
Bianca dan Arga masih berada di lobby. Arga menikmati makanan yang Bianca bawa sambil sesekali menyuapi Bianca, mereka juga tampak asyik mengobrol dengan canda tawa yang beberapa kali terdengar.
Setelah menghabiskan makanannya, Arga kemudian mengajak Bianca masuk ke ruangannya.
"Aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin mengantar makanan ini lalu pulang," ucap Bianca menolak untuk masuk ke ruangan Arga.
"Kalau begitu kita pulang bersama, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku di rumah," balas Arga
"Benarkah? tapi bagaimana dengan Pak Dodi?"
"Biarkan Pak Dodi pulang sendiri," jawab Arga lalu beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Bianca.
Bianca tersenyum lalu menerima uluran tangan Arga kemudian meninggalkan kantor bersama Arga untuk pulang ke rumah.
"Apa aku tadi mengganggu pertemuanmu dengan klien?" tanya Bianca pada Arga saat mereka berada dalam perjalanan pulang.
"Tidak, tapi kenapa kau tiba-tiba membawa makan malam untukku?" jawab Arga sekaligus bertanya.
"Beberapa hari ini kau terlihat sangat kacau, aku hanya tidak ingin masalah yang sedang kau hadapi membuatmu lalai untuk menjaga kesehatanmu," balas Bianca.
"Apa karena masalah yang sedang aku hadapi kau menjadi sangat perhatian padaku?" tanya Arga dengan tersenyum.
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah? apa sebaiknya aku tidak melakukan hal ini lagi?" balas Bianca bertanya.
"Tidak, bukan begitu maksudku, kau bisa datang ke kantor kapanpun kau mau, lagi pula itu juga akan membuat banyak orang melihat bagaimana hubungan kita," jawab Arga.
"Asal kau tahu Arga, aku datang ke kantor bukan untuk membuat orang-orang melihat bagaimana hubunganku denganmu, aku hanya mengkhawatirkanmu, tapi sepertinya kau memikirkan hal lain yang berbeda dengan apa yang aku pikirkan," ucap Bianca dalam hati.
"Terima kasih sudah sangat peduli padaku Bianca, aku benar-benar merasa bersyukur karena ada kau di sampingku," ucap Arga dengan membawa pandangannya menatap Bianca saat ia berhenti di lampu merah.
Bianca hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Aku janji setelah semua masalah ini selesai aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, entah itu liburan, barang atau hal lain yang kau inginkan," ucap Arga.
"Benarkah? apa kau serius?" tanya Bianca yang tiba-tiba bersemangat.
"Tentu saja," jawab Arga tanpa ragu.
"Berjanjilah untuk tidak mengingkarinya!" ucap Bianca sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Arga.
"Kau bisa pegang kata-kataku Bianca, aku bukan tipe laki-laki yang suka mengingkari janji!" balas Arga yang hanya fokus menyetir, mengabaikan jari kelingking Bianca.
"Berjanjilah dulu Arga!" ucap Bianca sedikit memaksa.
Arga tersenyum tipis lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Bianca.
"Aku janji, setelah semua masalah perusahaan selesai, aku akan menuruti semua keinginanmu," ucap Arga.
"Ingat Arga, kau tidak bisa mengingkari janjimu atau jari kelingkingmu akan terputus dari tanganmu!" ucap Bianca lalu melepaskan jari kelingkingnya dari jari Arga.
"Hahaha..... memangnya bisa begitu?" tanya Arga menertawakan ucapan Bianca.
"Tentu saja, itu yang selalu mama katakan padaku sejak aku masih kecil," jawab Bianca.
"Itu hanya agar kau tidak mengingkari janjimu Bianca," ucap Arga.
"Tapi aku benar-benar pernah melihat kejadian yang nyata Arga, kau pasti tidak percaya sebelum kau melihatnya sendiri!" ucap Bianca.
"Hahaha.... kau kekanak-kanakan sekali, memangnya kejadian apa yang kau lihat?"
