
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore saat dokter Galih memasuki ruangan Bianca.
"Selamat sore Bianca," sapa dokter Galih dengan penuh senyum.
"Selamat sore dok," balas Bianca yang juga tersenyum pada dokter Galih.
Tak dapat dipungkiri dokter Galih memang cukup tampan jika dibanding dengan dokter lainnya yang Bianca temui di rumah sakit itu, apalagi dokter Galih juga terlihat masih sangat muda dan begitu ramah padanya.
"Apa kau sudah siap untuk terapi hari ini?" tanya dokter Galih sambil menggeser kursi roda Bianca mendekat ke ranjang Bianca.
"Maaf dok, bisakah kita menunggu beberapa menit lagi?" tanya Bianca.
"Kenapa? apa kau masih ragu dan takut?" tanya Dokter Galih.
"Bukan begitu, sebenarnya, mmmm..... sebenarnya....." Bianca ragu untuk melanjutkan ucapannya karena Arga sudah melarangnya untuk melakukan terapi berdua dengan dokter Galih.
Bianca tidak bisa membayangkan kemarahan seperti apa yang akan terjadi pada Arga jika ia tidak mengikuti ucapan Arga saat itu.
"Katakan saja Bianca jangan ragu, anggap saya seperti teman yang bisa kau ajak berbicara dengan santai," ucap dokter Galih yang melihat keraguan dari wajah Bianca.
"Sebenarnya Arga meminta Bianca untuk menunggunya, Bianca tidak bisa melakukan terapi sebelum Arga datang, jadi bisakah dokter menunggu sebentar? dia sudah berada dijalan menuju kesini sekarang," jelas Bianca.
Dokter Galih tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengerti kenapa ia harus menunggu kedatangan Arga karena sudah pasti Arga tidak akan membiarkan dirinya berdua dengan Bianca.
"Saya harap hubungan kita sebagai dokter dan pasien tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara kita bertiga, saya, kau dan Arga," ucap dokter Galih.
"Maafkan sikap Arga tadi pagi Dok, Bianca juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu," ucap Bianca.
"Dia hanya cemburu Bianca, apa kau tidak menyadarinya?" ucap dokter Galih sekaligus bertanya.
"Cemburu? itu tidak mungkin," balas Bianca sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak mungkin? dia adalah suamimu dan kau adalah istrinya," ucap dokter Galih.
"Iyaa tapi kita....." Bianca seketika menghentikan ucapannya saat ia hampir saja mengatakan pada dokter Galih tentang apa yang seharusnya tidak ia katakan.
"Kita bukan tipe pasangan yang seperti itu, rasanya sangat tidak mungkin jika Arga cemburu pada dokter Galih," lanjut Bianca dengan tersenyum canggung.
"Mungkin kau hanya belum terlalu mengenalnya atau mungkin dia kurang pandai menunjukkan perasaannya padamu," ucap dokter Galih.
Bianca hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia sama sekali tidak menyetujui tentang apa yang dokter Galih katakan karena ia ingat dengan pasti bagaimana hubungannya dengan harga meskipun ia sudah koma selama 3 bulan.
"Cemburu adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin Arga rasakan, bagaimana mungkin ada rasa cemburu jika cinta saja tidak ada," ucap Bianca dalam hati.
Dokter Galih kemudian memberikan Bianca 2 bola-bola yang biasa digunakan untuk terapi tangan.
"Jika kita tidak bisa melakukan terapi di luar, kau bisa menggenggam bola-bola ini dan meremasnya, ini akan membantu untuk mengembalikan kemampuan motorik tanganmu," ucap dokter Galih pada Bianca.
"Terima kasih dok," balas Bianca sambil menerima 2 bola-bola yang dokter Galih berikan padanya.
Bianca menggenggam dua bola-bola itu lalu meremasnya dengan pelan sampai ia merasa jika remasan tangannya pada kedua bola itu semakin kuat.
