
Arga dan Bianca masih berada di ruangan yang sama. Mereka mengkhawatirkan satu sama lain, tidak peduli dengan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri.
Bianca kemudian mengambil ponsel di saku Arga untuk menghubungi panggilan darurat, entah itu polisi atau ambulans.
Namun sayang, ponsel Arga mati saat itu dan Bianca terus berusaha untuk membuatnya kembali hidup.
"Maaf karena sudah terlambat datang Bee," ucap Arga sambil menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipi Bianca.
Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia terus menekan luka yang ada di bagian perut Arga untuk menahan darah yang keluar sambil berusaha mengaktifkan ponsel Arga.
"Apa yang sudah mereka lakukan padamu Bee? katakan padaku," tanya Arga yang tidak menghiraukan rasa sakit yang ia rasakan saat itu.
"Jangan hanya diam Bianca, jawab pertanyaanku, aku akan membalas perbuatan mereka semua yang sudah membawamu ke tempat ini!"
"Diamlah Arga, kau hanya akan membuat darahmu semakin banyak keluar jika kau terus berbicara," ucap Bianca kesal karena Arga yang terus bertanya padanya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu Bianca, aku....."
"Sekarang bukan waktunya untuk mengkhawatirkanku Arga, lihatlah dirimu, kau terluka!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Arga dengan tersenyum.
Sebelum Bianca menjawab pertanyaan Arga, terdengar riuh sirine dan tak lama kemudian beberapa orang polisi datang.
Setelah melihat keadaan Arga dan Bianca, polisipun segera memanggil petugas medis untuk membawa Arga dan Bianca masuk ke dalam ambulans.
Arga yang sudah kehilangan banyak darah berusaha untuk tetap sadar, meskipun beberapa kali dia terlihat hampir memejamkan matanya.
"Bertahanlah Arga, jangan menutup matamu," ucap Bianca yang duduk di samping Arga saat ambulans sudah membawa mereka pergi ke rumah sakit.
"Aku tidak tahu sejauh mana aku bisa bertahan Bianca, setidaknya aku senang karena kau ada di sampingku di saat aku sudah tidak bisa mempertahankan hidupku lagi," balas Arga dengan genggaman tangannya pada Bianca yang perlahan melemah.
"Aku tahu kau pasti bisa bertahan, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit jadi aku mohon padamu tetaplah bertahan seperti aku yang pernah bertahan untukmu," ucap Bianca dengan mempererat genggaman tangannya pada Arga.
"Katakan padaku Bianca..... apa kau..... mencintaiku?" tanya Arga dengan menatap Bianca bersama kedua matanya yang sudah hampir terpejam.
"Aku mencintaimu, aku tahu aku mencintaimu Arga, jadi aku mohon bertahanlah," jawab Bianca tanpa ragu.
"Jangan mengatakan jika kau mencintaiku karena merasa kasihan padaku sekarang Bianca, aku....."
"Tidak Arga, aku memang benar-benar mencintaimu dan aku minta maaf karena aku baru menyadarinya, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku Arga, jadi bukankah seharusnya kita bisa menjalani pernikahan kita dengan bahagia jika kita saling mencintai?" ucap Bianca memotong ucapan Arga.
Mendengar ucapan Bianca, Arga tersenyum dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Aku senang mendengarnya, aku terlalu senang sampai aku merasa seperti berada di surga sekarang," ucap Arga dengan tersenyum di tengah rasa sakit yang dirasakannya.
"Kita akan pergi ke surga bersama, untuk saat ini aku masih ingin menjalani kehidupanku bersamamu sebagai suami istri yang bahagia, jadi aku mohon tetaplah bertahan Arga, bukan hanya demi aku tapi juga demi pernikahan kita," ucap Bianca yang masih menggenggam erat tangan Arga.
"Terima kasih Bianca, kau adalah perempuan satu-satunya yang berhasil melengkapi hidupku," ucap Arga dengan genggaman tangannya pada Bianca yang semakin lemah dan tak lama kemudian Arga terpejam begitu saja.
"Arga, bangunlah Arga...... kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku sendirian, tepati janjimu Arga, aku mohon!" ucap Bianca dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Tak lama kemudian ambulans berhenti di rumah sakit terdekat, paramedis pun segera membawa Arga ke ruang UGD sedangkan Bianca dibawa ke ruangan lain untuk diperiksa.
Setelah menjalani pemeriksaan, Bianca kemudian diharuskan untuk menemui polisi yang meminta keterangan padanya.
Namun karena terlalu mengkhawatirkan Arga, Bianca tidak bisa menjawab pertanyaan polisi dengan baik. Beruntung tak lama kemudian Daffa datang dan membantu Bianca.
"Daffa tolong katakan pada polisi, aku benar-benar tidak bisa memberikan keterangan apapun saat ini, aku tidak bisa tenang sebelum aku tahu bagaimana keadaan Arga," ucap Bianca pada Daffa.
"Aku mengerti, aku akan mencoba untuk membicarakannya pada polisi, tapi apa kau baik-baik saja Bianca?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
"Aku baik-baik saja, tapi aku tidak tahu bagaimana keadaan Arga, dia masih berada di ruang UGD sejak tadi," jelas Bianca.
