
Malam yang panjang telah berlalu Lola dan Daffa sudah bangun terlebih dahulu. Mereka bahkan sudah menikmati sarapan mereka berdua dan sengaja membiarkan Arga dan Bianca yang masih tertidur nyenyak di sofa ruang tamu.
"Mereka pasti akan segera bangun jika merasa sudah lelah dengan posisi seperti itu," ucap Lola pada Daffa.
"Keberadaan Bianca memang sudah banyak merubah Arga, salah satunya adalah apa yang kita lihat saat ini," ucap Daffa.
"Memangnya apa yang berubah dari Arga?" tanya Lola.
"Sejauh aku mengenal Arga, dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak di tempat yang sempit, dia hanya bisa tidur di ranjang yang luas, tapi untuk pertama kalinya aku melihat Arga tidur di sofa saat dia menemani Bianca di rumah sakit dan sekarang dia bahkan tampak sangat nyenyak dengan hanya tidur di sofa sempit seperti itu," jelas Daffa.
"Waahh berbeda sekali dengan Bianca, justru Bianca bisa dengan mudah tidur di manapun, dia bahkan bisa tidur dengan keadaan berdiri jika sudah terlalu mengantuk dan lelah," ucap Lola.
"Mereka benar-benar pasangan yang aneh," ucap Daffa dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Tak lama kemudian terlihat Bianca mulai menggerakkan badannya. Lola dan Daffapun segera mengalihkan pandangannya dari Bianca dan Arga lalu fokus dengan makanan di hadapan mereka.
Di sisi lain, Bianca yang baru saja bangun dari tidurnya seketika tersadar jika ia masih berada di sofa bersama Arga.
Melihat Arga yang masih terpejam, Biancapun segera membangunkan Arga.
"Arga, bangunlah!" ucap Bianca dengan sedikit menggoyangkan tangan Arga.
Arga kemudian mengerjapkan matanya dengan masih menguap ia menarik selimut agar semakin menutup tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bianca.
"Arga bangunlah, ini sudah siang!" ucap Bianca dengan suara yang cukup pelan karena tidak ingin membuat Arga terkejut.
Bianca kemudian menepuk pelan pipi Arga, membuat Arga kembali mengerjap, namun bukannya bangun, Arga justru melingkarkan tangannya di pinggang Bianca.
Seketika Bianca terdiam, ia bahkan tidak bernafas untuk beberapa detik. Namun Bianca segera tersadar dan segera menghembuskan nafasnya.
"Aaahh perutku sakit," ucap Bianca berpura-pura merintih.
Mendengar hal itu, Argapun segera membuka matanya dan mengangkat kepalanya dari bahu Bianca.
"Apa kau sakit? apa....."
"Tidak, aku hanya berbohong," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Biancaa......."
"Kau sudah bangun tapi berpura-pura tidur, lihatlah mereka berdua sudah menikmati sarapannya tanpa kita," ucap Bianca sambil membawa ekor matanya pada Daffa dan Lola yang hanya terkekeh di meja makan.
"Sepertinya rencana kita gagal," ucap Arga sambil menguap.
"Sekarang waktunya mengintrogasi mereka, ayo bangunlah!" ucap Bianca lalu beranjak dari sofa.
Dengan malas Arga ikut beranjak dari sofa lalu mengikuti langkah Bianca untuk menghampiri Daffa dan Lola di meja.
"Daffa, Lola, kalian....."
"Lebih baik makan dulu Bee," ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil menaruh piring di depan Bianca.
"Baiklah, aku akan memberikan mereka waktu untuk tertawa sepuas mereka sebelum aku mengintrogasi mereka," balas Bianca dengan tatapan tajam pada Lola dan Daffa.
Bianca dan Arga kemudian menikmati sarapan mereka. Setelah selesai, mereka berempat duduk di teras rumah, menikmati suasana pagi dengan sinar matahari yang hangat.
"Kau semalam kemana Lola?" tanya Bianca tanpa basa basi.
"Aku....."
"Duduk disini bersamaku," sahut Daffa menjawab.
