Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kafe Baru


__ADS_3

Di tempatnya, Daffa begitu terkejut saat tiba-tiba Arga menghubunginya dan memberitahunya jika Arga akan menjual beberapa aset miliknya.


"Apa kau serius Arga? apa kau sedang mengigau sekarang?" tanya Daffa tak percaya.


"Aku serius Daffa, aku membutuhkan uang 100 miliar secepatnya untuk mengakhiri kontrak kesepakatan yang sudah aku buat bersama Bianca," jawab Arga.


"Aaahhh tentang itu, apa itu denda yang kalian sepakati jika ada salah satu dari kalian yang melanggar kontrak kesepakatan itu?" tanya Daffa.


"Kau benar, sebenarnya Bianca memberiku cukup banyak uang untuk membayar denda itu tetapi aku tidak menerimanya dan memutuskan untuk aku sendiri yang akan membayarnya," jawab Arga.


"Aku tahu kau sangat kaya raya Arga, tetapi uang 100 miliar bukanlah uang yang sedikit, kenapa tidak kalian batalkan saja kesepakatan bodoh itu, bukankah kalian berdua sudah saling terbuka tentang perasaan kalian berdua?"


"Aku juga berpikir seperti itu, tetapi Bianca tetap ingin kita melakukan apa yang sudah kita sepakati," balas Arga.


"Lagi pula uang 100 miliar itu akan Bianca gunakan untuk membuka bisnis baru, jadi tidak ada alasan untuk aku menolaknya," lanjut Arga.


"Kalian berdua benar-benar pasangan yang aneh," ucap Daffa dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku dan Bianca hanya ingin menjalani hubungan kita tanpa kontrak kesepakatan bodoh itu Daffa," ucap Arga.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? apa kau akan menjual aset milikmu yang ada di beberapa kota?" tanya Daffa.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang 100 miliar dalam waktu dekat, aku serahkan semuanya padamu Daffa, segera hubungi aku jika semuanya sudah beres," jawab Arga.


"Oke baiklah," balas Daffa.


Arga mengakhiri panggilannya lalu membawa langkahnya kembali masuk ke dalam kamar. Arga terdiam untuk beberapa saat melihat Bianca yang terbaring dengan kedua matanya yang tertutup.


Arga tersenyum lalu menaruh ponselnya di atas meja dan membawa dirinya berbaring di samping Bianca.


"Seperti ini saja sudah membuatku sangat bahagia Bianca, aku harap kau juga merasakan hal yang sama sepertiku," ucap Arga dalam hati sambil menatap wajah cantik Bianca yang sedang tertidur nyenyak.


Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 04.00 pagi saat Bianca tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


"Astaga, aku belum menyelesaikan artikelku!" ucap Bianca yang segera beranjak dari ranjang lalu segera membuka laptopnya untuk melanjutkan mengerjakan artikel yang harus segera ia selesaikan.


Arga yang merasakan pergerakan Bianca seketika membuka matanya dan melihat Bianca yang sudah duduk di depan laptopnya.


"Bee, apa yang kau lakukan sepagi ini?" tanya Arga setelah ia melihat jam yang masih menunjukkan pukul 04.00 pagi.


"Tidurlah Arga, aku harus menyelesaikan sesuatu," jawab Bianca dengan kedua jarinya yang tidak berhenti menari di atas keyboard.


Namun bukannya kembali tidur, Arga justru beranjak dari ranjangnya dan berdiri di belakang Bianca untuk melihat apa yang sedang Bianca lakukan saat itu.


"Apa kau sedang mengerjakan sesuatu?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Apa yang sedang kau kerjakan Bee? apa ada yang bisa kubantu?" tanya Arga.


"Tidak ada aku hanya harus fokus untuk segera menyelesaikannya, kau kembalilah tidur Arga," jawab Bianca yang berusaha untuk tetap fokus mengetik artikelnya.


Karena tidak ingin mengganggu Bianca, Arga memilih untuk duduk di tepi ranjang, menunggu Bianca menyelesaikan pekerjaannya dan memendam banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang sebenarnya sedang Bianca kerjakan.


