
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumahnya. Baru saja Arga memarkirkan mobilnya, Bianca segera keluar dari mobil dan berjalan cepat meninggalkan Arga.
Argapun segera berlari mengikuti Bianca dan menahan tangan Bianca.
"Berjalanlah dengan hati-hati Bee, jangan berlari, ada yang harus kau jaga sekarang," ucap Arga sambil mengelus perut Bianca yang masih rata.
"Aku kesal padamu Arga, aku benar-benar sangat kesal!" balas Bianca dengan raut wajahnya yang sangat kesal.
"Tentang apa yang aku katakan tadi?" tanya Arga namun Bianca hanya mengalihkan pandangannya dari Arga dengan raut wajahnya yang masih kesal.
"Hahaha maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku saat itu, lagi pula kau juga yang menggodaku terlebih dahulu, jadi jangan salahkan aku jika aku melakukannya saat itu," ucap Arga.
"Ini tidak adil, hanya kau yang mengingatnya tetapi aku tidak mengingatnya sama sekali," ucap Bianca dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kita bisa melakukannya lagi sekarang agar kau bisa mengingatnya hehe..." ucap Arga yang membuat Bianca menggelengkan kepalanya dan segera melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga.
"Jangan berlari Bianca, kau harus berhati-hati," ucap Arga setengah berteriak.
Arga kemudian masuk ke dalam kamarnya dimana sudah ada Bianca yang duduk di tepi ranjangnya, tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Arga, apa kita bisa melakukannya saat aku sedang hamil?" tanya Bianca.
"Aku akan menanyakannya pada dokter Sandra," jawab Arga sambil mengambil ponselnya yang ada di saku pakaiannya, namun Bianca segera merebutnya.
"Aku sudah terlihat sangat memalukan saat aku mengatakan hal yang tidak perlu saat di rumah sakit tadi, jadi jangan membuatku semakin malu dengan pertanyaan konyolmu itu," ucap Bianca.
"Tidak ada yang salah dengan pertanyaanku Bianca, lagi pula kita memang memerlukan jawaban yang pasti dari dokter agar tidak terjadi kesalahan, benar begitu bukan?" balas Arga.
"Iya tapi....."
"Aku sendiri yang akan menanyakannya pada dokter Sandra, jadi anggap saja kau tidak mengetahuinya," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.
Tanpa ragu, Arga kemudian menghubungi dokter Sandra dan menanyakan pertanyaan yang sudah ia bahas dengan Bianca sebelumnya.
"Jika dilihat dari keadaan Bianca dan janinnya, saya bisa mengatakan boleh untuk melakukannya dengan cara yang wajar dan lebih berhati-hati," jawab dokter Sandra yang membuat Arga bisa bernafas lega.
"Bianca juga harus rutin memeriksakan kandungannya untuk memastikan keadaan janin dalam rahimnya, Arga," ucap dokter Sandra.
"Baik dok Arga mengerti, terima kasih penjelasannya dan maaf sudah mengganggu waktu dokter," ucap Arga.
Setelah panggilan terakhir, Argapun segera menjelaskan pada Bianca tentang apa yang dokter Sandra katakan pada Arga.
"Kau tidak berbohong padaku bukan?" tanya Bianca meragukan ucapan Arga.
"Tentu saja tidak, selama keadaanmu dan calon bayi kita baik-baik saja, tidak ada salahnya melakukannya," jawab Arga.
"Baiklah," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari ranjangnya, namun Arga segera menahan Bianca dengan menekan kedua bahu Bianca agar Bianca kembali duduk di ranjang.
"Tidak sekarang Arga, aku belum mandi," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita bisa mandi setelah ini," balas Arga dengan penuh senyum.
Bersama detik jam yang terus berputar, Arga dan Biancapun melakukan hal indah dan menyenangkan bersama peluh yang mulai membasahi keduanya.
**
Di tempat lain, Daffa yang sedang mengerjakan pekerjaannya beberapa kali membawa pandangannya ke arah ruangan Arga, namun ia hanya mendapati ruangan Arga yang kosong.