"Iya, aku disini bersama Daffa," ucap Lola.
"Benarkah? tapi aku tidak melihat kalian berdua disini," sahut Arga.
"Jujurlah Lola, jangan menyembunyikan apapun dariku," ucap Bianca pada Lola.
Lola hanya diam dengan membawa pandangannya pada Daffa. Ia masih ragu untuk memberi tahu Bianca tentang hubungannya dengan Daffa karena ia berpikir jika Bianca tidak menyukai Daffa.
"Apa kalian berdua mencari aku dan Lola semalam?" tanya Daffa memastikan, khawatir jika Bianca dan Arga melihatnya bersama Lola di gazebo.
"Iya, aku dan Arga mencari kalian berdua yang tiba-tiba menghilang, tapi karena di luar terlalu dingin, aku dan Arga memutuskan untuk menunggu di ruang tamu," jawab Bianca.
Bianca sengaja tidak mengatakan jika ia melihat apa yang Daffa dan Lola lakukan di gazebo, karena ia tidak ingin membuat mereka berdua malu.
Lola yang sebelumnya duduk di samping Daffa kemudian beranjak dan berpindah duduk di samping Bianca lalu memeluk lengan tangan Bianca.
"Maafkan aku Bianca," ucap Lola dengan menyembunyikan wajahnya di balik tangan Bianca.
"Maaf untuk apa Lola?" tanya Bianca sambil menarik tangannya dari pelukan Lola.
"Aku yang akan menjelaskan semuanya," sahut Daffa.
"Sebenarnya aku dan Lola sudah lama berhubungan," lanjut Daffa yang membuat Bianca dan Arga saling pandang untuk beberapa saat.
"Apa itu benar Lola?" tanya Bianca pada Lola.
Lola hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, khawatir jika Bianca akan memintanya untuk menjauhi Daffa.
"Sejak kapan kau berhubungan dengan Daffa?" tanya Bianca pada Lola.
__ADS_1
"Sebenarnya sudah sejak lama, aku minta maaf Bianca, aku....."
"Kenapa kau meminta maaf Lola? memangnya kesalahan apa yang kau buat?" tanya Bianca memotong ucapan Lola.
"Apa kau tidak marah padaku?" balas Lola bertanya.
"Kenapa aku harus marah, justru aku senang dan bahagia jika memang Daffa bisa membuatmu bahagia," ucap Bianca.
"Benarkah? kau tidak menentang hubunganku dengan Daffa?" tanya Lola memastikan.
"Tentu saja tidak Lola, selama kau bahagia bersamanya, aku juga akan bahagia untukmu," jawab Bianca dengan memeluk Lola.
"Terima kasih Bianca," ucap Lola yang membalas pelukan Bianca dengan erat.
"Tapi kenapa kalian berdua merahasiakannya dariku dan Arga?" tanya Bianca dengan membawa pandangannya pada Lola dan Daffa.
"Aku hanya mengikuti permintaan Lola, dia yang meminta untuk merahasiakannya," jawab Daffa.
"Aku takut kau tidak akan setuju jika aku berhubungan dengan Daffa, karena yang aku tau kau tidak menyukai Daffa yang dulu suka bermain perempuan," ucap Lola.
"Aku memang tidak menyukai Daffa yang suka bermain perempuan, aku khawatir dia akan memperlakukanmu seperti perempuan-perempuannya yang dulu, tapi bukan berarti aku membencinya Lola," balas Bianca.
"Aku sudah tidak seperti itu Bianca, perempuan yang aku cari sudah ada di depanku jadi aku sudah tidak membutuhkan perempuan yang lain lagi," sahut Daffa.
"Akan aku pegang ucapanmu Daffa, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang jika kau berani menyakiti Lola," ucap Bianca.
"You have my word, Bianca!" ucap Daffa meyakinkan.
"Tenang saja, aku juga akan memberinya pelajaran jika dia mulai menyimpang hahaha...." sahut Arga.
Kini Lola dan Daffapun tidak perlu menyembunyikan hubungan mereka lagi di depan Bianca dan Arga.