Lebih dari satu jam Bianca berkutat dengan kesibukannya tanpa ia tahu jika Arga masih menunggunya di belakangnya.


Setelah menyelesaikan semuanya, Biancapun mengangkat kedua tangannya lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan otot-ototnya yang sudah terasa kaku.


"Sudah selesai?" tanya Arga yang membuat Bianca terkejut.


"Arga, aku pikir kau sudah kembali tidur," ucap Bianca yang segera membawa pandangannya pada Arga yang masih duduk di tepi ranjang dengan membawa buku di tangannya.


"Aku menunggumu dari tadi, aku diam disini karena aku tidak ingin mengganggumu," balas Arga.


"Apa kau sudah menyelesaikan kesibukanmu?" lanjut Arga bertanya.


"Sudah dan sekarang aku sangat mengantuk," jawab Bianca lalu membawa dirinya berbaring di ranjang.


"Apa aku boleh bertanya padamu Bianca?" tanya Arga yang ikut berbaring di samping Bianca.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau tanyakan Arga?" balas Bianca


"Sebenarnya apa yang selama ini kau lakukan di rumah? aku sering melihatmu tampak sibuk dengan laptop dan beberapa buku, tapi sampai sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau kerjakan, kau juga sama sekali tidak menggunakan uang yang aku berikan padamu, lalu dari mana kau mendapatkan uang untuk memenuhi semua kebutuhan pribadimu?" tanya Arga.


"Sebenarnya selama ini aku mendapatkan uang dari website yang aku kelola, aku juga mengerjakan beberapa artikel dari beberapa klien yang berasal dari beberapa brand ataupun perusahaan, termasuk perusahaan tempatmu bekerja," jawab Bianca.


"Benarkah? kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya?" tanya Arga.


"Daffa yang selalu menghubungiku dan memintaku untuk mengerjakan beberapa artikel, aku pikir dia sudah memberitahumu," jawab Bianca.


"Tidak, dia sama sekali tidak mengatakan apapun padaku," ucap Arga.


"Apa penulis dengan nama pena 'Bee' itu adalah dirimu?" lanjut Arga bertanya.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Astaga Bianca, kenapa kau tidak pernah memberitahuku, aku adalah salah satu pembaca setiamu, pantas saja terkadang aku merasa tidak asing dengan beberapa tulisan yang ada di website milikmu," ucap Arga.


"Apa kau salah satu dari mereka yang selalu memberikan komentar di setiap postinganku?" tanya Arga.


"Tentu saja, aku tidak pernah absen untuk membaca tulisanmu dan selalu memberikan komentar di setiap tulisan yang kau posting," jawab Arga.


"Apa mungkin kau adalah pemilik akun yang bernama Pangeran Berkuda Putih?" tanya Bianca menerka yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Astaga, aku sama sekali tidak menyangka jika itu adalah kau, benar-benar sangat norak, tidak hanya nama akunmu tetapi juga komentarmu di setiap postinganku, aku benar-benar tidak menyangka jika kau yang memberikan komentar konyol di websiteku," ucap Bianca tak percaya.


"Hahaha..... asal kau tahu Bianca, aku memiliki beberapa kepribadian yang berbeda-beda tergantung dimana aku berada hehehe...."


Bianca hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Arga, karena akun dengan nama Pangeran Berkuda Putih itu selalu memberikan komentar yang berhasil membuat Bianca tertawa setiap ia berinteraksi dengan para pembacanya.


"Sudah lebih dari 3 tahun aku menjadi pembaca setiamu dan aku baru tahu jika selama ini orang dibalik tulisan-tulisan indahnya itu adalah kau, gadis cantik yang sekarang menjadi istriku," ucap Arga.


"Kita memang tidak pernah tahu kemana takdir membawa kita pergi," balas Bianca dengan tersenyum.


