
Arga yang begitu terkejut dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba bunyi klakson kembali terdengar dari depan gerbang rumahnya.
Argapun melepaskan tangan Bianca dari cengkeramannya lalu meminta satpam untuk membuka gerbang rumahnya.
"Buka saja Pak!" ucap Arga pada satpam.
"Baik Tuan," balas Pak satpam lalu membuka gerbang rumah Arga, membiarkan orang tua Arga mengendarai mobilnya masuk ke halaman rumah Arga.
Arga menghela nafasnya kasar sambil mengacak-acak rambutnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.
Arga berusaha keras memikirkan segala macam alasan jika Bianca mengadukan pada orang tuanya tentang apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua.
"Selamat malam sayang, apa yang kau lakukan disini?" tanya Nadine yang berjalan menghampiri Bianca lalu memeluk Bianca penuh kasih sayang.
"Bianca..... sedang mencari anting Bianca ma, sepertinya tadi terjatuh disini," jawab Bianca berbohong sambil memegang telinganya yang memang tidak mengenakan anting saat itu.
"Apa anting itu sangat penting untukmu? Apa itu hadiah dari seseorang?" tanya Nadine.
"Tidak ma, itu hanya anting biasa yang Bianca beli di pasar," jawab Bianca.
"Kalau begitu biarkan saja, besok Mama akan membelikan yang baru untukmu," ucap Nadine lalu menarik tangan Bianca dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.
Bianca hanya berjalan mengikuti Nadine dengan menahan pergelangan tangannya yang terasa perih.
Tiara sengaja membiarkan Nadine memegang pergelangan tangannya karena tidak ingin Nadine menyadari memar yang ada di pergelangan tangannya akibat dari cengkeraman tangan Arga beberapa saat yang lalu.
Di sisi lain, Arga yang masih berdiri di tempatnya segera membawa langkahnya mengikuti sang mama dan Bianca yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Arga tidak mengerti kenapa sang Mama terlihat begitu sangat menyukai Bianca, meskipun itu bukanlah masalah baginya tetapi hal itu membuat Arga iri, mengingat bagaimana sang Mama sangat membenci Karina, gadis yang dicintainya.
"Mama kenapa malam-malam kesini? seharusnya Mama menghubungi Bianca agar Bianca yang datang kesana!" tanya Bianca.
"Mama baru saja pulang dari pertemuan bersama teman-teman arisan mama, jadi Mama sengaja mampir kesini untuk bertemu denganmu," jawab Nadine.
"Bagaimana kabarmu sayang? apa Arga memperlakukanmu dengan baik selama ini?" lanjut Nadine bertanya.
__ADS_1
"Iya ma, Bianca merasa menjadi istri paling beruntung setelah menikah bersama Arga," jawab Bianca dengan tersenyum.
"Ada apa denganmu Arga? kenapa kau terlihat kesal," tanya Nadine pada Arga yang baru saja duduk.
"Hanya masalah pekerjaan ma," jawab Arga beralasan.
"Kau boleh bekerja dengan giat tetapi jangan melupakan istrimu Arga, jangan membawa masalah pekerjaan pulang karena itu hanya akan membuat Bianca terbebani," ucap Nadine pada Arga.
Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia sedikit terkejut saat mendengar Bianca berkata jika dirinya adalah istri yang paling beruntung.
Arga hanya tidak menyangka jika Bianca benar-benar menjalankan perannya dengan sangat baik dihadapan mamanya.
Setelah beberapa lama mengobrol Nadinepun berpamitan untuk pulang.
"Tidak perlu mengantar Mama, Mama akan keluar bersama Arga," ucap Nadine pada Bianca yang hendak mengantar Nadine keluar.
"Baik ma, hati-hati di jalan," balas Bianca.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu memeluk Bianca kemudian berjalan keluar bersama Arga.
"Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu!" ucap Nadine dengan raut wajah yang tampak serius saat itu.
"Ada apa ma? apa ada masalah?" tanya Arga yang menyadari raut wajah sang Mama yang tampak berbeda dengan saat sang Mama mengobrol bersama Bianca.
"Apa yang sudah kau lakukan dengan Bianca? apa kau menyakitinya? kau tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga bukan?" tanya Nadine dengan tatapan tajam.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu? tentu saja Arga tidak melakukan hal itu," balas Arga yang terkejut mendengar pertanyaan sang mama.
"Mama melihat pergelangan tangan Bianca memar, Mama sengaja tidak bertanya padanya karena Mama ingin mendengarnya secara langsung darimu," ucap Nadine.
"Aaahhh itu...... itu karena dia terjepit saat sedang memindahkan kursi di ruang baca," balas Arga beralasan.
"Kau tidak sedang membohongi Mama bukan?" tanya Nadine yang meragukan ucapan Arga.
"Tentu saja tidak, apa Mama tidak mencari Arga?"
__ADS_1
Nadine menghela nafasnya berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif yang dari beberapa saat yang lalu menghantui kepalanya.
"Mama tahu dia bukanlah perempuan yang paling kau cintai, tetapi Mama yakin kau akan benar-benar bisa mencintainya dengan tulus melebihi cintamu pada Karina, tolong lupakan Karina Arga, mulai hidup barumu dengan Bianca!" ucap Nadine.
"Jangan membahas Karina lagi ma, apapun yang terjadi pada rumah tangga Arga tidak ada hubungannya dengan Karina," balas Arga.
"Semoga saja seperti itu, baiklah kalau gitu Mama pulang dulu, jaga istrimu baik-baik Arga, Mama sangat menyayanginya seperti mama menyayangimu!" ucap Nadine yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
Baru saja mobil sang Mama meninggalkan rumahnya, tiba-tiba ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk dari Daffa.
"Halo, kau dimana? apa kau sadar kau belum menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Arga tanpa basa-basi.
"Untuk saat ini masalah pekerjaan skip dulu, apa pak Dodi sudah sampai di rumahmu?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
"Pak Dodi? sepertinya aku tidak melihat Pak Dodi," ucap Arga yang baru sadar jika dia tidak melihat Pak Dodi di rumahnya.
"Coba hubungi Pak Dodi dan tanyakan dimana Bianca," ucap Daffa yang membuat Arga mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Kenapa kau menanyakan keberadaan Bianca pada Pak Dodi?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu apakah aku harus jujur padamu atau tidak, tapi mungkin lebih baik aku mengatakannya padamu," ucap Dafa yang membuat Arga semakin tidak mengerti.
"Apa maksudmu? cepat katakan padaku!"
"Sebenarnya aku bertemu Bianca dan Lola di bar, sepertinya mereka tidak berniat mabuk tetapi Lola tanpa sengaja meminum alkohol dan mabuk lalu aku membawanya ke toilet dan saat aku kembali Bianca sudah tidak ada disana," ucap Daffa menjelaskan.
Argapun hanya terdiam setelah ia mendengar penjelasan Daffa.
"Aku sudah mengantar Lola pulang ke tempat kosnya dia bilang Pak Dodi menunggu di depan tempat kosnya tapi saat aku tiba Pak Dodi sudah tidak ada, apa mungkin Bianca pulang bersama Pak Dodi?" tanya Daffa.
"Apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan Daffa?" tanya Arga memastikan.
"Tentu saja aku serius Arga, aku sudah hampir menghubungi polisi karena panik melihat Bianca yang tiba-tiba hilang, tapi aku rasa tidak mungkin jika Bianca meninggalkan Lola begitu saja," balas Daffa.
"Oke terima kasih," ucap Arga lalu mengakhiri panggilan Dafa.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Daffa hanya bisa kesal karena Arga yang mengakhiri panggilannya begitu saja.