Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Di Bandara


__ADS_3

Bianca dan Arga yang akan pergi ke rumah orang tua Arga terhenti oleh kedatangan Clara yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.


Kedatangan Clara yang berniat untuk berterima kasih pada Bianca dan Arga membuat suasana menjadi lebih baik.


Clara sudah benar-benar menyesali apa yang ia lakukan pada Bianca dan Arga, ia berjanji akan menjalani hidupnya dengan lebih baik tanpa mengganggu Bianca dan Arga.


"Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu Bianca, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat," ucap Clara pada Bianca.


"Kita bertemu lain kali lagi, aku harus pergi ke rumah orang tua Arga sekarang," balas Bianca.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, aku akan menghubungimu nanti," ucap Clara yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Dengan melambaikan tangannya, Clara membawa langkahnya masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya pergi meninggalkan rumah Arga.


Bianca dan Arga juga segera masuk ke dalam mobil karena mereka harus segera pergi ke rumah orang tua Arga untuk makan malam bersama orang tua Arga.


"Apa kau percaya jika Clara benar-benar sudah menyesali perbuatannya?" tanya Arga pada Bianca.


"Sepertinya aku mempercayainya," jawab Bianca tanpa ragu.


"Bagaimana jika dia hanya berpura-pura?" tanya Arga.


"Lebih baik jangan terlalu berpikiran negatif padanya, kita lihat saja apa yang akan dia lakukan setelah ini," jawab Bianca.


"Aku hanya tidak ingin dia kembali mengganggu hubungan kita," ucap Arga.


"Aku bukan perempuan bodoh yang mudah ditipu Arga, aku tidak akan mempercayai apa yang dia katakan tanpa bukti yang meyakinkanku," balas Bianca.


"Baguslah kalau begitu, kau memang istri yang selalu bisa diandalkan," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.


Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Bianca sengaja membiarkan Arga melakukan apapun yang dia mau selagi itu masih dalam batas kewajaran bagi Bianca selama mereka masih berstatus sebagai suami istri.


Setelah kontrak kesepakatan mereka selesai, Bianca akan benar-benar menjauh dari Arga, ia tidak ingin memberikan harapan apapun pada Arga karena ia masih mengharapkan kedatangan Bara.


Bianca berpikir jika Arga hanya terbawa suasana pada hubungan mereka yang tiba-tiba menjadi semakin hangat.


Bianca merasa dirinya bukan perempuan yang tepat untuk Arga, apalagi menjadi masa depan dan pendamping hidup bagi Arga untuk selamanya.


Bianca selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan Arga dan keluarganya yang sangat bertolak belakang. Mereka menjalani hidup dengan perbedaan yang begitu besar.


"Laki-laki sempurna sepertimu sudah seharusnya menjalani hidupmu bersama perempuan yang sama sempurnanya sepertimu," ucap Bianca dalam hati sambil menatap Arga yang fokus mengendarai mobil saat itu.


"Lakukan apapun yang membuatmu bahagia Arga, karena aku tidak bisa memberikan apapun untukmu sebagai rasa terima kasihku atas apa yang sudah kau lakukan padaku, jika bukan karena keyakinanmu aku mungkin sudah tidak ada di dunia ini dan aku tidak tahu harus dengan cara apa aku berterima kasih padamu," ucap Bianca dalam hati.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya menatap keramaian jalan raya malam itu.


"Ada apa Bianca? apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Arga yang mendengar helaan nafas Bianca.


"Tidak ada, aku hanya sedang bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk bisa melanjutkan kehidupanku," jawab Bianca.


"Kau memang pantas mendapatkannya," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca dengan tersenyum.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga dan Biancapun sampai di rumah orang tua Arga.


Arga keluar dari mobil, berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan Bianca.


Baru saja memasuki rumah, mereka sudah disambut oleh Nadine yang segera memeluk Arga dan Bianca bergantian.


"Akhirnya kalian berdua datang, sepertinya sudah sangat lama kita tidak makan malam bersama," ucap Nadine lalu mengajak Arga dan Bianca ke meja makan.


Merekapun makan malam dengan tenang bersama orang tua Arga. Setelah makan malam selesai mereka masih mengobrol beberapa lama di meja makan.


"Aaahhh ya, mama ingin menunjukkan padamu koleksi bunga Mama yang terbaru, Bianca!" ucap Nadine pada Bianca.


"Ayo ikut mama," lanjut Nadine sambil beranjak dari duduknya.


Biancapun ikut beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya ke arah taman belakang bersama Nadine.


Cukup lama mereka membicarakan tentang koleksi bunga baru milik Nadine, mereka juga membicarakan tentang tanaman yang saat itu sedang ramai diperbincangkan di media sosial yang harganya cukup mahal.


"Ma, ada sesuatu yang ingin Bianca tanyakan pada Mama," ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Nadine yang duduk di sampingnya saat mereka masih berada di taman belakang.


"Ada apa sayang? tanyakan saja," balas Nadine.


