Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Akhir Kontrak Kesepakatan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, hubungan Bianca dan Arga semakin hangat setiap harinya, terlebih setelah Arga meninggalkan rumah sakit, Bianca mulai tidur di dalam satu kamar yang sama dengan Arga.


Setiap hari Bianca membersihkan dan mengobati luka yang ada di perut Arga. Bianca juga menyiapkan keperluan Arga karena meskipun sedang beristirahat di rumah, Arga tetap melakukan pekerjaannya di dalam kamarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya atas pekerjaannya.


Meskipun begitu, Bianca dan Arga tidak pernah melakukan sesuatu yang melebihi batas yang sejak dulu ada di antara mereka berdua.


Meskipun kini mereka saling terbuka dengan perasaan masing-masing tetapi tidak jarang mereka merasa canggung jika sedang berdua.


Mereka benar-benar tampak seperti anak remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta, merasa bahagia dan malu saat sedang bersama.


Seperti biasa pagi itu Bianca membersihkan luka Arga lalu membalutnya dengan perban yang baru setelah mengobatinya.


"Sepertinya lukamu akan segera sembuh," ucap Bianca sambil membereskan kotak P3K yang ada di meja.


"Kau benar, itu karena aku memiliki dokter yang selalu rajin merawatku setiap hari," balas Arga yang membuat Bianca tersenyum.


"Aku akan mengambil sarapan untukmu," ucap Bianca yang akan keluar dari kamar Arga namun dengan cepat Arga meraih tangan Bianca.


"Sepertinya aku sudah bisa keluar kamar sekarang, aku benar-benar sangat bosan berada di kamar sepanjang hari selama beberapa hari ini," ucap Arga.


"Tapi kau tidak boleh banyak bergerak Arga, apalagi berjalan menuruni tangga," balas Bianca.


"Tapi lukaku sudah hampir sembuh Bianca, percayalah aku akan baik-baik saja," ucap Arga.


"Aku tahu kau baik-baik saja tapi aku tidak akan mengambil resiko dengan membiarkanmu melakukan banyak aktivitas," balas Bianca sambil menarik tangannya lalu berjalan keluar dari kamar Arga.


Arga hanya menghela nafasnya panjang melihat Bianca yang sudah meninggalkan kamarnya. Tak lama kemudian Bianca kembali dengan membawa nampan yang berisi satu piring makanan buatan bibi dan segelas minuman.


"Apa kau marah padaku?" tanya Bianca yang melihat raut wajah Arga tampak kesal saat itu.


"Aku hanya merasa seperti laki-laki yang tidak berguna di hadapanmu," jawab Arga.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? kau sudah membahayakan dirimu hanya untuk menyelamatkanku dan ini bukan yang pertama kali kau melakukannya untukku!"


"Tapi sejak beberapa hari yang lalu aku hanya berbaring disini dan melakukan pekerjaanku di atas ranjang tanpa pernah keluar dari kamar sama sekali, aku bahkan tidak bisa menemanimu di meja makan," ucap Arga.


Bianca tersenyum lalu membawa dirinya duduk di samping Arga dan menggenggam tangan Arga.


"Kau ingat bagaimana kau sangat takut saat aku hampir meninggalkanmu bukan? itu juga yang aku rasakan saat melihatmu terluka Arga, aku benar-benar sangat takut dan aku hanya bisa berdoa agar aku masih memiliki kesempatan untuk bisa menjalani hari yang bahagia bersamamu," ucap Bianca.


"Dan Tuhan sudah mengabulkan doaku Arga, aku memiliki kesempatan untuk bisa menjalani hari-hariku yang bahagia bersamamu, jadi aku mohon bersabarlah sebentar lagi, setelah keadaanmu benar-benar pulih kau bisa pergi kemanapun yang kau mau," lanjut Bianca.


"Kau membuatku ingin menangis Bianca," ucap Arga yang merasa terharu karena ucapan Bianca.


