
Bianca masih terdiam di tempatnya duduknya. Mendengar suara pria itu membuat Bianca semakin yakin jika suara yang ia dengar saat itu adalah suara yang sama dengan yang ia dengar saat ia di sekap di bangunan yang ada di bukit.
"Jika dia benar-benar orang yang sama, itu artinya dia memang menyimpan dendam padaku," ucap Bianca dalam hati.
"Ini pesananmu!" ucap teman Bianca yang tiba-tiba datang sambil menaruh kue pesanan Bianca di depan Bianca.
"Aahh iya, terima kasih," balas Bianca.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya sambil membawa kue yang baru saja dia beli namun ia seketika terdiam saat melihat kertas yang pria itu taruh di meja Bianca.
Tanpa berpikir panjang Bianca segera mengambil kertas itu dan menyimpannya lalu membawa langkahnya keluar dari kafe dan meminta Pak Dodi untuk segera mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah, Bianca segera menaruh kue yang baru saja di belinya ke dalam kulkas lalu membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.
Bianca lalu mengambil kertas dari dalam tasnya dan membacanya.
"Bukankah ini bar tempat aku bertemu dengannya dulu? apa yang sebenarnya dia rencanakan? kenapa dia mau aku menemuinya disana?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Cukup lama Bianca berpikir apakah ia harus menemui pria itu atau tidak. Dalam hatinya ada rasa takut jika pria itu melakukan hal buruk padanya, terlebih jika memang benar dia adalah pria yang sama yang dulu pernah menyekapnya.
Namun Bianca teringat apa yang pria itu katakan padanya saat di kafe beberapa saat yang lalu.
"Perusahaan Arga pasti sedang kacau saat ini, tidak ada apapun yang bisa Arga lakukan untuk mengembalikan keadaan karena hanya aku yang bisa melakukannya!"
Bianca menghela nafasnya panjang sambil memijit kepalanya, bingung tentang apa yang harus ia lakukan.
"Aku tidak mungkin memberi tahu Arga tentang hal ini, bisa jadi pria itu akan semakin marah dan membuat perusahaan orang tua Arga semakin bermasalah," ucap Bianca.
Bianca beranjak dari duduknya, berjalan ke kanan dan ke kiri lalu kembali duduk. Tak lama duduk, Bianca kembali berjalan ke kanan dan ke kiri, berusaha memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.
"Sepertinya dia memang masih dendam padaku, dia tidak akan melakukan hal ini jika dia sudah melupakan apa yang aku lakukan dulu, tapi kenapa dia harus melakukan hal sejauh ini?"
Bianca menjatuhkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya, berharap akan ada jawaban yang tertulis di langit-langit kamarnya.
"Tidak ada jalan lain, aku harus menemuinya sendirian tanpa memberitahu Arga, hanya dengan cara itulah aku bisa membantu Arga mengembalikan keadaan perusahaan," ucap Bianca lalu beranjak dari ranjangnya.
Bianca kemudian berjalan keluar dari kamarnya, menuju ke dapur sambil membawa sebuah botol kecil bekas parfum yang selalu dipakainya.
"Setidaknya aku harus menyiapkan diriku dengan baik karena aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku," ucap Bianca dalam hati sambil membersihkan bekas botol parfum miliknya.
Bianca kemudian mengisi botol parfum itu dengan air yang sudah ia campur dengan lada dan bubuk cabe lalu mengocoknya dan kembali menutupnya.
"Semangat Bianca, semuanya akan baik-baik saja, kau hanya perlu lari dan kabur darinya jika dia sudah melakukan sesuatu yang mencurigakan," ucap Bianca dalam hati.
Bianca kemudian kembali ke kamarnya dan menyimpan botol parfum itu ke dalam tasnya.
Waktu berlalu, cahaya mentari kini sudah tak terlihat lagi. Langit malam kini sudah didominasi oleh cahaya cantik bulan dan bintang yang bertebaran.
Bianca hanya duduk di tepi ranjangnya, memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa pergi ke bar itu tanpa sepengetahuan Pak Dodi karena ia tidak bisa meninggalkan rumah tanpa Pak Dodi.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan!" ucap Bianca yang segera beranjak dari duduknya.
Bianca kemudian memilih pakaian dan sepatu yang berbeda dari yang biasa ia pakai, tentu saja Bianca menghindari mengenakan rok dan high heels agar ia bisa berlari dengan mudah jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
Dengan mengenakan celana jeans dan hoodie oversize, Bianca kemudian keluar dari kamarnya dengan tak lupa membawa tas yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Bianca kemudian menghampiri Pak Dodi, meminta Pak Dodi untuk mengantarnya ke tempat kost Lola.
Tanpa curiga dan banyak bertanya Pak Dodipun mengantarkan Bianca ke tempat kost Lola. Sesampainya di tempat kost Lola Biancapun turun dari mobil dan membawa langkahnya ke arah kamar Lola.
Namun tanpa sepengetahuan Pak Dodi, Bianca tidak menghentikan langkahnya di kamar Lola melainkan berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke arah jalan lain yang tidak terjangkau oleh penglihatan Pak Dodi.