"Tentang Karina, sepengetahuan Mama sejauh apa hubungan Arga dengan Karina dulu? tolong mama jawab dengan jujur agar Bianca tidak memikirkan hal itu lagi," tanya Bianca yang membuat Nadine begitu terkejut.


"Kau..... sudah mengetahuinya?" balas Nadine bertanya dengan ragu.

__ADS_1


"Bianca sudah mengetahui semuanya ma, Arga juga sudah menjelaskan semuanya pada Bianca, sekarang Bianca hanya ingin tahu dari sudut pandang mama yang tidak menyetujui Arga yang masih berusaha untuk mengejar Karina," ucap Bianca.


Nadine menghela nafasnya panjang lalu mulai mengatakan pada Bianca tentang bagaimana hubungan Arga dan Karina dulu.


Tidak banyak yang Nadine ceritakan karena memang ia tidak terlalu dekat dengan Karina, begitupun dengan David yang juga tidak begitu dekat dengan Karina.


"Sepertinya Mama dan papa tidak begitu dekat dengan Karina," ucap Bianca setelah mendengar cerita Nadine.


"Kau benar, mama dan papa memang tidak terlalu menyukainya sejak awal, entah kenapa dia seperti memiliki maksud lain pada hubungannya dengan Arga," balas Nadine.


Nadine kemudian membawa pandangannya pada Bianca lalu menggenggam tangan Bianca.


"Kau berbeda dari Karina, dari awal mama dan papa bertemu denganmu kami sudah sangat menyukaimu dan berharap hanya kaulah perempuan satu-satunya yang akan menjadi masa depan Arga," ucap nadine dengan penuh senyum.


"Tapi Bianca hanya perempuan biasa ma, Bianca bahkan tidak bisa melanjutkan kuliah dan hanya bekerja di kafe kecil," balas Bianca.


"Bukan itu yang Mama nilai Bianca, mama dan papa menyukaimu karena kami tahu kau adalah gadis baik yang bisa membawa Arga menjadi laki-laki yang lebih baik," ucap Nadine.


"Bianca tidak sebaik itu ma, apalagi untuk Arga yang nyaris sempurna," ucap Bianca dalam hati dengan tersenyum canggung.


"Mama minta maaf atas sikap Arga yang pernah menyakitimu Bianca, Mama harap kau bisa percaya bagaimana Arga sangat mencintaimu sekarang," ucap Nadine dengan masih menggenggam tangan Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ia teringat bagaimana cerita Lola tentang apa yang Arga lakukan saat ia sedang koma di rumah sakit.


Cerita itu seperti menggoyahkan hatinya akan rasa cinta Arga yang seolah memaksa masuk ke dalam hatinya.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Arga mempersiapkan dirinya seperti biasa untuk berangkat ke kantor.


Saat Arga baru saja menuruni tangga, ia melihat Bianca yang sedang membawa beberapa makanan dan menaruhnya di atas meja makan.


"Apa kau yang memasaknya?" tanya Arga yang segera berlari kecil ke arah meja makan.


"Tentu saja tidak, bibi yang memasaknya dan aku hanya membantu bibi," jawab Bianca.


"Aaahh begitu, tapi tidak biasanya kau membantu bibi memasak," ucap Arga.


"Makan saja sebelum kau terlambat," balas Bianca.


Karena dirinya yang tidak bisa memasak dengan baik, ia tidak ingin memaksakan dirinya yang berujung dengan membuang makanan karena hasil masakannya yang gagal.


"Clara nanti akan datang," ucap Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.


"Untuk apa?" tanya Arga.


"Entahlah, dia hanya bilang ingin menemuiku," jawab Bianca santai.


"Apa kau masih mau menemuinya?" tanya Arga.


"Tentu saja, aku tidak punya alasan untuk tidak menemuinya," jawab Bianca.


Arga menghela nafasnya lalu menaruh sendoknya. Bianca yang menyadari ketidaksukaan Arga akan kedatangan Clara seketika membawa pandangannya pada Arga.


"Apa kau tidak suka jika Clara datang kesini?" tanya Bianca memastikan.


"Apa jika aku tidak suka, kau bisa melarangnya kemari?" balas Arga bertanya.


"Kalau kau melarangnya kemari, aku yang akan menemuinya di luar rumah," ucap Bianca.


"Bianca....."


"Hehe.... aku tidak punya alasan untuk tidak bisa menemuinya Arga, dia datang setelah dia menyesali semua perbuatannya, mungkin dia sekarang mau berteman denganku," ucap Bianca.


"Berteman? kenapa kau mau berteman dengan perempuan sepertinya?" tanya Arga tak mengerti dengan arah pikiran Bianca.


"Kenapa kau sangat tidak ingin aku berteman dengannya?" balas Bianca bertanya.


"Aku hanya tidak ingin dia mengganggu hubungan kita Bianca, aku tidak ingin dia mempengaruhimu dengan kebohongan yang mungkin akan dia katakan padamu," ucap Arga


"Jika memang sudah tidak ada hal lain yang kau sembunyikan dariku, kau tidak perlu mengkhawatirkan Clara, aku yakin dia datang dengan niat baik," balas Bianca.


