Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Tidak Peduli


__ADS_3

Arga masih berusaha untuk mengendalikan kegugupannya di depan Bianca yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa yang ingin kau tanyakan Bianca, katakan saja!" ucap Arga Bianca.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Lupakan saja," ucap Bianca lalu berjalan meninggalkan Arga begitu saja.


Bianca membawa langkahnya masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjangnya, memikirkan apa yang baru saja mama Arga katakan padanya.


"Sebaiknya aku tidak perlu menanyakannya pada Arga, sudah jelas dia berbohong padaku, tentang apa alasannya dan apa yang dia lakukan di luar sana aku tidak peduli, lagi pula kita sebenarnya tidak ada hubungan apapun selain suami istri di atas kontrak," ucap Bianca dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Suara dering ponsel membuat Bianca segera membawa pandangannya ke arah meja yang ada di kamarnya.


Bianca hanya menatapnya beberapa saat karena ia tahu jika ponsel yang ada di atas mejanya bukanlah ponsel miliknya, melainkan ponsel Arga yang tertinggal saat Arga berada di dalam kamar Bianca.


Setelah beberapa panggilan terabaikan, dengan ragu Bianca beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya mendekat ke arah mejanya untuk mengambil ponsel itu.


Namun tiba-tiba pintu kamar Bianca terbuka, Arga segera berjalan cepat mengambil ponselnya yang ada di meja Bianca.


"Ternyata disini, aku pikir tertinggal di kantor," ucap Arga lalu berjalan keluar dari kamar Bianca dengan membawa ponselnya.


Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia yakin jika Arga memang menyembunyikan sesuatu darinya.


Meskipun berusaha untuk tidak mempedulikan hal itu, namun jauh dalam hatinya Bianca ingin tahu tentang apa yang sebenarnya Arga sembunyikan darinya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, kini sebuah panggilan masuk dari Bara yang membuat Bianca segera menerima panggilan itu.


"Halo Bianca, apa kau sedang sibuk?" tanya Bara setelah Bianca menerima panggilannya.


"Tidak kak, Bianca sedang tidak sibuk," jawab Bianca.


"Tentang apa yang aku bicarakan terakhir kali, aku minta maaf jika itu membuatmu bersedih," ucap Bara pada Bianca.


"Bianca sudah melupakannya kak," balas Bianca.


"Kau memaafkanku bukan?" tanya Bara memastikan.


"Tentu saja, tapi ada satu hal yang harus kak Bara tahu, ada kalanya seseorang tidak bisa melupakan kejadian di masa lalunya seberapa keraspun dia berusaha," ucap Bianca.


"Aku mengerti Bianca, aku tidak akan memaksa apapun lagi padamu," balas Bara.


"Aaahh ya, ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku katakan padamu Bianca, tapi mungkin sebaiknya aku tidak mengatakannya," ucap Bara.


"Ada apa kak? apa yang ingin kak Bara katakan?" tanya Bianca penasaran.


"Aku tidak akan memberi tahumu sekarang, aku yakin kau akan terkejut saat mengetahuinya," ucap Bara.


"Apa tentang teman baru kak Bara?" tanya Bianca menerka.


"Teman baru siapa maksudmu?" tanya Bara tak mengerti.


"Beberapa kali Bianca mendengar suara perempuan yang memanggil kak Bara disana, seingat Bianca kak Bara tidak memiliki teman perempuan satu negara disana," jawab Bianca.


"Aaahh itu, dia.... dia juniorku di kampus, aku juga tidak terlalu dekat dengannya," ucap Bara.


"Apa dia cantik?" tanya Bianca.


"Cantik seperti kebanyakan perempuan pada umumnya," jawab Bara.


"Apa mungkin..... sebentar lagi kak Bara akan memiliki kekasih?" tanya Bianca ragu.


Terdengar tawa kecil dari Bara sebelum Bara menjawab pertanyaan Bianca.


"Itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi Bianca, bukankah kau tahu aku disini sibuk dengan kuliah dan pekerjaanku!" ucap Bara.


Bianca hanya tersenyum tipis, ada sebuah rasa lega dalam hatinya setelah ia mendengar ucapan Bara.


**


Hari telah berganti, pagi itu Lola tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor tempat Daffa bekerja.


Hari itu Lola akan bertemu dengan salah satu pihak marketing dari perusahaan Arga untuk membicarakan tentang keterlibatan Lola dalam promosi produk baru mereka.


Untuk beberapa saat Lola menatap pantulan dirinya di hadapan cermin yang ada di kamarnya. Dalam hatinya ia ragu apakah ia harus melanjutkan apa yang sudah ia sepakati dengan Daffa atau tidak.

__ADS_1


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Lola berdering, sebuah panggilan masuk dari Daffa, Lolapun segera menerima panggilan itu.


"Halo Daffa!"


"Halo Lola, apa kau sudah berangkat ke kantor?" tanya Daffa.


"Belum, sebentar lagi aku akan berangkat," jawab Lola.


"Tunggu saja disana aku akan segera datang untuk menjemputmu," ucap Daffa.


"Jangan!" ucap Lola cepat.


"Kenapa? 10 menit lagi aku akan sampai di tempat kosmu!"


"Jangan Daffa, aku akan pergi sendiri, kau akan membuatku sangat canggung jika orang-orang melihatku datang ke kantor bersamamu," balas Lola.


"Tidak perlu terlalu memikirkan ucapan mereka, fokus saja melakukan apa yang harus kau lakukan," ucap Daffa.


"Aku akan berusaha melakukannya dengan baik, tapi kau tidak perlu menjemputku, aku akan segera berangkat sendiri," ucap Lola.


"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di kantor nanti," balas Daffa lalu mengakhiri panggilannya.


Lola menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya untuk duduk di tepi ranjangnya.


Sejak semalam ia merasa ragu untuk melanjutkan kesepakatannya dengan Daffa setelah Daffa memberitahunya daftar promotor lain yang ikut terlibat dalam promosi produk baru itu.


"Sepertinya aku harus menghubungi Bianca, mungkin dia biasa membantuku untuk membicarakannya dengan Daffa," ucap Lola lalu mencari nama Bianca di penyimpanan kontaknya lalu menghubunginya.


"Halo Bianca!" sapa Lola setelah Bianca menerima panggilannya.


"Halo Lola, ada apa kau menghubungiku? bukankah seharusnya kau pergi ke kantor pagi ini?" tanya Bianca.


"Kau benar, tapi aku ragu Bianca, apa sebaiknya aku tidak melanjutkan hal ini?" balas Lola.


"Ada apa Lola? apa yang membuatmu ragu?" tanya Bianca.


Lola kemudian menceritakan pada Bianca tentang daftar beauty influencer dan para artis yang menjadi promotor produk baru itu.


Lola merasa jika dirinya bukan siapa-siapa jika dibandingkan mereka semua dan ia tidak yakin jika ia bisa melakukan yang terbaik.


"Jangan mengkhawatirkan hal itu Lola, Daffa tahu jika ini adalah hal yang pertama untukmu, bukankah dia juga berjanji akan membantumu!" balas Bianca.


"Tapi Bianca....."


"Daffa sedang membutuhkan bantuan kita Lola, aku hanya bisa membantunya untuk mengerjakan artikel dan dia sudah mempercayaimu untuk mengerjakan videonya, aku tidak akan memaksamu untuk melanjutkan apa yang sudah kau sepakati tetapi cobalah untuk memikirkannya dari sudut pandang yang lain," ucap Bianca memotong ucapan Lola.


"Dari sudut pandang lain?" tanya Lola mengulang ucapan Bianca.


"Iya, jika kau mau melakukannya itu artinya kau juga membantu Daffa, tentang bagaimana hasilnya kita bisa melihatnya nanti, aku yakin kau pasti bisa melakukannya dengan baik," jawab Bianca.


