
Daffa masih berada di balkon lantai 2 rumah Arga. Daffa memang sengaja pergi ke rumah Arga untuk memastikan jika Arga tidak menghabiskan waktunya bersama Karina setelah ia melihat Arga meninggalkan kantor bersama Karina.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Bianca?" tanya Daffa pada Arga yang sudah duduk di sampingnya.
"Tidak," jawab Arga singkat.
"Tapi sepertinya dia berpikir jika kau sedang marah padanya," ucap Daffa.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga.
"Dia hanya mengatakan jika sepertinya suasana hatimu sedang buruk dan kau selalu menyalahkan apapun yang Bianca lakukan," jawab Daffa.
"Aku tidak menyalahkannya, aku hanya kesal karena dia terlalu naif dalam berpikir," ucap Arga.
"Apa ini tentang tantenya?" tanya Daffa menerka yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
"Aku tidak akan memintamu untuk melakukan apa yang Bianca inginkan, tetapi aku yakin jika Bianca akan sangat marah padamu jika kau melakukan sesuatu yang buruk pada tantenya," ucap Daffa.
"Bukan hanya tentang itu Daffa, dia bahkan berpikir jika aku marah karena uang 50 juta yang aku berikan pada para pria itu, dia bahkan berniat untuk mengganti uang 50 juta itu dengan uangnya sendiri!" ucap Arga dengan raut wajah kesal.
"Hahaha..... ternyata Bianca sangat polos sekali!" ucap Daffa yang tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Arga.
"Dia tidak tahu bagaimana aku sangat mengkhawatirkannya, dia tidak tahu jika aku sangat marah saat melihatnya terluka apalagi saat melihat pria itu menampar Bianca, hatiku terasa sangat sakit Daffa!" ucap Arga.
"Aku benar-benar ingin menghabisi pria itu saat itu juga, tapi aku tidak bisa melakukannya dan hal itu semakin membuatku marah," lanjut Arga dengan emosi yang kembali memenuhi dadanya.
"Kenapa kau semarah itu Arga? bukankah Bianca hanya orang lain bagimu?" tanya Daffa.
"Tidak, bagiku Bianca bukan orang lain, dia adalah istriku Daffa, selama 2 tahun ke depan dia adalah istri yang harus aku jaga dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya bahkan sekedar menyentuhnya," ucap Arga.
"Hmmmm...... sepertinya kau sedikit berlebihan, kau tidak mungkin melakukan hal itu jika kau tidak memiliki perasaan apapun pada Bianca," Ucap Daffa.
Seketika Arga membawa pandangannya pada Daffa saat ia mendengar ucapan Daffa.
"Memiliki perasaan pada Bianca? tidak.... itu tidak mungkin, aku melakukan semua itu hanya karena dia istriku, istri sementara yang harus benar-benar aku jaga hanya sampai kontrak kesepakatan kita selesai," balas Arga.
"Apa kau yakin?" tanya Daffa yang membuat Arga terdiam untuk beberapa saat.
"Seharusnya aku yakin, tapi kenapa ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan," ucap Arga dalam hati.
Daffa hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan. Kini ia yakin jika Arga memang benar-benar sudah jatuh cinta pada Bianca.
Hanya saja Arga ragu pada perasaannya sendiri, ia terlalu terpaku pada Karina, gadis yang dicintainya di masa lalu.
"Aku hanya berusaha memperlakukannya dengan baik selama dia menjadi istriku, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya semua orang pasti akan menyorot padaku dan orang tuaku yang tentu saja akan berpengaruh pada perusahaan," ucap Arga.
"Terserah apapun alasanmu, tapi yang pasti selama Bianca masih menjadi istrimu kau harus berusaha untuk memahaminya, jangan membuat hidupnya menjadi lebih menyedihkan dengan menjalani pernikahan yang tidak dia inginkan," balas Daffa.
Arga hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Daffa.
Tanpa Daffa mintapun Arga sudah berusaha untuk lebih memahami Bianca, terlebih sejak kepergian mereka ke Tokyo, Arga lebih berusaha untuk membuka dirinya pada Bianca.
Waktu berlalu, langit sudah terhampar oleh gelap malam dan Daffa sudah meninggalkan rumah Arga sejak beberapa saat yang lalu.
Arga yang berada di kamar segera membawa langkahnya menuruni tangga lalu berjalan ke arah meja makan.
Arga hanya diam memainkan ponselnya sambil menunggu Bianca keluar dari kamarnya, namun sampai beberapa lama Bianca belum juga tampak keluar dari dalam kamar.
Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya ke arah kamar Bianca. Arga mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Masakan bibi sudah hampir dingin dan kau tidak juga keluar dari kamarmu!" ucap Arga pada Bianca.
"Aku sedang tidak nafsu makan," balas Bianca lalu hendak menutup pintu kamarnya, namun dicegah oleh Arga.
__ADS_1
"Kau harus makan Bianca, apa kau ingin bermalam di rumah sakit lagi!" ucap Arga yang sedikit memaksa.
