Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Menyimpan Dendam


__ADS_3

Bianca dan Arga masih duduk di ruang tamu, mereka mengkhawatirkan luka satu sama lain.


"Bianca, berjanjilah satu hal padaku!" ucap Arga pada Bianca.


"Berjanji apa?" tanya Bianca.


Arga kemudian meraih tangan Bianca dan menggenggamnya lalu membawa pandangannya menatap kedalam mata Bianca.


"Berjanjilah untuk memberitahuku tentang apapun masalahmu dan apapun yang menyulitkanmu, jangan membuatku merasa bersalah karena membiarkanmu terluka seperti ini," ucap Arga.


Bianca kembali terdiam, ucapan Arga terdengar seperti nyanyian indah yang menggema di kedua telinganya, seperti gerimis kecil yang menggelitik relung hatinya.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini, tapi yang pasti melihatmu terluka seperti ini membuat hatiku terasa sangat sakit dan aku benci merasakan hal ini," ucap Arga dalam hati.


Saat Arga dan Bianca hanya terdiam dan saling menatap, tiba-tiba Daffa datang membuyarkan momen antara Bianca dan Arga.


Menyadari kedatangan seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah, Biancapun segera menarik tangannya dari genggaman Arga.


"Sorry, sepertinya lebih baik aku pergi," ucap Daffa lalu membawa langkahnya mundur dengan perlahan.


"Masuklah!" ucap Bianca lalu segera beranjak dari duduknya.


"Aku.... aku akan masuk ke kamar," lanjut Bianca lalu membawa langkahnya pergi begitu saja.


Sedangkan Arga hanya menghela nafasnya, menatap Daffa dengan tatapan kesal. Entah kenapa ia merasa kesal dengan kedatangan Daffa yang dirasa tidak tepat.


"Hahaha.... wajahmu terlihat sangat kesal sekali padaku," ucap Arga sambil memukul pelan punggung Arga, membuat Arga sedikit meringis sambil memegang punggungnya


"Kau kenapa?" tanya Daffa yang melihat Arga seperti sedang kesakitan.


Arga kemudian membuka bagian belakang bajunya dan Daffapun begitu terkejut saat ia melihat memar yang cukup parah di punggung Arga.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Daffa.


Arga kemudian menjelaskan tentang apa yang baru saja terjadi, mulai dari Bianca yang tiba-tiba keluar dari rumah dengan terburu-buru sampai akhirnya Arga dipaksa untuk mentransfer 50 juta pada salah satu pria yang menyekap Bianca.


"Kenapa kau tidak memberitahuku Arga? kenapa kau tidak menghubungi polisi atau....."


"Aku tidak tahu jika akan terjadi seperti itu, itu adalah rumah tante Bianca jadi aku pikir Bianca hanya akan menemui tantenya disana," ucap Arga memotong ucapan Daffa.


"Jadi aku tadi tidak salah lihat, aku seperti melihat memar di pipi Bianca, apa seseorang menamparnya?" ucap Daffa sekaligus bertanya.


"Salah satu pria itu menampar Bianca dan membuat keningnya terluka, kau harus membantuku untuk menemukan mereka Daffa dan buat mereka menyesali apa yang sudah mereka lakukan!" jelas Arga dengan raut wajah penuh emosi.


"Bagaimana dengan tante Bianca?" tanya Daffa.


"Aku juga harus memberikan pelajaran padanya, tapi aku akan membicarakan hal ini dengan Bianca terlebih dahulu agar Bianca tidak salah paham," jawab Arga.


"Dia tante yang sangat jahat Arga, dia mengorbankan Bianca agar para pria itu mendapatkan uang yang mereka inginkan," ucap Daffa.


"Aku sudah pernah memperingatkan tante Bianca, tetapi sepertinya dia meremehkanku," ucap Arga.


"Tenangkan dirimu dulu Arga, pikirkan apa yang harus kau lakukan setelah kau tenang!" ucap Daffa.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, namun jelas terlihat raut penuh emosi di wajahnya.


