Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Meyakinkan Bianca


__ADS_3

Bianca masih bersama Lola, ia menumpahkan semua kesedihannya di hadapan Lola. Meskipun ia sedang tidak bisa memahami dirinya sendiri saat itu tetapi ia bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang semakin memeluknya dengan erat.


"Aku memang tidak mengerti tentang bagaimana sebenarnya hubungan Arga dan Karina, tapi lebih baik dengarkan penjelasan Arga terlebih dahulu, jika perlu temui Karina bersama Arga agar semuanya jelas," ucap Lola memberi saran.


"Untuk apa aku harus menemui Karina bersama Arga? sudah jelas mereka memiliki hubungan di belakangku dan masa lalu Karina yang selama ini Karina ceritakan padaku itu adalah Arga," balas Bianca.


"Aku tidak bermaksud membela Arga, tetapi sepertinya hubungan Arga dan Karina sudah berbeda, bukankah Karina sendiri yang memberitahumu jika masa lalunya sudah mencampakkannya, bukankah itu artinya Arga memang sudah tidak berhubungan dengan Karina!" ucap Lola.


"Arga mencampakkan Karina pasti karena suatu hal, kau ingat bukan jika Karina berkata mereka masih berhubungan bahkan setelah Arga memiliki pasangan dan Arga juga menjelaskan padaku jika mereka memang tetap berhubungan bahkan setelah Arga menikah denganku," balas Bianca.


"Itu pasti hanya kekhilafan Arga yang belum benar-benar merelakan masa lalunya, tapi aku yakin sekarang Arga sudah benar-benar melepaskan Karina," ucap Lola.


"Kenapa kau begitu yakin pada Arga? Kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik," tanya Bianca.


"Mungkin aku memang tidak mengenal Arga sebaik dirimu, tapi ada hal yang tidak kau tahu tentang Arga yang selama ini sengaja Arga sembunyikan darimu," ucap Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.


"Apa maksudmu? apa yang tidak aku tahu?" tanya Bianca.


"Sebenarnya Arga melarangku mengatakan hal ini padamu, tapi sepertinya kau harus mengetahuinya agar kau tidak terlalu berburuk sangka pada Arga," ucap Lola.


"Jangan membuatku bingung Lola, katakan padaku apa maksud ucapanmu!" ucap Bianca


"Kau perlu tahu Bianca, bagaimana hancurnya Arga saat kau dirawat di rumah sakit, dia benar-benar merasa kehilangan dirimu saat itu," balas Lola.


"Kau tidak perlu berlebihan, Arga menjagaku di rumah sakit pasti agar orang lain melihat bagaimana baiknya dia padaku," ucap Bianca.


"Tidak hanya menjagamu di rumah sakit Bianca, hidup Arga bahkan sangat kacau saat itu, dia sama sekali tidak mempedulikan dirinya dan orang lain, dia hanya berharap agar kau segera sadar," ucap Lola.


Bianca hanya terdiam mendengar ucapan Lola.


"Arga yang kita kenal sebagai laki-laki tampan yang selalu menjaga penampilan dan profesionalismenya dalam dunia kerja benar-benar sudah berubah saat istri yang sangat dicintainya koma di rumah sakit, Arga mengabaikan dirinya sendiri dan semua hal selain dirimu Bianca," ucap Lola.


"Arga tidak pergi ke kantor, Arga tidak memikirkan pekerjaannya dan sudah tidak peduli dengan semua hal selain dirimu, dia sama sekali tidak terlihat seperti Arga yang selama ini kita kenal sebagai laki-laki yang nyaris sempurna, justru dia seperti orang bodoh yang hanya menunggu istri tercintanya sadar dari koma," lanjut Lola.


"Apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan Lola?" tanya Bianca tak percaya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Bianca," jawab Lola lalu menggenggam tangan Bianca.


"Arga benar-benar mencintaimu Bianca, bahkan setelah lama kau koma dokter sempat meminta Arga untuk melepaskan alat penunjang hidupmu karena Dokter bilang sudah tidak ada harapan apapun lagi, tetapi Arga menolak hal itu dan memaksa dokter untuk tetap membiarkanmu bersama alat penunjang hidupmu," ucap Lola.


