
Tanpa ragu Karina membawa langkahnya memasuki rumah Arga untuk menemui orang tua Arga.
"Selamat pagi tante," sapa Karina pada Nadine yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Tidak perlu berbasa-basi, apa maksud kedatanganmu kemari?" ucap Nadine sekaligus bertanya.
"Apa Tante tidak mempersilahkan Karina untuk duduk?" tanya Karina dengan tersenyum.
Nadine tidak mengatakan apapun dan membawa langkahnya duduk di kursi yang ada di teras rumah diikuti Karina yang duduk di hadapan Nadine.
"Bagaimana kabar tante dan om David?" tanya Karina.
"Katakan saja apa maksud kedatanganmu kemari, jika bukan karena Arga tante pasti tidak akan membiarkanmu masuk ke rumah ini," balas Nadine tanpa menjawab pertanyaan Karina.
"Sebelum Karina mengatakannya, Tante harus memberitahu Karina tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Arga dan kenapa dia berada di rumah sakit, apa Bianca yang sakit?" ucap Karina sekaligus bertanya.
"Kenapa kau bisa tahu jika Arga berada di rumah sakit?" balas Nadine bertanya, terkejut mendengar apa yang Karina katakan karena memang tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi pada Arga dan Bianca.
Karina tersenyum lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya kemudian menunjukkan pesan Arga di ponselnya pada Nadine.
Sebuah pesan yang meminta Karina untuk menemui Arga di rumah sakit.
"Kenapa dia ingin kau menemuinya di rumah sakit? apa yang kalian bicarakan?" tanya Nadine yang terkejut melihat pesan Arga pada ponsel Karina.
"Menurut Tante kenapa?" balas Karina bertanya.
"Kau sudah memilih untuk meninggalkan Arga jadi jangan pernah berniat untuk mendekatinya lagi, apalagi berusaha untuk merusak rumah tangga Arga dan Bianca!" ucap Nadine.
"Karina sama sekali tidak bermaksud untuk mendekati Arga apalagi merusak rumah tangga Arga dan Bianca, justru Arga sendiri yang sepertinya ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Bianca," balas Karina.
"Apa maksudmu? jangan berbicara sembarangan Karina!" ucap Nadine yang terkejut mendengar ucapan Karina.
"Mungkin Arga memang tidak pernah memberitahu Daffa ataupun tante, karena sudah pasti Daffa dan tante tidak akan membiarkan Arga mendekati Karina jadi hanya Karina dan Arga sendirilah yang tahu bagaimana hubungan kita yang sebenarnya," balas Karina.
"Arga tidak mungkin seperti itu jika bukan kau yang mendekatinya lebih dulu!" ucap Nadine tak percaya.
"Justru Arga yang mendekati Karina bahkan setelah dia menikah dengan Bianca," balas Karina.
Nadine menggelengkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya.
"Pergilah, kembalilah pada selingkuhanmu dan jangan pernah mengganggu Arga lagi!" ucap Nadine pada Karina.
"Kenapa Tante terburu-buru sekali? Karina bahkan belum mengatakan apa tujuan Karina kesini," balas Karina yang enggan untuk beranjak dari duduknya.
Nadine membawa pandangannya pada Karina tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ada kemarahan yang berusaha ia tahan, tidak hanya marah pada Karina tapi juga pada Arga jika apa yang Karina katakan memang benar adanya.
"Karina kesini hanya ingin memberitahu tante jika ternyata Arga masih mencintai Karina dan sepertinya Karina juga masih mencintai Arga, bukankah seharusnya kita bersama jika kita saling mencintai!" ucap Karina dengan menatap kedua mata Nadine yang berdiri di hadapannya.
"Jika kau memang mencintainya tidak mungkin kau berselingkuh darinya, Karina!" balas Nadine.
"Itu adalah kekhilafan terbesar Karina tante dan Karina menyesalinya sekarang, Karina sadar jika hanya Argalah laki-laki yang Karina cintai dan hanya Karina perempuan yang Arga cintai, bahkan setelah dia menikah dengan Bianca," ucap Karina.
