
Arga dan Daffa baru saja sampai di restoran tempat mereka akan bertemu dengan klien mereka untuk membahas tentang kontrak kerja antara 2 perusahaan besar.
Sesampainya disana mereka segera berjalan ke arah meja yang sudah di reservasi sebelumnya dan sudah ada klien mereka yang menunggu disana.
Dia adalah wanita cantik yang merupakan pimpinan perusahaan besar yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Arga.
Mereka bertemu untuk membahas tentang kontrak kerja sama yang harus diperpanjang atau diberhentikan.
Setelah berbasa-basi untuk beberapa saat merekapun mulai membahas inti pertemuan mereka.
"Seperti sebelumnya, orang tuaku sangat ingin perusahaan kita tetap bekerja sama, bagaimana denganmu Arga?" Tanya si wanita.
"Berdasarkan data riwayat kerja sama kita sepertinya tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan kerja sama yang baik ini," balas Arga.
"Ini adalah kontrak yang sebelumnya sudah kita sepakati, kita bisa merevisi beberapa hal jika memang diperlukan untuk kontrak selanjutnya," ucap Daffa sambil memberikan beberapa berkas pada Arga dan wanita itu.
"Sepertinya aku tidak membutuhkankan revisi lagi, data yang kalian berikan selalu update setiap bulan, jadi aku rasa kontrak yang lama tidak perlu ada yang harus diubah," ucap si wanita.
"Maaf sebelumnya, aku ke toilet sebentar!" Ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan pergi ke arah toilet, meninggalkan Arga berdua dengan wanita itu.
"Aku yakin keuntungan perusahaanmu sangat besar dengan kerja sama ini," ucap si wanita pada Arga.
"Seperti yang kau tau, bukankah semua data yang timku berikan sudah cukup jelas?" balas Arga.
"Sangat jelas sekali, bagaimana menurutmu jika perusahaanku tidak melanjutkan kerja sama kita? sepertinya perusahaanmu akan cukup rugi!"
Arga hanya tersenyum tipis sambil menyeruput minuman miliknya.
"Aku akan menandatangani perpanjangan kontrak kerja sama kita, asalkan kau mau mengabulkan satu permintaanku!" ucap wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Arga yang mulai merasa tidak nyaman dengan percakapan yang mulai menjurus ke hal pribadi.
"Temani aku berlibur, hanya satu minggu saja, aku akan menyiapkan semua......"
"Maaf, apa maksudmu kau sedang membicarakan hal pribadi denganku?" tanya Arga memotong ucapan si wanita.
"Jangan terlalu kaku Arga, ini hanya antara kita, aku pastikan tidak akan ada yang mengetahui hal ini," balas si wanita.
"Maaf, kedatanganku dengan Daffa kesini hanya untuk membahas masalah kontrak kerja, bukan hal lainnya," ucap Arga dengan tegas.
"Bagaimana jika aku tidak melanjutkan kontrak kita? apa kau siap menerima kerugian yang besar?" tanya si wanita dengan nada mengancam.
"Jika memang kontrak kerja sama kita tidak bisa dilanjutkan, silakan mundur, aku selalu siap dengan kemunginan apapun yang akan terjadi," balas Arga dengan tegas.
"Kau sombong sekali Arga, aku hanya mengajakmu untuk berlibur, bukan melakukan hal-hal yang tidak benar, tapi sepertinya pemikiranmu terlalu jauh tentang ucapanku tadi!"
"Aku tidak akan mencampuradukkan masalah pribadi dengan perusahaan, bagiku 2 hal itu harus aku kerjakan secara terpisah, jadi kontrak kerja sama kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan berlibur atau apapun itu, jika memang tidak bisa dilanjutkan, silakan mundur, aku siap menerima apapun risikonya," ucap Arga dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Kau memang menyebalkan sekali!" gerutu si wanita kesal.
Tak lama kemudian Daffa datang lalu duduk di kursinya.