"Aahh ya, apa dokter baik-baik saja jika waktu terapi kita mundur? bagaimana dengan pasien dokter selanjutnya?" tanya Bianca khawatir.
"Kebetulan tugas saya yang terakhir adalah melakukan terapi denganmu, jadi sudah tidak ada pasien yang menunggu saya hari ini," jawab dokter Galih.
"Bianca minta maaf karena sudah menyita waktu dokter seperti ini, Bianca akan mencoba untuk membicarakannya dengan Arga agar Arga....."
"Tidak perlu Bianca, saya mengerti, saya akan berusaha untuk mengikuti waktu yang sudah Arga tentukan," ucap dokter Galih memotong ucapan Bianca
"Tapi bukankah seharusnya Bianca yang mengikuti waktu yang dokter tentukan?" tanya Bianca.
"Kau benar, tapi kau dan Arga istimewa," jawab dokter Galih dengan tersenyum.
"Istimewa? istimewa kenapa maksud dokter?" tanya Bianca tak mengerti
"Apa yang terjadi padamu selama 3 bulan disini sudah menjadi cerita umum yang diketahui oleh seluruh isi rumah sakit, Arga....."
Dokter Galih menghentikan ucapannya saat tiba-tiba pintu ruangan Bianca terbuka, seketika dokter Galih dan Bianca membawa pandangan mereka ke arah pintu dan mendapati Arga yang berjalan menghampiri Bianca.
"Sejak kapan dokter Galih disini?" tanya Arga pada dokter Galih dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Sejak pukul 03.00, bukankah kau tahu jika jadwal terapiku memang pukul 03.00 setiap sore!" sahut Bianca menjawab pertanyaan Arga.
"Tapi kalian belum melakukannya bukan?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca dan dokter Galih.
"Saya disini untuk menunggu kedatanganmu, kita akan melakukan terapi bersama, sepertinya akan lebih baik jika Bianca melakukan terapi bersama orang yang dicintainya," jawab dokter Galih.
Seketika Arga tiba-tiba terbatuk saat mendengar dokter Galih mengatakan jika Bianca lebih baik melakukan terapi bersama orang yang dicintainya, yang artinya orang yang dicintai Bianca itu adalah dirinya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dokter Galih yang melihat Arga tiba-tiba terbatuk.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil mengangkat Bianca dari ranjang dan menurunkannya di kursi roda dengan hati-hati.
Bianca, Arga dan dokter Galih kemudian berjalan ke arah tempat terapi. Disana sudah ada dua besi pembatas dimana Bianca harus berjalan di tengahnya dengan berpegangan pada besi pembatas.
"Berdirilah disini dan kau harus sikap menangkap Bianca jika Bianca akan terjatuh," ucap dokter Galih pada Arga.
Arga kemudian mengunci kursi roda Bianca dan membawa dirinya berdiri di hadapan Bianca.
"Yakinkan dirimu jika kau pasti bisa melakukan ini Bianca!" ucap dokter Galih pada Bianca sambil memegangi kursi roda Bianca.
Bianca menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lalu memegang kedua tangan Arga dengan erat dan berusaha untuk berdiri dari kursi roda.
Setelah beberapa kali terjatuh Bianca akhirnya bisa berdiri cukup lama dengan berpegangan pada kedua tangan Arga.
"Aku bisa Arga, aku bisa berdiri!" ucap Bianca senang.
"Aku tahu kau pasti bisa," balas Arga dengan penuh senyum.
"Good job Bianca, sekarang cobalah untuk melangkahkan satu kaki yang menurutmu paling kuat," ucap dokter Galih pada Bianca.
Bianca kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, bersiap untuk mengangkat satu kakinya.
Namun bukannya mengangkat satu kakinya, Bianca justru hanya mencondongkan badannya ke depan yang membuatnya hampir saja terjatuh jika Arga tidak dengan sigap menangkapnya.
Mereka kini seperti berpelukan sama seperti saat pertama kali Bianca mencoba untuk terapi bersama dokter Galih.