"Aku tidak peduli," balas Bianca sambil menarik pintu kamarnya, namun tetap ditahan oleh Arga.
Bianca menghela nafasnya kasar lalu berjalan meninggalkan Arga begitu saja. Bianca menarik laci yang ada di dekat ranjangnya lalu mengeluarkan beberapa botol obat miliknya.
Bianca mengeluarkan 2 butir obat lalu mengambil air minum yang ada di mejanya, namun sebelum Bianca meminumnya Arga sudah datang dan menahan tangan Bianca.
"Apa yang kau lakukan, Arga?" tanya Bianca.
Arga tidak menjawab pertanyaan Bianca, ia mengambil gelas yang ada di tangan Bianca lalu menaruhnya di atas meja.
Arga juga mengambil beberapa butir obat yang ada di tangan Bianca lalu memasukkannya ke dalam botol obat.
"Yang kau butuhkan makanan, bukan obat!" ucap Arga pada Bianca.
"Aku tidak akan sakit jika aku mengkonsumsi obat ini, tenang saja aku tidak akan merepotkanmu jika aku sakit," balas Bianca.
"Ada apa sebenarnya denganmu? apa kau marah padaku?" tanya Arga.
"Bukankah kau yang marah padaku?" balas Bianca bertanya.
"Aku tidak pernah marah padamu Bianca, aku hanya....."
"Aku akan mengembalikan uang 50 juta itu kurang dari 1 minggu, jadi jangan khawatir!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Uang lagi yang kau pikirkan? aku sama sekali tidak memikirkan uang itu Bianca, kenapa kau terus membahasnya!" ucap Arga kesal.
"Jika bukan karena uang itu lalu kenapa kau marah tanpa alasan? aku mengerti jika kau marah pada para pria yang memukulmu tapi kenapa kau juga sangat marah pada tante Felly jika bukan karena uang itu!"
"Astaga Bianca, kenapa kau bisa berpikir seperti itu, aku.... aku.... aaarrgghh....." Arga tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia begitu kesal pada Bianca.
Arga tidak mungkin memberitahu Bianca jika dia marah karena pria itu menyakiti Bianca. Arga juga tidak mungkin memberitahu Bianca jika ia marah karena hatinya terlalu sakit saat ia melihat Bianca yang terluka.
Arga berpikir apa yang terjadi pada Bianca adalah karena tante Felly yang menjebak Bianca malam itu dan hal itulah yang membuat Arga semakin marah.
"Keluarlah, kau hanya menggangguku!" ucap Bianca sambil mendorong Arga agar keluar dari kamarnya.
Saat tangan Bianca mendorong Arga dengan cepat Arga menggenggam tangan Bianca lalu mendorong Bianca ke arah dinding dan membawa pandangannya menatap Bianca dengan tatapan yang begitu dalam.
Arga dan Bianca berdiri dengan jarak yang sangat dekat saat itu, dengan satu tangan yang masih menggenggam tangan Bianca Arga menatap Bianca seolah ingin memberitahu Bianca tentang semua yang ia rasakan saat itu.
Sedangkan Bianca hanya terdiam, ia begitu terkejut dengan apa yang Arga lakukan padanya.
Namun entah kenapa ia tidak bisa melawan atau sekedar melepaskan tangannya dari genggaman Arga.
"Aku memang sangat marah Bianca, tapi bukan karena mereka memukulku, bukan juga karena uang 50 juta yang mereka minta dariku, aku sangat marah karena mereka menyakitimu, mereka membuatmu terluka dan aku tidak bisa melakukan apapun saat itu," ucap Arga dengan kedua mata yang menatap ke dalam mata Bianca.
"Aku tidak tahu kenapa hatiku terasa sakit saat melihatmu terluka, aku juga marah pada diriku sendiri yang membiarkan pria itu menamparmu di depanku, aku marah pada diriku sendiri yang tidak bisa menjagamu dengan baik Bianca," lanjut Arga yang pada akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
Mendengar apa yang Arga katakan, Bianca hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Degup jantungnya kembali berdetak tak beraturan, ia bisa merasakan bagaimana jantungnya berdetak dengan begitu cepat saat itu.
"Aku memang bukan laki-laki yang baik untuk menjadi suamimu, tapi setidaknya aku ingin berusaha untuk menjaga dan memperlakukanmu dengan baik selama 2 tahun pernikahan kita Bianca," ucap Arga.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menundukkan kepalanya, ia seolah sudah kehabisan kata-katanya setelah semua apa yang ia rasakan ia ungkapan pada Bianca.
Arga kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Bianca lalu membawa langkahnya keluar dari kamar Bianca.
Entah mendapat bisikan dari mana, Bianca tiba-tiba menahan tangan Arga, membuat Arga membalikkan badannya dan membawa pandangannya pada Bianca.
"Maafkan aku," ucap Bianca pelan.
