Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
3 Bulan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sudah lebih dari 2 bulan Bianca terbaring di ranjang rumah sakit tanpa sekalipun membuka matanya.


Meskipun dokter sudah kehilangan harapan pada Bianca, tetapi Arga masih menunggu Bianca dengan harapan yang tidak akan pernah pudar, karena ia yakin jika Bianca pasti akan terbangun dari tidur panjangnya.


Setiap harinya Arga berangkat ke kantor pagi dan akan pulang saat sore, bukan pulang ke rumahnya melainkan pulang ke rumah sakit tempat Bianca dirawat.


Arga hanya menghabiskan waktunya antara kantor dan rumah sakit selama lebih dari 2 bulan.


Meskipun itu bukanlah hal yang mudah bagi Arga, tetapi ia tetap harus melanjutkan hidupnya untuk menunjukkan pada semua orang bahwa baginya Bianca bukanlah pasien yang sedang koma, melainkan Putri tidur yang sedang tertidur lama dan akan segera terbangun dari tidur panjangnya.


Kesedihan memang selalu ada dalam hati Arga setiap ia melihat Bianca yang hanya terbaring di atas ranjang rumah sakit, namun Arga berusaha untuk mengabaikan rasa sedihnya dan lebih memilih untuk melakukan berbagai aktivitas yang biasa ia lakukan di dekat Bianca.


Dengan begitu ia akan tetap merasa jika Bianca selalu ada di sampingnya, meskipun pada kenyataannya Bianca hanya terbaring tak berdaya.


Tentang Karina, Arga selalu mengabaikannya meskipun beberapa kali Karina berusaha untuk menemuinya, Arga selalu bisa menghindar dari Karina yang sama sekali tidak ingin ia temui.


Setiap ia bersama Karina hanya rasa bersalah dan penyesalan yang Arga rasakan, rasa bersalah karena sudah berbohong pada Bianca tentang apa yang selama ini ia lakukan bersama Karina di belakang Bianca dan ia benar-benar menyesali hal itu.


Tapi entah kenapa Karina dulu yang menghindar darinya justru kini gencar mendekatinya, meski begitu Arga memilih untuk mengabaikannya dan sama sekali tidak ingin tahu tentang apa yang sebenarnya Karina rencanakan.


Bagi Arga tidak ada yang lebih penting dari Bianca dan ia tidak akan membiarkan dirinya terlalu larut memikirkan hal lain selain Bianca.


Sama seperti hari-hari sebelumnya tepat pukul 04.00 sore Arga sudah meninggalkan ruangannya, namun ia menghela nafasnya kesal saat ia melihat Karina yang sedang bersitegang dengan satpam dan resepsionis di lobby.


Arga kemudian berbalik arah, memilih untuk melewati tangga darurat agar ia sampai di basement tanpa terlihat oleh Karina.


Namun saat Arga baru saja mengendarai mobilnya meninggalkan basement, tiba-tiba Karina menghadang mobilnya, membuat Arga dengan cepat menginjak rem mobilnya.


Arga hanya diam di dalam mobilnya sambil menekan klakson berkali-kali, berharap satpam akan segera menyeret Karina pergi.


Satpam yang melihat hal itupun segera berlari ke arah Karina dan memaksa Karina pergi, namun Karina terus menolak dan tetap berdiri di depan mobil Arga.


Karena terlalu kesal Argapun segera keluar dari mobilnya.


"Jangan lepaskan dia sebelum saya pergi!" ucap Arga pada kedua satpam yang memegangi Karina.


"Baik pak," balas kedua satpam sambil memegang kedua tangan Karina dengan eratnya.


Arga kemudian menghentikan taksi lalu pergi meninggalkan kantor dengan menggunakan taksi dan setelah Arga benar-benar pergi kedua satpam itupun melepaskan Karina.


"Aku bisa menuntut kalian berdua jika kalian terus memperlakukanku seperti ini!" ucap Karina kesal pada kedua satpam yang menahan tangannya.


