
Pagi yang damai di rumah Arga dan Bianca. Hari itu Arga berencana untuk mengajak Bianca berlibur, sebagai bentuk permintaan maafnya atas kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat hari ini," ucap Arga sambil menikmati makanannya.
"Kemana? apa kau tidak sedang sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Bianca.
"Weekend ini aku akan menghabiskan waktuku bersamamu, sepertinya kita memang harus menghabiskan waktu untuk berdua sesekali agar kita semakin saling mengenal," jawab Arga.
"Tapi kemana kau akan mengajakku pergi? kau belum menjawabnya!"
"Kau akan tau nanti," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
Setelah selesai sarapan, Biancapun kembali masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
Dengan mengenakan setelan pakaian feminim dan sepatu bergaya Stiletto, Bianca keluar dari kamarnya dengan membawa tas kecilnya lalu berjalan ke arah Arga yang sudah menunggunya.
Di sisi lain, Arga yang melihat Bianca berjalan ke arahnya untuk beberapa saat hanya terdiam, tanpa ia sadar pandangan matanya menatap gadis cantik di hadapannya tanpa berkedip.
"Ada apa? apa ada yang salah denganku? apa ini tidak cocok untukku?" tanya Bianca yang merasa Arga menatapnya dengan begitu intens.
"Tidak, tidak ada yang salah," jawab Arga yang segera mengalihkan pandangannya lalu membawa langkahnya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Bianca.
"Kau belum memberi tahuku kemana kita akan pergi," ucap Bianca saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Arga.
"Kau akan tau saat kita sampai disana, 2 hari disana sepertinya cukup untuk......"
"2 hari? apa maksudmu kita akan berlibur selama 2 hari?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.
"Iya, kita akan kembali hari Minggu malam karena hari Senin aku harus kembali ke kantor," jawab Arga.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku sebelumnya Arga? aku bahkan tidak membawa apapun selain ponsel dan dompet!"
"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan semua keperluanmu disana," ucap Arga santai.
Bianca hanya menghela nafasnya, ia kesal karena Arga selalu memutuskan semua hal sendiri tanpa persetujuannya.
"Kenapa wajahmu seperti itu? apa kau tidak suka berlibur denganku?" tanya Arga yang melihat Bianca tampak kesal.
"Seharusnya kau memberi tahuku sebelumnya, agar aku bisa membawa barang yang aku butuhkan," jawab Bianca
"Aku sudah menyiapkan semuanya Bianca, aku....."
"Aku membutuhkan laptopku Arga, apa juga sudah membawa laptopku? tidak bukan?"
"Aku akan membelinya untukmu," jawab Arga santai.
Bianca hanya diam dengan menghela nafasnya melihat sikap Arga.
"Mama dan papa pasti sangat senang jika mereka tau kita sedang berlibur, anggap saja ini adalah mini honeymoon kita," ucap Arga.
"Mini honeymoon?"
"Iya, karena aku belum bisa mengajakmu bulan madu, jadi aku hanya bisa mengajakmu berlibur, bulan depan kita akan pergi ke luar negeri untuk bulan madu, mama dan papa sudah menyiapkan semuanya untuk kita," jelas Arga.
"Apa itu perlu?" tanya Bianca.
"Tentu saja, agar semua orang percaya dengan pernikahan kita," jawab Arga.
"Baiklah terserah kau saja," balas Bianca.
Waktupun berlalu, Argapun sampai di tujuan pertamanya.
"Kenapa kita ke bandara?" tanya Bianca.
"Turunlah, pesawat kita akan take off satu jam lagi," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
Biancapun hanya menurut, berjalan membawa langkahnya mengikuti Arga tanpa banyak bertanya karena ia tau Arga tidak akan menjawab pertanyaannya.
Hingga akhirnya Bianca tau jika tujuan pesawat yang akan mereka naiki adalah ke Bali.