"Berhenti berbicara omong kosong Karina!" ucap Nadine kesal.
"Ini bukan omong kosong Tante, Tante bisa menanyakannya sendiri pada Arga jika tante tidak mempercayai Karina, tanyakan pada Arga apa yang selama ini kita lakukan di belakang Bianca, bahkan saat kalian semua berlibur, apa yang Arga lakukan dengan Karina disana tanpa sepengetahuan kalian!"
"Berlibur? apa maksudmu saat kita berada di Lombok?" tanya Nadine menerka.
"Aaahh Tante masih ingat rupanya, menurut tante apa Karina benar-benar berada disana secara kebetulan?" balas Karina.
__ADS_1
Nadine hanya diam berusaha menahan emosi dalam dirinya.
"Apa Tante ingat saat Arga tidak bisa berkumpul dengan kalian saat berada disana? memangnya apa yang tante pikirkan saat itu? kemana Arga pergi dan apa yang Arga lakukan? apa Tante tidak pernah berpikir jika saat itu Arga menghabiskan waktu bersama Karina?" tanya Karina dengan penuh senyum.
Nadine masih terdiam berusaha menggali memorinya tentang apa yang Karina katakan dan iapun teringat saat Arga membiarkan Bianca datang ke pantai terlebih dahulu dan saat Arga menemui mereka, Arga membawa topi yang ia berikan pada Bianca dan juga padanya.
"Jadi saat itu....."
"Arga bersama Karina tanpa sepengetahuan Bianca, om dan tante," ucap Karina memotong ucapan Nadine dengan penuh senyum.
"Bukankah itu menunjukkan bagaimana Arga lebih memprioritaskan Karina dibanding Bianca?" lanjut Karina bertanya.
Nadine menggelengkan kepalanya pelan, ia berusaha tetap berpikir positif mengingat bagaimana Arga yang hampir melukai dirinya sendiri hanya demi Bianca yang bahkan sudah tidak memiliki harapan hidup.
"Karina minta maaf jika Karina pernah berbuat salah pada om dan tante, tapi sekarang Karina benar-benar menyesalinya jadi Karina harap om dan tante bisa menerima kenyataan bahwa Karina dan Arga masih mencintai dan membiarkan kita menjalani hubungan kita tanpa sembunyi-sembunyi lagi," ucap Karina.
"Jangan pernah berharap hal itu akan terjadi Karina, Arga adalah suami Bianca dan itu tidak akan pernah berubah," balas Nadine.
"Mereka hanya suami dan istri tapi mereka tidak saling mencintai, tante pasti tahu bagaimana Arga sangat mencintai Karina bukan jika bukan karena Karina yang meninggalkannya mungkin sampai sekarang kita akan tetap bersama karena Arga selalu memaafkan kesalahan yang Karina buat," ucap Karina.
Nadine terdiam, apa yang Karina katakan memang benar. Ia ingat bagaimana hidup Arga sempat kacau semenjak Karina meninggalkannya.
"Sekarang Karina sudah kembali tante, jadi tolong biarkan Karina dan Arga bersama, mungkin akan lebih baik jika Arga mengakhiri pernikahannya dengan Bianca dan....."
PLAAAAAAAKKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Karina, membuat Karina seketika terdiam menahan perih di pipinya.
"Cepat pergi dari sini sebelum Tante benar-benar kehabisan kesabaran mendengar semua omong kosongmu itu!" ucap Nadine dengan penuh penegasan.
"Jika tante tidak mempercayai Karina saat ini Tante bisa menanyakannya pada Arga, tante akan tahu bagaimana Arga masih sangat mencintai Karina, bagaimana Arga pernah menghabiskan hari-harinya bersama Karina bahkan setelah dia menikah dengan Bianca!" ucap Karina dan tersenyum lalu membawa langkahnya pergi.
Dalam hatinya ada rasa amarah yang sudah siap untuk meledak jika memang benar apa yang Karina katakan tentang hubungannya dengan Arga.