Arga hanya tersenyum tipis lalu membawa kakinya satu langkah mendekat pada Bianca, kemudian membawa Bianca ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Arga sama sekali tidak memikirkan apa yang ia lakukan saat itu, ia hanya mengikuti apa yang ada di hatinya, seolah ada suara lirih yang memaksanya untuk mengatakan semua itu pada Bianca, sebuah suara lirih yang membuatnya merengkuh Bianca ke dalam dekapannya.
"Biarkan aku membuatmu bahagia pada pernikahan yang tidak kau inginkan ini Bianca, setidaknya akan ada kenangan indah yang kau simpan dari perkenalan kita yang singkat," ucap Arga sambil membelai lembut rambut Bianca.
Bianca hanya terdiam dalam dekapan Arga, ia tidak mengerti kenapa ia merasa begitu nyaman berada dalam dekapan laki-laki yang baru dikenalnya beberapa bulan itu.
Untuk beberapa saat Bianca membiarkan dirinya hanyut dalam rasa nyaman dan tenang yang ia rasakan saat itu.
Sama halnya dengan Bianca, tanpa sadar Arga menutup kedua matanya, merasakan setiap detik kenyamanan yang ia rasakan saat ia memeluk Bianca.
Butir-butir cinta kini telah tumbuh dalam hati tanpa mereka sadari. Kini hanya tinggal menunggu waktu apakah takdir akan memupuk butir cinta itu hingga bersemi ataukah takdir akan membawa waktu melayukan butir cinta yang bahkan belum sempat bersemi.
Tiba-tiba bibi yang terkejut melihat apa yang Arga dan Bianca lakukan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang dibawanya.
Arga dan Biancapun terkejut mendengar gelas yang dibawa bibi jatuh. Arga segara melepaskan Bianca dari pelukannya, begitupun Bianca yang segera melepaskan dirinya dari pelukan Arga.
Bibi yang merasa bersalah karena sudah merusak momen segera membawa langkahnya berlari kecil ke arah dapur tanpa mengatakan apapun.
Sedangkan Arga dan Bianca masih berdiri di tempat mereka sambil saling mengalihkan pandangan dari satu sama lain, berusaha untuk menghilangkan kegugupan dan kecanggungan di antara mereka berdua.
Bianca kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Apa kau tidak akan makan malam?" tanya Arga yang membuat Bianca segera berbalik lalu membawa langkahnya ke arah meja makan tanpa mengatakan apapun.
"Masakan bibi sudah sedikit dingin, apa sebaiknya kita memesan makanan dari luar?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Bianca.
"Tidak perlu, kita makan ini saja," jawab Bianca.
Arga dan Biancapun menikmati makan malam mereka meskipun sudah tidak hangat lagi.
Tidak ada apapun yang mereka katakan satu sama lain, mereka sama-sama berusaha untuk menghilangkan kegugupan dan kecanggungan diantara mereka berdua setelah apa yang terjadi.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Bianca tidak segera beranjak dari duduknya. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada Arga.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Bianca merasa begitu gugup saat ia akan berbicara pada laki-laki.
"Aku minta maaf karena sudah salah paham padamu," ucap Bianca.
"Lupakan saja, yang penting kau tahu jika aku tidak marah padamu," balas Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi ke kamarnya dengan langkah yang ragu.
"Astaga, ada apa denganku? kenapa aku menjadi sangat gugup seperti ini?" batin Bianca bertanya dalam hati sambil mempercepat langkahnya.
Karena terlalu gugup dan kurang berhati-hati Bianca terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Bianca, kau kenapa?" tanya Arga yang segera beranjak dari duduknya saat ia melihat Bianca yang terjatuh.
"Aku baik-baik saja," jawab Bianca cepat lalu segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Astaga bodoh sekali, kau benar-benar sangat bodoh Bianca!" ucap Bianca sambil memukul kepalanya dengan pelan.
Di sisi lain, Arga segera beranjak dari duduknya setelah memastikan Bianca masuk ke dalam kamarnya. Arga kemudian membawa langkahnya menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.
Arga menatap langit-langit kamarnya, tanpa sadar sebuah senyum tergaris di bibirnya saat ia mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Bianca.
Namun Arga segera menggelengkan kepalanya saat ia sadar tentang apa yang baru saja ia pikirkan.
"Astaga apa yang aku pikirkan, lupakan Arga.... lupakan apa yang baru saja terjadi!" ucap Arga sambil berkali-kali memukul kepalanya.
Arga kemudian keluar dari kamarnya, berjalan ke arah ruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Namun baru beberapa menit ia fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba bayangan saat ia berpelukan dengan Bianca terngiang begitu saja di kepalanya.
__ADS_1
Ia masih bisa merasakan detak jantungnya berdegup kencang saat itu, ia bahkan masih bisa merasakan rasa nyaman dan tenang saat ia membawa Bianca ke dalam dekapannya.
Tanpa sadar sebuah senyum kembali tergaris di bibirnya, membuat Arga membiarkan kepalanya terisi oleh memorinya bersama Bianca.