Waktu berlalu, hari telah berganti, waktu bagi mereka untuk kembali ke kota. Arga mengendarai mobilnya bersama Bianca yang duduk di sampingnya, sedangkan Daffa dan Lola duduk di belakang.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat kos Lola.
"Aku juga akan turun disini," ucap Daffa yang ikut turun bersama Lola.
Bianca dan Arga hanya tersenyum melihat kedekatan Lola dan Daffa. Arga kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
"Ternyata sudah cukup lama mereka menyembunyikan hubungan mereka," ucap Bianca.
"Itu karena Lola takut kau tidak akan menyetujui hubungan mereka," balas Arga.
"Aku hanya takut Daffa akan menyakiti Lola," ucap Bianca.
"Semua orang memiliki masa lalu Bianca dan hal buruk yang dilakukan Daffa adalah bagian dari masa lalunya bersama para perempuannya, tapi sekarang dia sudah menemukan pelabuhannya pada Lola," ucap Arga.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Mereka segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
**
Hari telah berganti. Bianca dan Arga menikmati sarapan mereka berdua di meja makan.
Namun beberapa kali Bianca mencuri pandang pada Arga yang sedang menikmati nasi goreng di hadapannya.
"Ada apa Bee? apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Arga yang merasa diperhatikan oleh Bianca.
"Tidak," jawab Bianca dengan menahan senyumnya.
Setelah Arga menghabiskan makanannya, Bianca segera mengambil gelas dan menuangkan minuman untuk Arga.
Arga hanya tersenyum menerima minuman dari Bianca.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan Bee? atau mungkin kau sedang menunjukkan perasaanmu padaku?" tanya Arga yang membuat Bianca segera menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba bersikap aneh seperti ini? pasti ada sesuatu bukan?"
"Mmmm..... apa kau merasa ada yang aneh dari nasi goreng yang baru saja kau makan?" tanya Bianca ragu.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Jujurlah Arga, pasti ada yang aneh bukan?"
Arga tersenyum tipis, kini ia mengerti kenapa Bianca selalu mencuri pandang padanya sejak mereka berada di meja makan.
"Ada yang aneh," ucap Arga yang membuat Bianca terkejut.
"Benarkah? apa yang aneh? apa terlalu asin lagi? apa aku terlalu banyak memasukkan garam? apa aku....."
Bianca mengentikan ucapannya dan segera menutup mulutnya karena seharusnya ia tidak memberi tahu Arga jika dia yang memasak nasi goreng itu.
"Tidak ada yang salah dari rasanya Bianca, yang aneh hanya satu, ada rasa cinta di dalamnya," ucap Arga dengan tersenyum sambil beranjak dari duduknya.
Bianca hanya diam dengan menundukkan kepalanya, ia merasa malu sekaligus senang mendengar ucapan Arga.
"Good job Bianca, kau sudah pandai memasak sekarang," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca lalu berjalan keluar dari rumah untuk berangkat ke kantor.
Seketika Bianca menjatuhkan kepalanya di meja makan. Entah kenapa hal kecil yang Arga lakukan atau ucapkan kini bisa membuat Bianca merasa begitu senang dan berdebar.
"Aku pasti sudah gila," ucap Bianca berusaha mengendalikan dirinya yang ingin melompat kegirangan saat itu.
__ADS_1
**
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Bianca sedang menyibukkan dirinya di dapur. Ia sedang memasak untuk makan siang Arga.
Bianca berencana untuk mengantarkan hasil masakannya ke kantor Arga.
Setelah beberapa lama berkutat dengan banyak bahan makanan di dapur, Bianca akhirnya menyelesaikan menu makan siangnya.
"Sudah beres, sekarang waktunya membereskan semua kekacauan ini hehe...."
Bianca kemudian membereskan dapur yang sudah mirip kapal pecah saat itu. Tak lama kemudian bibi datang dan membantu Bianca, membuat Bianca semakin cepat menyelesaikan kesibukannya di dapur.
"Terima kasih Bi," ucap Bianca lalu keluar dari dapur dan segera bersiap untuk pergi ke kantor Arga.