"Sepertinya aku tidak bisa Arga," ucap Bianca dengan tangan yang mulai bergetar.
"Apa kau merasa baik-baik saja atau ada bagian dari kakimu yang terasa sakit?" tanya Dokter Galih pada Bianca.
"Bianca baik-baik saja dok, hanya saja kaki Bianca seperti sangat lemah," jawab Bianca.
"Itu hal yang wajar Bianca, kau baru memulainya hari ini, aku yakin beberapa hari ke depan keadaanmu akan semakin membaik," ucap dokter Galih.
"Kita akhiri dulu terapi hari ini dan kita bertemu lagi besok pagi," lanjut dokter Galih.
"Terima kasih dok," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh dokter Galih.
Dokter galih kemudian berjalan pergi meninggalkan Bianca dan Arga yang masih berada disana.
"Simpan senyummu itu, kau akan membuatnya salah paham jika kau terus tersenyum padanya!" ucap Arga pada Bianca sambil mendorong kursi roda Bianca kembali ke ruangan Bianca.
"Memangnya kenapa jika aku tersenyum pada dokter Galih? bukankah dia dokter yang sangat tampan? dia juga sangat ramah dan senyumnya benar-benar membuatku meleleh," balas Bianca yang membuat Arga semakin kesal.
Namun Arga lebih memilih untuk diam daripada mengatakan sesuatu yang hanya membuatnya semakin emosi, karena ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti Bianca saat ia sedang emosi.
**
Hari-hari telah berganti, setiap pagi dan sore hari Bianca selalu melakukan terapi bersama dokter Galih dan Arga.
Selama beberapa hari itu juga Arga selalu berangkat ke kantor sedikit terlambat daripada biasanya dan akan meninggalkan kantor lebih cepat dari jam kerjanya.
Ia melakukan semua itu hanya demi Bianca karena ia tidak ingin membiarkan Bianca berdua dengan dokter Galih.
"Bagaimana keadaan Bianca? apa dia sudah membaik?" tanya Daffa pada Arga saat mereka baru saja keluar dari ruangan meeting.
"Motorik tangannya sudah mulai kembali normal, hanya menunggu perkembangan motorik kedua kakinya," jawab Arga.
"Apa kau akan meninggalkan kantor lebih cepat hari ini?" tanya Daffa.
"Tentu saja, aku akan terus seperti ini sampai Bianca sudah meninggalkan rumah sakit, aku tidak akan membiarkan Bianca berdua dengan dokter Galih," jawab Arga.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang dilakukan dokter Galih pada Bianca? kenapa kau sangat cemburu padanya? tidak mungkin dia menggoda Bianca bukan?" tanya Daffa penasaran.
"Aku hanya tidak ingin laki-laki lain menyentuh Bianca," jawab Arga.
"Tapi laki-laki yang kau maksud itu adalah dokter yang membantu Bianca terapi, yang artinya dokter itulah yang membantu Bianca untuk bisa kembali menjalani kehidupan normalnya," ucap Daffa.
"Aku tidak peduli, bahkan jika itu kaupun aku tidak akan membiarkannya," balas Arga.
"Sepertinya kau sudah terlalu protektif pada Bianca!" ucap Daffa.
"Aku hanya ingin menjaganya dengan baik Daffa, aku sudah melakukan kesalahan besar dan aku tidak ingin mengulanginya lagi, aku benar-benar ingin menjaga Bianca agar selalu ada di dekatku," balas Arga.
"Baiklah selama itu tidak mengganggu Bianca dan tidak membuatnya bersedih aku rasa semuanya akan baik-baik saja," ucap Daffa.
"Sudah ada Bara yang menjadi saingan terbesarku, aku tidak ingin ada laki-laki lain lagi yang akan berusaha mendekati Bianca," ucap Arga.
Daffa hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Arga katakan, ia kini melihat Arga yang benar-benar sedang menahan kecemburuannya.