Pesawatpun membawa Arga dan Bianca pergi ke Bali. Setelah beberapa lama, pesawat mendarat di bandara yang ada di Bali. Saat mereka keluar dari bandara, sudah ada seorang pria yang menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang di Bali pak Arga," ucap pria itu menyapa Arga.
Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu melanjutkan langkahnya dengan menarik tangan Bianca dan menggenggamnya.
Biancapun segera menarik tangannya, namun Arga seketika membawa tatapan matanya menatap Bianca dengan semakin erat menggenggam tangan Bianca.
Bianca yang seolah mendapat kode dari Argapun mengerti. Ya, mereka harus berpura pura untuk terlihat seperti pengantin baru yang penuh cinta.
Pria yang menyapa Arga tadi kemudian memberikan sebuah kunci mobil dan menunjukkan letak mobil yang akan Arga pakai selama dia berada di Bali.
Setelah berterima kasih, Argapun mengendarai mobil itu ke arah hotel bersama Bianca.
__ADS_1
Sesampainya di hotel, Arga dan Bianca berjalan masuk ke dalam hotel dengan bergandengan tangan seperti sebelumnya.
"Apa ini perlu?" tanya Bianca berbisik sambil mengayunkan tangannya yang ada dalam genggaman Arga.
"Tentu saja," jawab Arga singkat sambil membawa langkahnya ke arah meja resepsionis.
Setelah mendapatkan kartu akses ke kamar pesanannya, Argapun pergi ke kamarnya bersama Bianca.
"Kita tidak akan tidur dalam satu kamar bukan?" tanya Bianca saat Arga baru saja membuka kamarnya.
"Memangnya kenapa? ada masalah?" balas Arga bertanya.
"Tentu saja ada, aku....."
"Apa kau takut akan tergoda olehku? apa kau takut tidak bisa menahan dirimu jika kita berada dalam satu kamar?" tanya Arga memotong ucapan Bianca dengan membawa tatapannya tepat di depan mata Bianca.
"Bukan itu maksudku, tapi......"
Bianca menghentikan ucapannya setelah Arga membuka tirai besar yang ada di kamar itu. Pemandangan laut luas tampak terlihat dari tempat Bianca berdiri.
Biancapun segera membawa langkahnya mendekat pada Arga dan terdiam beberapa saat untuk melihat pemandangan indah di hadapannya.
"Waaaahhhh...... ini benar benar indah," ucap Bianca mengagumi hamparan laut dan pasir putih yang terlihat dari jendela kamarnya.
"Kita akan tidur disini untuk satu malam, apa kau keberatan?" ucap Arga sekaligus bertanya.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan," jawab Bianca sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tapi kita tidak akan tidur di atas satu ranjang bukan?" lanjut Bianca bertanya.
"Mmmm..... lihat saja nanti," jawab Arga dengan tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
"Tidak mungkin, aku tidak akan membiarkannya tidur satu ranjang bersamaku," ucap Bianca.
"Apa kau tidak ingin berganti pakaian? kita akan pergi ke pantai sekarang!" tanya Arga setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Dimana pakaianku?" balas Bianca bertanya yang hanya dibalas lirikan mata ke arah lemari oleh Arga..
Bianca kemudian membuka lemari yang ada di dalam kamar itu dan begitu terkejut saat ia melihat banyak pakaian disana.
"Ini semua punya siapa?" tanya Bianca.
"Tentu saja punyamu, apa kau ingin pakaian yang lain?" jawab Arga sekaligus bertanya.
"Tidak.... tidak.... ini bahkan sangat berlebihan untuk 2 hari disini," balas Bianca lalu mengambil salah satu pakaian dan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
"Sepertinya kau sedikit berlebihan dengan liburan kali ini, padahal kita hanya suami istri di atas kontrak," ucap Bianca.
"Anggap ini sebagai bentuk permintaan maafku padamu atas kesalahpahaman kemarin, lagipula liburan kita kali ini juga agar semua orang semakin mempercayai pernikahan kita," balas Arga.