"Kenapa dia terlambat? apa terjadi sesuatu?" tanya Daffa pada dirinya sendiri lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Arga.
Beberapa kali Daffa mencoba menghubungi Arga, namun sama sekali tidak ada jawaban. Daffapun beralih untuk menghubungi Bianca dan sama seperti Arga, Bianca juga tidak menerima panggilannya sama sekali.
Karena khawatir, Daffa kemudian menghubungi nomor rumah Arga yang segera diterima oleh bibi.
"Halo Bi ini Daffa, apa Arga sudah berangkat ke kantor?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
"Sepertinya Tuan Arga tidak berangkat ke kantor, karena sampai sekarang tuan Arga dan non Bianca belum keluar dari kamar," jawab bibi.
"Astaga, ini sudah sangat siang kenapa mereka belum keluar dari kamar?" tanya Daffa.
"Tadi pagi non Bianca dan Tuan Arga pergi ke rumah sakit, setelah itu mereka kembali dan segera masuk ke kamar dan belum keluar sampai sekarang," jelas bibi.
"Ke rumah sakit? siapa yang sakit Bi?" tanya Daffa yang semakin khawatir.
__ADS_1
"Bibi juga tidak tahu, tetapi sepertinya non Bianca dan Tuan Arga terlihat sangat senang setelah mereka kembali dari rumah sakit," jawab bibi
"Apa yang sebenarnya terjadi? hal gila apalagi yang mereka lakukan?" tanya Daffa dengan menghela nafasnya lalu mengakhiri panggilannya pada bibi.
Daffa kemudian melanjutkan mengerjakan pekerjaannya dengan kesal karena Arga sama sekali tidak menghubunginya jika memang Arga tidak berangkat ke kantor hari itu.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang saat ponsel Daffa berdering karena panggilan masuk dari Arga.
Daffa sengaja mengabaikan panggilan itu sampai akhirnya telepon di hadapannya berdering yang membuat Daffa segera menerimanya, karena ia berpikir jika itu adalah panggilan penting tentang pekerjaannya.
Namun Daffa menghela nafasnya kesal saat ia menyadari jika yang berbicara melalui sambungan telepon itu adalah Arga.
"Kau pasti sengaja tidak menerima panggilanku bukan?" tanya Arga setelah panggilannya diterima oleh Daffa.
"Aku sedang sibuk mengerjakan banyak pekerjaan karena CEO yang tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya," jawab Daffa yang membuat Arga terkekeh.
"Maafkan aku Daffa, aku lupa menghubungimu tadi pagi," ucap Arga.
"Lalu kenapa kau sekarang menghubungiku? apa kau ingin menambah pekerjaanku lagi?" tanya Daffa kesal.
"Tidak, justru aku ingin mengajakmu untuk makan malam, kau bisa mengajak Lola juga karena aku dan Bianca ingin memberitahu kalian kabar gembira," jawab Arga.
"Kabar gembira apa?" tanya Daffa penasaran.
"Aku akan memberitahumu saat makan malam nanti, aku akan mengirimkan lokasinya padamu jadi jangan terlambat datang bersama Lola, oke?"
"Oke baiklah, kali ini kau ku maafkan, tetapi aku tidak akan tinggal diam lagi jika kau tidak berangkat ke kantor tanpa mengabariku terlebih dahulu!" ucap Daffa.
"Hahaha maafkan aku, itu tidak akan terulang lagi, aku....."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Daffa sengaja mengakhiri panggilan Arga begitu saja lalu kembali fokus dengan pekerjaannya agar ia bisa makan siang tepat waktu.
Setelah Daffa menyelesaikan salah satu pekerjaannya, iapun segera menghubungi Lola, memberi tahu Lola tentang ajakan Arga untuk makan malam bersama.
"Apa sebaiknya kita juga memberikan kabar gembira kita pada Bianca dan Arga?" tanya Lola.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Bianca dan Arga sampai di restoran tempat mereka akan makan malam bersama Daffa dan Lola.