"Aku akan memikirkan lagi apakah aku harus terus bekerja sama denganmu atau tidak, tapi sepertinya kali ini semuanya akan berbeda," ucap wanita itu lalu beranjak dari duduknya.
"Permisi," ucapnya lalu berjalan pergi begitu saja.
Daffa yang baru saja dudukpun begitu terkejut melihat wanita itu pergi dengan raut wajah yang tampak kesal, sangat berbeda dengan saat sebelum Daffa pergi ke toilet.
"Ada apa Arga? apa ada masalah?" tanya Daffa pada Arga.
Arga hanya menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah toilet.
Kini hanya ada Daffa yang duduk disana. Tak lama kemudian ponsel milik Arga yang tertinggal di meja berdering, sebuah pesan masuk dari Karina.
"Karina, kenapa dia mengirim pesan pada Arga?" batin Daffa bertanya dalam hati.
Daffa kemudian membawa pandangannya ke arah toilet untuk memastikan jika Arga belum keluar dari toilet.
Daffa kemudian mengambil ponsel Arga lalu membuka pesan yang masuk dari Karina
"Arga, aku menunggumu di taman X sekarang, tolong datanglah!"
Daffa menghela nafasnya kesal kemudian segera menghapus pesan itu.
"Maafkan aku Arga, aku hanya tidak ingin kau dibodohi oleh Karina," ucap Daffa dalam hati lalu kembali menaruh ponsel Arga di tempatnya.
Tak lama kemudian Arga datang dan mengajak Daffa untuk meninggalkan restoran itu.
"Sepertinya aku pulang sendiri saja, aku harus pergi ke tempat lain," ucap Daffa pada Arga.
"Kau mau kemana? aku bisa mengantarmu," balas Arga.
"Tidak, aku ingin pergi sendiri, aku tidak mau kau menggangguku," ucap Daffa.
"Apa kau akan menemui Lola?" tanya Arga menerka.
__ADS_1
Daffa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, ia membiarkan Arga berpikir jika ia akan menemui Lola.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu, nikmati waktumu untuk bermain-main dengannya," ucap Arga kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Daffa hanya tersenyum tipis lalu segera menghentikan taksi setelah memastikan Arga sudah mengendarai mobilnya jauh darinya.
Setelah beberapa lama Daffapun sampai di tempat tujuannya. Untuk beberapa saat Daffa terdiam dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa langkahnya masuk ke dalam taman.
Tak lama setelah Daffa berjalan, matanya menangkap sosok yang dicarinya. Daffa kemudian berjalan ke arah seorang gadis yang sedang duduk di salah satu bangku taman.
"Dia tidak akan datang," ucap Daffa yang sudah berdiri di dekat si gadis.
Gadis itupun segera membawa pandangannya ke arah Daffa dan begitu terkejut saat melihat keberadaan Daffa disana.
"Daffa, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Karina pada Daffa.
Daffa menghela nafasnya lalu duduk di samping Karina.
"Sebenarnya apa maumu Karina? bukankah kau sudah melepaskan Arga demi tunanganmu itu?' tanya Daffa.
"Jangan ikut campur masalah pribadiku Daffa, kau tidak tahu apa-apa!" balas Karina.
"Aku tidak akan ikut campur jika kau berhenti menggangu Arga!" ucap Daffa.
"Apa menurutmu Arga merasa terganggu olehku?" tanya Karina.
"Arga sudah menikah Karina, dia sudah bahagia dengan istrinya, tidak seharusnya kau mendekatinya lagi, bukankah kau juga sudah bahagia bersama tunanganmu!" balas Daffa.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Arga, lagi pula aku juga tidak bermaksud merebut Arga dari istrinya, aku tidak serendah itu Daffa!"
"Jika memang begitu lebih baik kau menjauh, kehadiranmu hanya akan membuat istri Arga salah paham nantinya," ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya.
"Tunggu!" ucap Karina sambil menahan tangan Daffa.
"Apa sebenarnya masalahmu denganku? apa aku pernah berbuat salah padamu?" tanya Karina.
