
Di sisi lain, Arga yang sudah dipenuhi emosi menghajar pria di hadapannya tanpa ampun.
Setiap pukulan yang ia berikan pada pria itu datang bersamaan dengan ingatan Arga tentang bagaimana pria itu menampar Bianca di hadapannya.
"Menampar gadis itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kau lakukan dalam hidupmu!" Ucap Arga penuh emosi.
Perkelahian antara Arga dan pria itu begitu sengit. Arga bahkan beberapa kali mendapatkan tinjuan dari pria itu yang membuat sudut bibirnya berdarah.
Namun karena emosi yang sudah menguasai dirinya, Arga terus menyerang pria itu bahkan sampai tangannya terluka.
Kini pria kekar di hadapannya itu sudah terkapar penuh darah. Saat Arga akan melayangkan pukulan terakhirnya, tiba-tiba Daffa datang dan menahan tangan Arga.
"Arga hentikan, kau bisa membunuhnya!" Ucap Daffa yang melihat pria di hadapan Arga sudah tidak bergerak.
Arga kemudian beranjak sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Arga kemudian kembali menemui rentenir itu dengan keadaannya yang begitu kacau.
"Urusanku dengan mereka sudah selesai, sekarang bereskan sendiri sisanya, pastikan agar kau tidak melakukan kesalahan!" Ucap Arga pada rentenir itu.
"Bb... Baik," balas rentenir itu ketakutan.
Ketakutan rentenir itu bukan tanpa alasan, selain karena takut bisnis haramnya akan hancur, ia juga melihat bagaimana bengisnya Arga saat Arga menyerang salah satu anak buahnya.
Arga dan Daffa kemudian masuk ke dalam mobil. Daffa segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Selesaikan apa yang harus kau selesaikan Daffa!" Ucap Arga pada Daffa.
"Aku mengerti," balas Daffa.
Daffa mengantar Arga kembali ke tempat mereka bertemu. Sesampainya disana, Arga segera turun dari mobil Daffa.
"Apa kau yakin bisa mengendarai mobil sendiri?" Tanya Daffa khawatir.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Arga kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya pergi begitu saja.
Di tempat lain, Bianca masih berada di meja makan. Ia menunggu kedatangan Arga meski jam sudah hampir menunjukkan tengah malam.
Bianca memegangi perutnya yang semakin terasa sakit sejak beberapa jam yang lalu. Namun itu tidak membuatnya beranjak dari duduknya.
Hingga akhirnya Bianca menjatuhkan dirinya di lantai sambil merintih menahan sakit di perutnya.
Pisau-pisau tajam seperti tengah menusuk perutnya karena ia terlambat makan malam itu. Bianca merintih sambil terus memegangi perutnya.
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar di telinga Bianca.
Arga yang baru saja sampai di rumah di segera membawa langkahnya berjalan ke arah tangga.
Namun pandangannya tertuju pada meja makan yang masih penuh dengan makanan. Hingga akhirnya Arga menyadari gadis cantik itu terkapar di lantai dengan memegangi perutnya.
"Bianca, apa yang terjadi padamu?" Tanya Arga yang segera menghampiri Bianca.
"Arga.... Perutku.... Sakit sekali....." Jawab Bianca tertatih.
Tanpa banyak bertanya lagi Arga segera menaruh tas kerja dan jas yang dibawanya. Arga segera membopong Bianca keluar dari rumah.
Arga berteriak memanggil pak satpam agar membantunya membuka mobilnya, Arga kemudian mendudukkan Bianca di dalam mobilnya lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah ke arah rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Bianca hanya merintih dengan menggigit bibirnya sambil memegangi perutnya.
"Bertahanlah Bianca, sebentar lagi kita sampai," ucap Arga sambil sesekali membawa pandangannya pada Bianca.
Sesampainya di rumah sakit, Biancapun segera diperiksa oleh dokter. Setelah beberapa lama menunggu, dokter akhirnya keluar dan menjelaskan pada Arga jika Bianca baik-baik saja.