"Tunggu Arga disana, aku akan membicarakannya dengan polisi," ucap Daffa yang dibalas anggukan kepala Bianca yang segera berlari untuk pergi ke ruang UGD.
__ADS_1
Bianca kemudian menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di depan ruang UGD, ia menunggu dengan khawatir karena sudah lebih dari satu jam dokter belum juga keluar dari ruang UGD.
"Aku yakin kau pasti baik-baik saja Arga, aku yakin kau pasti akan bertahan, aku mohon jangan mematahkan keyakinanku padamu," ucap Bianca dalam hati.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD, Biancapun segera beranjak dari duduknya dan menanyakan keadaan Arga pada dokter.
"Pasien sempat mengalami kritis untuk beberapa saat tapi dengan cepat pasien bisa melewati masa kritis itu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jelas dokter.
"Tapi dia mengeluarkan banyak sekali darah dok? apa benar tidak ada yang mengkhawatirkan dari keadaannya?" tanya Bianca.
"Banyaknya darah yang keluar sempat membuat pasien mengalami kritis, tetapi sepertinya semangatnya berjuang sangat tinggi jadi dia bisa melewati masa kritisnya dengan cepat, sekarang kita hanya perlu menunggu dia sadar," jelas dokter.
"Baik dok, terima kasih," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh dokter yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Bianca.
Biancapun kini bernafas lega mendengar penjelasan dokter jika Arga berhasil melewati masa kritisnya dengan cepat.
Tak lama kemudian Daffa datang menghampiri Bianca bersama dua orang polisi.
"Bagaimana keadaan Arga, Bianca?" tanya Daffa.
Biancapun menjelaskan pada Daffa sama persis seperti apa yang Dokter katakan pada Bianca.
"Syukurlah kalau begitu, jadi apa sekarang kau bisa memberikan keteranganmu pada polisi?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
Bianca menganggukkan kepalanya lalu mulai menjawab semua pertanyaan yang polisi ajukan padanya.
"Sekarang kau hanya perlu ada disini untuk menjaga Arga, aku akan menyelesaikan sisanya," ucap Daffa sambil menepuk pelan bahu Bianca lalu berjalan pergi bersama polisi yang sudah meminta keterangan pada Bianca.
Bianca kemudian membawa langkahnya pergi mengikuti beberapa suster yang memindahkan Arga ke ruangan lain.
Di ruangan Arga yang baru, kini hanya ada Arga dan Bianca disana. Bianca duduk di samping ranjang Arga dengan menatap kedua mata Arga yang terpejam.
Malam yang semakin larut membawa Bianca tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang Arga dengan kepalanya yang ia baringkan di ranjang Arga sambil menggenggam satu tangan Arga.
Arga mengerjapkan matanya dan menyadari jika tangannya berada dalam genggaman Bianca yang saat itu masih tidur di sampingnya.
Argapun hanya tersenyum tanpa menggerakkan sedikitpun tangannya yang berada dalam genggaman Bianca.
Namun tak lama kemudian Bianca mulai mengerjapkan matanya dan perlahan mengangkat kepalanya, menyadari hal itu Arga segera kembali menutup kedua matanya seolah ia belum bangun.
Sedangkan Bianca hanya menghela nafasnya panjang melihat Arga yang masih terpejam di hadapannya.
Bianca kembali membaringkan kepalanya di samping Arga dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Arga.
"Bangunlah Arga, katakan padaku jika kau baik-baik saja," ucap Bianca dengan memainkan jari-jari Arga yang berada dalam genggaman tangannya.
Arga masih diam meskipun dia mendengar dengan jelas apa yang Bianca katakan saat itu.
"Bukan hal yang mudah buatku untuk mengakui perasaanku padamu Arga, aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintaimu, tapi yang pasti aku sangat takut kehilanganmu," ucap Bianca.
"Sekarang aku tidak tahu bagaimana aku bisa mendapatkan uang yang sangat banyak untuk membayar denda karena aku sudah melanggar kontrak kesepakatan kita, tapi sepertinya tidak hanya aku yang harus membayarnya, mungkin kita bisa membagi dua uang denda yang sangat banyak itu," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.
"Aku yang akan membayarnya," ucap Arga tiba-tiba.
"Seharusnya memang begitu karena kau yang lebih dulu jatuh cinta padaku," balas Bianca
"Tapi....."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika baru saja ia mendengar suara Arga. Biancapun segera mengangkat kepalanya dan melihat Arga yang sudah membuka kedua matanya dengan penuh senyum.
"Arga, kau......"
"Aku mendengar semuanya," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
Bianca seketika menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu karena Arga mendengar ucapannya yang seharusnya tidak ia katakan di hadapan Arga.
__ADS_1
Arga kemudian meraih tangan Bianca dan menggenggamnya, kedua matanya menatap Bianca dengan penuh cinta.
Untuk beberapa saat Bianca dan Arga hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun dan tak lama kemudian pintu ruangan Arga terbuka, membuat Bianca segera menarik tangannya dari genggaman tangan Arga.