"Daffa sudah percaya padamu Lola, dia juga berharap banyak padamu, dia bahkan bersedia untuk menyempatkan waktunya untuk membantumu," lanjut Bianca.


Lola menarik nafasnya dalam-dalam lalu menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah aku akan melanjutkannya, aku hanya perlu berusaha yang terbaik bukan?"


"Benar sekali, aku yakin kau pasti bisa melakukannya," balas Bianca.


Setelah panggilannya pada Bianca berakhir, Lolapun mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kantor tempat Daffa bekerja.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Lolapun sampai, ia segera membawa langkahnya ke arah meja resepsionis.


Namun sebelum Lola bertanya apapun seseorang sudah memanggilnya, membuat Lola segera membalikkan badannya ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


"Ayo ikutlah denganku!" ucap Daffa pada Lola.


Lolapun membawa langkahnya mengikuti Daffa. Mereka akhirnya sampai di salah satu ruangan dimana sudah ada beberapa orang disana.


"Kau bisa menunggu disini, 5 menit lagi pihak marketing akan datang untuk menjelaskan semuanya," ucap Daffa pada Lola.


Lola hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana.


"Aku harus pergi, hubungi aku jika kau sudah selesai," ucap Daffa yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Lola.


Lola kemudian berkenalan pada beberapa orang yang ada disana. Mereka adalah para beauty influencer yang memiliki banyak penggemar dan pengikut di media sosial.


Meskipun begitu mereka sama sekali tidak sombong dan bisa dengan mudah akrab dengan Lola.

__ADS_1


Sekitar 5 menit kemudian 2 orang masuk ke dalam ruangan, memberikan informasi jika pertemuan hari itu akan diundur selama 1 jam.


Lola dan yang lainnyapun hanya saling pandang karena tiba-tiba saja pertemuan mereka harus diundur tanpa kejelasan.


Mereka semuapun berjalan keluar dari ruangan itu satu per satu. Saat tengah berjalan keluar bersama dengan yang lainnya Lola mendengar sekilas percakapan antara dua orang yang baru saja memberikan informasi tentang jadwal pertemuan mereka yang diundur.


"Jika bukan karena dia adalah anak teman pemilik perusahaan ini mungkin dia tidak akan menjadi brand ambassador produk kita!"


"Kau benar, dia selalu menyepelekan kita, dia sangat tidak profesional, jauh berbanding terbalik dengan apa yang dia perlihatkan di media sosial dan tv," balas yang lain.


Satu jampun berlalu, Lola dan yang lainnya sudah kembali ke ruangan itu namun belum ada siapapun yang masuk.


Tak lama kemudian seseorang memasuki ruangan itu dan kembali meminta maaf atas jadwal yang tiba-tiba berubah.


"Brand ambassador utama produk ini masih dalam perjalanan jadi mungkin kita harus menunggu sekitar satu jam lagi," ucap salah seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari pihak marketing.


Meskipun kesal Lola dan yang lainnya tetap berada di ruangan itu untuk menunggu brand ambassador utama yang dimaksud datang.


Setelah lebih dari satu jam menunggu tampak perempuan cantik memasuki ruangan itu. Dengan pakaiannya yang sedikit terbuka dan sepatu berhak tinggi dia berjalan masuk lalu duduk tanpa mengatakan apapun setelah membuat semua orang menunggu cukup lama.


"Sudah kutebak pasti dia," ucap Lola dalam hati.


Pihak marketing kemudian menjelaskan tentang produk baru yang akan diluncurkan mereka juga menjelaskan tentang kewajiban apa saja yang diharuskan oleh para promotor yang ada disana.


"Jika ada yang tidak kalian pahami tanyakan saja, jangan ragu!" ucap salah satu pihak marketing.


Lola kemudian mengangkat tangannya dan menanyakan beberapa hal. Karena Lola terlalu banyak bertanya, Clara yang merupakan brand ambassador utama produk itu membawa pandangannya pada Lola dengan pandangan tidak suka.