"Sebenarnya apa yang membuatmu sangat marah? Karena tante Bianca yang meremehkanmu? karena para pria itu memukulmu? atau karena mereka menyakiti Bianca?" tanya Daffa.


"Melihat Bianca terluka membuatku sangat marah Daffa, aku benar-benar ingin menghancurkan mereka yang menyakiti Bianca," jawab Arga tanpa ragu.


Mendengar jawaban Arga, Daffa tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia yakin jika Arga memang sudah jatuh cinta pada Bianca.


"Kenapa kau tersenyum saat aku sedang sangat marah? kau membuatku semakin kesal!" tanya Arga yang melihat Daffa tersenyum.


"Aku hanya sedang berpikir, apa mungkin kau sudah jatuh cinta pada Bianca?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, buang jauh-jauh pikiran itu dari kepalamu!" balas Arga.


"Lalu apa yang membuatmu sangat marah saat seseorang melukai Bianca?" tanya Daffa.


Untuk beberapa saat Arga terdiam, ia sedang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan Daffa karena ia sama sekali tidak tahu alasan sebenarnya kenapa dia begitu marah pada orang-orang yang menyakiti Bianca.

__ADS_1


"Kau mungkin tidak ingin jatuh cinta pada Bianca, tapi hatimu tidak memerlukan izin darimu untuk menyimpan Bianca di dalamnya," ucap Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Daffa.


"Bagaimana denganmu? apa kau sudah menyimpan Bianca dalam hatimu? atau kau hanya ingin bermain-main dengannya?" tanya Arga.


"Hahaha..... astaga Arga, jadi kau berpikir aku benar-benar ingin merebut Bianca darimu? hahaha......"


"Kau tidak sungguh-sungguh mendekati bianka bukan?" tanya Arga memastikan.


"Memangnya kenapa jika aku ingin mendekati Bianca? bukankah kau tidak menyukainya?"


"Dia adalah istri temanmu Daffa, apa kau lupa itu?" balas Arga.


"Tapi bukankah kalian tidak saling mencintai? jadi dimana salahnya jika aku berusaha mendekati Bianca?"


Arga terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Daffa. Apa yang Daffa katakan memang benar, ia dan Bianca memang tidak saling mencintai meskipun mereka adalah suami istri.


Secara teknis Arga tidak bisa menyalahkan Daffa jika Daffa benar-benar berusaha untuk mendekati Bianca, namun dalam hatinya ia begitu marah saat Daffa mengatakan hal itu. Ia seperti tidak rela jika Daffa benar-benar mendekati Bianca.


"Tenang saja Arga, aku memang menyukai Bianca tetapi hanya sebatas teman, aku tidak akan mendekatinya seperti yang kau pikirkan, lagi pula bukankah kau tahu siapa yang sedang berusaha aku dekati!" ucap Daffa.


"Lola?" terka Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Daffa.


"Bianca milikmu, jaga dia baik-baik dan jangan biarkan orang lain mendekatinya atau kau akan menyesal jika dia sudah benar-benar dimiliki oleh orang lain," ucap Daffa.


"Dia hanya akan menjadi milikku selama 2 tahun, setelah itu aku tidak peduli lagi padanya, apapun yang terjadi padanya sudah tidak ada hubungannya lagi denganku," balas Arga.


"Bagaimana dengan seseorang yang pernah menculik Bianca? apa kau sudah menemukannya?" tanya Daffa yang dibalas gelengan kepala oleh Arga.


"Bagaimana jika sampai kontrak kalian habis kau belum juga menemukan orang itu? apa kau akan membiarkan Bianca terlibat dengan orang jahat itu?" tanya Daffa yang kembali membuat Arga terdiam.


Memorinya mengingat dengan jelas bagaimana keadaan Bianca saat ia menemukan Bianca di tepi jalan yang ada di hutan.


