Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Bertemu Karina


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan Arga akhirnya sampai di depan perusahaan tempat Lola bekerja. Ia kemudian menepikan mobilnya di depan perusahaan itu.


"Jadi disini kau bekerja?" tanya Arga pada Lola.


"Iya, terima kasih sudah mengantarku Arga, terima kasih juga Bianca," balas Lola lalu keluar dari mobil Arga.


Lola melambaikan tangannya pada Bianca sebelum akhirnya ia berjalan masuk meninggalkan mobil Arga.


"Apa kau akan tetap disana?" tanya Arga dengan membawa pandangannya menatap Bianca dari kaca spion.


"Apa kau mengusirku?" balas Bianca yang terkejut mendengar pertanyaan Arga.


"Pindahlah ke depan Bianca, aku bukan sopirmu!" jawab Arga.


"Ooohhh aku pikir kau memintaku untuk turun," ucap Bianca lalu keluar dari mobil Arga untuk pindah duduk di samping Arga.


"Sekarang kemana kau akan pergi? apa kau mau aku mengantarmu kembali pulang?" tanya Arga saat Bianca sudah duduk di sampingnya.


"Tidak perlu, aku akan ikut ke kantormu dan akan menghubungi Pak Dodi agar menjemputku disana," jawab Bianca.


"Baiklah," balas Arga lalu mengendarai mobilnya ke arah kantornya.


"Tentang Daffa, kau pasti berbohong bukan? Daffa pasti masih tidur di kamarmu!" ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga.


"Semalam dia memang tidak bisa tidur, mungkin dia baru tidur saat hampir pagi jadi aku sengaja tidak membangunkannya," balas Arga.


"Sudah ku duga kalian pasti sering berbohong untuk menutupi keburukan satu sama lain!" ucap Bianca.


"Bukankah partner in crime memang seperti itu?" balas Arga dengan tersenyum tipis.


Bianca hanya diam dengan memutar kedua bola matanya dan membawa pandangannya ke arah jalan raya di sampingnya tanpa mengatakan apapun.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Arga akhirnya sampai di tempatnya bekerja. Arga dan Bianca berjalan bersama memasuki pintu utama perusahaan milik orang tua Arga.


"Aku akan menunggu di lobby," ucap Bianca yang membawa langkahnya untuk duduk di lobby.


"Kau bisa menunggu di ruanganku, disana lebih nyaman!" ucap Arga.


"Tidak perlu, aku lebih suka disini, pergilah dan cepat selesaikan pekerjaanmu," balas Bianca sambil mendorong Arga agar menjauh darinya.


"Baiklah, kalau begitu hubungi aku jika Pak Dodi sudah menjemputmu," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca lalu berjalan pergi meninggalkan Bianca.


Bianca kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Pak Dodi, meminta Pak Dodi untuk menjemputnya di tempat kerja Arga.


Waktu berlalu, hampir satu jam Bianca masih duduk di tempatnya menunggu kedatangan Pak Dodi.


Tiba-tiba seorang perempuan tampak membuat keributan di depan resepsionis. Perempuan cantik itu terlihat sedang bersitegang dengan resepsionis yang membuat satpam akhirnya datang dan memaksa perempuan itu untuk pergi.


Namun perempuan itu menolak untuk pergi meskipun sudah ada 2 satpam yang memintanya untuk pergi dengan baik-baik.


"Tolong silakan pergi sebelum kami memaksa dengan melakukan kekerasan," ucap salah satu satpam pada perempuan itu.


Bianca yang hanya diam memperhatikan berusaha mengingat wajah perempuan yang tampak tidak asing di matanya.


"Siapa perempuan itu? sepertinya aku pernah melihatnya," batin Bianca bertanya dalam hati.


Setelah beberapa lama berpikir, memori Bianca akhirnya kembali mengulas saat seorang perempuan menabraknya saat ia berjalan di lobby dengan membawa kue.


"Aaahh iya, dia perempuan yang menabrakku saat itu," ucap Bianca dalam hati yang mulai mengingat siapa perempuan yang tengah membuat keributan di hadapannya.