Sebelum Daffa menjawab pertanyaan Karina, tiba-tiba beberapa anak kecil yang sedang berlari tanpa sengaja menabrak Karina, membuat Karina hampir saja terjatuh tepat di depan Daffa.
Dengan cepat Karina meraih tangan Daffa untuk menahannya agar ia tidak semakin terjatuh.
"Dasar anak-anak nakal!" gerutu Karina.
Tepat saat hal itu terjadi, Lola yang sedang berada di taman bersama temannya melihat apa yang terjadi antara Daffa dan Karina.
Lola yang baru saja selesai mengerjakan skripsi bersama temannya di taman tanpa sengaja melihat beberapa detik adegan yang tampak romantis antara Daffa dan Karina.
Sedangkan Daffa yang menyadari keberadaan Lola segera mendorong Karina dan berlari mengejar Lola, membiarkan Karina yang kali ini benar-benar terjatuh di rerumputan.
"Aaargghh sial, kurang ajar sekali dia!" gerutu Karina yang semakin kesal dengan Daffa.
Lola yang saat itu merasa sangat kesal sengaja mempercepat langkahnya untuk meninggalkan taman. Niat hatinya yang ingin mengerjakan skripsi dengan suasana yang berbeda malah membuatnya melihat hal yang tidak ingin dia lihat.
"Ada apa Lola? apa kau mengenal laki-laki itu?" tanya teman Lola.
"Tidak," jawab Lola singkat.
"Tapi sepertinya dia mengenalmu, dia mengejarmu sekarang," ucap teman Lola uang membuat Lola menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya.
Benar saja, ia melihat Daffa yang berlari ke arahnya.
"Ayo cepat, aku tidak ingin bertemu dengannya!" ucap Lola sambil menarik tangan temannya.
Namun karena langkah Daffa yang lebih cepat, Daffa akhirnya berhasil mengejar Lola dan menghentikan langkahnya tepat di depan Lola.
"Tolong jangan salah paham, aku...."
"Salah paham tentang apa maksudmu? aku akan pulang, minggirlah!" ucap Lola memotong ucapan Daffa sambil mendorong Daffa agar menepi dari hadapannya.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Daffa.
"Tidak perlu," balas Lola.
"Terima kasih, dimana mobilmu?" sahut teman Lola bertanya.
"Mobil? aku.... aku tidak membawa mobil hehehe...."
"Haaahhh kau serius?" tanya teman Lola heran.
"Tapi tenang saja, aku bisa mengantar kalian menggunakan taksi, aku yang akan membayar tagihannya, bagaimana?"
"Tidak, terima ka....."
"Setuju!" sahut teman Lola menyetujui ucapan Daffa meskipun ia tahu jika Lola akan menolaknya.
"Kau saja yang bersamanya, aku pulang sendiri saja!" ucap Lola lalu berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Namun dengan cepat temannya menarik tangan Lola.
"Eeiittss tidak bisa, kau harus ikut, bukankah kita bisa berhemat jika dia yang membayar taksinya!" ucap teman Lola
"Tapi....."
"Tidak ada tapi-tapi, taksinya sudah menunggu di depan," sahut Daffa memotong ucapan Lola.
Alhasil Lolapun akhirnya pulang dengan menaiki taksi bersama temannya dan Daffa. Karena rumah teman Lola lebih dekat, teman Lola turun terlebih dahulu, meninggalkan Lola dan Daffa di dalam taksi.
"Apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Daffa yang kini duduk di samping Lola setelah sebelumnya duduk di samping supir.
"Memangnya apa yang aku pikirkan? aku bahkan sama sekali tidak peduli!" balas Lola.
"Baguslah kalau begitu, lebih baik kau tidak mempedulikan hal seperti itu, karena...."
"Anak kecil juga akan tahu apa yang sebenarnya terjadi jika melihat laki-laki dan perempuan berpelukan di taman," ucap Lola memotong ucapan Daffa.
"Tidak Lola, tidak seperti itu, dia...."
"Sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku!" ucap Lola saat taksi sudah berhenti di depan tempat kosnya.
