
Hari telah berganti. Bianca yang sudah bangun lebih dulu segera membantu bibi memasak di dapur.
Tak lama setelah makanan siap di meja makan, Argapun datang dengan pakaian rapinya.
Bianca dan Arga kemudian menikmati sarapan mereka dengan tenang.
"Apa kau tidur dengan nyenyak Bee?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Arga kemudian beranjak dari duduknya setalah ia menyelesaikan sarapannya.
"Arga, tunggu!" ucap Bianca yang segera beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Arga.
"Tentang apa yang mama dan papa katakan kemarin..... bisakah kita menundanya lagi? aku.... aku belum siap untuk itu," ucap Bianca sekaligus bertanya.
Arga tersenyum lalu membawa dirinya mendekat pada Bianca.
"Aku mengerti Bianca, aku akan membicarakannya pada mama dan papa," ucap Arga dengan memegang kedua bahu Bianca.
"Tapi mama dan papa pasti akan sangat kecewa, karena kita sudah berjanji dulu," ucap Bianca.
"Jangan terlalu memikirkannya, aku akan membuat mama dan papa mengerti," balas Arga sambil membawa Bianca ke dalam dekapannya.
"Jangan menjadikan hal ini sebagai beban untukmu Bianca, aku tidak akan pernah memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kau inginkan," lanjut Arga dengan masih memeluk Bianca.
"Apa kau tidak merasa kecewa padaku?" tanya Bianca.
"Tentu saja tidak, aku selalu bahagia dengan apapun yang membuatmu bahagia Bianca," jawab Arga.
"Terima kasih Arga," ucap Bianca.
Arga kemudian melepaskan Bianca dari pelukannya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.
"Aku pergi dulu, jangan terlalu memikirkan hal ini, oke?"
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan hanya diam menatap Arga yang berjalan meninggalkannya.
Sampai beberapa saat Bianca masih tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena kecupan singkat Arga di keningnya.
Di sisi lain, Arga yang sedang mengendarai mobilnya mulai berpikir tentang apa yang akan ia katakan pada mama dan papanya tentang janji yang dulu pernah ia katakan pada mama dan papanya.
"Bianca benar, mama dan papa pasti akan kecewa, apa lagi mama yang sudah sejak dulu menginginkan aku dan Bianca untuk memiliki momongan, tapi aku juga tidak mungkin memaksa Bianca," ucap Arga dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempatnya bekerja. Arga berjalan dengan masih memikirkan masalah yang dihadapinya, tanpa sadar ia mengabaikan Daffa yang berdiri menunggunya.
Melihat Arga yang mengabaikannya, Daffapun segera berlari kecil mengejar Arga.
"Apa yang sedang kau pikirkan Arga?" tanya Daffa sambil merangkul bahu Arga.
"Daffa, kau membuatku terkejut," ucap Arga yang terkejut dengan kedatangan Daffa yang dianggapnya tiba-tiba.
"Sepertinya kali ini masalahmu cukup berat," ucap Daffa.
"Apa sangat terlihat?" tanya Arga.
"Tentu saja, aku sangat mengenalmu Arga, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya," jawab Daffa.
Arga hanya tersenyum mendengar ucapan Daffa, karena memang Daffalah satu-satunya teman baiknya yang selalu memahaminya lebih dari siapapun, bahkan orang tuanya sendiri.
Di ruangannya, Arga kemudian menceritakan pada Daffa tentang masalah yang sedang ia pikirkan, tentang janjinya pada mama dan papanya, tentang mama dan papanya yang menagih janji itu padanya dan tentang ia yang tidak mungkin memaksa Bianca.
"Kau memang tidak bisa memaksa Bianca untuk melakukannya, tapi kau bisa melakukan cara lain untuk membuat Bianca mau melakukannya tanpa paksaan sedikitpun," ucap Daffa setelah ia mendengar semua cerita Arga.
"Caranya?" tanya Arga tak mengerti.