"Sebenarnya siapa dia? kenapa dia membuat keributan disini? pasti dia mengenal seseorang yang bekerja disini karena waktu itu aku melihatnya menangis saat dia menabrakku," batin Bianca dalam hati.


Tiba-tiba satpam mulai menarik perempuan itu dengan kasar agar perempuan itu segera keluar dari kantor, melihat hal itu Biancapun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri satpam serta perempuan itu.


"Ada apa ini Pak?" tanya Bianca dengan membawa pandangannya pada kedua satpam yang memegang erat kedua tangan perempuan itu.


"Dia memaksa untuk masuk padahal dia termasuk dalam daftar hitam orang yang dilarang untuk masuk ke dalam kantor," jelas satpam.


"Daftar hitam? kenapa dia bisa masuk daftar hitam?" tanya Bianca.


"Maaf kami juga tidak mengerti karena kami hanya menjalankan perintah dari atasan," jawab satpam yang lain.


"Tidak perlu memperlakukannya dengan kasar seperti ini, tolong lepaskan dia," ucap Bianca pada kedua satpam itu.


"Tapi dia tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kantor, ini adalah perintah dan kami akan mendapatkan hukuman jika tidak menjalankan perintah," balas satpam membela diri.


"Saya mengerti, saya yang akan bertanggung jawab, bapak mengenal saya bukan!"


Kedua satpam itu saling pandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka melepaskan tangan perempuan itu.


"Tinggalkan dia, saya sendiri yang akan berbicara padanya," ucap Bianca pada kedua satpam itu.

__ADS_1


Kedua satpam itupun akhirnya keluar, membiarkan perempuan itu bersama Bianca.


"Hai, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," ucap Bianca pada perempuan itu.


"Benarkah? maaf tapi sepertinya aku tidak mengingatmu," balas perempuan itu.


"Tidak masalah karena memang sepertinya saat itu kau sedang terburu-buru, aku Bianca istri Arga Narendra, CEO perusahaan ini," ucap Bianca sambil mengulurkan tangannya pada perempuan itu.


"Karina," balas Karina sambil menjabat tangan Bianca.


"Nama yang cantik, jika kau tidak keberatan duduklah mungkin aku bisa membantumu untuk menemui seseorang disini," ucap Bianca yang dibalas anggukkan kepala oleh Karina.


Bianca dan Karinapun duduk di kursi yang ada di lobby.


"Sepertinya kau mengenal seseorang yang bekerja disini, di bagian apa dia bekerja dan siapa namanya? aku akan mencoba untuk berbicara pada Arga agar membiarkanmu bertemu dengan seseorang yang ingin kau temui itu," ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Aku memang ingin menemui seseorang yang bekerja disini, aku mengenalnya dengan sangat baik karena dia adalah masa lalu terindahku," jawab Karina.


"Masa lalu?" tanya Bianca mengulang ucapan Karina.


"Iya, dia adalah mantan kekasihku, tapi sepertinya dia sengaja tidak ingin bertemu denganku," jawab Karina.


"Apa kau sudah menghubunginya? mungkin ini hanya kesalahpahaman saja!"


"Aku sengaja tidak menghubunginya karena aku ingin memberinya kejutan, tapi sepertinya dia sudah tidak mengharapkan kedatanganku lagi padahal sebelumnya dia selalu mencariku," ucap Karina.


"Sepertinya masalahmu cukup rumit, karena itu masalah pribadi antara kau dan masa lalumu aku minta maaf karena tidak bisa membantu," ucap Bianca.


"Kau sudah cukup membantuku dengan membelaku di depan kedua satpam yang kasar tadi, terima kasih," balas Karina.


"Aku hanya tidak suka melihat mereka memperlakukanmu dengan kasar," ucap Bianca.


"Terima kasih sudah membantuku Bianca, setelah mengobrol denganmu aku menjadi sedikit lebih tenang sekarang," ucap Karina.


Bianca hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


Dari raut wajahnya, Bianca bisa melihat jika Karina seperti sedang menyimpan masalah hidup yang cukup berat.