Mengingatnya saja membuat amarah Arga bergemuruh dalam dadanya. Tetapi ia belum bisa menjawab pertanyaan Daffa tentang apa yang terjadi jika ia belum bisa menemukan orang itu saat kontrak pernikahannya dengan Bianca telah selesai.


Apakah ia akan tetap mencari orang itu atau membiarkan orang itu menyimpan niat jahatnya pada Bianca.


Arga masih bimbang, ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan, tetapi sebelum kontrak pernikahannya dengan Bianca selesai ia masih berusaha untuk bisa menemukan orang itu.


"Kau tidak akan terlihat ragu seperti ini jika kau tidak memiliki perasaan apapun pada Bianca, kau mungkin sudah jatuh cinta padanya tetapi kau tidak menyadarinya Arga!" ucap Daffa dalam hati saat ia memperhatikan Arga yang hanya terdiam.


"Aaahh ya sebenarnya aku kesini untuk mengatakan padamu jika aku akan mengambil cuti," lanjut Daffa.


"Cuti? berapa lama?" tanya Arga.


"Hanya dua hari, ada beberapa hal yang harus aku lakukan bersama Lola, tapi sepertinya aku akan menundanya," jawab Daffa.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Bukankah aku harus membantumu untuk menemukan orang-orang itu?" balas Daffa.


"Jika kau sudah ada rencana dengan Lola aku akan meminta tolong orang lain untuk melakukannya, lanjutkan saja apa yang sudah kau rencanakan dengan Lola!" ucap Arga.


Daffa hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk pulang. Sedangkan Arga segera masuk ke kamarnya lalu membaringkan badannya dengan posisi miring agar punggungnya tidak terasa sakit jika tersentuh ranjangnya.


**


Hari telah berganti, pagi itu Bianca bangun lebih pagi dari biasanya. Ia berjalan menaiki tangga sampai akhirnya ia menghentikan langkahnya di bawah tangga yang menuju ke lantai 3.


"Aku tidak perlu kesana, lagi pula dia akan turun bukan!" ucap Bianca lalu membalikkan badannya untuk turun, namun ia ragu dan kembali menatap tangga lantai 3.


"Jika dia turun dia pasti sudah mengenakan pakaian kerjanya, dia harus melepas jas dan kemejanya saat aku akan mengobati punggungnya, sepertinya itu akan menyita lebih banyak waktu," ucap Bianca dalam hati.


Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia berjalan ke kanan dan ke kiri sambil memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan, menunggu Arga turun atau ia yang harus naik ke lantai 3.


"Apa yang kau lakukan disana Bianca?" tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya menatap Arga yang berjalan menuruni tangga.


"Aku.... aku.... aku harus mengobati lukamu," jawab Bianca


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun sambil terus melangkah menuruni tangga.


Arga membawa langkahnya ke arah meja makan lalu melepas jas dan kemejanya. Arga kemudian duduk membelakangi Bianca lalu melepas bagian belakang bajunya.

__ADS_1


"Maafkan aku Arga," ucap Bianca sambil mengoleskan obat pada luka Arga.


"Maaf untuk apa Bianca?" tanya Arga sambil menutup kembali bajunya setelah Bianca selesai mengobati lukanya.


"Kau terluka karena kau datang ke rumah itu," jawab Bianca


"Kau tidak perlu meminta maaf, itu bukan kesalahanmu!" ucap Arga.


"Aku tahu kau sangat marah pada orang-orang yang ada disana termasuk pada tante Felly, tetapi bolehkah jika aku memohon padamu agar kau tidak membalas dendam pada Tante Felly?"


"Kenapa kau melarangku untuk melakukannya Bianca? bukankah dia sudah sangat jahat padamu?" tanya Arga.


"Tante Felly memang bukan tante yang baik, tetapi bagaimanapun juga aku pernah tinggal dengannya setelah kepergian orang tuaku, Arga," jawab Bianca.


"Apa kau tidak marah pada tante Felly?" tanya Arga.


