
Bianca duduk di tepi ranjangnya, menatap kotak cincin yang ada di kedua tangannya. Satu kotak cincin yang berisi cincin pemberian Arga saat pernikahan mereka dan satu kotak cincin dengan cincin pemberian Bara.
Bianca tersenyum tipis lalu mengambil cincin yang ada di dalam kotak yang ada di tangan kanannya lalu mengenakan cincin itu di jari manisnya.
"Bagaimanapun juga aku adalah istri Arga, setidaknya sampai 2 tahun ke depan, jadi lebih baik aku memakainya, aku akan melepasnya setelah kontrak pernikahan kita selesai dan akan menggantinya dengan cincin pemberian kak Bara," ucap Bianca lalu menyimpan cincin pemberian Bara.
Bianca kemudian membaringkan badannya di atas ranjang, mengangkat tangan kirinya, memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Tidak pernah ia pikirkan sebelumnya jika di jari manisnya akan melingkar benda kecil dengan harga ratusan juta itu.
Sebagai seorang suami yang hanya sebatas kontrak Arga selalu memberikan semua yang terbaik untuk Bianca, tak peduli bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.
Meskipun Bianca mengerti jika apa yang Arga lakukan itu hanyalah agar semua orang percaya bahwa pernikahan mereka dilandasi oleh cinta.
"Kenapa aku bisa berada di posisi ini? kenapa takdir membawaku ke jalan ini? bertemu Arga tanpa sengaja dan akhirnya menjadi istrinya, orang tuanya bahkan sangat menyukaiku, kenapa semua ini bisa terjadi padaku?" tanya Bianca yang masih menatap cincin di jari manisnya.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu mengambil ponselnya, membuka galeri dan melihat satu persatu foto yang ia ambil selama ia berada di Tokyo bersama Arga.
Seketika memorinya mengulas kembali kebersamaannya bersama Arga, kebersamaan dan kedekatan yang sebelumnya belum pernah terjadi di antara mereka berdua, bahkan ada beberapa saat dimana Bianca merasa berdebar saat ia bersama Arga.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Bara.
"Kak Bara, ah iya aku belum berterima kasih pada kak Bara," ucap Bianca lalu menerima panggilan Bara.
"Halo Bianca, apa kau sudah tidur?" tanya Bara setelah Bianca menerima panggilannya.
"Belum kak, kebetulan Bianca juga ingin menghubungi kak Bara," jawab Bianca.
"Bianca sudah menerima hadiah dari kak Bara, terima kasih kak, cincinnya benar-benar cantik," lanjut Bianca.
"Apa kau menyukainya?" tanya Bara.
"Tentu saja, Bianca sangat menyukainya," jawab Bianca.
"Kalau begitu apa sekarang kau memakainya?" tanya Bara yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat.
"Bianca....." panggil Bara karena sama sekali tidak terdengar suara Bianca.
"Aahhh iya... Bianca.... memakainya," jawab bianca ragu karena ia harus berbohong pada Bara.
"Tidak perlu memakainya sekarang jika kau belum siap untuk memakainya, lagi pula itu bukan cincin yang mahal," ucap Bara yang mendengar keraguan dari jawaban Bianca.
"Mahal atau tidaknya cincin itu bukan masalah untuk Bianca kak, bagi Bianca semua pemberian kak Bara selalu istimewa," balas Bianca.
"Aku harap aku juga akan menjadi seseorang yang istimewa untukmu Bianca," ucap Bara.
"Jika kak Bara adalah seseorang yang istimewa untuk Bianca, apakah Bianca juga seseorang yang istimewa untuk kak Bara?" tanya Bianca.
"Kau......."
"Kak Bara!"
Terdengar suara seorang perempuan yang memanggil nama Bara, membuat Bara menghentikan ucapannya tiba-tiba.