"Sepertinya aku harus pergi, sekali lagi terima kasih karena sudah membantuku," ucap Karina lalu beranjak dari duduknya.


Karina kemudian membawa langkahnya meninggalkan Bianca, sedangkan Bianca masih duduk di tempatnya untuk menunggu kedatangan Pak Dodi.


Tak lama kemudian Pak Dodi menghubungi Bianca, memberitahu Bianca jika dirinya sudah berada di depan kantor.


"Maaf sudah membuat non Bianca menunggu lama, jalanan sangat macet karena ada kecelakaan non," ucap pak Dodi yang merasa bersalah pada Bianca.


"Tidak apa-apa Pak," balas Bianca.


Saat Pak Dodi baru saja mengendarai mobilnya meninggalkan kantor, tanpa sengaja Bianca melihat Karina yang sedang berdiri di trotoar jalan raya, Biancapun segera meminta Pak Dodi untuk menghentikan mobilnya.


"Tolong berhenti Pak!" ucap Bianca yang membuat Pak Dodi segera menepikan mobilnya untuk berhenti.


"Tunggu sebentar Pak, Bianca akan segera kembali," ucap Bianca lalu keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri Karina.


"Karina, apa yang kau lakukan disini? apa kau menunggu seseorang?" tanya Bianca pada Karina.


"Aku sedang menunggu taksi," jawab Karina.


"Kemana kau pergi? aku akan mengantarmu, jam pagi seperti ini pasti sulit untuk mendapatkan taksi."


"Terima kasih Bianca, tapi aku tidak ingin merepotkanmu," balas Karina.


"Aku sama sekali tidak merasa repot, lagi pula bukan aku yang mengendarai mobil hehehe..." ucap Bianca


Akhirnya Karinapun mengikuti Bianca masuk ke dalam mobil dan memberitahu Bianca kemana tujuannya saat itu.


"Klinik psikiatri? apa kau bekerja disana?" tanya Bianca yang sedikit terkejut setelah ia mendengar tempat tujuan Karina.


"Tidak, aku tidak bekerja disana, aku pasien," jawab Karina dengan tersenyum.


"Pasien? di klinik psikiatri?" tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Karina.


"Tenang saja Bianca, aku tidak gila hanya hampir gila hehehe...." ucap Karina.


"Aku sama sekali tidak berpikir kau seperti itu, semua orang memiliki masalahnya masing-masing dan menjadi pasien di klinik psikiatri bukan berarti seseorang itu gila," balas Bianca


"Pada kenyataannya aku memang pernah gila Bianca, dulu aku hampir menghilangkan nyawaku sendiri, aku mau minum racun serangga dengan sengaja, aku juga pernah hampir melompat dari gedung tinggi," ucap Karina yang membuat Bianca begitu terkejut.


Seketika Bianca membawa tangannya menggenggam tangan Karina, seolah mengerti bagaimana putus asanya Karina saat itu.


"Aku harap masa-masa itu sudah berakhir," ucap Bianca.

__ADS_1


"Aku juga berharap seperti itu Bianca, tapi sepertinya aku akan kembali gila, terlebih setelah dia mengabaikanku seperti ini," balas Karina.


"Dia?"


"Masa laluku, dia yang sudah membuatku gila Bianca dan aku takut jika aku akan semakin gila sekarang," jawab Karina.


"Tidak Karina, jangan pernah berpikir seperti itu, kau pasti bisa melalui semuanya," ucap Bianca yang tidak ingin Karina menyerah atas masalah hidupnya.


30 menit berlalu Pak Dodipun sampai di tempat tujuan Karina.


"Aku sudah sampai Bianca, terima kasih sudah mengantarku," ucap Karina.


"Bolehkah aku menunggumu disini? aku tidak akan ikut denganmu untuk menemui psikiater, aku hanya akan menunggumu di luar!"


"Kenapa kau menungguku disini?" tanya Karina.


"Karena aku ingin berteman denganmu dan tentu saja jika kau mau," jawab Bianca.


"Tentu saja aku mau, kau adalah teman pertamaku Bianca," balas Karina dengan penuh senyum lalu memeluk Bianca.