**


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kita ambil beberapa persen dari uang ini untuk kita berikan pada panti asuhan yang sering kau datangi, sisanya kita pakai untuk memulai bisnis baru, kau setuju bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Arga.


"Tentu saja aku setuju, bisnis apa yang ingin kau jalani Bianca?" balas Arga bertanya.


"Aku ingin memiliki kafe 2 lantai yang di salah satu lantainya ada banyak terdapat bermacam-macam buku seperti perpustakaan, jadi siapapun bisa membaca buku secara gratis sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di kafe, bagaimana menurutmu?"


"Itu ide bagus Bianca, apa kau sudah tahu dimana tempat yang sesuai untuk membuka kafe itu?"


"Mmmm..... untuk saat ini aku belum tahu dimana lokasi yang tepat untuk membuka kafe semacam itu," jawab Bianca.


"Baiklah, aku akan membantumu untuk mencari lokasi yang tepat yang sesuai dengan konsep kafe yang kau inginkan," ucap Arga.


Sejak hari itu, Arga dan Bianca mulai mematangkan konsep kafe yang akan mereka bangun di lokasi yang sudah mereka tentukan.


Dengan uang denda yang Arga berikan pada Bianca, mereka berdua berusaha untuk membangun bisnis kecil mereka di samping beberapa bisnis Arga lainnya.


Mereka berdua benar-benar menjadi pasangan suami istri yang tidak hanya saling mencintai tapi juga kompak dalam menjalani kehidupan mereka dengan satu tujuan dan misi yang sama.


Hal itu tentu saja mempererat hubungan mereka berdua, membuat kehangatan pernikahan semakin terasa dalam rumah tangga mereka berdua.


Sampai akhirnya kafe yang Bianca impikan benar-benar terwujud dengan bantuan Arga. Bianca dan Arga melakukan opening kafe itu tepat 2 tahun pernikahan mereka.


Kebahagiaan yang terpancar dari Bianca dan Arga menyebarkan aura positif pada semua pengunjung kafe saat mereka melakukan opening.


Tidak hanya Daffa dan Lola, tapi juga ada orang tua Arga yang datang untuk memberikan selamat atas kafe baru milik Arga dan Bianca.


"Kenapa Luna tidak datang bersama mama dan papa?" tanya Arga pada orang tuanya.


"Dia bilang akan kesini sore nanti karena dia harus pergi menemui temannya sebelum kemari," jawab Nadine.


Setelah beberapa lama mengobrol orang tua Arga berpamitan lebih dulu, meninggalkan Bianca dan Arga yang masih berada disana bersama Daffa dan Lola.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat sebuah mobil memasuki area parkir kafe Bianca dan Arga.


Tak lama kemudian seorang gadis cantik keluar dari dalam mobil itu diikuti seorang laki-laki yang berjalan di belakangnya.


Lola yang melihat hal itupun begitu terkejut dan segera membawa pandangannya pada Bianca, sedangkan Bianca hanya membalas tatapan Lola dengan tersenyum tanpa sedikitpun terlihat raut wajahnya yang terkejut melihat Luna yang datang bersama Bara.


"Sebaiknya kita pergi," ucap Arga sambil beranjak dari duduknya dengan menarik tangan Bianca saat Arga melihat Luna dan Bara yang berjalan ke arah mereka.


"Tidak Arga, kita harus menyambut mereka," balas Bianca yang enggan untuk beranjak dari duduknya.


"Tapi Bee..."


"Apa kau masih meragukanku?" tanya Bianca dengan menatap kedua mata Arga yang berdiri di sampingnya.


Arga menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk di samping Bianca dan tak lama kemudian Lunapun tiba bersama Bara.


"Selamat atas kafe barunya kak, semoga kafe baru kakak sukses," ucap Luna sambil memeluk Bianca dan Arga bergantian.


"Terima kasih Luna," balas Bianca.


Mereka kemudian duduk berenam, Bianca, Arga, Lola, Daffa, Luna dan Bara.


Lola yang baru pertama kali bertemu Bara setelah sekian lama tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Bara yang dianggap sudah menghianati Bianca.