"Apa itu artinya seharusnya aku sudah meninggal saat itu?" tanya Bianca dengan kedua mata berkaca-kaca.


Lola menganggukkan kepalanya dengan semakin erat menggenggam tangan Bianca.


"Dokter dan semua orang sudah kehilangan harapan padamu Bianca, hanya dengan alat penunjang hidup itulah kau bisa tetap bertahan dan Arga mempertaruhkan nyawanya demi bisa mempertahankan alat penunjang hidup itu agar tetap bisa menjagamu tetap hidup," ucap Lola.


"Mempertaruhkan nyawanya?" tanya Bianca mengulang ucapan Lola.


"Orang tua Arga sempat menyerah dan meminta dokter untuk melepas alat penunjang hidupmu, tetapi Arga mengambil pisau dan menggores lehernya dengan pisau agar kedua orang tuanya tidak melepas alat penunjang hidupmu," jawab Lola.


"Itu tidak mungkin Lola, tidak mungkin Arga melakukan hal itu," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya sambil menarik tangannya dari genggaman Lola karena tidak mempercayai ucapan Lola.


"Semua orang di rumah sakit bahkan sudah mengetahui cerita tentang hal ini, tidak hanya para dokter tapi juga para pasien lain yang ada di rumah sakit itu, mereka semua tahu bagaimana Arga berusaha untuk tetap mempertahankanmu bahkan setelah semua orang menyerah pada hidupmu," ucap Lola.


"Satu hal yang harus kau tahu Bianca, Arga meyakinkan semua orang jika kau tidak bisa bertahan saat itu maka Arga juga tidak akan bisa mempertahankan hidupnya, ia akan benar-benar mengakhiri hidupnya saat itu juga," lanjut Lola.


Seketika Bianca terdiam mendengar semua penjelasan Lola, ia tidak menyangka jika Arga akan melakukan hal itu padanya, karena sejauh yang ia tahu hubungan mereka hanya sebatas kontrak yang sudah mereka berdua sepakati.


"Arga mungkin pernah melakukan kesalahan dengan memanfaatkanmu untuk bisa kembali pada masa lalunya, tapi setelah apa yang terjadi padamu Arga mulai sadar jika dia tidak bisa kehilanganmu Bianca, dia benar-benar mencintaimu dan tidak akan ragu mempertaruhkan nyawanya untukmu," ucap Lola.

__ADS_1


"Tapi Karina......"


"Temui Arga dan dengarkan semua penjelasannya, jika kau ragu untuk mempercayai Arga temui Karina bersama Arga dan jika kau tidak mempercayai semua penjelasanku tadi kau bisa menanyakannya pada orang tua Arga, Daffa ataupun dokter yang ada di rumah sakit itu," ucap Lola memotong ucapan Bianca.


"Jadi..... apa itu yang membuat sikap Arga berbeda selama ini?" tanya Bianca dengan air mata yang tiba-tiba menetes membasahi kedua pipinya.


"Arga sangat mencintaimu Bianca, dia berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padanya, dia tidak ingin gegabah karena dia tidak ingin kau merasa tidak nyaman dan meninggalkannya," ucap Lola.


"Satu hal lagi tentang apa yang aku jelaskan padamu, Arga sengaja meminta semua orang untuk tidak mengatakannya padamu, Arga tidak ingin kau merasa bersalah dan terbebani atas apa yang sudah terjadi pada Arga saat Arga berusaha untuk mempertahankanmu," lanjut Lola.


Bianca terdiam dengan menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ada setitik embun dingin dalam hatinya setelah ia mendengar semua yang Lola katakan padanya.


"Arga mencintaiku? dia benar-benar mencintaiku?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Arga laki-laki yang baik Bianca, dia tulus mencintaimu lebih dari siapapun," ucap Lola dengan menggenggam tangan Bianca.


"Tapi aku tidak mencintainya Lola, aku hanya menunggu kak Bara memberikan kepastiannya padaku," balas Bianca dengan membawa pandangannya pada Lola.