Lolapun segera membawa langkahnya keluar, diikuti oleh Daffa yang juga segera keluar dari taksi.
Menyadari Daffa yang mengikutinya, Lolapun menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya ke arah Daffa.
"Aku sangat lelah hari ini, tolong jangan menggangguku!" ucap Lola pada Daffa.
"Baiklah, aku akan pergi, aku harap kau percaya jika aku dan perempuan itu tidak ada hubungan apapun," balas Daffa lalu berjalan pergi.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Daffa berdering, sebuah pesan masuk dari kliennya yang tiba-tiba pergi saat di restoran tadi.
"Tolong katakan pada Arga agar memikirkan kembali keputusannya, aku yakin keuntungan perusahaan lebih penting daripada mengambil risiko untuk mengalami kerugian yang besar!"
Daffa mengernyitkan keningnya, tidak mengerti maksud dari pesan kliennya itu. Daffa kemudian menghubungi Arga, memastikan Arga berada di rumah sebelum akhirnya Daffa kembali memesan taksi untuk pergi ke rumah Arga.
Sesampainya di rumah Arga, sudah ada Arga yang menunggunya di teras rumah.
"Ada apa? apa kau sudah selesai bermain-main bersama mainan barumu?" tanya Arga saat Daffa sudah duduk di hadapannya.
"Bukan tentang itu, sebenarnya apa yang terjadi di restoran tadi? pasti terjadi sesuatu bukan?"
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" balas Arga bertanya.
Daffa menganggukkan kepalanya lalu memperlihatkan pesan yang ada di ponselnya pada Arga.
Arga hanya tersenyum tipis setelah membaca pesan itu.
"Katakan padanya bahwa aku tidak akan berubah pikiran," ucap Arga.
"Memangnya apa yang terjadi Arga? bukankah aku juga berhak mengetahuinya?" tanya Daffa penasaran.
Arga kemudian menceritakan pada Daffa tentang apa yang ia bicarakan dengan kliennya saat Daffa ke toilet.
"Dan kau menolaknya?" tanya Daffa menerka.
"Apa menurutmu aku harus menerimanya? bukankah kau sangat mengenalku?" balas Arga.
"Aku memang sangat mengenalmu, dua hal itu memang tidak bisa dicampur aduk, tapi bagaimana dengan keadaan perusahaan jika dia benar-benar tidak melanjutkan kontraknya?"
"Sebelum kita mengalami kerugian kita harus menemukan penggantinya," jawab Arga.
"Dalam waktu satu minggu? itu bukan hal yang mudah Arga!"
"Aku tahu, hanya itu yang bisa kita usahakan, aku tidak mau bergantung dengannya, setidaknya kita bisa memperkecil skala kerugian perusahaan, Daffa," jelas Arga.
"Baiklah, semoga saja semuanya akan baik-baik saja," ucap Daffa.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan. Setelah Daffa pergi, Arga terdiam untuk beberapa saat, memikirkan tentang masalah yang sedang ia hadapi saat itu.
"Ini bukan hal yang mudah, aku bahkan ragu apa aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa membuat perusahaan merugi," ucap Arga dalam hati
Arga kemudian beranjak dari duduknya, saat ia akan menaiki tangga, tiba-tiba ia merasa kepalanya begitu pusing.
Arga bahkan hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri. Tepat saat itu Bianca baru saja keluar dari kamarnya.
"Arga, apa kau baik-baik saja?" tanya Bianca yang melihat Arga hanya terdiam di anak tangga dengan menundukkan kepalanya.
Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya dengan pelan. Menyadari jika Arga tidak sedang baik-baik saja, Biancapun segera menghampirinya Arga.
Bianca meraih tangan Arga lalu mengalungkannya di lehernya.
"Apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Bianca pada Arga.
__ADS_1
"Tidak, tolong minta bibi menghubungi dokter keluarga saja," jawab Arga.
"Baiklah, setelah mengantarmu ke kamar aku akan meminta bibi melakukannya," balas Bianca.