"Untuk saat ini kau memang sudah semakin dekat dengan Bianca, tapi seperti yang kau bilang, kedekatan kalian masih belum terlalu jauh bahkan kalian masih sering merasa canggung saat berdua dan yang harus kau lakukan adalah meruntuhkan kecanggungan itu," ucap Daffa.
"Bagaimana caranya?" tanya Arga.
"Mulailah untuk semakin menunjukkan perasaanmu padanya, tidak hanya dari perhatian-perhatian kecil tapi juga dari sikapmu, seperti sering melakukan kontak fisik misalnya," jelas Daffa.
"Tapi aku takut Bianca akan merasa tidak nyaman jika aku terlalu banyak melakukan kontak fisik dengannya," ucap Arga ragu.
"Tidak perlu terburu-buru Arga, lakukan dengan pelan dan bertahap, aku yakin Bianca tidak akan merasa terganggu dengan hal itu, justru kontak fisik itu lah yang bisa membuat kecanggungan diantara kalian berdua menghilang dengan perlahan," balas Daffa.
"Apa kau yakin cara itu akan berhasil?" tanya Arga.
"Semua perempuan memang memiliki sifat yang berbeda, tapi mendapatkan perhatian melalui kontak fisik bisa membuat perempuan semakin merasakan kasih sayang pasangannya dan aku yakin Bianca juga akan merasakan hal itu," jawab Daffa.
"Setelah Bianca merasa nyaman, aku yakin kalian berdua akan semakin terbuka dalam menunjukkan perhatian dan kasih sayang kalian berdua, dengan begitu tidak akan ada lagi rasa canggung diantara kalian berdua," lanjut Daffa.
__ADS_1
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Daffa. Ia akan melakukan apa yang Daffa katakan padanya, ia akan berusaha melakukannya dengan pelan dan hati-hati, bukan untuk memaksa Bianca tetapi untuk meruntuhkan kecanggungan diantara mereka berdua.
"Jadi, apa kau bisa fokus dengan pekerjaanmu sekarang?" tanya Daffa.
Arga hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, membuat Daffa tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
Di tengah-tengah kesibukan Arga mengerjakan pekerjaannya, Arga berpikir untuk mengajak Bianca berlibur.
Argapun mulai mencari tiket pesawat dan hotel yang sesuai dengan hari liburnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Arga dan Daffa berjalan ke arah kantin.
"Tentang pertemuan dengan klien Minggu depan, apa kau bisa menggantikanku, Daffa?" tanya Arga pada Daffa.
"Kenapa?" balas Daffa bertanya.
"Aku sudah membeli tiket pesawat dan hotel untuk berlibur dengan Bianca Minggu depan," jawab Arga.
"Aku memang sudah menyiapkan semua materinya, tapi sepertinya aku tidak bisa menggantikanmu Arga, ada hal penting lain yang harus aku lakukan saat weekend nanti," ucap Daffa.
"Apa itu sangat penting sampai kau menolak permintaanku?" tanya Arga.
"Maaf bos, kali ini saya tidak bisa menghandle pekerjaan bos," ucap Daffa dengan sedikit membungkukkan badannya di hadapan Arga.
"Memangnya apa yang akan lakukan Minggu depan? menghabiskan waktu bersama Lola?" tanya Arga menerka.
"Aku memang akan pergi bersama Lola, tapi bukan sekedar menghabiskan waktu bersama, aku dan Lola sudah memiliki janji untuk bertemu dengan wedding organizer," jawab Daffa yang membuat Arga begitu terkejut.
"Apa kau serius Daffa?" tanya Arga tak percaya.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, siapkan pernikahanmu dengan sempurna Daffa, aku tidak akan mengganggu, tentang pertemuan Minggu depan, kau bisa merubah jadwalnya dari sekarang agar kita bisa mengatur ulang jadwal pertemuannya!" ucap Arga.
"Baiklah," balas Daffa dengan menganggukkan kepalanya.