"Silakan saja, kami hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh atasan kami," balas salah satu satpam itu lalu pergi meninggalkan Karina begitu saja.


Karina menghela nafasnya kesal lalu membawa langkahnya pergi ke arah halte.


"Ada apa sebenarnya dengannya? kenapa dia tiba-tiba berubah? apa dia benar-benar jatuh cinta pada Bianca? tapi bukankah dia tetap mendekatiku bahkan setelah mereka menikah? aku yakin Arga sebenarnya tidak mencintai Bianca," batin Karina bertanya dalam hati.


Karina menghela nafasnya kesal lalu menaiki bus yang baru saja berhenti di depannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu Arga, aku akan membuatmu tetap bersamaku meskipun masih ada Bianca disampingmu aku tidak peduli," ucap Karina dalam hati.


Di sisi lain, saat Arga baru saja sampai di rumah sakit ia segera menghubungi seseorang yang ia minta untuk membawa mobilnya ke rumah sakit.


Setelah berganti baju dan membersihkan dirinya Argapun segera menghampiri Bianca. Seperti biasa Arga akan menceritakan banyak hal pada Bianca, bahkan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar Arga selama Arga meninggalkan ruangan Bianca untuk bekerja.


"Bukankah itu lucu Bianca? semua orang disana tertawa terbahak-bahak tetapi aku hanya tersenyum tipis bahkan sebenarnya aku tidak ingin tersenyum saat itu, aku hanya menghargai leluconnya saja," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.


Arga terdiam dengan menatap wajah pucat Bianca. Memorinya kembali mengulas kebersamaannya bersama Bianca, mulai dari saat ia pertama bertemu sampai akhirnya ia menjalani hari-harinya sebagai seorang suami untuk Bianca.


Meskipun tidak ada cinta di antara mereka berdua sebelumnya, Arga masih mengingat dengan jelas bagaimana Bianca membantunya saat ia terpuruk.

__ADS_1


Bianca bahkan tidak meminta banyak hal pada Arga, Bianca benar-benar tulus membantu Arga meskipun pernikahan mereka bukanlah pernikahan sungguhan.


"Jika kau mendengarku aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa mengenalmu adalah hal terindah dalam hidupku Bianca, kau mengajariku banyak hal yang selama ini terabaikan olehku dan aku baru sadar jika ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Arga dengan masih menggenggam erat tangan Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang sambil membelai pelan rambut Bianca. Dalam hatinya ia benar-benar bersedih saat itu, namun ia tidak ingin menunjukkannya pada Bianca meskipun Bianca tengah terpejam erat di hadapannya.


"Aku tidak tahu apa yang Bara lakukan yang bisa membuatmu sangat menyukainya, tapi aku akan membuktikan padamu jika akulah laki-laki yang terbaik untukmu, hanya akulah yang pantas bersanding denganmu karena aku yakin tidak ada cinta yang lebih besar daripada cintaku untukmu," ucap Arga.


Arga kemudian membaringkan kepalanya di tepi ranjang Bianca sambil memainkan jari jemari Bianca yang ada dalam genggamannya.


"Apa kau ingat jika kau pernah menciumku Bianca? aku yakin kau akan sangat malu jika kau mengingatnya," ucap Arga dengan tersenyum mengingat apa yang pernah Bianca lakukan padanya saat Bianca sedang mabuk.


"Sepertinya lain kali aku harus membuatmu mabuk karena kau semakin terlihat menggemaskan saat kau sedang mabuk," ucap Arga.


Arga kemudian mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah cantik Bianca.


"Kau pasti akan marah saat kau mendengar ucapanku bukan? marahlah Bianca, lebih baik aku mendengarkanmu marah dan kesal padaku daripada aku hanya melihatmu terbaring seperti ini, rasanya sangat menyakitkan, tapi aku akan tetap menikmati setiap detik perasaan ini karena aku yakin kau akan segera terbangun dari tidur panjangmu!"