"Selamat pagi, aku harap kedatanganku tidak mengganggu kalian berdua," ucap Daffa yang berjalan mendekati ranjang Arga.
"Kedatanganmu memang selalu mengganggu," balas Arga kesal.
"Aku baru saja menemui dokter dan Dokter bilang keadaanmu sudah membaik, aku kesini hanya untuk memastikannya dan setelah mendengarmu mengomel seperti itu sekarang aku yakin jika keadaanmu memang sudah baik-baik saja," ucap Daffa.
"Bagaimana dengan orang-orang itu Daffa? apa polisi sudah berhasil menangkap mereka semua?" tanya Arga.
"Sebenarnya semalam polisi baru menangkap beberapa anak buahnya, tetapi polisi segera mengungkapkan Ardi Nugroho sebagai buronan di seluruh media jadi tadi pagi polisi sudah berhasil menangkapnya sekaligus semua orang yang bekerja sama dengannya," jelas Daffa.
"Baguslah kalau begitu, aku pastikan dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan," ucap Arga.
"Ada satu hal yang harus kau tahu Arga, setelah media memberitakan statusnya sebagai buronan, banyak fakta yang terungkap dari bisnis Ardi yang dinilai janggal dan ternyata dia sudah banyak melakukan korupsi serta manipulasi data yang merugikan banyak perusahaan lain, jadi sepertinya kali ini dia akan benar-benar hancur," ucap Daffa.
"Aku sudah menduganya saat dia tiba-tiba menyerang perusahaan papa, tapi aku tidak akan berhenti untuk membuatnya menyesali perbuatannya bahkan setelah dia keluar dari penjara, aku akan selalu menjadi bayang-bayang yang akan berusaha untuk menghancurkan semua miliknya," balas Arga.
"Kau tidak perlu melakukan hal sejauh itu Arga, dia sudah mendapatkan apa yang layak dia dapatkan sekarang!" ucap Bianca.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyentuhmu menjalani hidupnya dengan tenang Bianca," balas Arga.
"Siapa bilang dia menyentuhku? aku bahkan tidak akan membiarkannya mendekatiku," ucap Bianca.
"Jadi dia......."
"Dia sama sekali tidak menyentuhku Arga, kau datang di saat yang tepat saat dia hampir saja menyentuhku, kau percaya padaku bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
"Tentu saja aku mempercayaimu," jawab Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
"Hmmm..... sebaiknya aku pergi sekarang," ucap Daffa dengan menghela nafasnya melihat apa yang Arga dan Bianca lakukan.
"Aahh ya aku kesini juga untuk memberitahumu jika kau sudah keluar dari rumah sakit kau harus memberikan keterangan pada polisi tentang apa yang terjadi malam itu," ucap Daffa sambil membawa langkahnya keluar dari ruangan Arga.
Kini hanya ada Arga dan Bianca di dalam ruangan itu, mereka hanya saling menatap untuk beberapa saat tanpa mengatakan apapun.
Meskipun begitu, terlihat dengan jelas bagaimana dua pasang mata itu saling menatap dengan penuh cinta dan membiarkan dua hati yang berbicara dengan bahasa cinta yang tidak orang lain mengerti.
Kini sudah tidak ada keraguan apapun dalam hati Bianca, ia yakin dengan apa yang dia rasakan pada Arga dan hal itu membuat mereka berdua mulai menjalani hubungan pernikahan mereka dengan penuh cinta.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang saat orang tua dan adik Arga sampai di rumah sakit.
"Mama sudah mendengar semuanya, mama bersyukur karena kalian berdua baik-baik saja," ucap Nadine dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Kakak romantis sekali, Luna tidak menyangka jika kakak akan mengorbankan nyawa kakak demi kak Bianca, sangat keren," ucap Luna sambil mengulurkan dua jari jempolnya pada Arga.
Semua yang ada di sana hanya tertawa kecil mendengar apa yang Luna katakan.
"Papa akan pastikan Ardi tidak akan mendapatkan kembali apa yang dulu pernah dia miliki, dia harus menyesal karena sudah berurusan dengan keluarga Narendra," ucap David.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, Arga kemudian diperbolehkan untuk pulang. Dengan dijemput oleh Daffa dan Lola, Arga dan Bianca meninggalkan rumah sakit.
"Apa kau akan meninggalkanku disini sendirian? apa kau akan membiarkanku berada di kamar yang luas ini sendirian?" tanya Arga pada Bianca saat mereka berdua berada di kamar Arga.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untukmu," balas Bianca dengan tersenyum.
"Tetaplah disini bersamaku, aku ingin melihatmu sebelum aku memejamkan mataku dan setiap aku pertama kali membuka mataku di setiap harinya di sepanjang hidupku," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
"Aku tidak akan memaksa tapi itulah yang aku inginkan darimu, apa kau bersedia?" lanjut Arga bertanya.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan menundukkan kepalanya karena menahan malu.
"Terima kasih Bee," ucap Arga sambil membawa tangan Bianca mendekat padanya lalu memberikan kecupan singkatnya di punggung tangan Bianca.
__ADS_1