"Tidak mungkin Arga melakukan hal itu, dia sangat mencintai Bianca, tapi...... apa aku harus menanyakannya pada Arga? apa aku harus menegaskan pada Arga agar dia benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Karina?" batin Nadine bertanya dalam hati.
"Ada apa ma? kenapa Mama melamun disini?" tanya David yang tiba-tiba menghampiri Nadine.
Nadine hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh David yang tidak mengetahui kedatangan Karina, karena ia sedang sibuk di ruang kerjanya saat Nadine menemui Karina.
**
Waktu berlalu, Nadine dan David baru saja sampai di rumah sakit. Mereka segera berjalan ke ruangan dokter yang menangani Bianca untuk menanyakan keadaan Bianca.
Setelah mendapat penjelasan dari dokter jika keadaan Bianca stabil, Nadine dan Davidpun pergi ke ruangan Bianca, duduk disana untuk menemani Bianca sampai Arga datang.
David duduk di sofa sambil membaca surat kabar yang ada disana, sedangkan Nadine duduk di dekat ranjang Bianca sambil menatap mata Bianca yang masih terpejam rapat.
"Apa selama ini kau menyembunyikan sesuatu dari mama Bianca? apa selama ini kau tahu jika Arga menyembunyikan sesuatu darimu?" tanya Nadine dalam hati.
"Bangunlah Bianca dan katakan semuanya pada mama, mama pastikan Arga akan tetap menjadi milikmu, Mama tidak akan membiarkan siapapun merebut Arga darimu karena mama yakin hanya kaulah yang terbaik untuk Arga," ucap Nadine dalam hati sambil menggenggam tangan Bianca.
Setelah beberapa jam berada disana, pintu ruangan Biancapun terbuka, Arga masuk ke ruangan Bianca dengan penuh senyum.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Argapun segera menghampiri Bianca.
"Lihatlah ma, dia masih sangat cantik bahkan saat dia tertidur lama," ucap Arga pada Nadine dengan menatap wajah cantik Bianca.
"Apa kau sangat mencintainya Arga?" tanya Nadine yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada sang mama.
__ADS_1
"Arga tidak akan menunggunya selama ini jika Arga tidak mencintainya ma, Bianca adalah hidup Arga jadi Arga akan melakukan apapun agar Bianca tetap bersama Arga," balas Arga.
"Bagaimana dengan Karina?" tanya Nadine yang membuat Arga sedikit terkejut karena tiba-tiba sang Mama menanyakan tentang Karina.
"Kenapa Mama tiba-tiba menanyakan hal itu?" sahut David yang berjalan ke arah Nadine.
"Papa ingat bukan bagaimana dulu Arga sangat mencintai Karina, hidupnya bahkan berantakan saat Karina meninggalkannya, dia...."
"Tolong jangan membahas masalah itu di depan Bianca ma, Arga tidak ingin Bianca salah paham!" ucap Arga memotong ucapan sang mama.
"Itu hanya masa lalu, kita semua memiliki masa lalu baik ataupun buruk dan papa yakin Arga pasti sudah melupakan masa lalunya bersama Karina, entah itu masa lalu yang baik ataupun buruk baginya," ucap David.
"Tapi Karina...."
"Ma, pa, tolong keluar dari sini jika kalian masih terus membahas masalah itu!" ucap Arga yang tidak suka mendengar mama dan papanya membicarakan Karina di depan Bianca.
"Kau juga harus keluar, ada yang ingin mama tanyakan padamu tentang apa yang tidak seharusnya Bianca dengar!" ucap Nadine lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Bianca diikuti oleh sang suami dan Arga.
"Ada apa ma? kenapa mama tiba-tiba membahas tentang Karina? apa mama baru saja bertemu dengannya?" tanya David pada sang istri.
"Mama hanya ingin memastikan sesuatu pada Arga pa," ucap Nadine tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
"Tolong katakan dengan jujur pada mama dan papa, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Karina, Arga?" lanjut Nadine bertanya pada Arga.
"Tidak ada hubungan apapun antara Arga dan Karina, apa yang sudah terjadi antara kita berdua sudah berakhir," jawab Arga tanpa ragu.