"Sejak kapan kau menjadi melankolis seperti ini?" tanya Bianca lalu mengambil makanan milik Arga dan memberikannya pada Arga.


"Sejak aku jatuh cinta padamu," jawab Arga sambil menikmati sarapannya dengan ditemani Bianca.


**


Hari-hari telah berlalu, luka Arga sudah benar-benar sembuh setelah lebih dari satu minggu Bianca merawat Arga.


Hari itu mereka baru saja melakukan check up di rumah sakit untuk memastikan jika keadaan Arga sudah benar-benar pulih.


"Sekarang kau sudah bisa melakukan semua kegiatanmu sendiri, jadi apa sebaiknya aku kembali ke kamarku?" tanya Bianca pada Arga saat mereka baru saja meninggalkan rumah sakit.


"Apa sebaiknya aku harus terluka seumur hidup agar aku bisa membuatmu terus berada di kamarku? agar aku bisa melihatmu setiap aku bangun dari tidurku?" balas Arga bertanya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan Arga?" tanya Bianca.


"Aku sudah memintamu untuk terus berada di dekatku seumur hidup Bianca, tidakkah itu cukup untuk menjelaskan apa yang harus kau lakukan?" balas Arga.


"Baiklah, semoga saja kau tidak menyesal dan merasa bosan karena aku akan terus berada di dekatmu seumur hidupku," ucap Bianca.

__ADS_1


"Tidak akan ada hari yang membosankan jika kau selalu ada disampingku Bianca," balas Arga sambil meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Arga kemudian meminta bibi untuk membantu dirinya dan Bianca memindahkan barang-barang yang ada di kamar Bianca ke dalam kamar Arga.


"Kau jangan terlalu banyak mengangkat beban berat Arga, kau....."


"Aku sudah benar-benar sembuh Bianca, tidak ada yang perlu kau khawatirkan!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Tapi....."


"Tidak ada tapi, aku bahkan bisa membawamu pergi ke bulan jika kau mau," ucap Arga yang segera mengangkat tubuh Bianca dan membawanya menaiki tangga.


Biancapun hanya tersenyum, membiarkan Arga membawa dirinya menaiki tangga untuk masuk ke kamar Arga.


Arga kemudian membaringkan Bianca di atas ranjangnya, sedangkan Arga duduk di tepi ranjangnya lalu sedikit membungkukkan badannya dan semakin mendekatkan wajahnya pada Bianca.


Biancapun hanya terdiam dengan degup jantungnya yang berdetak tak beraturan. Ia sudah bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya, namun ia sengaja memilih untuk diam dan menikmati setiap detik yang membuat dadanya berdebar.


Namun tiba-tiba bibi masuk dengan membawa beberapa barang milik Bianca yang membuat Arga segera beranjak dari ranjangnya.


"Maaf Tuan, bibi hanya ingin meletakkan barang milik non Bianca," ucap bibi yang merasa bersalah karena sudah mengganggu Arga dan Bianca.


"Letakkan saja disini Bi," balas Arga sambil menggaruk tengkuknya yang tentu saja tidak gatal. Ia hanya sedang canggung dan gugup saat itu.


Di sisi lain Bianca hanya tertawa kecil melihat Arga yang tampak gugup saat itu, Bianca kemudian beranjak dari ranjang lalu berdiri di belakang Arga dan memeluk Arga dengan erat


"Mungkin lain kali kau bisa mengunci pintunya lebih dulu," ucap Bianca berbisik yang membuat Arga segera membalikkan badannya dan membalas pelukan Bianca dengan erat.


"Kau benar, apa mungkin kita bisa memulainya dari awal?" tanya Arga yang membuat Bianca segera melepaskan dirinya dari pelukan Arga.


"Tidak bisa, karena aku harus segera merapikan barang-barangku," jawab Bianca sambil menaruh beberapa barang miliknya di atas meja Arga.