"Bianca aku harus pergi, kau cepatlah tidur, aku akan menghubungimu lagi besok," ucap Bara lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Biancapun hanya terdiam, Bara benar-benar mengakhiri panggilannya begitu saja saat seseorang memanggilnya.
"Siapa yang memanggil kak Bara, bukankah kak Bara tidak memiliki teman satu negara disana? lalu siapa dia? kenapa dia memanggil dengan panggilan 'kak Bara' dan kenapa kak Bara selalu mengakhiri panggilannya setelah seseorang itu memanggilnya?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca menghela nafasnya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menarik selimutnya lalu memejamkan matanya, berusaha untuk tidak memikirkan apa yang mengganggu pikirannya tentang Bara.
Tapi bagaimanapun juga suara perempuan itu membuat Bianca menduga-duga tentang siapa sebenarnya perempuan yang bersama Bara.
Bianca ingat tidak hanya sekali suara perempuan itu terdengar, beberapa kali Bianca mendengar suara perempuan memanggil nama Bara dengan panggilan kakak dan saat Bianca mendengarnya Bara segera mengakhiri panggilannya begitu saja.
"Apa aku harus menanyakannya pada kak Bara?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
"Tidak, aku tidak boleh menanyakannya pada kak Bara, mungkin itu hanya temannya, bisa jadi kak Bara sedang sibuk atau sedang bekerja jadi dia harus mengakhiri panggilannya tiba-tiba," ucap Bianca lalu kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Di tempat lain Arga yang sudah berbaring di atas ranjang hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya. Ia memikirkan tentang cincin yang ia lihat melingkar di jari manis Bianca.
"Aku tidak pernah melihatnya memakai cincin sebelumnya, aku hanya melihat dia memakai cincin yang aku berikan padanya, tapi kenapa tiba-tiba dia memakai cincin yang lain? siapa yang memberikan cincin itu padanya?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
Arga kemudian beranjak dari tidurnya, entah kenapa hal kecil itu membuatnya tidak bisa tidur. Arga kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya sampai beberapa kali, berharap hal yang mengganggu pikirannya akan segera pergi.
Arga terdiam menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Tiba-tiba ia teringat kebersamaannya bersama Bianca saat mereka berada di Tokyo.
"Terkadang dia memang sangat keras kepala dan galak, tetapi dia sebenarnya sangat baik bahkan sangat perhatian padaku yang sebenarnya bukan siapa-siapa untuknya," ucap Arga mengingat bagaimana Bianca merawatnya dengan sangat baik selama dia berada di rumah sakit.
Arga tersenyum tipis saat mengingat dirinya yang berdansa dengan Bianca di bawah salju. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, tapi yang pasti ada getaran kebahagiaan yang ia rasakan, kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat ia bersama Karina.
"Mungkin aku terlalu lelah dengan semua pekerjaanku, membuatku bahagia berlebihan saat aku bisa menghabiskan waktuku untuk keluar dari rutinitasku," ucap Arga.
Arga kemudian membawa langkahnya keluar dari kamar mandi lalu duduk di tepi ranjang dengan membuka galeri ponselnya, melihat satu persatu foto-foto yang ia ambil selama ia berlibur bersama Bianca di Tokyo
"Apa yang sebenarnya membuatnya tidak percaya diri? dia sangat cantik, pasti mudah baginya untuk masuk ke agensi artis ataupun model," ucap Arga sambil memperhatikan foto-foto Bianca yang ada di galeri ponselnya.
Seketika Arga tersadar jika galeri ponselnya dipenuhi oleh foto Bianca dan hanya ada beberapa foto pemandangan yang ia ambil.
"Dia memang cantik, baik dan pintar, laki-laki manapun pasti akan menyukainya tapi sayang hatiku sudah dimiliki perempuan lain yang harus segera aku dapatkan kembali," ucap Arga lalu menaruh ponselnya di atas meja dan segera membaringkan dirinya di ranjang.