**


Waktu berlalu, bulanpun berganti, kini sudah memasuki bulan ketiga dimana Bianca hanya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Pagi itu Arga berangkat ke kantor seperti biasa, tapi entah kenapa hari itu ia merasa begitu berat meninggalkan Bianca.


Namun ia harus tetap pergi ke kantor karena akan ada rapat penting yang harus ia lakukan. Sebelum pergi, ia menghubungi mamanya, memastikan agar sang mama menemani Bianca hari itu.


"Mama akan menemaninya Arga, jangan khawatir, mama akan segera menghubungimu jika terjadi sesuatu," ucap Nadine pada Arga.


"Terima kasih ma," balas Arga lalu mengakhiri panggilannya pada sang mama.


Di kantor Arga mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan, tapi pikirannya seperti sedang tidak ada di kantor saat itu, membuatnya tanpa sadar melakukan banyak kesalahan pada pekerjaan yang ia kerjakan.


Daffa yang menyadari hal itupun segera menemui Arga di ruangannya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Tapi sepertinya tidak, kau melakukan banyak kesalahan pada pekerjaanmu hari ini," ucap Daffa sambil memberikan beberapa map pada Arga.


"Benarkah? sepertinya aku sudah mengerjakannya dengan baik," tanya Arga sambil memeriksa kembali beberapa hasil pekerjaannya.


Saat memeriksanya Arga baru tersadar jika ia memang melakukan beberapa kesalahan kecil pada pekerjaannya.


Arga menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.


"Tidak biasanya kau seperti ini Arga, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Daffa.


"Entahlah, hari ini aku merasa sangat berat meninggalkan Bianca, aku berusaha untuk fokus pada pekerjaanku tapi sepertinya aku hanya bisa memikirkan Bianca," jawab Arga.


"Tidak terjadi sesuatu padanya bukan?" tanya Daffa khawatir.


"Tidak, dokter tidak mengatakan apapun padaku setelah memeriksa keadaan Bianca tadi pagi, itu artinya tidak ada apapun yang terjadi pada Bianca, entah itu hal yang baik ataupun hal yang buruk," jawab Arga.


"Mungkin kau hanya terlalu lelah Arga, jika kau mau kau bisa pulang sekarang dan temani Bianca di rumah sakit," ucap Daffa.


"Sudah ada mama yang menemani Bianca sekarang, jadi sebaiknya aku tetap disini dan melanjutkan pekerjaanku, setidaknya aku tahu jika tidak terjadi hal yang buruk pada Bianca," balas Arga.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, tapi berusahalah untuk fokus Arga, aku akan merevisi beberapa pekerjaanmu," ucap Daffa lalu keluar dari ruangan Arga.


Arga kemudian beranjak dari duduknya untuk pergi ke toilet. Di toilet, Arga membasuh wajahnya beberapa kali, berusaha agar ia bisa tetap fokus pada pekerjaannya.


Arga kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang Mama untuk memastikan jika Bianca baik-baik saja.

__ADS_1


"Tidak biasanya kau sering menghubungi Mama seperti ini, Bianca baik-baik saja Arga jangan mengkhawatirkannya!" ucap Nadine pada Arga yang sudah berkali-kali menghubunginya hanya untuk menanyakan keadaan Bianca.


"Maaf ma, Arga hanya ingin memastikannya," balas Arga.


"Mama pasti akan menghubungi jika terjadi sesuatu, sekarang fokus saja pada pekerjaanmu dan pulang seperti biasanya!" ucap Nadine.


Setelah panggilan berakhir, Arga kembali memasukkan ponselnya di saku pakaiannya. Arga menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia keluar dari toilet.


"Bianca baik-baik saja, mungkin aku hanya terlalu merindukannya hari ini," ucap Arga dalam hati lalu berjalan keluar dari toilet dan kembali ke ruangannya.