"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Lola pada Bara.


"Benarkah? apa kak Lola dan kak Bara saling mengenal?" sahut Luna bertanya.


"Tidak," jawab Bara.


"Kita memang tidak saling mengenal begitu dekat, tetapi aku tau siapa kak Bara karena dia pernah dekat dengan temanku," ucap Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.


"Benarkah? siapa teman kak Lola?" tanya Luna penasaran.


"Sebaiknya tanyakan sendiri pada kak Bara, mungkin kak Bara akan menjelaskannya padamu," jawab Lola dengan pandangannya menatap Bara dengan tatapan tidak suka.


Menyadari hal itu Bianca segera beranjak dari duduknya dan mengajak Lola untuk pergi.


"Bisa ikut aku ke belakang sebentar Lola? sepertinya aku membutuhkan bantuanmu," ucap Bianca pada Lola.


"Luna akan membantu kak," sahut Luna.


"Kau disini saja," ucap Arga sambil menahan Luna agar tetap berada di tempat duduknya karena Arga tahu jika Bianca sedang ingin berbicara berdua dengan Lola.


"Aku akan memesan minuman yang paling spesial untuk kalian berdua, jadi tunggu saja disini," ucap Bianca pada Luna lalu berjalan masuk ke dalam bersama Lola.


Bianca kemudian menghentikan langkahnya di depan lorong toilet dan berdiri di hadapan Lola dengan raut wajah penuh tanda tanya karena ia tidak mengerti kenapa Lola tiba-tiba mengatakan hal yang bisa membuat Luna curiga.


"Tanganku sangat gatal Bianca, aku ingin menamparnya saat ini juga," ucap Lola yang mengerti apa yang Bianca pikirkan saat itu.


"Apa kau tidak berpikir jika apa yang kau lakukan bisa membuat hubunganku dengan Luna merenggang?" tanya Bianca.


"Setidaknya Luna harus tahu jika laki-laki yang dia sukai bukanlah laki-laki yang baik, kau pasti tidak ingin Luna jatuh pada laki-laki yang salah bukan?" balas Lola.


"Kak Bara memang bukan laki-laki yang baik untukku, tapi bukan berarti dia laki-laki yang buruk untuk semua perempuan Lola, bisa jadi dia benar-benar memiliki perasaan yang tulus pada Luna," ucap Bianca.


"Apa kau tidak marah saat melihatnya Bianca? apa kau tidak merasa kecewa setelah penantian panjangmu selama ini berakhir dengan penghianatan dan hanya penantian yang sia-sia, apa aku akan membiarkannya hidup bahagia setelah dia menyakitimu dan membuatmu kecewa?" tanya Lola.


"Aku memang pernah sangat marah Lola, aku sangat kecewa dan aku merasa kak Bara menghianatiku, tapi aku sudah melupakan semua itu, dengan kekecewaan yang aku rasakan itu aku mulai sadar jika aku tidak benar-benar mencintai kak Bara," ucap Bianca.


"Kau tidak akan menunggunya selama ini jika kau tidak mencintainya Bianca, setidaknya dia harus mendapat pelajaran karena sudah membuatmu menunggu dengan sia-sia," ucap Lola.


"Aku tidak ingin menyimpan dendam pada siapapun Lola, aku benar-benar sudah melupakan apa yang pernah aku rasakan pada kak Bara dan sekarang sudah tidak ada tempat lagi bagi siapapun dalam hatiku selain untuk Arga," balas Bianca.


"Tapi Bianca...."


"Aku mohon berhentilah Lola, aku benar-benar tidak ingin hubunganku dengan Luna renggang karena masalah ini, aku tidak ingin Luna salah paham padaku," ucap Bianca memotong ucapan Lola.

__ADS_1


"Salah paham karena apa kak?" tanya Luna yang tiba-tiba datang menghampiri Bianca dan Lola, membuat Bianca dan Lola seketika terdiam dan saling pandang karena terkejut dengan kedatangan Luna yang tiba-tiba.


__ADS_2