"Sejak kapan hubungan kalian benar-benar berakhir? apa sebelum kau menikah dengan Bianca? atau setelah kau menikah dengan Bianca? tanya Nadine.
Mendengar pertanyaan sang mama, Arga terdiam untuk beberapa saat, ia tidak mengerti kenapa sang Mama tiba-tiba menanyakan hal itu padanya.
"Jawab pertanyaan Mama Arga, jika kau tidak menjawabnya Mama akan berkesimpulan jika kau memang masih berhubungan dengan Karina bahkan setelah kau menikah dengan Bianca!" ucap Nadine.
"Arga mencintai Bianca ma, bagaimana Arga harus membuktikan pada Mama jika Arga benar-benar mencintai Bianca dan sudah melupakan masa lalu Arga dengan Karina!" balas Arga yang tidak menjawab pertanyaan sang mama.
"Papa bisa melihat bagaimana Arga mencintai Bianca ma, di saat semua orang sudah menyerah pada keadaan Bianca hanya Argalah yang yakin dengan kesembuhan Bianca, apa Mama tidak melihat hal itu?" sahut David.
Nadine terdiam lalu menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di depan ruangan Bianca. Ia melihat bagaimana Arga sangat percaya pada Bianca yang akan sadar dari komanya di saat semua orang meragukan hal itu, Arga bahkan melukai dirinya sendiri saat dokter akan melepaskan alat penunjang hidup Bianca.
Tapi ada keresahan dalam hati Nadine setelah ia mendengar semua yang Karina katakan padanya, ia khawatir jika Arga tidak sepenuhnya melupakan Karina dan memiliki hubungan dengan Karina di belakang Bianca.
Melihat sang Mama yang tiba-tiba diam, Arga kemudian bersimpuh di hadapan sang mama dan menggenggam kedua tangan sang mama.
"Jika memang Karina memberitahu Mama sesuatu tentang Arga, tolong jangan mempercayainya, Arga memang pernah gila karena Karina, tapi itu adalah masa lalu dan kebodohan Arga pada saat itu, sekarang semuanya sudah berbeda ma, sekarang Arga memiliki Bianca dan Arga sangat mencintainya," ucap Arga dengan menatap kedua mata sang mama.
Nadine hanya diam tanpa mengatakan apapun, meskipun ia ingin mempercayai Arga sepenuhnya tetapi kegelisahan dalam hatinya tidak bisa hilang begitu saja.
"Arga memang memiliki masa lalu bersama Karina, Arga memang pernah sangat mencintainya tapi semua itu benar-benar sudah hilang sejak Arga sadar bahwa Arga mencintai Bianca dan sekarang hanya Bianca yang ada dalam hati Arga, Arga akan merelakan apapun demi Bianca bahkan jika itu nyawa Arga sendiri," ucap Arga.
Nadine menghela nafasnya panjang lalu menatap Arga yang bersimpuh di hadapannya.
"Mama mempercayaimu Arga, tolong jangan mengecewakan mama dan papa apalagi Bianca, Mama dan papa tahu dia adalah istri yang baik untukmu, dia juga sudah banyak membantumu!" ucap Nadine.
Arga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu duduk di samping sang mama dan memeluk sang Mama dengan erat.
"Terima kasih sudah mempercayai Arga ma," ucap Arga sambil melepaskan pelukannya pada sang mama.
"Untuk saat ini mama akan mempercayaimu Arga, meskipun apa yang Karina katakan benar, mama harap hal itu sudah berlalu mengingat bagaimana kau sangat ingin mempertahankan Bianca," ucap Nadine dalam hati.
Setelah Mama dan papanya pulang, Arga kemudian masuk ke ruangan Bianca dan duduk di samping Bianca.
__ADS_1
"Kau tidak mendengar apa yang Mama dan papa katakan bukan? aku janji akan menceritakan semuanya padamu setelah kau bangun dari tidur panjangmu, tapi aku harap kau tidak akan salah paham dengan apa yang akan aku ceritakan nanti," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.