nepuk kepala Luna.
"Jangan pernah mengatakan hal itu di depan kak Bara atau Luna akan benar-benar sangat marah pada kak Arga!" ucap Luna sambil menggeser posisinya menjauh dari Arga.
"Kau memang adik kecilku Luna, memangnya apa yang salah dari hal itu!" protes Arga.
"Luna sudah dewasa kak, sebentar lagi Luna akan lulus kuliah bahkan Luna sudah menemukan laki-laki yang Luna sukai, itu artinya Luna sudah dewasa bukan?"
Arga hanya tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut Luna. Sedangkan di sisi lain Bianca hanya terdiam setelah Luna mengatakan nama Bara.
__ADS_1
Bagi Bianca nama itu tidak asing di telinganya dan dadanya berdetak kencang saat Luna mengatakan nama itu di hadapannya.
"Besok kak Arga dan kak Bianca harus menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya, Luna yakin kak Arga dan kak Bianca akan menyukainya karena selain tampan dia juga menyenangkan," ucap Luna dengan membawa pandangannya pada Arga dan Bianca.
"Apa kau sangat menyukainya, Luna?" tanya Bianca.
"Tentu saja kak, dia satu-satunya laki-laki yang sangat Luna sukai, walaupun sangat sulit untuk mendekatinya, tapi Luna tidak menyerah sampai akhirnya Luna bisa dekat dengannya," jawab Luna dengan penuh senyum.
"Tapi bagaimana jika dia tidak menyukaimu? dia bahkan belum memberi kejelasan apapun tentang hubungan kalian," tanya Arga.
"Luna yakin jika kak Bara juga menyukai Luna, sepertinya kak Bara sedang menunggu waktu untuk menyatakan perasaannya pada Luna, jadi Luna akan menunggunya dan membuka hati Luna lebar-lebar untuk kak Bara," jawab Luna dengan raut wajah yang tampak bahagia.
Sangat terlihat dengan jelas bagaimana Luna begitu menyukai laki-laki yang bernama Bara itu.
Waktu berlalu, malam yang semakin larut membawa Bianca dan Arga untuk pulang ke rumahnya setelah cukup lama mereka mengobrol dengan Luna dan mendengarkan semua cerita Luna tentang laki-laki yang disukainya.
"Apa kau baik-baik saja Bee?" tanya Arga pada Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, pandangannya kosong menatap jalan raya di hadapannya.
Tak dapat dipungkiri, ia masih memikirkan laki-laki yang bernama Bara yang Luna sukai.
Ketakutan dan kekhawatiran kembali memenuhi dirinya meskipun dia sudah berusaha untuk selalu berpikir positif.
"Apa sudah menghubungimu, Bianca?" tanya Arga.
"Belum, mungkin kak Bara kehilangan ponselnya atau ada hal lain yang terjadi yang aku tidak tahu," jawab Bianca
"Melihat Luna yang sangat menyukai laki-laki itu membuatku teringat dirimu Bianca, kau juga menyukai laki-laki yang bahkan belum memberikan kejelasan apapun padamu, kalian berdua membuatku tidak bisa mengerti tentang jalan pikiran kalian." ucap Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya menatap Arga yang fokus mengendarai mobilnya.
"Aku juga tidak tahu Arga, andai aku bisa mengendalikan diriku sendiri," ucap Bianca.
"Hanya kau yang bisa mengendalikan dirimu sendiri Bianca, apa yang kau pikirkan mungkin berbeda dengan apa yang hatimu inginkan, tapi kau tidak akan menemui hal yang salah jika kau mengikuti apa yang hatimu katakan," balas Arga.
"Apa kau sudah mengikuti apa yang hatimu katakan, Arga?" tanya Bianca.
"Aku sudah mengikuti apa kata hatiku sejak aku sadar bahwa aku jatuh cinta padamu," jawab Arga dengan membawa senyumnya pada Bianca.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu kembali menatap jalan raya di hadapannya.
**
Malam yang panjang telah berlalu, hari berganti begitu cepat dan kembali mendatangkan malam dengan kerlip bintang dan cahaya bulan pada hamparan gelap langit malam.
Bianca sedang mempersiapkan dirinya di dalam kamar, malam itu ia akan makan malam bersama Arga dan Luna di salah satu restoran.
Malam itu Luna akan mengenalkan pada Arga dan Bianca siapa laki-laki yang selama ini Luna sukai yang belum memberikan kepastian apapun pada Luna.
Setelah mempersiapkan dirinya, Biancapun meninggalkan rumah bersama Arga.
"Apa kau baik-baik saja Bee? kau terlihat pucat malam ini," tanya Arga yang melihat Bianca tampak tidak baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja," balas Bianca yang sebenarnya sedang gugup saat itu.
"Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.
"Aku baik-baik saja Arga, lagi pula kita hanya akan makan malam, kita juga sudah berjanji pada Luna, jadi aku tidak ingin membuatnya kecewa," ucap Bianca.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di restoran tempat mereka akan bertemu Luna.
Arga dan Bianca kemudian duduk di meja yang sudah di reservasi atas nama Luna. Entah kenapa Bianca semakin gugup dan gelisah saat detik-detik pertemuannya dengan Luna dan laki-laki yang disukai Luna semakin dekat.
Kekhawatiran dan kegelisahan Bianca tentu saja disadari oleh Arga, namun tidak ada yang bisa Arga lakukan karena Bianca bersikukuh untuk tetap berada disana dan menolak untuk pulang.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Luna datang bersama seorang laki-laki yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak!" panggil Luna dengan melambaikan tangannya pada Arga dan Bianca.
Dengan penuh senyum Luna membawa langkahnya mendekati Arga dan Bianca. Ia sudah tidak sabar untuk mengenalkan laki-laki yang disukainya pada kakak kandung sekaligus kakak iparnya.