Lola hanya menghela nafasnya mendengar apa yang Bianca katakan tentang Bara.


"Kau hanya menunggu kak Bara Bianca, bukan berarti kau benar-benar mencintainya, kau hanya penasaran tentang bagaimana sebenarnya kak Bara menganggapmu selama ini," ucap Lola.


"Tapi aku....."


"Kau tidak akan sesedih ini, kau tidak akan merasa sakit seperti ini jika kau tidak jatuh cinta pada Arga, Bianca!" ucap Lala memotong ucapan Bianca.


"Aku..... aku hanya merasa dia membohongiku dan mempermainkanku," balas Bianca beralasan.


"Kenapa kau merasa dibohongi dan dipermainkan? bukankah hubungan kalian hanya sekedar pernikahan di atas kontrak tanpa ada cinta?" tanya Lola yang membuat Bianca terdiam.


"Ikuti apa yang ada dalam hatimu Bianca, kau pasti tahu pada siapa kau sebenarnya jatuh cinta, rasa sakit dan sedih yang kau rasakan sekarang adalah karena kekecewaanmu pada Arga yang sudah kau anggap sebagai suamimu, suami yang kau cintai dan sangat mencintaimu," ucap Lola.


Bianca menggelengkan kepalanya pelan, ia seolah menolak fakta bahwa ada cinta dalam pernikahannya dengan Arga.


"Aku tidak akan memaksamu untuk jatuh cinta pada Arga karena hatimulah yang sepenuhnya mengendalikan hal itu, tapi kau tidak bisa menolak fakta jika Arga benar-benar mencintaimu Bianca," ucap Lola.


Bianca membawa pandangannya pada Lola tanpa mengatakan apapun, ia tidak tahu harus mengatakan apa dan bersikap seperti apa saat itu.


"Ikuti kata hatimu Bianca, jangan pernah menolaknya, karena hati akan memberikan jalan yang terbaik untukmu, entah kau akan bersama kak Bara ataupun Arga, aku hanya bisa berharap kau bisa bersama laki-laki yang terbaik untukmu," ucap Lola.


**


Waktu berlalu, hari telah berganti. Dengan langkah yang tak bersemangat Arga meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.


Meskipun isi kepalanya dipenuhi oleh Bianca, ia tetap memutuskan untuk berangkat ke kantor. Arga sengaja melakukan hal itu untuk memberi waktu Bianca menyendiri dan memikirkan tentang apa yang sudah terjadi.


Sesampainya di kantor, Arga segera mengerjakan pekerjaannya, namun ia sama sekali tidak fokus dengan apa yang ia kerjakan.


"Apa yang membuatmu tidak fokus seperti ini Arga? apa ada masalah?" tanya Daffa yang menyadari hal itu.


"Bianca sudah mengetahui semuanya, aku terlalu lambat karena aku belum sempat memberitahunya terlebih dahulu," jawab Arga sambil memijat keningnya.


"Apa maksudmu tentang Karina?" terka Daffa yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Dari mana Bianca mengetahuinya?" tanya Daffa.


"Aku juga tidak tahu, sepertinya Karina sendiri yang memberitahu Bianca karena Karina dan Bianca emang sudah saling mengenal dan Karina banyak menceritakan masalah pribadinya pada Bianca," jawab Arga.


"Tapi sepertinya tidak mungkin Karina yang memberitahu Bianca," ucap Daffa yang membuat Arga membawa pandangannya pada Daffa.

__ADS_1


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Arga.


"Lola mengatakan padaku jika dia baru saja dikenalkan dengan Karina oleh Bianca dan Lola berpikir jika masa lalu yang Karina ceritakan pada Bianca itu adalah aku, bukan kau, itu artinya Karina belum memberitahu Bianca tentang hubungannya denganmu," jelas Daffa.


"Sepertinya ada orang lain yang memberitahu Bianca," lanjut Daffa.


"Aku tahu dia siapa," ucap Arga dengan menatap kosong penuh emosi.


"Clara!" ucap Arga dan Daffa bersamaan.