Dengan membawa tas bekal yang sudah diisi dengan menu makan siang yang ia buat, Bianca meminta pak Dodi untuk mengantarnya ke tempat kerja Arga.
Sesampainya di kantor, Bianca segera membawa langkahnya ke ruangan Arga. Bianca mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia membukanya.
"Bianca..."
Arga segera berdiri dari duduknya saat melihat Bianca yang masuk ke ruangannya.
"Aku membawa makan siang untukmu," ucap Bianca dengan memamerkan tas bekal yang dia bawa.
"Apa kau yang memasaknya lagi?" tanya Arga.
"Coba saja dulu, kau akan tau setelah mencobanya," jawab Bianca.
"Baiklah, mari kita coba," ucap Arga sambil mencoba suapan pertama makanan buatan Bianca.
Arga terdiam untuk beberapa saat, menikmati setiap rasa yang menyapu lidahnya.
"Bagaimana?" tanya Bianca bersemangat.
"Ada rasa cinta yang sangat banyak disini, pasti kau yang memasaknya bukan?" balas Arga yang membuat Bianca tersenyum dengan mengalihkan pandangannya dari Arga.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari Lola.
"Bianca, ayo makan siang disini, cepatlah datang!"
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk berisi lokasi Lola berada saat itu.
"Ada apa Bianca?" tanya Arga.
"Lola ingin mengajakku makan siang," jawab Bianca.
"Apa kau mau aku mengantarmu?" tanya Arga.
"Tidak perlu, aku bisa pergi bersama pak Dodi, kau habiskan saja makan siangmu," jawab Bianca.
"Baiklah," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba Arga menahan tangan Bianca.
"Terima kasih," ucap Arga dengan tersenyum.
Bianca hanya membalas senyuman Arga tanpa mengatakan apapun lalu menarik tangannya dari Arga dan berjalan keluar dari ruangan Arga dengan penuh senyum.
"Lagi-lagi berdebar seperti ini, aaargghh.... kenapa rasanya senang sekali!!!" ucap Bianca dalam hati sambil berusaha menahan dirinya yang ingin berteriak karena terlalu senang saat itu.
Bianca kemudian menemui pak Dodi, meminta pak Dodi untuk mengantarnya menemui Lola di lokasi yang Lola berikan pada Bianca.
"Lokasinya benar disini non?" tanya pak Dodi memastikan, karena setau pak Dodi lokasi yang ditunjukkan Bianca padanya adalah daerah pabrik yang sudah lama terbengkalai.
"Benar disini pak, mungkin tempat makannya di sekitar sini, Bianca akan memastikannya pada Lola saat kita sudah sampai disana," jawab Bianca.
Di sisi lain, Daffa masuk ke ruangan Arga dengan raut wajahnya yang masam.
"Ada apa dengan raut wajahmu yang tidak terlalu tampan itu Daffa?" tanya Arga sambil menikmati makan siangnya.
Daffa hanya diam sambil merebut sendok di tangan Arga dan memakan makanan di hadapan Arga, namun dengan cepat Daffa memuntahkannya karena rasa asin yang memenuhi lidahnya saat makanan itu masuk ke mulutnya.
Argapun hanya tertawa melihatnya.
"Apa lidahmu sakit Arga? bisa-bisanya kau makan makanan beracun seperti itu!"
"Hahaha... ini adalah makanan dengan rasa cinta yang Bianca buat untukku, hanya aku yang bisa merasakan rasa cintanya hahaha...." balas Arga.
"Kau benar-benar gila!" ucap Daffa sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
"Aku sedang kesal karena tidak bisa menghubungi Lola sejak tadi," lanjut Daffa.
"Kenapa? apa kalian bertengkar?" tanya Arga.
"Tidak, ponselnya hilang saat dia berangkat ke kantor tadi pagi," jawab Daffa.
"Hilang? tidak mungkin, dia baru saja menghubungi Bianca untuk mengajak Bianca makan siang!" balas Arga.
"Tidak mungkin Arga, Lola bahkan menghubungiku menggunakan telepon kantornya," ucap Daffa.
__ADS_1