**
Sudah hampir satu minggu Bianca menjalani terapi dengan bantuan dokter Galih. Sore itu setelah Bianca menjalani terapinya bersama dokter Galih, Arga membawa Bianca pergi ke taman rumah sakit.
Arga mendorong kursi roda Bianca melewati lorong yang membawa mereka ke taman yang berada di belakang rumah sakit itu.
Bianca tersenyum senang saat ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, karena sudah sangat lama ia tidak pernah melihat keadaan luar sejak ia pertama sadar setelah lebih dari 3 bulan koma.
"Aku sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai besok pagi," ucap Bianca pada Arga yang duduk di sampingnya.
"Seharusnya hanya kau dan aku yang pergi ke pantai, kenapa harus ada dokter Galih!" gerutu Arga.
"Dokter Galih hanya melakukan tugasnya Arga, kau jangan berlebihan dan jaga sikapmu di depan dokter Galih!" ucap Bianca.
Tak lama setelah mereka mengobrol dan duduk di taman, tiba-tiba Daffa datang menghampiri Arga dan Bianca.
"Hai Bianca, bagaimana kabarmu?" tanya Daffa menyapa Bianca.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Bianca dengan tersenyum.
"Kenapa kau tiba-tiba kesini? apa kau sendirian?" tanya Arga pada Daffa.
"Aku kesini sendirian karena ada yang harus aku katakan padamu tentang pertemuan penting kita dengan klien dari luar negeri," jawab Daffa.
"Ada apa? bukankah pertemuan itu akan diadakan dua hari lagi?" tanya Arga.
"Itulah masalahnya, mereka tiba-tiba merevisi jadwal pertemuan dua hari lagi dan mereka meminta untuk melakukan pertemuan itu besok pagi," jelas Daffa yang membuat Arga seketika beranjak dari duduknya.
"Tunggu disini sebentar Bee, aku akan segera kembali," ucap Arga pada Bianca lalu menarik tangan Daffa untuk berjalan menjauh dari Bianca.
Arga sengaja mengajak Daffa untuk menjauh dari Bianca karena ia tidak ingin Bianca mendengar permasalahan yang terjadi.
"Aku sudah berusaha untuk meminta mereka tidak mengubah jadwal pertemuan itu, tapi mereka tetap ingin melakukan pertemuan itu besok pagi, Arga," ucap Daffa pada Arga.
"Aku tidak bisa melakukannya Daffa, besok pagi adalah terapi terakhir Bianca, aku tidak mungkin melewatkannya," balas Arga.
"Aku tahu, tetapi ini adalah pertemuan penting Arga, tidak bisakah kau meminta orang tuamu untuk menemani Bianca jika kau memang tidak ingin membiarkan Bianca berdua dengan dokter Galih!"
"Tidak bisa Daffa, karena besok adalah terapi terakhir, dokter Galih sudah merencanakan untuk melakukan terapi di pantai dan Bianca sudah sangat bersemangat untuk pergi ke pantai besok pagi, jadi aku tidak mungkin membatalkannya," ucap Arga.
"Bagaimana dengan orang tuamu? mereka pasti bisa menemani Bianca bukan?" tanya Daffa.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan tenang jika bukan aku sendiri yang menemani Bianca, tolong mengertilah Daffa, besok adalah hari yang penting bagi Bianca dan aku tidak ingin melewatkan hari itu!" ucap Arga.
"Tapi pertemuan dengan klien besok juga hal yang sangat penting Arga, kau tidak bisa melewatkannya begitu saja!" ucap Daffa.
"Tidak bisakah kau saja yang melakukannya?" tanya Arga.
"Aku juga harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan masalah pekerjaan yang sudah tidak bisa aku tunda, bukankah kau tahu itu!" balas Daffa.
Arga menghela nafasnya kasar dengan mengacak-acak rambutnya kesal. Pertemuan dengan kliennya besok pagi memang sangat penting, ia juga tidak bisa meminta Daffa menggantikan dirinya karena Daffa juga harus melakukan pekerjaan penting di luar kota.
__ADS_1