Bianca kemudian memesan taksi dan tak lama kemudian taksipun datang. Bianca segera meminta si sopir taksi untuk mengantarnya ke alamat yang sudah ia tunjukkan.
__ADS_1
Setelah beberapa lama taksipun berhenti di depan sebuah gang. Bianca turun dari taksi, namun untuk beberapa saat dia terdiam di depan sebuah gang yang tidak terlalu lebar dan sangat sepi itu.
"Aku tidak percaya akan kembali ke tempat ini lagi, semangat Bianca hanya dengan ini perusahaan orang tua Arga bisa keluar dari masalah," ucap Bianca dalam hati lalu menggenggam erat tas selempangnya dan membawa langkahnya memasuki gang itu.
Setelah berjalan hampir 10 menit Bianca kemudian berbelok ke arah gang yang lebih sempit dengan anak tangga yang cukup banyak.
Penerangan di gang sempit itu benar-benar sangat minim karena hanya ada beberapa lampu remang-remang di beberapa sudutnya.
Sejak ia turun dari taksi ia bahkan tidak melihat seorangpun yang ada di jalanan yang ia lewati.
Dengan langkah yang pasti Bianca membawa langkahnya mendekati sebuah gedung lantai 3 yang berada di ujung gang itu.
Di depan gedung itu tertulis nama bar yang tidak asing bagi Bianca karena ia pernah berada disana bersama pria yang akan ia temui saat itu.
Saat Bianca melewati jembatan ia membawa pandangannya ke arah bawah jembatan, mengingat pertemuan pertamanya bersama Arga disana.
"Jika saat itu aku tidak bertemu dengan Arga aku mesti masih sibuk mencari cara untuk melunasi hutang papa, bahkan mungkin aku masih mendekam di penjara karena tidak bisa melunasi hutang itu," batin Bianca dalam hati.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu melanjutkan langkahnya mendekati bar yang berada tidak jauh darinya.
Detak jantung Bianca berdetak begitu cepat, tak dapat dipungkiri ada rasa takut dalam dirinya saat itu.
Namun Bianca sudah membulatkan tekadnya untuk melakukan hal itu demi mengembalikan keadaan perusahaan orang tua Arga.
"Hei kau, cepatlah bos sudah menunggumu!" ucap seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk gedung itu.
"Bolehkah aku pergi ke toilet sebentar? aku sedikit gugup," tanya Bianca.
"Disana, cepatlah! jangan membuat bos marah karena menunggumu lama!" jawab salah satu pria yang lain sambil menunjukkan arah toilet pada Bianca.
Bianca menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah toilet yang ada disana. Bianca berusaha menenangkan dirinya yang sedang takut saat itu.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Arga yang membuat Bianca segera menolak panggilan itu.
Namun sebelum ponselnya mati, sebuah pesan masuk dari Arga yang membuat Bianca menunda untuk menonaktifkan ponselnya.
Bianca hanya melihat pesan Arga dari notifikasi tanpa membukanya. Untuk beberapa saat Bianca hanya terdiam setelah ia membaca pesan dari Arga.
"Kita berhasil Bianca, aku dan Daffa sudah berhasil menyelesaikan masalah perusahaan, meskipun aku harus merelakan salah satu bisnisku tapi akhirnya masalah perusahaan selesai, aku benar-benar lega sekarang."
Untuk memastikan apa yang ia baca, Biancapun segera membuka pesan Arga dan membacanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Arga kembali menghubungi Bianca, membuat Bianca segera menerima panggilan Arga dengan cepat.
"Arga, aku sudah membaca pesanmu, apa kau serius?" ucap Bianca sekaligus bertanya tanpa basa-basi.
"Tentu saja aku serius Bianca, aku segera menghubungimu setelah aku selesai meeting untuk menyelesaikan masalah perusahaan, aku bahkan masih di ruang meeting karena tidak sabar untuk memberitahumu tentang hal ini," jawab Arga meyakinkan Bianca.
"Jadi semuanya sudah baik-baik saja sekarang? keadaan perusahaan sudah kembali seperti sebelumnya?" tanya Bianca.
"Iya Bianca, semuanya sudah baik-baik saja, ini semua berkat kerja keras Daffa dan juga bantuanmu, aku benar-benar sangat berterima kasih padamu," jawab Arga.
"Tapi aku sudah berada disini sekarang, lalu apa yang harus aku lakukan?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan bersama Daffa, setelah semuanya selesai aku akan segera pulang!" ucap Arga.
"Aaahh iya, kalau begitu selesaikan pekerjaanmu sebelum larut malam," balas Bianca.
Panggilan berakhir, Bianca segera menyimpan ponselnya, namun ia tidak segera keluar dari toilet.
__ADS_1
Bianca memikirkan apa yang harus ia lakukan karena keberadaannya disana adalah untuk membantu mengembalikan keadaan perusahaan orang tua Arga, tapi ternyata Arga dan Daffa sudah berhasil melakukannya sebelum Bianca menemui pria yang ada di bar.
"Aaargghh sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? aku sudah ada di kandang macan sekarang!" batin Bianca kesal.
