Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Malam Terindah


__ADS_3

Hari telah berganti, Bianca bangun dari tidurnya dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kau sudah bangun?" tanya Arga sambil meletakkan minuman di meja yang ada di dekat ranjang.


"Hmmm...."


Bianca hanya berdehem lalu beranjak dari tidurnya.


"Minumlah, ini akan sedikit mengurangi rasa pusingmu," ucap Arga sambil memberikan minuman pada Bianca.


Biancapun meminumnya lalu kembali menaruhnya di meja.


"Apa semalam aku sangat mabuk?" tanya Bianca.


"Apa kau sama sekali tidak mengingatnya?" balas Arga.


"Aku akan mencoba mengingatnya karena pasti banyak hal bodoh yang aku lakukan," ucap Bianca.


"Tidak perlu terlalu memaksakan diri, mandilah, setelah ini aku akan mengajakmu ke tempat yang bisa menyegarkan matamu," ucap Arga.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa lama mempersiapkan dirinya, Bianca menghampiri Arga yang duduk di balkon.


"Kemana kau akan mengajakku pergi Arga?" tanya Bianca.


"Kau akan tau setelah kita sampai disana," jawab Arga.


Arga kemudian meraih tangan Bianca lalu membawanya keluar dari hotel. Arga mengendarai mobilnya beberapa lama sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka.


Arga menggandeng tangan Bianca, mengajak Bianca berjalan meniti beberapa anak tangga sampai akhirnya mereka sampai di tujuan Arga yang sebenarnya.


"Apa kau siap?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.


Arga kemudian mengajak Bianca untuk menaiki sebuah kapal yang siap mengantar mereka pergi ke pulau kecil lain yang ada disana.


"Jika kita beruntung, kita akan melihat lumba-lumba disini," ucap Arga saat kapal sudah meninggalkan dermaga.


Benar saja, tak berapa lama kemudian terlihat beberapa lumba-lumba yang naik ke permukaan dan melompat sampai mendekati kapal.


"Waaahhhh, ini pertama kalinya aku melihat mereka secara langsung Arga," ucap Bianca senang.


Arga hanya tersenyum melihat Bianca yang tampak senang pagi itu. Diam-diam Arga menyalakan kamera ponselnya untuk mengambil foto Bianca.


Setelah beberapa lama berada di lautan, kapal akhirnya mendekat ke pulau. Disana, Arga dan Bianca disambut oleh guide yang mengantar mereka ke tempat makan sebelum mereka memulai menjelajah pulau kecil itu.


Beberapa menu makanan lautpun ada di hadapan Bianca dan Arga. Mereka menikmatinya bersama angin pantai dan ombak yang tenang.


Setelah setelah selesai menikmati kuliner laut, Bianca dan Arga pergi ke sisi lain pulau itu bersama guide yang memandu mereka.


Tidak hanya menyediakan kuliner laut yang enak, pulau kecil itu juga memanjakan pengunjungnya dengan spot snorkeling yang menunjukkan keindahan bawah laut yang tenang.


Selain itu ada sebuah bukit yang bisa mereka daki yang memberikan pemandangan indah bagi mata mereka.


Bianca dan Arga kemudian memutuskan untuk beristirahat di puncak bukit, merasakan hembusan angin dan pemandangan laut lepas yang begitu tenang.


Arga berdiri di belakang Bianca dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Bianca, sedangkan Bianca menikmati pemandangan itu dengan menyandarkan kepalanya di dada Arga.


"Ini benar-benar sangat indah, seperti pulau pribadi milik kita berdua," ucap Bianca.


"Apa aku harus membeli pulau seperti ini untuk kita Bee?" tanya Arga.


"Tidak Arga, berhentilah menghamburkan uang hanya untuk memenuhi keinginan," jawab Bianca.


"Aku hanya ingin membuatmu senang Bianca," ucap Arga.


"Seperti ini saja sudah sangat membuatku senang Arga, aku tidak ingin kau menghamburkan uangmu hanya untuk membuatku senang," balas Bianca.


Waktu berlalu, setelah puas berkeliling dan menikmati setiap sudut pulau kecil itu, Arga dan Biancapun kembali menaiki kapal.


Tetapi sebelum pulang ke hotel, Arga mengajak Bianca untuk menikmati malam mereka dengan berjalan-jalan dan membeli beberapa street food yang ada disana.


"Apa kau lelah Bee?" tanya Arga.


"Tidak, tidak ada kata lelah dalam kamus liburanku, Arga," jawab Bianca.


"Besok kita akan pulang, apa ada hal lain yang ingin kau lakukan disini?" ucap Arga sekaligus bertanya.


"Mmmm..... aku hanya ingin selalu bersamamu, itu saja," jawab Bianca dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku memang akan selalu bersamamu Bee," balas Arga sambil memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.


Arga kemudian mengajak Bianca kembali ke hotel. Sepanjang jalan Arga berusaha menenangkan dirinya yang sedang gugup saat itu.