"Saat aku masih kecil ada pedagang mainan yang selalu lewat depan rumahku, suatu hari dia menjanjikan mainan baru yang hanya akan dia jual padaku, tapi ternyata dia menjualnya pada anak-anak yang lain juga!" ucap Bianca memulai ceritanya.
"Lalu jari kelingkingnya putus karena mengingkari janjinya padamu?" tanya Arga menerka.
"Tepat sekali, satu Minggu kemudian dia kembali berjualan di depan rumahku dan jari kelingkingnya benar-benar sudah tidak ada, mama bilang itu karena dia mengingkari janjinya padaku," jelas Bianca.
"Hahaha.... kau lucu sekali, bisa-bisanya kau percaya hal semacam itu!" ucap Arga menertawakan cerita Bianca.
"Ini nyata Arga, sungguh!" ucap Bianca berusaha meyakinkan Arga.
"Apa sampai sekarang kau mempercayai hal itu?" tanya Arga.
"Mmmm.... aku tau itu hal yang konyol dan tidak masuk akal, tapi aku masih mempercayainya," jawab Bianca.
"Tapi apa kau pernah mengingkari janjimu?" tanya Arga.
"Mmmmm..... aku....."
Bianca menghentikan ucapannya. Sebenarnya ia bukan tipe perempuan yang suka mengingkari janjinya, tapi jika Arga bertanya apakah ia pernah mengingkari janjinya maka Bianca tidak bisa menjawab tidak.
Pada kenyataannya Bianca mengingkari janjinya pada Bara. Bianca sudah berjanji untuk menunggu Bara, namun takdir membuat Bianca harus menikah dengan Arga yang artinya Bianca tidak bisa menjaga janjinya pada Bara.
__ADS_1
"Sudah ku tebak, kau pasti pernah mengingkari janjimu, tapi lihat jari kelingkingmu, masih utuh bukan?" ucap Arga membuyarkan lamunan Bianca.
Bianca tersenyum dengan menatap kedua jari kelingking yang ada di tangan kanan dan kirinya.
"Jariku masih utuh, mungkin karena mereka tau jika aku mengingkari janji karena terpaksa, bukan karena keinginanku sendiri," ucap Bianca.
"Memangnya janji apa yang kau ingkari, Bianca?" tanya Arga.
"Janji untuk menunggu kak Bara," jawab Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga.
Arga menghela nafasnya lalu kembali fokus pada jalan raya di hadapannya.
"Apa kau berjanji atas kemauanmu sendiri?" tanya Arga.
"Kak Bara memintaku untuk menunggunya dan aku berjanji akan menunggu kak Bara, tapi ternyata takdir memaksaku untuk menikah denganmu," jelas Bianca.
"Sebenarnya apa arti dari kata 'menunggu' yang Bara katakan padamu? kenapa kau merasa mengingkari janjimu karena kau menikah denganku?" tanya Arga.
"Menunggu yang kak Bara maksud adalah menunggunya kembali dan sebelum dia kembali aku tidak boleh memiliki hubungan dengan laki-laki manapun," jawab Bianca.
"Apa benar itu yang Bara maksud? mungkin Bara memiliki maksud lain!"
"Tapi kak Bara bilang dia akan mengatakan semuanya padaku setelah dia kembali, jadi aku harus menunggunya sampai dia mengatakan semuanya padaku," ucap Bianca.
"Mengatakan apa?" tanya Arga.
"Entahlah, kak Bara tidak mengatakannya dengan pasti, tapi yang selama ini ada di pikiranku mungkin kak Bara akan menyatakan perasaannya padaku setelah dia kembali, itu kenapa dia memintaku untuk menunggunya," jawab Bianca.
"Bagaimana jika apa yang kau pikirkan itu salah?" tanya Arga.
Bianca terdiam, ia teringat cincin yang Bara berikan padanya.
"Kak Bara memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi dari cincin yang dia berikan padaku aku yakin jika kak Bara sebenernya juga menyukaiku," ucap Bianca dalam hati.
"Harapan yang terlalu tinggi akan membuatnya semakin sakit saat kau terjatuh Bianca," ucap Arga.