"Kau terlalu banyak bertanya, apa kau tidak pernah melakukannya sebelumnya?" tanya Clara pada Lola.


"Ini yang pertama buatku jadi maaf jika aku banyak bertanya," jawab Lola.


"Tidak masalah, lebih baik kalian bertanya sekarang daripada kalian kesulitan untuk mengerjakannya," ucap salah satu pihak marketing


"Jika kalian semua banyak bertanya kalian akan menyita waktuku, apa kalian tidak tahu jika aku sangat sibuk!" sahut Clara dengan nada bicaranya yang sombong.


"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau bisa berada disini jika kau belum pernah melakukan hal ini sebelumnya?" lanjut Clara bertanya pada Lola.


"Aku......"


"Dia adalah salah satu promotor yang dibawa langsung oleh Pak Daffa," sahut salah satu pihak marketing menjawab pertanyaan Clara.


"Daffa? kenapa dia meminta seseorang yang tidak profesional sepertinya? apa kalian tidak berpikir jika dia akan menghambat promosi produk baru ini? bisa jadi dia hanya akan menurunkan penjualan produk baru ini," tanya Clara.


"Pak Daffa sendiri yang membawanya jadi lebih baik kita sama-sama berusaha untuk memberikan yang terbaik agar penjualan produk baru ini sesuai dengan target yang sudah ditentukan," jawab salah satu pihak marketing.


Clara hanya tersenyum tipis dengan menatap sinis ke arah Lola.


"Aku sudah paham dengan semua materinya jadi sepertinya aku harus pergi sekarang karena aku masih memiliki jadwal yang lain," ucap Clara lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.


Tak lama kemudian pihak marketing menyudahi pertemuan hari itu, Lola dan yang lainnyapun keluar dari ruangan itu.


Saat tengah berjalan di lobi, dari jauh Lola melihat Clara berlari kecil menghampiri Arga, namun ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Arga tampak menjauhi Clara.


"Apa mungkin Arga meninggalkan Bianca demi Clara? tapi sepertinya tidak mungkin, Arga terlihat sangat tidak menyukai Clara jadi mana mungkin dia berbohong pada Bianca demi Clara," batin Lola bertanya dalam hati.


"Lola!" panggil Daffa sambil berlari kecil ke arah Lola.


"Bagaimana pertemuan hari ini? apa semuanya berjalan lancar?" tanya Daffa saat ia sudah berjalan di samping Lola.


Lola hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, terlihat dari raut wajahnya jika ia sama sekali tidak bersemangat hari itu.


"Aku dengar Clara terlambat datang, membuat jadwal pertemuan menjadi mundur beberapa jam!" ucap Daffa.


"Benar, dia sepertinya memang sangat sibuk jadi tidak ada yang bisa aku dan yang lainnya lakukan selain menunggu kedatangannya," balas Lola.


"Abaikan saja dia, dia memang selalu seperti itu," ucap Arga.


"Tapi sepertinya apa yang dia katakan benar," ucap Lola.


"Memangnya apa yang dia katakan padamu?" tanya Daffa.


"Aku tidak seharusnya disini, aku berbeda dari mereka semua yang ada di ruangan itu, aku hanya gadis yang baru lulus kuliah yang tidak banyak dikenal orang, jadi bagaimana bisa aku menjadi bagian dari produk itu?"


"Jangan berpikir seperti itu Lola, aku yakin kau pasti bisa melakukannya dengan baik, aku akan membantumu," ucap Daffa.


Lola menghentikan langkahnya lalu membawa pandangannya menatap Daffa yang berdiri di sampingnya.


"Sepertinya lebih baik aku tidak melanjutkan kesepakatan kita, aku juga belum tanda tangan kontrak dengan perusahaanmu jadi sepertinya tidak masalah bukan jika aku membatalkan kesepakatan kita?" tanya Lola yang membuat Daffa menghela nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2