Bianca kemudian mengedarkan pandangannya mencari celah untuk ia keluar dari tempat itu.
"Hanya ada lubang udara yang sangat kecil, sepertinya aku tidak punya pilihan, aku harus lari di depan dua pria yang berjaga disana!" ucap Bianca dalam hati.
Bianca berusaha memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan agar ia bisa menghindari dua pria yang berjaga di depan pintu, karena sudah tidak ada jalan lain bagi Bianca untuk pergi selain melewati dua penjaga itu.
"Aku harus berusaha untuk tetap tenang agar mereka tidak mencurigaiku, setelah aku berada di dekat mereka aku akan mengeluarkan cairan yang sudah aku siapkan dan mengarahkannya ke mata mereka berdua, setelah itu aku harus lari secepat mungkin," ucap Bianca dalam hati.
Bianca menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Ia harus bisa tetap tenang untuk menjalankan rencananya.
Bianca kemudian keluar dari toilet dan melihat dua orang penjaga yang masih berdiri tegak di depan pintu masuk.
Namun saat Bianca sudah membawa langkahnya meninggalkan toilet, tiba-tiba dua orang pria keluar dan berdiri di depan pintu yang sebelumnya hanya dijaga oleh dua pria.
"Sial mereka sekarang berempat, aku pasti tidak mempunyai cukup waktu untuk menyemprot cairan ini ke mata mereka berempat, salah satu dari mereka pasti akan menangkapku sebelum aku menyemprotkan cairan ini pada mereka," ucap Bianca dalam hati.
Dua orang pria dengan wajah garang tiba-tiba menghampiri Bianca dan memegang kedua tangan Bianca dengan erat.
"Kau sudah terlalu lama membuat bos menunggu, cepatlah!" ucap salah satu pria itu dengan mencengkeram tangan Bianca begitu erat.
Bianca hanya diam, berusaha berpikir dengan cepat sebelum ia benar-benar dibawa masuk untuk bertemu dengan pria yang ada di dalam gedung itu.
"Tunggu sebentar!" ucap Bianca sambil menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi? jangan berusaha untuk mengulur waktu!"
"Sepertinya aku meninggalkan barangku di toilet, aku harus mengambilnya," jawab Bianca yang berusaha melepaskan tangannya dari kedua pria itu.
"Aku yang akan mengambilnya, bawa saja dia masuk ke dalam!" ucap salah satu pria itu pada pria lain yang memegang tangan Bianca.
Saat satu pria yang lain sudah masuk ke dalam toilet, tanpa menunggu lama Bianca segera memasukkan satu tangannya ke dalam tas untuk memegang botol yang sudah ia siapkan.
Setelah dirasa tangannya siap untuk menyemprotkan cairan itu, Biancapun segera menendang bagian tengah pria itu, membuatnya kesakitan dan tanpa sadar melepaskan tangan Bianca.
Dengan cepat Bianca segera menyemprotkan cairan yang ia bawa pada pria yang tengah kesakitan itu lalu segera berlari cepat meninggalkannya.
Dua pria yang berada di depan pintupun dengan cepat mengejar Bianca. Kini Bianca benar-benar harus berlari dengan cepat sebelum 2 pria di belakangnya mendapatkannya.
"Cepat Bianca, kau harus bisa pergi dari tempat sialan ini!" ucap Bianca dalam hati sambil terus berlari tanpa berhenti sedetikpun.
Beberapa menit sudah berlalu dan Bianca masih terus berlari, menghindar dari kejaran dua pria yang masih mengejarnya tanpa lelah.
"Astaga sampai kapan aku harus berlari seperti ini!" ucap Bianca dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" ucap Bianca dengan tersenyum tipis lalu memperlambat kecepatan larinya.
"Kau pasti sudah lelah sekarang hahaha....." ucap salah satu pria yang sudah mendekati Bianca.
"Tenaga kalian benar-benar di luar batas!" balas Bianca dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dua pria itupun segera mendekati Bianca, namun sebelum mereka berhasil menangkapnya, Bianca segera menyemprot cairan pedas itu tepat pada kedua mata pria itu.
"Aaargghhh sialaann!!" teriak salah satu pria sambil berjongkok dan memegang kedua matanya.
"Yes berhasil..... yeeeyyy!" teriak Bianca setelah ia berhasil melumpuhkan dua pria di hadapannya.
Dengan langkah santai Biancapun berjalan menuruni tangga, namun tiba-tiba salah satu pria yang berjongkok di dekat Bianca menahan kaki Bianca.
"Lepaskan!" ucap Bianca sambil menendang tangan pria itu.
__ADS_1
Saat tangan pria itu melepaskan kaki Bianca, Biancapun kehilangan keseimbangannya. Bianca terjatuh dan menggelinding menuruni tangga hingga akhirnya ia berhenti tepat di bagian bawah tangga.
Belum sempat Bianca merasakan sakit di setiap bagian tubuhnya, ia melihat dua pria lain yang mulai mengejarnya, membuat Bianca harus segera berlari dengan cepat sebelum dua pria itu berhasil menangkapnya.