"Tapi harapan itulah yang selalu memberi semangat padaku Arga, tanpa harapan itu mungkin hari-hariku tidak akan semenyenangkan yang selama ini aku jalani," balas Bianca.
"Walaupun banyak masalah yang datang, tapi harapan itulah yang memberiku kekuatan untuk terus berjuang," lanjut Bianca.
Arga hanya menghela nafasnya kasar tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ada rasa kesal yang membuatnya ingin marah namun berusaha ia tahan, karena ia sendiri tidak mengerti kenapa ia ingin marah saat itu.
**
"Ini masih sangat pagi dan kau akan berangkat ke kantor?" tanya Bianca pada Arga.
"Iya, Daffa sudah pergi ke luar negeri, jadi banyak yang harus aku selesaikan sendiri," jawab Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku? tidak biasanya kau bangun sepagi ini," tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.
"Aku akan pulang terlambat lagi jadi tidak perlu menungguku, kau bisa sakit jika tidur terlalu larut setiap hari," ucap Arga.
"Tapi apa aku masih boleh datang ke kantor?" tanya Bianca.
"Tentu saja boleh Bianca, jangan lupa bawakan aku makanan yang enak," jawab Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca lalu berjalan pergi, keluar dari rumah untuk segera berangkat ke kantor.
Bianca hanya tersenyum tipis melihat Arga yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Sikapnya memang sangat manis walaupun terkadang sangat menyebalkan," ucap Bianca dengan tersenyum.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Bianca mengajak pak Dodi untuk mengantarnya ke tempat kos Lola.
Sebelumnya Bianca sudah mengabari Lola dan sudah membawa oleh-oleh yang ia beli saat ia berlibur bersama Arga dan orangtuanya.
Sesampainya di tempat kos Lola, Bianca segera memberikan oleh-oleh yang dibawanya pada Lola.
"Waaahhh terima kasih Bianca, kau memang yang terbaik," ucap Lola sambil memeluk Bianca manja.
Bianca hanya tersenyum lalu membawa dirinya duduk di tepi ranjang Lola.
"Aku dengar dari Arga, Daffa sudah pergi ke luar negeri, apa kau sudah tau?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
"Iya aku tau, dia memberi tahuku beberapa jam sebelum dia pergi, sangat menyebalkan," jawab Lola dengan raut wajah yang tiba-tiba kesal karena mengingat hal itu.
"Apa kau kesal karena dia pergi ke luar negeri tiba-tiba?" tanya Bianca.
"Tidak," jawab Lola singkat.
"Tapi kau terlihat sangat kesal Lola," ucap Bianca.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin membahasnya saja Bianca," balas Lola.
"Baiklah tapi aku harap kau tidak marah pada Arga karena Arga yang mengizinkannya pergi ke luar negeri dengan tiba-tiba," ucap Bianca.
"Tidak bisakah Arga membuat Daffa segera pulang? dia bilang padaku jika dia tidak bisa memastikan kapan dia akan pulang!"
"Lolaa.... Daffa baru saja berangkat kemarin, apa kau sudah sangat merindukannya?" balas Bianca yang sengaja menggoda Lola.
"Bukan begitu maksudku, setidaknya aku tau kapan dia akan kembali," ucap Lola.
"Daffa pasti akan menghubungimu jika dia sudah menyelesaikan pekerjaannya disana," balas Bianca.
Lola hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun.
"Sepertinya kau semakin dekat dengan Daffa," ucap Bianca.
"Dia sangat baik padaku Bianca, tapi tenang saja aku tidak akan membuka hatiku dengan mudah sebelum aku yakin jika dia sudah menghilangkan kebiasaan buruknya yang suka bermain perempuan," balas Lola.
"Baguslah kalau begitu, sebagai seorang playboy dia memang sangat pandai menarik perhatian perempuan, jadi jangan membuat dirimu mudah untuk dia dekati," ucap Bianca yang dibalas anggukan kepala oleh Lola.
**
Di tempat lain, Arga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Saat ia baru saja keluar dari ruangan meeting dan akan masuk ke ruangannya, ia begitu terkejut karena melihat Karina yang sudah berada di depan ruangannya.