Alasan kegugupan Arga adalah karena ia khawatir jika kejutan yang akan ia berikan pada Bianca tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


Ada sedikit ketakutan dalam dirinya jika Bianca akan salah paham dan justru marah padanya. Namun Arga memutuskan tetap melakukan rencananya dengan harapan akan berjalan sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Ada apa denganmu Arga? kenapa kau terlihat gelisah? apa ada masalah?" tanya Bianca saat mereka berdua berada di dalam lift.


"Tidak," jawab Arga dengan tersenyum canggung sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku Arga, aku tau kau terlihat gelisah sejak kita kembali ke hotel," ucap Bianca.


TRIIIING


Pintu lift terbuka, Arga segera meraih tangan Bianca dan berjalan cepat ke arah kamar mereka lalu berhenti tepat di depan pintu kamar.


"Ada apa Arga? apa....."


"Bianca dengarkan aku," ucap Arga memotong ucapan Bianca.


Arga menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan lalu membawa pandangannya menatap Bianca dengan kedua tangannya menggenggam tangan Bianca.


"Kau tau aku sangat mencintaimu bukan?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Kau harus tau jika aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia Bianca, tapi tidak menutup kemungkinan jika aku akan salah melangkah dan membuat kesalahpahaman diantara kita, tapi kau harus selalu ingat jika aku tidak pernah berniat untuk membuatmu bersedih," ucap Arga.


"Aku hanya ingin kita menjalani hidup kita dengan bahagia Bianca, tanpa ada paksaan ataupun perasaan terpaksa yang kita rasakan, kau harus percaya Bianca, aku benar-benar sangat mencintaimu," lanjut Arga bersungguh-sungguh.


Bianca tersenyum lalu melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Arga dan berganti menggenggam tangan Arga.


"Aku tau dan aku percaya padamu Arga, aku rasa itu sudah cukup untuk membuat kita menjalani hidup kita dengan bahagia," ucap Bianca.


Arga menganggukkan kepalanya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.


Bianca kemudian melepaskan tangan Arga dari genggamannya lalu membuka pintu kamarnya.


Bianca membawa langkahnya masuk dengan mengernyitkan keningnya karena ia mencium wangi yang tidak biasa dari kamar tempatnya menginap.


Benar saja, saat Bianca dan Arga sudah masuk ke dalam kamar, Bianca melihat banyak kelopak mawar yang memenuhi lantai.


Tidak hanya itu, lampu kamar mereka bahkan lebih redup dari biasanya dengan lilin-lilin yang menyebarkan wangi di setiap sudut kamar.


Bianca tersenyum lalu membawa pandangannya pada Arga.


"Kita sudah menikah Arga," ucap Bianca.


Arga menganggukkan kepalanya pelan lalu mengambil sebuah kotak cincin yang ada di dalam buket bunga mawar merah.


Arga kemudian berlutut dan menunjukkan cincin berlian berharga ratusan juta itu pada Bianca.


"Kita mengawali pernikahan kita dengan hal yang tidak baik Bianca dan sekarang aku ingin memulainya lagi dengan baik, jadi..... apa kau mau memulai lagi pernikahan kita dengan penuh cinta, Bianca?" ucap Arga sekaligus bertanya.


Tanpa banyak berpikir Bianca segera menganggukkan kepalanya. Arga tersenyum lalu meraih tangan Bianca, melepaskan cincin di jari manis Bianca lalu menggantinya dengan cincin baru yang ia pegang.


Arga kemudian berdiri dan memeluk Bianca dengan erat.


"Itu apa Arga?" tanya Bianca yang melihat benda asing di kamarnya.


Arga kemudian melepaskan Bianca dari pelukannya, lalu berjalan mendekati piringan hitam yang ada di meja kemudian memutar lagu romantis yang mengalun memenuhi kamar.


Arga kemudian mengulurkan tangannya pada Bianca dan tanpa ragu Bianca menerima uluran tangan Arga. Mereka berdua berdansa diantara banyak kelopak mawar yang ada di lantai dengan ditemani alunan musik yang membuat suasana semakin romantis.


"Apa kau bahagia Bee?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Sangat bahagia," jawab Bianca dengan penuh senyum.


Arga kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Bianca lalu menjatuhkan kedua tangannya di pinggang Bianca, sedangkan kedua tangan Bianca melingkar di leher Arga.


Dengan satu kali tarikan, Arga berhasil membuat Bianca semakin mendekat padanya dan tak butuh waktu lama detik membawa mereka berdua bertaut dengan semakin dalam.


Detik-detik waktu yang berjalan bersama alunan musik membawa kemesraan diantara mereka berdua menjadi semakin jauh.


"Aku tidak akan memaksa jika kau tidak menginginkannya," ucap Arga berbisik di telinga Bianca saat mereka berdua sudah terjatuh di atas ranjang.


"Aku mengingatnya Arga, aku sudah mengingat apa yang terjadi semalam saat aku mabuk," balas Bianca.


"Itu artinya, kau....."

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Argapun tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.


"Aku tidak akan menyakitimu Bianca, katakan padaku jika kau merasa sakit ataupun tidak nyaman," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Di tengah deru nafas yang memburu, Arga masih berusaha untuk bisa berpikir jernih karena tidak ingin membuat Bianca merasa tidak nyaman dengan apa yang akan mereka lakukan.