"Apa sebegitu pentingnya kepercayaan orang lain tentang pernikahanmu denganku?" tanya Bianca.
"Tentu saja," jawab Arga singkat.
Tak lama kemudian Arga dan Bianca sampai di pantai. Dengan membawa dua buah es kelapa muda, Arga berjalan ke tepi pantai bersama Bianca.
Mereka duduk di bawah payung besar yang sudah terpasang disana dengan kain pantai sebagai alasnya.
"Waaahhh..... akhirnya aku bisa berlibur seperti orang orang, rasanya menyenangkan sekali!" ucap Bianca sambil menyeruput es kelapa muda miliknya.
"Apa kau tidak pernah berlibur selama ini?" tanya Arga.
"Mmmmmm...... entah sudah berapa tahun yang lalu aku berlibur, setelah aku tau papaku meninggalkan banyak hutang aku hanya fokus kuliah dan bekerja, tapi akhirnya aku tidak bisa menyelesaikan kuliahku dan hanya fokus mencari uang," jelas Bianca.
"Menyedihkan sekali hidupmu!" ucap Arga.
"Kau benar, hidupku memang sangat menyedihkan, aku bahkan tidak pernah berpikir jika aku akan menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak aku cintai," balas Bianca dengan tersenyum tipis menatap hamparan laut di hadapannya.
"Apa kau menyesal?" tanya Arga dengan menatap Bianca dari samping.
"Tidak ada gunanya menyesal, itu hanya akan membuat hidupku semakin terasa menyedihkan, lagi pula karena pernikahan ini aku bisa lolos dari para pria jahat itu," jawab Bianca.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Arga.
"Aku hanya perlu bertahan selama dua tahun denganmu, dengan semua kehidupanmu yang sangat berbeda denganku, dua tahun tidak akan lama bukan?" lanjut Bianca dengan menatap Arga yang juga sedang menatapnya saat itu.
Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu mengalihkan pandangannya dari Bianca.
"Aaahh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu, tentang orang orang yang bekerja di rumah kita sekarang," ucap Bianca.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Apa kau tidak khawatir jika mereka mengadukan pada orang tuamu tentang apa yang terjadi pada kita? mereka pasti melihat banyak hal yang terjadi bukan?"
__ADS_1
"Jangan khawatir, mereka adalah orang orang yang bekerja denganku, mereka tidak akan ikut campur dengan masalahku dan keluargaku, mereka hanya perlu bekerja sesuai dengan kontrak kesepakatan yang sudah mereka tanda tangani," jawab Arga menjelaskan.
"Kontrak kesepakatan?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
"Sepertinya kau suka sekali membuat kontrak kesepakatan!" ucap Bianca.
"Itu hal yang penting Bianca, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari," balas Arga.
Saat tengah mengobrol, tiba tiba kepala Bianca terkena lemparan bola, membuatnya sedikit mengaduh karena terkejut.
Arga yang melihat hal itupun segera beranjak dari duduknya sambil membawa bola itu. Tak lama kemudian beberapa anak laki laki menghampiri Arga dan meminta bola yang Arga bawa.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Arga pada beberapa anak laki laki yang meminta Arga untuk mengembalikan bola milik mereka.
"Cepat kembalikan, itu bola milikku!" balas salah satu anak laki laki itu.
"Apa kalian sungguh tidak tau atau pura pura tidak tahu? bola kalian mengenai kepala istriku dan kalian datang kemari untuk memintanya tanpa meminta maaf?"
"Kita tidak sengaja, lagi pula ini hanya bola mainan, tidak akan sakit!"
Arga tersenyum tipis lalu melempar bola di tangannya ke arah anak laki laki yang baru berbicara. Anak laki laki itupun mengaduh kesakitan.
"Apa itu tidak sakit?" tanya Arga.