"Pastikan agar pasien tidak terlambat makan, karena jika hal ini terus terjadi itu akan berakibat buruk pada lambungnya," jelas dokter pada Arga.
"Baik dok, terima kasih," balas Arga.
Arga kemudian membawa langkahnya masuk ke ruangan Bianca. Ia duduk di samping ranjang Bianca dengan menatap Bianca yang terlelap.
karena sudah sangat lelah Arga pun menjatuhkan kepalanya di samping tangan Bianca lalu dengan cepat terlelap dalam tidurnya.
Waktu berlalu, malam yang gelap telah berganti menjadi pagi. Bianca mengerjapkan matanya dan mendapati Arga yang tidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya dan kepalanya yang berada di ranjang Bianca.
"Arga bangunlah!" ucap Bianca sambil menyentuh kepala Arga dengan pelan.
Arga mengerjapkan matanya lalu membuka matanya dan melihat gadis cantik di hadapannya. Tanpa sadar Arga tersenyum lalu mengangkat kepalanya dari ranjang Bianca.
"Bagaimana keadaanmu? apa kau sudah lebih baik?" tanya Arga pada Bianca.
"Arga, kau terluka?" tanya Bianca tidak menghiraukan pertanyaan Arga saat ia menyadari jika sudut bibir Arga terluka.
"Aaahh ini, hanya luka kecil," jawab Arga.
Bianca terdiam untuk beberapa saat memperhatikan Arga yang duduk di dekatnya, ia melihat Arga begitu berantakan.
__ADS_1
Kemeja Arga terlihat lusuh dan kotor, bahkan ada beberapa kancing kemeja Arga yang tampak terlepas dan yang membuat Bianca terkejut adalah seperti ada bercak darah di beberapa bagian kemeja Arga yang berwarna putih itu.
Biancapun segera beranjak lalu memeriksa bercak merah yang ada di kemeja Arga.
"Arga, ini darah?" tanya Bianca sambil memegang kemeja Arga.
"Aahhh sial, harusnya aku mengganti pakaianku sebelum kau bangun," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
"Arga jawab pertanyaanku, apa ini darah? apa ini darahmu?" tanya Bianca khawatir.
"Bukan, ini bukan darahku, ini....."
Arga menghentikan ucapannya saat dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Bianca.
Dokter kemudian memeriksa keadaan Bianca dan mengatakan jika Bianca sudah diperbolehkan pulang pagi itu.
"Sus, sepertinya suami saya juga membutuhkan pengobatan," ucap Bianca pada suster.
"Baik, saya akan mengobatinya," balas suster lalu membersihkan dan mengobati luka Arga.
Setelah memeriksa keadaan Bianca dan mengobati luka Arga, dokter dan suster itupun keluar dari ruangan Bianca.
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang, karena aku juga harus segera pergi ke kantor," ucap Arga pada Bianca.
"Apa tidak sebaiknya kau beristirahat dulu di rumah? sepertinya kau tidak sedang baik-baik saja," tanya Bianca.
"Aku baik-baik saja Bee," jawab Arga dengan tersenyum lalu membantu Bianca untuk turun dari ranjang.
Arga dan Bianca kemudian meninggalkan rumah sakit. Arga mengendarai mobilnya kembali ke rumah bersama Bianca yang duduk di sampingnya.
Sesampainya di rumah, Arga mengantar Bianca untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Arga kau belum memberitahuku apa yang terjadi padamu!" ucap Bianca dengan raut wajah khawatir.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, sekarang kau harus beristirahat, aku akan meminta bibi untuk membawa makananmu kesini," balas Arga.
"Tapi....."
"Aku baik-baik saja Bianca, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, sekarang aku harus bersiap untuk ke kantor, jangan lupa minum obatmu!" ucap Arga lalu keluar dari kamar Bianca.