"Maaf Bianca, aku tidak bisa menerima penolakan," ucap Arga yang segera memeluk Bianca dari belakang lalu menjatuhkan Bianca di atas ranjang.


"Kita bisa membereskannya nanti," balas Arga sambil mengangkat kedua tangannya lalu dengan cepat menggelitik pinggang Bianca yang membuat Bianca tidak bisa berhenti tertawa dan berusaha meronta.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam saat Arga baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Arga kemudian membawa langkahnya masuk ke kamarnya dan mendapati Bianca yang tampak sibuk dengan laptop di hadapannya.


Menyadari Arga yang masuk ke kamar, Bianca segera menyimpan filenya lalu menutup laptopnya.


"Apa yang sedang kau kerjakan Bi? apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arga yang segera dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Bianca sambil menepuk tepi ranjangnya.


Argapun duduk di samping Bianca dengan membawa pandangannya menatap gadis cantik miliknya.


"Kau pasti ingat tentang kesepakatan yang sudah kita tanda tangani bukan? aku ingin membicarakan tentang hal ini," ucap Bianca sambil menunjukkan kontrak kesepakatan yang dulu pernah Arga buat bersamanya.


"Kenapa tiba-tiba kau membahas tentang hal ini Bianca?" tanya Arga terkejut.


"Semua yang sudah tertulis disini adalah hasil kesepakatan kita berdua yang tidak boleh kita langgar dan jika salah satu dari kita melanggarnya maka akan ada denda yang harus dibayar, kau ingat itu bukan?"


"Lupakan saja tentang kontrak kesepakatan bodoh ini Bianca, seharusnya kita sudah membuangnya dari dulu," ucap Arga sambil merebut kontrak kesepakatan yang Bianca pegang.


Namun Bianca segera menahan tangan Arga yang akan merobek kontrak kesepakatan itu.


"Kita harus menyelesaikannya Arga, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita sepakati sesuai dengan kontrak ini," ucap Bianca sambil merebut kembali kontrak kesepakatan yang ada di tangan Arga.


"Apa maksudmu Bianca? kau pasti bercanda bukan?" tanya Arga tak percaya dengan apa yang Bianca katakan.

__ADS_1


"Salah satu yang paling jelas dari kesepakatan kita adalah tentang pernikahan kita yang hanya akan terjadi selama 2 tahun dan aku...."


"Stop Bianca, aku tidak ingin mendengarnya!" ucap Arga yang segera beranjak dari duduknya lalu mencari kontrak kesepakatan yang ia simpan, bermaksud untuk segera merobeknya di depan Bianca.


"Arga, dengarkan aku dulu!" ucap Bianca sambil meraih kedua tangan Arga.


"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan kontrak kesepakatan itu Bianca? kita sudah menjalani hari-hari kita dengan bahagia, kita sudah terbuka dengan perasaan kita masing-masing, kenapa kau tiba-tiba membahasnya lagi?" tanya Arga dengan kedua matanya yang berkaca-kaca karena takut jika tiba-tiba Bianca meninggalkannya setelah 2 tahun pernikahan mereka.


"Dalam kontrak kesepakatan itu memang sudah seharusnya kita berpisah setelah 2 tahun pernikahan kita, tapi karena aku tidak bisa melakukannya aku harus membayar denda yang sudah kita sepakati," ucap Bianca.


"Jadi, kau....."


"Aku tidak bisa berpisah denganmu Arga, aku tidak ingin pernikahan kita berakhir seperti yang sudah kita sepakati dulu," ucap Bianca memotong ucapan Arga dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Kau membuatku takut Bianca, kau membuatku takut dengan tiba-tiba membahas kesepakatan konyol itu," ucap Arga yang segera membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, aku ingin menjalani seluruh hidupku hanya denganmu, tidak peduli apapun yang terjadi aku tidak akan pernah berhenti berjuang untuk bisa menjalani seluruh kehidupanku hanya denganmu," lanjut Arga yang semakin erat memeluk Bianca.