"Tentu saja aku marah, aku bahkan sangat marah saat aku tahu bagaimana sifat tante Felly yang sebenarnya, tapi bukan berarti aku ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya Arga, kau mengerti maksudku bukan?" balas Bianca.


"Aku mengerti, tapi aku tetap harus memberinya pelajaran Bianca, aku pastikan aku akan bisa menemukannya dan membuatnya menyesali apa yang sudah dia lakukan padamu!" ucap Arga.


"Apa yang akan kau lakukan pada tante Felly, Arga?" tanya Bianca.


"Aku tidak akan menyakitinya, aku hanya akan membuatnya tahu jika apa yang pernah aku katakan padanya bukan sekedar ancaman!" jawab Arga.


Melihat raut wajah Arga yang tampak penuh dengan emosi, Bianca kemudian meraih tangan Arga dan menggenggamnya.


Bianca hanya tidak ingin Arga melakukan hal yang di luar batas pada tante Felly, karena Bianca tahu bagaimana Arga bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


"Aku mohon jangan menyimpan dendammu pada tante Felly, aku tahu kau sangat marah atas apa yang sudah dia lakukan padamu, tapi....."


"Ini bukan tentang aku Bianca, tapi ini tentangmu!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Tentangku?"


Arga menghela nafasnya panjang lalu menarik tangannya dari Bianca dan segera beranjak dari duduknya sambil mengenakan kemeja dan jasnya.


"Apa maksudmu Arga?" tanya Bianca yang ikut berdiri di samping Arga.


"Lupakan saja," balas Arga lalu membawa langkahnya meninggalkan meja makan.


Biancapun segera mengejar Arga dan menahan tangan Arga.


"Aku tidak pernah meminta apapun padamu Arga, tapi kali ini saja aku mohon padamu jangan menyakiti tante Felly," ucap Bianca memohon pada Arga.


"Kau terlalu baik Bianca," balas Arga.


"Tidak Arga, aku memohon padamu bukan karena aku baik pada tante Felly, kau bisa membuat Tante Felly menyesali apa yang dia lakukan tapi aku mohon jangan menyakitinya," ucap Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu memegang kedua bahu Bianca dan menatap ke dalam mata Bianca.


"Selama kau menjadi istriku aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Bianca, dan siapapun yang sudah melukaimu akan mendapat balasan yang membuatnya menyesali perbuatannya padamu!" ucap Arga lalu berjalan pergi meninggalkan Bianca.


Bianca masih terdiam di tempatnya berdiri, menatap Arga yang sudah berjalan menjauh darinya.


"Arga......"


Bianca kemudian kembali ke meja makan, menikmati sarapannya seorang diri seperti biasa.


Namun pagi itu Bianca tidak benar-benar menikmati sarapannya, ia masih memikirkan ucapan Arga padanya.


"Ini bukan tentang aku Bianca, tapi ini tentangmu!"


Ucapan Arga seolah kembali terngiang di kepalanya, kembali menggema di kedua telinganya.


Ucapan Arga yang sama sekali tidak dimengerti oleh Bianca membuat Bianca tidak berhenti memikirkannya.


"Apa maksud Arga? kenapa dia berkata seperti itu? bukankah dia sangat marah karena tante Felly dan orang-orang itu menyerangnya?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bianca segera membawa langkahnya ke ruang baca untuk mencari buku yang ia perlukan untuk mengerjakan artikel.


Setelah mendapatkan buku itu, Biancapun masuk ke kamarnya, membuka laptopnya lalu bersiap untuk mengerjakan artikelnya.

__ADS_1


Namun Bianca sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, ia masih memikirkan Arga.


"Apa yang sebenarnya membuat Arga sangat marah? apa karena uang 50 juta yang dia transfer pada orang-orang itu? jika memang itu alasannya aku harus segera menggantinya, tidak peduli jika aku harus menguras uang tabunganku!" ucap Bianca dalam hati.


__ADS_2