Waktu berlalu, tepat pukul 02.00 siang Arga dan Daffa sudah berada di perusahaan lain untuk melakukan meeting.


Meetingpun berjalan dengan lancar dan selesai sebelum pukul 04.00 sore. Arga dan Daffa kemudian meninggalkan perusahaan itu untuk kembali ke tempat mereka bekerja.


"Aku akan pulang setelah ini, bisakah kau menyelesaikan sisanya?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Daffa.


"Tentu saja, kau memang harus cepat pulang karena sepertinya hari ini kau tidak terlalu fokus bekerja," balas Daffa.


"Maafkan aku," ucap Arga.


Daffa hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan. Sesampainya di kantor mereka berduapun segera berjalan memasuki lobby, namun tiba-tiba Arga menghentikan langkahnya saat ia melihat Karina yang segera berlari ke arahnya.


"Kita harus bicara Arga!" ucap Karina pada Arga.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan," balas Arga yang akan berlalu pergi, namun segera ditahan oleh Karina.


"Kau mau aku mengatakannya disini agar semua orang mendengar atau kita bicara berdua di tempat lain!" ucap Karina yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Karina.


Karena tidak ingin membuat keributan dan kesalahpahaman, Argapun memutuskan untuk mengizinkan Karina masuk ke ruangannya.


Dengan penuh senyum Karinapun berjalan mengikuti Arga ke ruangannya.


"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan lalu segera keluar dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" ucap Arga pada Karina.


"Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku Arga? bukankah kau masih mencintaiku dan berharap untuk kembali padaku?" tanya Karina tanpa basa-basi.


"Aku bukan Arga yang kau kenal dulu Karina, aku bukan laki-laki bodoh yang akan mengejar masa lalu yang sudah mengkhianatiku," jawab Arga.


"Bagaimana jika sekarang aku yang mengejarmu?" tanya Karina.


"Jangan mengatakan hal konyol Karina, keluar dari sini sebelum aku memanggil satpam agar menyeretmu keluar!" balas Arga.


"Sepertinya aku baru menyadari sesuatu sekarang, maaf karena aku sudah memutuskan hal yang sangat bodoh dengan meninggalkanmu dan lebih memilih Bian," ucap Karina dengan menundukkan kepalanya.


"Jalani apa yang sudah kau pilih Karina, itu adalah yang terbaik untukmu dan perpisahan kita memang takdir yang terbaik untuk kita berdua," balas Arga lalu beranjak dari duduknya.


Karinapun ikut beranjak dari duduknya dan segera memeluk Arga sebelum Arga keluar dari ruangannya.


"Maafkan aku Arga, aku benar-benar menyesal," ucap Karina dengan pemeluk Arga.


"Lepaskan aku Karina, kau jangan berlebihan seperti ini!" ucap Arga yang berusaha mendorong Karina dari pelukannya.


"Tidak bisakah kau memaafkanku Arga?" tanya Karina sambil menatap kedua mata Arga dengan air mata yang sudah menggenang di kedua matanya.


Untuk beberapa saat Arga merasa luluh melihat Karina yang menangis di hadapannya, namun saat Arga akan menghapus air mata di pipi Karina tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Arga tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan.


Arga segera mengambil ponselnya yang ada di saku dan melihat nama sang mama pada layar ponselnya, dengan cepat Argapun segera menerima panggilan itu


"Arga, terjadi sesuatu pada Bianca, kau harus segera ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Nadine yang membuat Arga begitu terkejut.


Tanpa mengatakan apapun Arga segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Saat Karina berusaha menahan tangan Arga dengan kasar Arga menarik tangannya dan mendorong Karina lalu berlari meninggalkan ruangannya.


"Arga tunggu!" ucap Karina yang berusaha mengejar Arga namun dengan cepat ditahan oleh Daffa.


__ADS_2