"Terserah kau saja," ucap Arga dengan menghela nafasnya lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.


Biancapun segera beranjak dan mengejar Arga.


"Apa kau marah padaku?" tanya Bianca setelah ia berhasil menahan tangan Arga.

__ADS_1


"Aku tidak bisa marah padamu Bianca, aku hanya..... tidak suka kau berteman dengan Clara," jawab Arga.


"Aku suka berteman dengan siapapun Arga, jika kau tidak menyukai Clara karena takut aku akan terhasut oleh ucapannya, kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mudah percaya sebelum aku melihat buktinya sendiri," ucap Bianca.


"Dan yang paling penting, saat ini hanya kau yang aku percaya," lanjut Bianca dengan tersenyum.


"Benarkah? apa itu artinya kau juga percaya jika aku benar-benar mencintaimu?" tanya Arga yang tiba-tiba bersemangat.


"Mmmm.... setelah semua yang terjadi.... sepertinya aku percaya," jawab Bianca yang terdengar ragu.


"Tapi ucapanmu seperti masih ragu Bianca," gerutu Arga yang membuat Bianca terkekeh.


"Jadi, kau akan memperbolehkan aku bertemu dengan Clara bukan?" tanya Bianca.


"Hanya dengan satu syarat, kau harus berjanji untuk tidak mempercayai begitu saja ucapannya, kau harus memberi tahuku apa saja yang dia katakan padamu agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita," ucap Arga dengan tegas.


"Baiklah, aku berjanji," balas Bianca sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


"Good girl," ucap Arga lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Bianca.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik Bianca," lanjut Arga yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.


Setelah beberapa jam kepergian Arga, Clarapun datang. Bianca dan Clara kemudian mengobrol di teras rumah.


"Aku kesini karena aku masih merasa bersalah padamu Bianca," ucap Clara.


"Kenapa kau masih merasa bersalah Clara? bukankah masalah kita sudah selesai?" tanya Bianca.


"Aku merasa bersalah karena sudah bersikap buruk padamu, sedangkan kau sangat baik padaku, jika bukan karena bantuanmu pasti karirku akan benar-benar hancur sekarang," ucap Clara.


"Tapi ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya," lanjut Clara.


"Apa itu?" tanya Bianca.


"Kenapa kau mau membantuku? dan kenapa kau tidak merasa dendam padaku? apa kau tidak marah padaku?" tanya Clara.


"Tentu saja aku pernah merasa marah padamu, tapi itu hanya perasaan sementara yang dengan cepat aku lupakan, lagi pula aku mengerti kenapa kau bersikap seperti itu padaku, aku minta maaf jika kedatanganku dalam hidup Arga sangat mengganggumu," jelas Bianca.


"Kau sangat aneh Bianca, kenapa tiba-tiba kau yang meminta maaf?"


"Karena aku tiba-tiba datang diantara kalian berdua," jawab Bianca.


"Tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan Arga, selama ini hanya aku yang mengejarnya, sedangkan dia sama sekali tidak peduli padaku, tapi tenang saja aku sudah berusaha melupakannya sekarang, aku hanya akan fokus pada karirku," ucap Clara.


"Memang lebih baik seperti itu Clara, kau pasti akan menemukan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Arga yang bisa mencintaimu dengan tulus," balas Bianca.


Clara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia merasa lega karena kini ia bisa berteman dengan Bianca.


**


Hari-hari telah berlalu. Hubungan Bianca dan Arga kembali semakin dekat, bahkan jauh lebih dekat dari sebelumnya.


"Arga, nanti siang aku akan mengantar Lola ke bandara," ucap Bianca saat mereka berada di meja makan.


"Ke bandara? memangnya Lola akan pergi kemana?" tanya Arga.


"Ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, tapi partner kerjanya sudah berangkat lebih dulu, jadi dia baru berangkat nanti siang," jelas Bianca.


"Ooohh baiklah," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Argapun segera berangkat ke kantor.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3 siang saat Lola memberi tahu Bianca jika jadwal pesawatnya mundur sampai jam 7 malam.


Bersamaan dengan itu, Arga juga memberi tahu Bianca jika dirinya akan terlambat pulang hari itu.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Biancapun menjemput Lola di tempat kosnya bersama pak Dodi lalu mengantar Lola ke bandara.


Sesampainya di bandara, Lola dan Bianca segera berpisah saat pesawat Lola akan take off.


Bianca kemudian membawa langkahnya meninggalkan bandara, saat berada di koridor bandara seketika Bianca menghentikan langkahnya saat ia melihat Arga sedang memeluk seorang perempuan.


Bianca terdiam membeku dengan kedua matanya yang tiba-tiba terasa perih dan berkaca-kaca.


Dalam sekejap saja air mata luruh dari kedua mata Bianca saat melihat perempuan itu mencium pipi Arga dan sama sekali tidak terlihat penolakan dari Arga.


Arga dan perempuan itu justru tampak tertawa bahagia seolah sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


__ADS_2