Biancapun hanya diam dalam pelukan Arga, ia benar-benar merasa bersyukur karena bisa merasakan cinta yang tulus dari laki-laki yang dicintainya. Bagi Bianca tidak ada yang lebih membahagiakan daripada apa yang ia rasakan saat itu.


"Sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Arga," ucap Bianca setelah ia melepaskan dirinya dari pelukan Arga.


Bianca kemudian mengambil 2 buku tabungan dan memberikannya pada Arga.


"Apa maksudnya ini Bee?" tanya Arga.


"Ini adalah buku tabungan dari dua rekening yang berbeda, yang satu berisi uang yang selalu kau berikan padaku yang tidak pernah aku gunakan sama sekali sejak pertama kali kau memberikannya padaku dan yang satu lagi berisi uang tabunganku yang tidak seberapa," jelas Bianca.


"Kenapa kau memberikan semua ini padaku?" tanya Arga tak mengerti.


"Ini untuk membayar denda karena aku sudah melanggar kontrak kesepakatan yang kita buat, sebagian besar memang berasal dari uang yang kau berikan padaku meskipun ini belum setengah dari denda yang kita sepakati dulu," jelas Bianca.


Arga hanya diam untuk beberapa saat ketika ia membuka lembar demi lembar buku tabungan yang ada di tangannya dan ia menyadari jika Bianca sama sekali tidak menggunakan uang yang selama ini dia berikan pada Bianca.


"Kenapa kau sama sekali tidak menggunakan uang yang aku berikan padamu Bee?" tanya Arga.


"Aku hanya merasa tidak berhak menerima uang itu Arga, aku menikah denganmu karena kau berjanji untuk membayar hutang papa dan itu sudah lebih dari cukup bagiku," jawab Bianca.


"Aku tidak bisa menerima semua ini," ucap Arga sambil mengembalikan dua buku tabungan itu pada Bianca.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu jadi aku yang seharusnya membayar denda itu, kau tahu bukan bagiku uang 100 miliar bukanlah hal yang sulit," balas Arga dengan raut kesombongannya.


"Tidak Arga, itu adalah uang yang sangat banyak, setidaknya aku juga harus membayar sebagian denda itu karena aku juga sudah melanggarnya," ucap Bianca.


"Simpan ini untukmu, karena ini adalah salah satu yang berhak kau dapatkan karena sudah menjadi istriku," balas Arga.


"Tapi....."


"Jangan membantahku Bianca, walaupun aku mencintaimu aku tidak suka jika kau membantah ucapanku," ucap Arga tegas namun tetap dengan tatapannya yang penuh cinta.


"Baiklah, lalu akan kita gunakan untuk apa uang 100 miliar itu?" tanya Bianca.


"Aku belum memikirkannya, apa kau ada ide?" jawab Arga sekaligus bertanya.


"Mungkin kita bisa menyumbangkannya beberapa persen ke panti asuhan yang sering kau datangi dan sisanya kita bisa menggunakannya untuk membuka bisnis baru, bagaimana menurutmu?"


"Ide yang bagus, aku akan segera menyiapkan uangnya dan memberikannya padamu, aku serahkan semuanya padamu Bianca, kau bisa menggunakan uang itu sesuai dengan kemauanmu!" ucap Arga.


Waktupun berlalu, malam yang semakin larut membawa Bianca ke alam mimpinya terlebih dahulu saat Arga masih membaca buku di atas ranjangnya.


Melihat Bianca yang sudah tertidur pulas, diam-diam Arga mengambil ponselnya lalu keluar dari kamarnya untuk menghubungi Daffa

__ADS_1


"Aku akan menjual beberapa aset yang aku miliki, siapkan semuanya besok pagi karena aku membutuhkan uang 100 miliar secepatnya!" ucap Arga setelah Daffa menerima panggilannya.


__ADS_2