"Untuk saat ini sebaiknya abaikan dulu Clara, selesaikan dulu masalahmu dengan Bianca dan yakinkan Bianca jika kau sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Karina," ucap Daffa.


"Kau benar, ini adalah hal yang Clara inginkan, aku tidak akan memberikan celah pada Clara untuk kedua kalinya," balas Arga.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Arga sampai di depan tempat kost Lola.


Arga segera keluar dari mobilnya dan berlari kecil ke arah kamar kost Lola lalu mengetuk pintunya beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.


"Tunggu sebentar," ucap Lola pada Arga lalu kembali menutup pintunya dan berjalan menghampiri Bianca yang masih ragu untuk menemui Arga.


"Dengarkan aku Bianca, apapun yang terjadi kau harus mendengarkan penjelasan Arga, terserah kau akan percaya padanya atau tidak tapi aku harap kau bisa mendengarkan apa yang ada dalam hatimu, bagaimanapun juga kalian berdua sama-sama saling bertaruh nyawa demi menyelamatkan satu sama lain," ucap Lola pada Bianca.


"Aku tidak pernah bermaksud untuk menyelamatkan nyawanya Lola, kau tau itu!" balas Bianca.


"Kau menyelamatkan nyawanya karena kau melakukan apa yang hatimu katakan tanpa memikirkannya, sekarang temui dia dan selesaikan masalah kalian baik-baik, bagaimanapun juga kalian masih terikat kontrak, apapun keputusanmu nanti aku harap kau bisa menyelesaikan kontrak kesepakatan kalian dengan baik-baik saja," ucap Lola.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya. Setelah berpelukan dengan Lola, Biancapun keluar dari kamar Lola.


Bianca hanya berjalan pergi begitu saja, tidak memperdulikan Arga yang sudah menunggunya di depan kamar kost Lola.


Bianca membawa langkahnya masuk ke dalam mobil dan duduk tanpa mengatakan apapun, diikuti Arga yang duduk di balik kemudi.


"Bianca, aku...."


"Jangan membicarakannya disini," ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Baiklah," balas Arga lalu mengendarai mobilnya pulang.


Sesampainya di rumah, Bianca dan Arga segera keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Katakan apapun yang ingin kau katakan, aku akan mendengarnya meskipun aku tidak mempercayainya!" ucap Bianca saat ia sudah duduk di ruang tengah.


"Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku Bianca, tapi aku tidak akan bosan mengatakan padamu jika aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Karina, semua yang pernah aku katakan padamu itu adalah kebenaran yang harus kau tau," ucap Arga.


"Sepertinya dia sangat mencintaimu, dia bahkan hampir gila karena kau mencampakkannya," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya.


Entah kenapa hatinya seperti tergores saat ia mengatakan hal itu.


"Apa yang Karina katakan padamu belum tentu benar Bianca, dia hanya melebih-lebihkan apa yang terjadi antara aku dan dia, karena dia ingin menghancurkan hubungan kita," ucap Arga.


"Hubungan apa maksudmu Arga? hubungan kita hanya sebatas kontrak kesepakatan, apa kau lupa itu?" balas Bianca.


"Pada awalnya memang seperti itu, tapi setelah aku sadar jika aku jatuh cinta padamu aku rela membayar denda berapapun yang kau mau bahkan nyawakupun akan aku berikan jika hanya itu yang bisa membuatmu percaya bahwa aku mencintaimu," ucap Arga bersungguh-sungguh.


"Kau sangat berlebihan Arga, kau bahkan masih mencintainya setelah kita menikah," balas Bianca sambil beranjak dari duduknya.


"Itu sebelum aku sadar jika aku hanya berambisi untuk mendapatkannya," ucap Arga sambil beranjak dan menahan tangan Bianca.

__ADS_1


Arga memegang kedua bahu Bianca dan menatap kedua mata Bianca dengan dalam.


"Aku benar-benar mencintaimu Bianca, sama sekali tidak ada perempuan lain dalam hatiku selain dirimu, aku akan memberikan apapun yang aku miliki untuk membuatmu percaya dan yakin dengan apa yang aku katakan padamu," ucap Arga yang membuat Bianca terdiam.


__ADS_2