Entah sudah berapa lama mereka melakukannya, tapi yang pasti suhu dingin AC nyatanya tidak mampu mengalahkan peluh yang membasahi mereka berdua.


Arga kemudian mengakhirinya dengan kecupan singkatnya di kening Bianca.


"Terima kasih Bee," ucap Arga sambil membawa Bianca ke dalam dekapannya.


Banyak perasaan yang mereka berdua rasakan saat itu, meskipun diawali dengan kegugupan tetapi akhirnya rasa nyaman dan menyenangkan mulai berhasil mengalihkan kegugupan diantara mereka berdua, membuat mereka berdua menikmati malam terindah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


Malam yang panjangpun berlalu. Arga bangun lebih dulu daripada Bianca. Ia memesan makanan dan minuman dari hotel yang diantar ke kamarnya saat Bianca masih terpejam di atas ranjang.


Arga terdiam untuk beberapa saat, menatap Bianca yang masih tertidur nyenyak di hadapannya.


Tiba-tiba Arga menyadari ada sesuatu pada bad cover putih yang mereka pakai.


"Noda darah, ini hal yang wajar terjadi, tapi.... apa Bianca merasa kesakitan semalam?" ucap Arga sekaligus bertanya dalam hati, khawatir jika apa yang dia lakukan membuat Bianca merasa sakit.


Tak lama kemudian Bianca mengerjap dan melihat Arga yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Arga...." panggil Bianca pada Arga yang tampak melamun saat itu.


Arga hanya tersenyum lalu meraih tangan Bianca dan memberikan kecupan singkatnya.


Bianca kemudian beranjak dari tidurnya dengan memegang selimut di dadanya. Ia masih merasa malu jika harus membuat dirinya benar-benar terbuka di hadapan Arga.


"Aku.... ingin pergi ke kamar mandi," ucap Bianca.


"Aku akan mengantarmu," ucap Arga yang bersiap untuk mengangkat tubuh Bianca, namun dengan cepat Bianca menghindar.


"Aku bisa berjalan sendiri Arga," ucap Bianca.


"Apa kau yakin? apa kau tidak merasa sakit?" tanya Arga khawatir.


Bianca kemudian menyadari noda darah yang ada pada bad cover lalu membawa pandangannya pada Arga.


"Apa karena ini?" tanya Bianca sambil menunjuk noda darah di dekatnya.


"Aku takut aku sudah menyakitimu Bianca, aku...."


"Aku baik-baik saja Arga, bukankah kau tau itu hal yang wajar terjadi?" ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Aku tau, tapi aku takut jika aku tidak melakukannya dengan baik dan membuatmu merasa sakit," balas Arga.


Bianca tersenyum lalu membawa dirinya mendekat pada Arga dan memeluk Arga.


"Kau sudah melakukannya dengan sangat baik," ucap Bianca berbisik lalu segera melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke kamar mandi dengan masih menutup tubuhnya menggunakan selimut.


Sedangkan Arga seketika tersenyum malu mendengar apa yang Bianca katakan padanya.


Tepat pukul 7 pagi, Arga dan Bianca menikmati sarapan mereka di balkon kamar dengan pemandangan pantai yang berada tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Tidak banyak yang mereka berdua bicarakan, karena mereka sama-sama masih merasa canggung.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bianca kemudian masuk ke kamar untuk merapikan barang bawaannya.


Arga kemudian membantu Bianca untuk merapikan semuanya, namun sebelum mereka keluar dari kamar, Arga ingin memastikan sesuatu agar mereka menyudahi rasa canggung diantara mereka berdua.


"Katakan dengan jujur Bianca, apa aku melakukan kesalahan semalam?" tanya Arga pada Bianca.


"Tidak," jawab Bianca singkat sambil mengangkat koper miliknya.


"Tapi kau..."


"Aku tidak tau Arga," ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya padamu, aku tidak tau bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku sangat bahagia, aku terlalu bahagia sampai aku merasa semua ini mimpi, aku bahkan masih berpikir jika apa yang terjadi semalam hanya mimpi yang....."


CUUUUPPPPP


Bianca menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Arga mendaratkan kecupannya pada Bianca, bukan kecupan singkat, namun justru semakin dalam seiring dengan detik yang terus berjalan.


"Aku bahagia Arga, benar-benar sangat bahagia, aku milikmu seutuhnya dan selamanya hanya akan menjadi milikmu," ucap Bianca dengan menatap kedua mata Arga.


"Terima kasih Bianca, terima kasih sudah menerima semua cinta yang aku berikan untukmu, terima kasih karena sudah memberikan banyak kebahagiaan untukku," balas Arga lalu memeluk Bianca dengan erat.

__ADS_1


Setelah kecanggungan diantara mereka berdua melebur, Bianca dan Arga kemudian meninggalkan hotel.


Mereka pulang ke rumah dengan membawa kebahagiaan yang tidak bisa mereka sembunyikan, mereka ingin semua orang tau jika mereka adalah sepasang manusia yang sedang dipenuhi dengan bunga-bunga kebahagiaan yang mekar.


__ADS_2