Arga membawa langkahnya masuk ke kamarnya, mengguyur badannya di kamar mandi untuk beberapa saat lalu bersiap untuk ke kantor.
Sepanjang perjalanan Arga tidak berhenti menggerakkan tubuhnya, ia merasa seluruh tubuhnya terasa sakit saat itu.
Sesampainya di ruangannya, Arga tidak segera duduk di kursi kerjanya melainkan membaringkan dirinya di sofa yang ada di ruangannya.
"Aku sangat lelah, seharusnya aku beristirahat saja di rumah!" ucap Arga dalam hati sambil menutup matanya dengan menggunakan lengan tangannya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Arga segera beranjak dari tidurnya dan menghela nafasnya kesal saat ia melihat Daffa yang berdiri di pintu ruangannya yang sudah terbuka.
"Apa kau sedang tidur?" tanya Daffa yang sudah duduk di samping Arga.
"Tidak," jawab Arga singkat sambil meregangkan otot-otot di tubuhnya.
"Sepertinya kau terlihat sangat lelah, kau sudah banyak menghabiskan energimu semalam," ucap Daffa.
"Tapi semua itu membuatku puas," balas Arga dengan tersenyum tipis.
"Kau benar-benar mengerikan saat sudah emosi seperti itu, jika aku tidak menghentikanmu mungkin kau akan benar-benar membunuhnya," ucap Daffa.
"Dia memang pantas mendapatkannya," balas Arga.
"Kau sedikit berlebihan jika alasanmu hanya karena dia menampar Bianca," ucap Daffa.
"Berlebihan? dia....."
"Bianca bukan perempuan yang kau cintai bukan? apa kau sadar jika kau hampir membunuh orang hanya karena orang itu melukai Bianca, perempuan yang hanya berstatus sebagai istri di atas kertas bagimu," ucap Daffa memotong ucapan Arga.
"Kau memperlakukan Bianca seperti Bianca sangat berharga bagimu, sikapmu ini bisa membuat semua orang salah paham Arga, dengan sikapmu yang seperti itu kau membuatku berpikir jika kau benar-benar sudah jatuh cinta pada Bianca," lanjut Dafa.
"Tidak, itu tidak benar," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kursi kerjanya.
"Aku melakukan hal itu hanya untuk melindungi harga diriku, bagaimanapun juga semua orang mengenal Bianca sebagai istriku, jadi aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyentuhnya apalagi menyakitinya," lanjut Arga.
Daffa hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Orang-orang itu sudah berada di penjara sekarang, jadi apalagi yang harus aku lakukan?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
"Tidak ada, aku akan menyelesaikan sendiri masalahku dengan tante Felly," balas Arga.
"Baiklah kalau begitu, ini beberapa berkas yang harus kau tandatangani," ucap Daffa sambil memberikan beberapa berkas pada Arga.
__ADS_1
Setelah menandatangani berkas-berkas itu, Argapun mengembalikannya pada Daffa.
"Terima kasih atas bantuanmu, jadi kapan kau akan mengambil cuti?" ucap Arga sekaligus bertanya.
"Mungkin minggu depan, bisakah aku meminta sesuatu padamu?" balas Daffa.
"Meminta apa?" tanya Arga.
"Tolong jangan menghubungiku sama sekali selama dua hari itu, entah itu untuk pekerjaan atau hal lainnya, aku benar-benar hanya ingin menghabiskan waktuku bersama Lola, kau mengerti maksudku bukan?"
Arga tersenyum tipis mendengar ucapan Daffa.
"Baru kemarin kau bilang jika persahabatan kita adalah prioritas bagimu, tapi ternyata itu hanya omong kosong!" ucap Arga yang membuat Daffa terkekeh.
"Lola sangat berbeda dengan perempuan lain yang selama ini aku dekati, aku benar-benar harus mengeluarkan banyak cara dan waktu untuk bisa mendekatinya, jadi bisakah kau membantuku kali ini, hanya dua hari saja Arga aku mohon," ucap Daffa memohon.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu sama sekali," ucap Arga.