"Apa yang kau lakukan disini Karina?" tanya Arga sambil menarik tangan Karina menjauh dari ruangannya.
"Aku ingin bertemu denganmu, tidak boleh?" balas Karina.
"Kau tidak bisa datang kesini tiba-tiba seperti ini Karina, aku....."
"Kenapa? apa kau takut Bianca akan melihatku?" tanya Karina memotong ucapan Arga.
"Bukan hanya itu, bagaimana jika mama atau papa melihatmu disini? mereka akan sangat marah padamu Karina!"
"Aku tidak peduli, Tante Nadine sudah terlalu sering memarahiku tanpa alasan, jadi aku sudah kebal menerima kemarahan Tante Nadine," balas Karina.
"Kau tidak bisa seperti ini Karina, Bian juga pasti akan memarahimu jika dia tau kau disini!" ucap Arga.
"Ada apa sebenarnya denganmu Arga? kenapa kau seolah-olah tidak menyukai kedatanganku? apa aku sangat mengganggumu? bukankah kau yang lebih dulu mendekatiku bahkan setelah kau menikah dengan Bianca?"
"Karina stop, jangan membuat orang-orang salah paham," ucap Arga sambil menarik tangan Karina, membawa Karina ke tempat yang lebih sepi.
"Lepaskan aku Arga, aku kesini bukan untuk mengemis perhatianmu, aku juga tidak ingin merebutmu dari Bianca!"
"Aku tau, tapi apa yang kau katakan bisa membuat orang lain salah paham dan aku tidak ingin hal itu terjadi," balas Arga.
"Sekarang katakan padaku apa maksud kedatanganmu kesini?" lanjut Arga bertanya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu karena aku sangat bosan di rumah," jawab Karina.
"Bosan di rumah? bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Arga.
"Aku sudah resign sejak lama, Bian yang memintaku untuk resign," jawab Karina yang membuat Arga menghela nafasnya panjang.
"Apa sebenarnya yang membuatmu selalu mengikuti ucapan Bian, Karina? tidak bisakah kau berpikir dengan jernih sebelum kau mengikuti permintaan Bian?"
"Dia adalah tunanganku Arga dan aku mencintainya, jadi sudah sewajarnya jika aku mengikuti apa yang dia mau!" balas Karina.
"Tapi dia terlalu mengendalikan hidupmu Karina, apa kau tidak menyadarinya?"
"Apa yang dia lakukan karena dia mencintaiku," jawab Karina.
"Baiklah, terserah bagaimana hubunganmu dengan Bian, tapi yang pasti kau tidak bisa datang kesini seperti ini Karina," ucap Arga.
"Lalu bagaimana aku bisa bertemu denganmu? bukankah kita berteman? apa teman tidak boleh saling bertemu?" tanya Karina.
"Tentu saja boleh, tapi tidak seperti ini, apa yang kau lakukan sekarang hanya akan membuat masalah baru, tidak hanya pada hubunganku dengan Bianca, tapi juga pada hubunganmu dengan Bian!"
"Kenapa kau tiba-tiba sangat memikirkan hubunganmu dengan Bianca, Arga? apa sebegitu besar cintamu untuknya?" tanya Karina.
"Dia......."
Arga menghentikan ucapannya saat ia melihat Bianca yang berjalan ke arah ruangannya. Seketika Arga membuka pintu darurat yang ada di belakang Karina lalu mendorong Karina agar masuk.
Karina tersenyum tipis karena berpikir jika Arga akan melakukan sesuatu padanya di tempat yang tidak mungkin di lalui orang itu
"Kau bisa pergi melalui tangga darurat, tolong jangan menunjukkan dirimu di depan Bianca," ucap Arga lalu menutup pintu itu kemudian pergi meninggalkan Karina begitu saja.
Seketika Karina terdiam dengan emosi yang memenuhi dirinya saat itu
"Kau benar-benar keterlaluan Arga, jika bukan karena aku masih membutuhkanmu aku tidak mungkin melakukan hal bodoh ini!" ucap Karina dengan kesal.
__ADS_1