"Waaahhh... aku tidak menyangka jika kau akan menikah secepat ini, katakan padaku apa yang harus aku berikan padamu sebagai hadiah pernikahanmu dengan Lola!"
"Bagaimana jika 20% saham perusahaan? hahaha...." tanya Daffa dengan tertawa yang hanya dibalas senyum tipis oleh Arga.
**
Sesuai dengan saran yang Daffa berikan, Arga semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Bianca melalui kontak fisik yang dengan pelan Arga lakukan pada Bianca.
Mulai dari bergandengan tangan setiap waktu, memberikan kecupan singkatnya pada Bianca dan memeluk Bianca setiap mereka sedang bersama.
Meskipun pada awalnya Bianca sedikit merasa terkejut dengan kebiasaan baru Arga itu, tetapi Bianca sama sekali tidak merasa terganggu dan justru hal itu membuat Bianca semakin senang.
Seperti saat itu, Bianca yang sedang berdiri di balkon tiba-tiba mendapat pelukan dari belakangnya.
"Apa yang sedang kau lakukan Bee?" tanya Arga dengan menjatuhkan dagunya di bahu Bianca.
"Hanya melihat pemandangan, saat sunset nanti pasti lebih indah," jawab Bianca.
"Tapi tidak seindah dirimu," ucap Arga yang membuat Bianca tersenyum.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan menatap pemandangan laut dari balkon hotel tempat mereka menginap.
Dengan melingkarkan tangannya di pinggang Bianca, Arga berdiri tegak di belakang Bianca saat Bianca mulai menyandarkan kepalanya di dada Arga.
Bersama sinar jingga yang menyinari laut tak berujung, Bianca menikmati setiap detik waktunya bersama Arga.
"Ini adalah sunset terindah yang membuatku sangat bahagia Arga," ucap Bianca.
"Apa sebaiknya kita mencari tempat tinggal di tempat seperti ini Bianca?"
"Tidak perlu, tempat tinggal seperti apapun akan selalu membuatku bahagia asalkan ada kau bersamaku," balas Bianca.
Arga tersenyum lalu memutar badan Bianca agar menghadap ke arahnya. Dengan kedua tangannya yang masih berada di pinggang Bianca, Arga menatap kedua mata Bianca dengan dalam.
Debar-debar dalam dada mereka semakin bergemuruh bersama dua pasang mata yang saling menatap dengan penuh cinta.
Bersama sinar senja yang perlahan semakin gelap, Arga mendekatkan wajahnya pada Bianca dan mendaratkan kecupannya di bibir Bianca.
Tautan mesra mengisi setiap detik kepergian senja sampai perlahan sinar bulan mulai menghiasi gelap malam bersama detak jantung yang berdebar semakin cepat.
Arga kemudian menyudahinya dengan kecupan singkat di kening Bianca lalu membawa Bianca ke dalam dekapannya.
Arga memejamkan kedua matanya bersama hembusan nafasnya yang panjang. Detak jantungnya yang berdebar meninggalkan rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama mereka hanya diam dengan saling memeluk, berteman sinar bulan yang menatap iri pada apa yang Bianca dan Arga lakukan.
Karena angin malam yang semakin terasa dingin, Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca berbaring di atas ranjang.
Kedua mata mereka saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang terucap. Dengan pelan namun pasti, Arga kembali melakukan apa yang dia lakukan saat di balkon dan Biancapun membalasnya dengan semakin dalam.
Namun Bianca segera menahan tangan Arga dan mengalihkan wajahnya saat Arga mulai melepas satu kancing pakaiannya.
Menyadari apa yang sudah ia lakukan di luar batas, Arga segera beranjak dan menjauh dari Bianca.
"Maafkan aku," ucap Arga yang segera membawa dirinya kembali ke balkon.
Untuk beberapa saat Bianca masih terdiam di atas ranjang, dadanya semakin bergemuruh meminta hal yang lebih, namun masih ada rasa ragu dalam hatinya untuk melakukan apa yang selama ini belum pernah ia lakukan bersama Arga.