"Apa aku harus membuat surat pernyataan agar kau tidak mengingkari ucapanmu?" tanya Daffa.
Arga hanya diam dengan menatap tajam Daffa yang berdiri di hadapannya tanpa menjawab pertanyaan Dafa.
"Hehe.... sepertinya tidak perlu," ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
**
Waktu berlalu, Arga memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya.
"Kau mau pulang?" tanya Daffa yang melihat Arga sudah keluar dari ruangannya dengan membawa tas kerjanya.
"Aku akan benar-benar pulang, jadi tidak perlu datang ke rumahku hanya untuk memastikannya," jawab Arga yang membuat Daffa terkekeh.
"Hehehe.... baiklah," balas Daffa.
Arga mengendarai mobilnya meninggalkan kantor menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Arga segera membawa langkahnya masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Arga kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah balkon untuk menemui Bianca karena ia tau jika Bianca sedang berada di balkon.
"Kau selalu sibuk dengan laptop dan bukumu," ucap Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
"Bagaimana keadaanmu Bianca?" lanjut Arga bertanya sambil membawa langkahnya untuk duduk di samping Bianca.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? kau harus menceritakan semuanya padaku!" balas Bianca sambil menutup laptopnya setelah ia menyimpan filenya.
"Sebelum itu kau harus menjawab pertanyaanku dulu, kenapa kau terlambat makan semalam? bukankah kau tau apa yang akan terjadi padamu jika kau terlambat makan?"
"Aku menunggumu, apa kau lupa jika aku harus menunggumu untuk makan malam?" balas Bianca.
"Astaga Bianca, kenapa kau menunggu sampai selarut itu, aku....."
"Aku hanya menuruti ucapanmu," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Maaf sudah membuatmu menunggu sangat lama Bianca, seharusnya aku mengabarimu agar kau tidak perlu menungguku," ucap Arga menyesal.
"Lupakan saja, sekarang katakan padaku apa yang semalam terjadi padamu!" balas Bianca.
"Semalam aku menemui orang-orang yang ada di rumah Tante Felly," ucap Arga yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Apa mereka yang membuatmu terluka? lalu darah yang ada di kemejamu kemarin.... itu darah....."
"Itu darah pria yang menamparmu waktu itu," ucap Arga.
"Astaga, apa yang sudah kau lakukan padanya Arga, kau tidak..... membunuhnya bukan?" tanya Bianca ragu.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan bertindak sejauh itu Bianca, aku hanya memberinya pelajaran," jawab Arga.
"Lalu apa yang terjadi padanya sekarang?" tanya Bianca.
"Kenapa kau mengkhawatirkannya Bianca? dia pria yang sudah menamparmu bahkan membuatmu terluka!" balas Arga bertanya dengan kesal.
"Aku tidak mengkhawatirkannya, aku hanya takut jika kau sudah melakukan hal yang di luar batas padanya!"
"Aku tau batasanku Bianca, kau tenang saja, 5 pria itu sudah ada di penjara sekarang, lagi pula aku hanya menghajar satu pria yang menamparmu di depanku waktu itu," jelas Arga.
"Tapi kau tidak akan terlibat masalah karena hal itu bukan?" tanya Bianca khawatir.
"Tentu saja tidak, aku melakukannya dengan rapi dan hati-hati," jawab Arga.
Bianca menghela nafasnya lega, setidaknya ia tau jika tidak akan ada masalah yang menimpa Arga setelah apa yang Arga lakukan.
"Lain kali kau tidak perlu melakukan hal sejauh itu Arga, jangan mengotori tanganmu hanya untuk membalas orang-orang seperti mereka," ucap Bianca.
"Tanganku sudah sangat kotor Bianca, entah sudah berapa banyak darah yang menempel di tanganku selama ini, jika tidak ada Daffa mungkin aku akan benar-benar membunuhnya semalam," ucap Arga dalam hati.
__ADS_1