Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Perhatian Arga


__ADS_3

Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Bianca tengah membaca buku di balkon yang ada di lantai 2.


Bianca berniat untuk menunggu Arga pulang, namun sampai larut malam Arga belum juga pulang.


"Sebenarnya jam berapa dia selesai bekerja? ini sudah malam tetapi dia belum pulang juga," gerutu Bianca kesal sambil sesekali melihat ke arah bawah balkon.


Malampun semakin larut dan tanpa sadar Bianca tertidur di balkon dengan buku yang masih dipegangnya.


Di sisi lain, Arga yang baru saja sampai di rumah segera membawa langkahnya naik ke lantai 3, namun sebelum ia membawa langkahnya menaiki tangga di lantai 2 ia melihat pintu ke arah balkon yang terbuka.


Arga kemudian membawa langkahnya ke arah pintu balkon, berniat untuk menutupnya namun ia begitu terkejut saat melihat Bianca yang tampak tertidur di kursi yang ada di balkon.


Argapun segera menghampiri Bianca, bermaksud untuk membangunkan Bianca.


"Bianca bangunlah!" ucap Arga yang berdiri di samping kursi.


Tidak ada jawaban, Bianca terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.


Arga kemudian menyentuh tangan Bianca agar Bianca segera terbangun dan benar saja Bianca segera terbangun saat dia menyadari seseorang menyentuh tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bianca terkejut dan segera beranjak dari tidurnya.


"Aku hanya ingin membangunkanmu, aku sudah memanggilmu tapi kau tidak bangun," jawab Arga.


"Ooohhhh...." ucap Bianca dengan membulatkan bibirnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Masuklah kau akan sakit jika tidur disini," ucap Arga lalu berjalan masuk meninggalkan Bianca begitu saja.


Biancapun segera berlari kecil mengikuti Arga, namun saat ia akan menginjak tangga yang menuju ke lantai 3 Arga seketika membalikkan badannya, melarang Bianca untuk mengikutinya.


"Berhenti mengikutiku, aku sudah melarangmu untuk ke lantai 3, apa kau lupa?" ucap Arga sekaligus bertanya.


"Kalau begitu turunlah, ada yang ingin aku bicarakan," balas Bianca.


"Aku sangat lelah hari ini, besok saja kita bicara!" ucap Arga lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Bianca yang sejak siang belum makan apapun, iapun mulai merasakan sakit di perutnya.

__ADS_1


Arga yang sudah sampai di ujung tangga membalikkan badannya untuk memastikan jika Bianca tidak mengikutinya.


Bianca memang tidak mengikutinya, namun ia melihat Bianca yang tengah berjongkok dengan memegangi perutnya dengan raut wajah yang tampak kesakitan.


Argapun segera menuruni tangga untuk menghampiri Bianca.


"Apa yang terjadi? apa kau sakit lagi?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Kau merepotkan sekali, aku akan meminta pak Dodi untuk mengantarmu ke rumah sakit!" ucap Arga.


"Tidak perlu, Lola sudah mengantar obat untukku," balas Bianca lalu membawa langkahnya menuruni tangga dengan memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


Arga yang semula ingin mengabaikan Bianca merasa tidak tega melihat Bianca yang tampak kesakitan.


Argapun segera berlari kecil ke arah Bianca dan membantu Bianca untuk berjalan ke kamarnya.


Di kamarnya Bianca segera meminum obat miliknya yang biasa ia konsumsi saat ia merasa perutnya sakit.


"Apa kau sering seperti ini?" tanya Arga pada Bianca.


"Kenapa kau terlambat makan? bukankah sudah ada chef yang khusus memasak untukmu?" tanya Arga.


"Aku hanya perlu makan makanan yang biasa aku makan, bukan makanan sehat yang hanya berisi sayur-sayuran mentah, aku sama sekali tidak menyukainya Arga," jawab Bianca.


"Tapi....."


"Aku tahu niatmu baik, tetapi aku benar-benar tidak memerlukan chef itu, aku hanya ingin makan seperti biasa, makan apapun yang aku inginkan dengan porsi yang membuatku kenyang," ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta pak Dodi untuk membelikanmu makanan, makanan apa yang kau inginkan sekarang?" ucap Arga sekaligus bertanya.


"Nasi padang dan martabak manis," jawab Bianca dengan cepat.


"Oke baiklah," ucap Arga lalu berjalan keluar dari kamar Bianca dan meminta pak Dodi untuk membeli makanan yang Bianca inginkan.


Setelah beberapa lama menunggu, pintu kamar Biancapun diketuk oleh seseorang. Bianca segera membawa langkahnya ke arah pintu dan mendapati pak Dodi yang membawakannya satu bungkus nasi padang dan martabak manis.


"Terima kasih pak, Pak Dodi mau memakannya bersama Bianca?" ucap Bianca sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Terima kasih non, saya sudah makan malam tadi, saya permisi," balas Pak Dodi lalu berjalan pergi, sedangkan Bianca segera membawa langkahnya ke meja makan dan menikmati makan malamnya seorang diri.


Setelah Bianca menghabiskan nasi padang yang dia inginkan, iapun segera membuka kotak yang berisi martabak manis kesukaannya.


Bianca kemudian memanggil beberapa pekerja yang masih terlihat mondar-mandir di rumah itu. Ia mengajak mereka untuk menikmati martabak manis yang baru saja dibeli oleh pak Dodi, namun tak ada satupun dari mereka yang berani untuk menerima ajakan Bianca.


Alhasil Biancapun menikmati sendiri martabak manis kesukaannya.


"Hmmmm.... ini benar benar membuatku bahagia," ucap Bianca senang.


"Sepertinya kau sudah sembuh," ucap Arga yang melihat Bianca tengah menikmati martabak manisnya.


"Tentu saja, sudah kubilang aku hanya perlu makan yang banyak," jawab Bianca sambil mengunyah makanannya.


"Baiklah kalau begitu, nikmati saja makananmu, mulai besok kau bebas memakan apapun yang kau inginkan asalkan kau tidak terlambat makan!" ucap Arga.


"Benarkah? apa itu artinya aku sudah tidak harus makan sayur-sayur mentah buatan chef?" tanya Bianca memastikan.


"Terserah apa yang ingin kau makan asalkan itu membuatmu tetap sehat, karena kau akan sangat merepotkan jika kau sakit," balas Arga lalu berjalan pergi begitu saja.


"Huh menyebalkan sekali, dia tidak ingin aku sakit bukan karena dia peduli padaku, tetapi hanya karena dia merasa repot jika aku sakit," ucap Bianca kesal.


Setelah menghabiskan makanannya, Biancapun membawa langkahnya masuk ke kamarnya dengan mengusap perutnya yang terasa penuh.


"Aaahhh aku benar-benar kenyang sekarang," ucap Bianca lalu menjatuhkan badannya di atas ranjang.


Bianca kemudian mengambil ponselnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan waktu yang semakin malam.


"Keman dia pergi? bukankah dia bilang tadi sangat lelah?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Entahlah, aku tidak peduli yang penting sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak karena perutku sudah kenyang," ucap Bianca lalu menarik selimutnya.


Di sisi lain, Arga yang baru saja keluar dari pintu rumahnya hanya tersenyum tipis melihat bagaimana lahapnya Bianca menikmati makan malamnya.


"Bagaimana dia bisa mempunyai badan sebagus itu dengan makanan yang sebanyak itu, benar-benar aneh," batin Arga dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya, tidak peduli sudah selarut apa malam itu, namun ia tetap memutuskan untuk keluar dari rumah demi menemui seseorang yang sudah menunggunya di suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2