Bianca kemudian beranjak dari ranjang dan membawa langkanya ke arah balkon lalu memeluk Arga dari belakang.
"Maafkan aku Arga," ucap Bianca yang merasa bersalah pada Arga.
"Kau boleh marah padaku," lanjut Bianca.
Arga menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menghilangkan pikirannya yang menginginkan hal yang lebih pada Bianca.
Arga kemudian membalikkan badannya dan memeluk Bianca dengan erat.
"Tidak perlu meminta maaf Bianca, aku mengerti," ucap Arga.
"Aku merasa belum siap melakukannya, aku...."
"Aku mengerti Bianca, tidak perlu terlalu memaksakannya," ucap Arga memotong ucapan Bianca lalu meninggalkan kecupan singkatnya di kening Bianca.
Untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua, Arga kemudian mengajak Bianca untuk keluar dari hotel.
Arga mengajak Bianca makan malam di restoran yang tidak begitu jauh dari hotel. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Arga mengajak Bianca untuk pergi ke bar.
"Apa kau keberatan jika kita kesini?" tanya Arga saat mereka sudah berada di depan bar.
"Tidak, mari kita lihat kebodohan apa lagi yang akan aku lakukan kali ini," jawab Bianca dengan penuh senyum.
Bianca dan Argapun masuk ke dalam bar. Mereka menghabiskan banyak waktu disana dengan beberapa gelas minuman yang sudah mereka habiskan.
"Aku tidak boleh terlalu mabuk," ucap Arga sambil berusaha membuat dirinya agar tetap sadar.
Sedangkan Bianca sudah tampak sangat mabuk saat itu.
"Kita pergi sekarang Bianca," ucap Arga sambil beranjak dari duduknya.
Arga kemudian membantu Bianca untuk berjalan keluar dari bar. Merekapun meninggalkan bar dan kembali ke hotel.
Saat Arga baru saja membaringkan Bianca di ranjang, Bianca dengan cepat menarik tangan Arga agar semakin mendekat padanya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi Arga, aku bisa gila jika terus seperti ini," ucap Bianca dengan kedua matanya yang sayu karena sudah terlalu mabuk.
"Apa yang harus aku lakukan Bianca?" tanya Arga.
Bianca kemudian mendorong Arga menjauh dan tanpa basa basi Bianca segera melepas kancing pakaiannya satu per satu, namun Arga segera menahannya.
"Aku tidak akan melakukannya dalam keadaan seperti ini Bianca," ucap Arga menolak.
"Apa maksudnya kau menolakku?" tanya Bianca.
"Bukan seperti itu, aku..... aku....."
Bianca tersenyum lalu beranjak dari ranjang dan segera mendorong Arga, membuat Arga terjatuh di atas ranjang.
Namun dalam hitungan detik, Bianca tiba-tiba terjatuh di atas Arga dengan kedua matanya yang sudah terpejam.
Argapun segera menggeser posisinya dan membaringkan Bianca di atas ranjang.
"Kau sudah membuatku gila Bianca," ucap Arga yang segera menarik selimut untuk menutup tubuh Bianca.
Untuk mencegah hal yang tidak bisa Arga hindari, Argapun segera membawa dirinya masuk ke kamar mandi.
Arga berdiri di bawah shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya.
Ia tidak ingin dirinya yang sudah mabuk melakukan hal yang di luar batas pada Bianca tanpa ia sadar.
Setelah menghabiskan banyak waktunya di kamar mandi, Argapun segera mengenakan pakaian tidurnya lalu membaringkan badannya di sofa.
Ia sengaja sedikit menjauh dari Bianca untuk mencegah hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksamu Bianca, meskipun aku tau kita sama-sama menginginkannya, tapi aku tau masih ada keraguan dalam hatimu dan aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap," ucap Arga dalam hati sambil menatap Bianca yang terpejam di atas ranjang.