Setelah menunggu beberapa lama, Daffa dan Lolapun tiba. Merekapun menikmati makan malam mereka dengan berbasa-basi ringan.
"Daffa bilang ada kabar gembira yang ingin kalian katakan, apa itu?" ucap Lola sekaligus bertanya.
Bianca dan Arga kemudian saling pandang dan tersenyum, membuat Lola dan Daffa semakin penasaran.
Bianca kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Lola.
"Apa ini dimaksudnya Bianca? apa ini artinya kau sedang hamil sekarang?" tanya Lola setelah ia melihat foto hitam putih yang merupakan hasil USG Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum yang membuat Lola begitu terkejut dan segera beranjak dari duduknya untuk memeluk Bianca.
"Selamat Bianca, aku senang sekali mendengarnya," ucap Lola senang.
"Terima kasih Lola, sebentar lagi kau akan mempunyai keponakan baru," ucap Bianca yang dibalas anggukan kepala oleh Lola.
"Aku sangat tidak sabar untuk melihatnya, dia pasti akan secantik dirimu dan setampan Arga, tapi aku harap dia tidak akan semenyebalkan Arga hahaha..." ucap Lola diikuti tawa Daffa dan Bianca.
"Selamat Bianca, Arga, semoga semuanya berjalan dengan baik sampai hari kelahiran tiba," ucap Daffa dengan membawa pandangannya pada Bianca dan Arga.
Sebagai sahabat yang sangat mengetahui bagaimana perjalanan Arga dan Bianca, Daffa tidak hanya senang tapi juga merasa bangga karena Arga dan Bianca bisa berada di titik kebahagiaan yang saat ini mereka dapatkan.
"Aku juga memiliki sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu Bianca," ucap Lola pada Bianca.
"Benarkah? apa itu?" tanya Bianca.
Lola kemudian mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya pada Bianca, membuat Bianca begitu terkejut setelah ia mengetahui apa yang Lola berikan padanya.
"Lola, Daffa, kalian akan menikah? apa ini sungguhan? apa kalian sedang bercanda?" tanya Bianca tak percaya.
"Mereka memang akan segera menikah Bee," sahut Arga.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak terkejut Arga? apa kau sudah mengetahuinya sebelumnya?" tanya Bianca pada Arga.
"Aku memang sudah mengetahuinya, tetapi aku belum tahu tanggal pasti pernikahan mereka, itu kenapa aku tidak memberitahumu dan membiarkan mereka mengatakannya sendiri padamu," jawab Arga.
"Astaga Lola, kenapa kau baru memberitahuku sekarang? aku seperti orang lain yang tidak mengetahui apapun tentang rencanamu ini!" ucap Bianca.
"Aku sengaja mempersiapkan semuanya dengan Daffa diam-diam karena tidak ingin mengganggumu dan Arga, Bianca," balas Lola.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? aku merasa seperti teman yang tidak berguna sekarang, aku bahkan tidak mengetahui rencana pernikahan sahabatku sendiri," ucap Bianca.
"Kau sahabat terbaikku Bianca, hanya kau yang aku miliki selain Daffa," ucap Lola dengan menggenggam tangan Bianca di atas meja.
"Kau membuatku ingin menangis Lola," ucap Bianca dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Kenapa? apa ada yang salah dari ucapanku?" tanya Lola.
"Tidak, aku hanya merasa...... terharu," jawab Bianca yang benar-benar meneteskan air matanya tiba-tiba.
Arga yang melihat hal itu hanya bisa menepuk pelan bahu Bianca dan membawa kepala Bianca bersandar padanya.
"Hari ini adalah hari yang membahagiakan tidak hanya bagi kita Bianca, tapi juga bagi Lola dan Daffa, jadi simpan air matamu untuk sementara," ucap Arga sambil menghapus air mata di pipi Bianca.