"Arga sudahlah, kau berlebihan," ucap Bianca berusaha menahan emosi Arga.
"Cepat minta maaf padanya!" ucap Arga pada anak laki laki itu.
Namun bukannya meminta maaf, anak laki laki itu malah berlari pergi dengan membawa bola mereka.
Arga yang hendak mengejarpun segera ditahan oleh Bianca. Tanpa sadar Bianca memeluk Arga agar Arga tidak mengejar anak laki laki itu.
"Mereka hanya anak anak, biarkan saja!" ucap Bianca yang tanpa sadar masih memeluk Arga dengan erat.
"Tapi bukan berarti mereka bebas melakukan kesalahan Bianca," balas Arga.
"Aku tau, tapi....."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia mendongakkan kepalanya menatap Arga, saat itulah ia tersadar jika ia tengah memeluk Arga saat itu.
Biancapun segera melepas kedua tangannya yang memeluk Arga, namun tiba tiba Arga menahan kedua tangan Bianca dan membalas pelukan Bianca.
"Arga apa yang kau lakukan?" tanya Bianca sambil berusaha meronta.
"Diamlah, ada yang sedang memotret kita," ucap Arga yang berusaha menahan Bianca dalam pelukannya.
"Benarkah? siapa?"
"Siapa lagi? tentu saja para pemburu berita yang malas mencari berita," jawab Arga.
"Lalu sampai kapan kita akan seperti ini? kau membuatku hampir tidak bisa bernafas!"
"Bukankah kau yang memulainya lebih dulu?" tanya Arga sambil melepaskan Bianca dari pelukannya dengan memegang kedua bahu Bianca dan menatapnya dengan dalam.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke arah tepi pantai diikuti oleh Arga.
"Apa kau tidak ingin bermain kejar-kejaran bersamaku? sepertinya itu terlihat romantis!"
"Tidak, itu sangat kekanak-kanakan," balas Bianca.
"Hahaha.... ayolah!" ucap Arga sambil menarik tangan Bianca agar semakin mendekat ke tepi pantai.
Mereka kemudian bermain air sambil membasahi satu sama lain. Jika dilihat, mereka memang tampak seperti pasangan yang bahagia yang saling mencintai.
Tanpa orang orang tahu jika pada kenyataannya kebahagiaan yang mereka perlihatkan hanyalah sebatas kebahagiaan palsu karena kontrak pernikahan yang sudah mereka tanda tangani.
"Aku lapar," ucap Bianca setelah mereka duduk di tepi pantai.
Arga kemudian berdiri, mengulurkan tangannya pada Bianca yang masih duduk. Biancapun menerima uluran tangan Arga. Mereka kemudian berjalan meninggalkan pantai untuk pergi ke tempat makan yang berada cukup dekat dengan pantai.
"Ikan bakar disini sangat enak, kau harus mencobanya," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Sepertinya kau sering datang kesini, hampir semua orang disini mengenalmu," ucap Bianca saat ia menyadari jika dari saat ia mendarat di bandara sampai mereka ke hotel dan tempat makan, banyak orang yang menyapa Arga.
"Sepertinya kau belum tau banyak tentangku, hotel tempat kita menginap dan tempat makan ini adalah milikku," balas Arga yang membuat Bianca membulatkan matanya karena terkejut.
"Kau serius?"
"Apa kau tidak mempercayaiku?" balas Arga dengan tersenyum angkuh seperti biasa.
"Melihat senyummu membuatku percaya," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Sambil menunggu makanan datang, Arga memeriksa ponselnya. Tiba tiba ia melihat notifikasi di sosial medianya yang menunjukkan jika Karina baru saja mendarat di bandara Bali.
__ADS_1
Argapun segera beranjak dari duduknya.
"Aku harus pergi, aku akan menjemputmu lagi disini!" ucap Arga lalu segera berlari pergi, meninggalkan Bianca begitu saja.