**
Waktu berlalu hari-hari telah berganti, hari itu adalah hari dimana Lola akan melakukan wisuda.
Sebelumnya Bianca sudah meminta izin pada Arga untuk menemani Lola wisuda di kampus dan Argapun mengizinkannya.
Hari itu Bianca sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, ia duduk di ruang tamu untuk menunggu Arga.
Saat melihat Arga menuruni tangga, Biancapun segera beranjak dari duduknya.
"Arga ada yang ingin aku katakan," ucap Bianca pada Arga yang membuat Arga menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Kau tahu bukan jika hari ini aku akan menemani Lola untuk wisuda? aku sudah meminta izin padamu sebelumnya."
"Aku ingin meminta izin untuk hal lain lagi, aku tidak tahu apa kau akan mengizinkannya tetapi aku akan mencobanya," ucap Bianca.
"Apa kau akan berpesta bersama teman-temanmu?" tanya Arga menerka yang dibalas anggukan kepala dengan pelan oleh Bianca.
"Dimana?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi jika kau mengizinkanku aku janji akan pulang lebih cepat, aku tidak akan pulang terlalu malam," jawab Bianca.
"Baiklah asalkan kau pergi dengan Pak Dodi," ucap Arga.
"Tentu saja aku akan pergi dengan Pak Dodi, jadi kau mengizinkanku?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah dan berangkat ke kantor.
Biancapun bersorak senang lalu segera masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah mempersiapkan dirinya dengan baik Biancapun segera meminta Pak Dodi untuk mengantarnya ke tempat kost Lola.
Sesampainya di tempat kost Lola, Biancapun segera berangkat ke kampus bersama Lola dengan diantar oleh Pak Dodi.
Tak lupa Bianca memberikan buket bunga pada Lola sebagai ucapan selamat atas wisuda Lola.
Setelah acara wisuda selesai, Bianca dan Lolapun menghabiskan waktu mereka untuk berfoto di beberapa sudut kampus bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Akhirnya satu impianmu sudah tercapai Lola, aku sangat bangga padamu," ucap Bianca pada Lola saat mereka sedang duduk di taman kampus.
"Jika bukan karenamu mungkin aku sudah menyerah Bianca, terima kasih banyak karena kau selalu ada untukku," balas Lola.
Bianca tersenyum lalu memeluk Lola dengan erat. Pertemuan mereka yang tidak disengaja membuat mereka bersahabat dan semakin lama persahabatan mereka semakin erat seiring dengan kebersamaan yang terjalin diantara mereka berdua.
"Aaahh ya bagaimana dengan pestanya? apa Arga mengizinkanmu untuk ikut?" tanya Lola.
Bianca menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum, membuat Lola bersorak senang karena ia bisa berpesta bersama Bianca.
"Dimana kita akan melakukannya? teman-teman yang lain belum memberitahuku dimana lokasi pastinya," tanya Bianca.
__ADS_1
"Aku juga belum tau, tapi yang pasti kita akan bersenang-senang hari ini," jawab Lola.
"Kalau begitu pastikan dirimu untuk tidak mabuk, kali ini tidak mungkin ada Daffa yang datang untuk membantumu jika kau mabuk!" ucap Bianca.
"Daffa memang tidak ada, tapi bukankah ada kau yang akan membantuku hahaha......"
"Aku akan meninggalkanmu jika kau benar-benar mabuk," ucap Bianca yang membuat Lola terkekeh.
Bianca dan Lola menghabiskan waktu beberapa lama di kampus sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke tempat kost Lola dengan diantara oleh Pak Dodi.
Setelah berganti pakaian dan mempersiapkan diri, Bianca dan Lola kemudian pergi ke alamat yang sudah diberikan oleh teman Lola.
Pak Dodi kemudian mengendarai mobilnya ke arah alamat yang sudah diberikan oleh Lola dan Bianca.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan merekapun sampai di pesisir pantai dimana Bianca, Lola dan teman-temannya akan mengadakan pesta disana.