Lola yang melihat Bianca menangis di hadapannya seketika membawa pandangannya pada Daffa, ia terkejut melihat Bianca yang dengan mudah menangis.
Sejauh yang Lola tahu, Bianca bukanlah tipe perempuan yang bisa dengan mudah menangis apalagi memperlihatkannya di depan orang lain.
Setelah Bianca lebih bisa mengendalikan perasaannya, suasana kembali ceria dengan dipenuhi kebahagiaan.
"Acara pernikahan kalian satu bulan lagi, tetapi aku belum mendapat laporan cuti darimu Daffa!" ucap Arga pada Daffa.
"Sebenarnya aku sudah mengajukan cuti tetapi setelah aku melihat jadwalmu sepertinya bulan depan tidak akan ada waktu cuti untukku," balas Daffa.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Bianca.
"Ini memang kesalahanku, aku sedikit ceroboh dalam menentukan tanggal pernikahanku dengan Lola, aku dan Lola sudah mempersiapkan semuanya sesuai tanggal yang sudah kita sepakati sebelum aku yakin jika pada tanggal itu aku bisa cuti," jawab Daffa.
"Tapi jangan khawatir, hari pernikahan kita adalah hari Minggu jadi aku masih memiliki waktu satu hari untuk bebas dari pekerjaanku dan hanya menghabiskan waktuku bersama istriku," lanjut Daffa sambil membawa pandangannya pada Lola dengan tersenyum.
"Arga, kau tidak akan membiarkan hal itu terjadi bukan? bagaimana mungkin mereka hanya memiliki waktu satu hari untuk bersama sebagai pengantin baru!" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Arga.
"Aku akan melihat jadwalku untuk bulan depan, jika memang memungkinkan aku akan menghandle semuanya sendiri sampai beberapa hari," jawab Arga.
"Aku sudah memeriksanya Arga dan bulan depan sama sekali tidak ada waktu bagi kita untuk bersantai apalagi cuti," sahut Daffa.
"Jangan khawatir, aku akan memohon pada Arga dan dia pasti akan mengabulkan permohonanku, benar begitu bukan?" ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga di akhir kalimatnya dengan penuh senyum.
"Mmmm..... kita lihat saja nanti," balas Arga.
"Arga....." ucap Bianca manja dengan mendekatkan dirinya pada Arga, memeluk mesra lengan tangan Arga dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Arga.
Argapun tersenyum lalu mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya," ucap Arga luluh.
Lola yang melihat hal itu hanya terdiam untuk beberapa saat, dalam hatinya ia seperti tidak mengenal Bianca yang ada di hadapannya saat itu.
"Dia bukan seperti Bianca yang aku kenal," ucap Lola berbisik pada Daffa yang duduk di sampingnya.
Daffa hanya tersenyum tipis sambil menggenggam tangan Lola yang ada di bawah meja.
Merekapun menyelesaikan makan malam mereka dengan sama-sama bertukar kabar gembira yang membuat mereka semakin bahagia. Bianca dan Arga dengan berita kehamilan Bianca, sedangkan Lola dan Daffa dengan berita pernikahan mereka.
Setelah Arga dan Bianca meninggalkan restoran, Daffa juga mengendarai mobilnya meninggalkan restoran bersama Lola yang duduk di sampingnya.
"Sudah sangat lama aku mengenal Bianca dan baru kali ini aku melihatnya sangat manja pada laki-laki," ucap Lola yang masih heran dengan sikap Bianca.
"Laki-laki itu adalah suaminya, tidak ada yang salah dengan hal itu bukan?" balas Daffa.
"Memang tidak ada yang salah, tapi karena aku sangat mengenal Bianca, jadi hal itu sangat aneh bagiku," ucap Lola.
"Mungkin itu karena hormon kehamilannya dan mungkin kau juga akan seperti itu saat kau hamil nanti," ucap Daffa yang membuat Lola menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan berpikir terlalu jauh Daffa, pernikahan kita masih satu bulan lagi!" ucap Lola yang membuat Daffa terkekeh.
__ADS_1