
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Bianca baru saja melepas ragam kafe yang ia kenakan. Bianca kemudian membawa langkahnya keluar dari kafe.
Seperti biasa Bianca lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah untuk menghindar dari Tante Selly.
Ucapan tante Felly yang selalu mendesaknya agar segera mendapatkan uang 50 miliar membuat Bianca semakin tertekan dan itu yang membuatnya lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Lola.
Entah itu hanya sekedar di kamar kos Lola atau hanya berjalan-jalan di taman dekat tempat tinggal Lola.
Seperti yang ia lakukan sore itu, ia memilih untuk menemui Lola di tempat kosnya setelah ia memastikan jika Lola sudah pulang.
Sesampainya di tempat kost Lola, Biancapun segera masuk dan duduk di lantai kamar bersama Lola sambil menikmati acara TV kesukaan Lola.
"Bagaimana skripsimu? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Bianca pada Lola.
"Entahlah aku sudah malas memikirkannya, hampir semua yang aku kerjakan selalu mendapatkan revisi, menyebalkan sekali!" jawab Lola.
"Lalu kenapa kau malah menonton TV? apa kau tidak ingin skripsimu cepat selesai?"
"Tentu saja aku ingin cepat selesai, tapi aku sangat malas mengerjakannya, tidak bisakah kau saja yang mengerjakannya hehehe....." balas Lola yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya.
"Aaahh iya, tentang laki-laki gila yang pernah kau ceritakan padaku, apa dia sungguh gila atau kau hanya menyebutnya laki-laki gila karena dia tiba-tiba mengajakmu menikah?" tanya Lola yang masih penasaran dengan cerita Bianca.
"Tentu saja dia tidak benar-benar gila, jika dilihat dari pakaiannya dia memang terlihat seperti seorang laki-laki kaya raya, tapi setelah dia tiba-tiba mengajakku menikah aku jadi berpikir jika bisa jadi dia sebenarnya penipu," jawab Bianca.
"Bagaimana jika dia memang benar-benar laki-laki kaya raya? kau pasti akan menyesal karena sudah menolak untuk menikah dengannya!"
"Memangnya kau mau menikah dengan seseorang yang tidak kau kenal? kau bahkan baru bertemu dengannya dan tidak mengetahui namanya," balas Bianca.
"Apa kau tidak sempat berkenalan dengannya? memangnya apa saja yang kalian bicarakan sampai tidak sempat untuk sekedar saling berkenalan?"
__ADS_1
Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia kemudian ingat jika Arga sempat memberikan kartu nama padanya.
"Kita memang tidak saling berkenalan tetapi dia memberiku kartu nama, tapi aku yakin itu kartu nama palsu!" ucap Bianca.
"Apa kau membawa kartu nama itu? aku ingin melihatnya!"
Bianca kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama lalu memberikannya pada Lola.
"Arga Narendra CEO perusahaan X, waaahhh bukankah itu perusahaan besar di kota ini?" tanya Lola setelah ia membaca kartu nama yang baru saja diberikan oleh Bianca.
"Justru itu yang membuatku semakin yakin jika dia hanya laki-laki gila dan penipu, tidak mungkin bukan CEO perusahaan besar tiba-tiba mengajak menikah seseorang yang baru dia temui!"
"Kita akan tahu jawabannya setelah aku memastikan sesuatu," ucap Lola lalu mengambil ponselnya.
Lolapun mengetikkan nama Arga Narendra pada mesin pencariannya dan tak lama kemudian muncullah foto dan identitas lengkap Arga Narendra, seorang CEO perusahaan besar yang namanya cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis.
"Apa dia laki-laki yang kau temui?" tanya Lola sambil menunjukkan ponselnya pada Bianca.
Bianca seketika menggeser foto-foto lain dan membuka website resmi perusahaan besar itu dan benar saja wajah CEO yang terpampang pada website itu adalah wajah laki-laki yang ia temui semalam.
"Waaaahhh sepertinya aku sekarang yang gila!" ucap Bianca yang begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Jangan bilang dia laki-laki yang sama seperti yang kau lihat semalam!" tanya Lola memastikan.
"Kau benar, dia memang laki-laki yang semalam aku lihat, dia laki-laki gila yang dikejar pria bertubuh besar, dia laki-laki gila yang tiba-tiba mengajakku menikah dan menjanjikan uang 50 miliar padaku," jawab Bianca yang membuat Lola seketika membulatkan matanya.
"Kalau begitu apa yang kau tunggu, cepat temui dia dan katakan bahwa kau mau menikah dengannya!" ucap Lola sambil memukul-mukul punggung Bianca.
"Tidak.... aku tidak mungkin menikah dengannya, pernikahan itu sakral Lola aku tidak ingin bermain-main dengan hal itu," balas Bianca.
__ADS_1
"Tapi kau membutuhkan uang itu secepatnya Bianca, dari mana lagi kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat ini? bahkan seperti yang tante Felly katakan seumur hiduppun kau bekerja di kafe kau tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu!"
Bianca terdiam untuk beberapa saat, tidak mudah baginya untuk memutuskan menikah terutama dengan laki-laki yang baru ia temui.
Meskipun Arga adalah laki-laki tampan yang kaya raya tetapi sama sekali tidak ada cinta dalam hati Bianca untuk Arga.
"Cinta bisa datang dengan tiba-tiba, tinggal bersamanya dalam satu atap pasti akan membuat cinta perlahan tumbuh Bianca!" ucap Lola.
"Lalu bagaimana dengan kak Bara? kak Bara sudah berjanji akan segera menemuiku saat dia kembali dan akupun sudah berjanji untuk menunggunya!"
"Lupakan kak Bara, saat ini yang kau butuhkan adalah uang 50 miliar yang bisa kau dapatkan dengan cara menikah dengan Arga, lagi pula selama ini kak Bara tidak pernah menghubungimu bukan? bisa jadi kak Bara sudah bersama perempuan lain di luar sana!" ucap Lola
"Tapi...."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari seseorang yang membuatnya jengah.
"Waktumu tidak banyak lagi, segera siapkan uang 50 miliar itu atau aku akan menyita rumah tempat tinggal tantemu dan membawamu ke penjara!"
Bianca menghela nafasnya lalu menjatuhkan ponselnya di lantai. Ia benar-benar membutuhkan uang 50 miliar secepatnya, namun ia ragu untuk menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
"Sebagai sahabatmu aku hanya bisa mengingatkan, yang saat ini harus kau pikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan uang 50 miliar itu dengan cepat, kau pasti tidak ingin menghabiskan masa mudamu di penjara bukan?" ucap Lola sekaligus bertanya.
Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Baginya pernikahan adalah suatu langkah sakral yang tidak bisa ia permainkan, namun keadaan seolah membuat Bianca tersudut, tidak memberikan celah baginya untuk lari dari masalah yang sedang dihadapinya.
Di sisi lain, Bianca juga masih berharap pada Bara yang kini berada jauh darinya. Sebelum Bara pergi ke luar negeri, Bara berpamitan pada Bianca dan menjanjikan hal yang membuat Bianca tidak bisa menoleh pada laki-laki lain selain Bara.
"Tunggu aku kembali Bianca, aku berjanji akan mengatakan semuanya setelah aku kembali!"
__ADS_1
Ucapan Bara itu membuat Bianca berpikir jika saat Bara kembali nanti Bara akan mengungkapkan perasaannya pada Bianca.