Karina dan Bianca kemudian keluar dari mobil. Karina membawa langkahnya memasuki salah satu ruangan yang ada disana, sedangkan Bianca menunggu di luar ruangan itu.


Setelah beberapa lama menunggu, Karina akhirnya keluar dari ruangan itu dengan kedua mata yang tampak merah seperti baru saja menangis.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bianca yang hanya dibalas senyum hambar oleh Karina.


"Dimana rumahmu aku akan mengantarmu pulang," tanya Bianca.


"Aku bisa pulang sendiri Bianca, aku tidak ingin terlalu merepotkanmu," balas Karina.


"Kita sudah berteman Karina, apa aku tidak boleh mengantarmu pulang?"


"Tentu saja boleh, tapi....."


"Tidak ada tapi, sekarang tunjukkan saja padaku, dimana alamat rumahmu!" ucap Bianca sambil menarik tangan Karina untuk masuk ke dalam mobil.


Karina kemudian memberitahu alamat rumahnya dan Pak Dodipun segera mengendarai mobil ke arah alamat rumah Karina.


"Tentang mantan kekasihmu itu, apa dia tahu apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Bianca pada Karina.


"Dia tidak tahu jika aku pernah mencoba untuk bunuh diri, tetapi dia tahu jika aku sering mengunjungi klinik psikiatri tetapi sepertinya dia benar-benar sudah tidak peduli padaku," jawab Karina.


"Kalau begitu lupakan saja dia, banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik darinya dan yang pasti laki-laki yang bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Bianca.


"Tapi aku hanya mencintainya Bianca, dia bukan hanya sekedar masa lalu bagiku, sudah banyak hal yang aku lewati bersamanya dan semua itu tidak akan mudah untuk aku lupakan," ucap Karina.


Bianca menghela nafasnya lalu meraih tangan Karina dan menggenggamnya.


"Sekarang kau memiliki aku sebagai temanmu, jadi kau bisa menceritakan apapun masalahmu padaku asalkan kau berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi," ucap Bianca.


Karinapun hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Sepertinya akan ada jalan baru yang terbuka untukku kali ini, kau tidak akan bisa lari lagi dariku Arga," ucap Karina dalam hati dengan penuh senyum.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Pak Dodipun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Karina.


"Kau tinggal disini?" tanya Bianca.


"Iya, aku tinggal disini sendiri, apa kau mau mampir?" balas Karina.


"Terima kasih, tapi sepertinya lain kali saja, kau harus beristirahat dan menjauhkan pikiranmu dari hal-hal bodoh yang pernah kau lakukan dulu," ucap Bianca.


"Aku akan berusaha," balas Karina dengan tersenyum.


Setelah berterima kasih, Karina kemudian keluar dari mobil Bianca. Ia melambaikan tangannya pada Bianca sampai mobil Bianca perlahan menjauh dari pandangannya.


Sebelum pulang ke rumah, Bianca memutuskan untuk pergi ke kafe tempat ia dulu bekerja.


Ia sengaja pergi kesana untuk membeli kue yang pernah ia belikan untuk Arga.


"Duduklah dulu, aku akan menyiapkannya untukmu!" ucap teman Bianca.


"Baiklah," balas Bianca lalu membawa langkahnya duduk di salah satu bangku yang ada di kafe itu.


Tiba-tiba seorang pria yang berada di belakang Bianca menggeser kursinya mendekat pada Bianca.


"Kita bertemu lagi," ucapnya yang membuat Bianca begitu terkejut saat Bianca mengingat dengan pasti siapa pemilik suara itu.


"Perusahaan Arga pasti sedang kacau saat ini, tidak ada apapun yang bisa Arga lakukan untuk mengembalikan keadaan karena hanya aku yang bisa melakukannya," ucap pria itu.


Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa ada rasa takut dalam dirinya saat itu.

__ADS_1


"Jam 07.00 malam, datanglah dan aku akan segera mengembalikan keadaan perusahaan Arga!" ucap pria itu sambil menaruh sebuah kertas di atas meja Bianca lalu berjalan pergi begitu saja.


__ADS_2