"Pak Dodi bisa pergi jika Pak Dodi bosan disini, Bianca akan menghubungi Pak Dodi jika Bianca akan pulang," ucap Bianca pada Pak Dodi.
"Baik non," balas Pak Dodi.
Bianca dan Lola kemudian membawa langkahnya ke arah teman-teman mereka yang sudah berkumpul di tepi pantai.
Hampir semua teman-teman mereka menikmati pesta dengan menggunakan pakaian terbuka.
Sedangkan Bianca memilih untuk mengenakan celana jeans panjang dengan atasan bergaya Sabrina dan rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang.
Bianca dan Lola kemudian berkumpul bersama teman-teman mereka, membicarakan banyak hal, tertawa dan bercanda bersama.
Bersama senja yang mulai tergaris di langit barat, Bianca, Lola dan teman-teman mereka bersenang-senang di tepi pantai.
Beberapa dari mereka sudah tampak mabuk karena alkohol yang mereka konsumsi, sedangkan beberapa yang lain hanya bersenang-senang tanpa menyentuh alkohol sedikitpun termasuk Bianca dan Lola.
Malam semakin larut, Biancapun berniat untuk meninggalkan acara itu, namun ia tidak melihat dimana keberadaan Lola saat itu.
"Bianca, kau mau kemana?" tanya salah satu teman Bianca.
"Aku harus pulang, tetapi aku tidak melihat Lola, apa kau melihatnya?" balas Bianca.
"Sepertinya aku tadi melihatnya di toilet," jawab teman Bianca.
Bianca kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lola, memberitahu Lola jika dirinya akan pulang terlebih dahulu, sedangkan Lola memutuskan untuk tetap berada disana sampai acara selesai.
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah menyentuh alkohol sedikitpun, oke?" ucap Bianca pada Lola.
"Siap bos," balas Lola.
Panggilan berakhir, Biancapun membawa langkahnya meninggalkan tempat pesta itu, namun tiba-tiba teman Bianca menahan tangan Bianca.
"Kau sama sekali belum minum dari tadi, minumlah!" ucap teman Bianca.
Bianca hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pada temannya.
"Ini tidak akan membuatmu mabuk Bianca, percayalah!" ucap teman Bianca lalu meminum satu gelas minuman yang ia bawa untuk membuktikan pada Bianca jika minuman itu tidak membuatnya mabuk.
"Bagaimanapun juga kau pernah menjadi bagian dari fakultas kita, bahkan kau adalah salah satu yang terbaik, minumlah Bianca, hanya sebagai formalitas pesta kita!" ucap teman Bianca berusaha membujuk Bianca.
"Baiklah, lagi pula hanya satu gelas kecil," balas Bianca lalu menerima minuman dari temannya dan meneguknya tanpa ragu.
Bianca memejamkan matanya, merasakan rasa aneh yang menjalari lidahnya.
"Aaahhh minuman apa ini? rasanya aneh sekali," tanya Bianca sambil mengembalikan gelas yang di bawahnya.
"Kau harus minum ini untuk menetralkan lidahmu," ucap teman Bianca sambil menuang minuman lain di gelas Bianca.
Biancapun segera meminumnya tanpa ragu dan semakin merasakan sesuatu yang aneh pada lidahnya.
"Sudahlah aku tidak mau minum minuman aneh ini lagi, aku pergi dulu!" ucap Bianca lalu menaruh gelasnya di meja kemudian berjalan meninggalkan pesta.
"Aaahhh rasanya aneh sekali, tapi....."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia merasa kepalanya mulai pusing. Tanpa sadar Bianca berjalan berlawanan arah dengan posisi Pak Dodi yang menunggu Bianca di tempat parkir.
__ADS_1
Bianca berjalan ke sembarang arah dengan langkahnya yang tidak dapat ia kendalikan akibat dari minuman yang baru saja ia minum.