
Setelah beberapa lama mempersiapkan diri, Biancapun selesai dengan gaun mahal dan sepatu berhak tinggi sesuai dengan permintaan Arga.
Lagi lagi Arga dibuat terkesima oleh kecantikan Bianca yang semakin terpancar dengan gaun mahal yang sudah ia siapkan.
Make up tipis di wajah Bianca sudah cukup membuat Bianca semakin tampak bersinar malam itu.
Arga kemudian mengajak Bianca keluar dari kamar. Dengan bergandengan tangan, mereka berjalan ke arah mobil yang kemudian dikendarai oleh Arga ke arah restoran yang sebelumnya sudah ia reservasi.
"Apa kita akan pergi ke acara seseorang?" tanya Bianca pada Arga.
"Tidak, kita hanya akan makan malam," jawab Arga.
"Tapi kenapa kau memintaku untuk memakai pakaian ini? apa ini tidak berlebihan?" tanya Bianca.
"Tentu saja tidak," jawab Arga santai.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat tujuannya.
"Tunggu disini, aku yang akan membuka pintu untukmu," ucap Arga sebelum ia keluar dari mobil.
Bianca hanya menurut, membiarkan Arga membuka pintu mobil untuknya. Bianca kemudian keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam restoran bersama Arga dengan bergandengan tangan.
Langkah yang pasti namun terlihat anggun, membuat semua mata tertuju pada Bianca dan Arga. Mereka semua mengagumi kecantikan Bianca yang seperti seorang Putri kerajaan malam itu.
Arga dan Bianca membawa langkah mereka ke arah tempat yang sudah Arga pesan sebelumnya. Sebuah tempat istimewa yang dipenuhi dengan kelopak mawar merah di lantainya.
Lampu remang dan beberapa lilin yang berjajar membuat suasana tempat itu semakin terasa romantis.
Seseorang kemudian memberikan satu buket bunga mawar merah pada Arga, kemudian pergi untuk meminta seseorang yang lain mulai mengalunkan lagu romantis untuk Arga dan Bianca.
"Untukmu," ucap Arga sambil memberikan buket mawar merah pada Bianca.
"Terima kasih," balas Bianca sambil menerima buket bunga pemberian Arga.
Arga kemudian mengajak Bianca untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Hanya ada 2 kursi dan satu meja disana yang seperti hanya dipersiapakan untuk Arga dan Bianca.
"Apa kau menyukainya?" tanya Arga sambil menuang minuman di gelas Bianca.
"Ini sangat berlebihan Arga, aku..... aku sedikit merasa tidak nyaman, apa lagi aku merasa orang orang seperti memperhatikanku sejak aku masuk ke dalam restoran," jawab Bianca.
"Mereka memperhatikanmu karena mereka mengagumi kecantikanmu Bianca," ucap Arga.
"Jangan bercanda Arga, lagi pula kenapa kau melakukan semua ini? kau hanya membuang uangmu untuk sesuatu yang sia-sia seperti ini!"
"Tidak apapun yang sia-sia Bianca, aku sudah memperhitungkan semuanya, anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku karena sudah membuatmu menunggu lama tadi," ucap Arga.
"Hmmm.... aku sama sekali tidak mengerti cara berpikir orang kaya sepertimu," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.
"Hahaha.... jangan memikirkannya, nikmati saja malam ini," balas Arga.
Tak lama kemudian makanan datang satu per satu, mulai dari makanan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup.
Malam itu Arga benar benar memperlakukan Bianca layaknya seorang istri yang memang sangat dicintainya.
Biancapun mulai bisa menikmati makan malam romantisnya bersama Arga. Meskipun Bianca tidak tahu apa sebenarnya rencana Arga dibalik kepergian mereka ke Bali dan makan malam romantis yang Arga siapkan untuk Bianca.
Bianca tidak terlalu ambil pusing, ia hanya akan menikmati kesenangan yang ia dapatkan selama ia berlibur di Bali bersama Arga.
Setelah acara makan malam itu selesai, tiba tiba seseorang datang dan menghampiri Arga lalu memberikan sesuatu pada Arga.
Setelah Arga mengucapkan terima kasih, seseorang itupun pergi.
"Untukmu," ucap Arga sambil memberikan barang yang baru saja diberikan seseorang pada Arga untuk Bianca.
"Untukku? apa ini?" tanya Bianca yang segera melihat barang apa yang Arga berikan padanya.
Bianca begitu terkejut saat ia melihat laptop di hadapannya.
"Kenapa kau memberikan laptop ini untukku?" tanya Bianca.
"Bukankah kau bilang membutuhkan laptop?" balas Arga bertanya.
"Aku memang membutuhkan laptop, tapi maksudku laptop milikku yang ada di rumah, bukan laptop baru," balas Bianca.
"Dimana kau membeli laptop ini? apa kau masih menyimpan bukti pembeliannya? lebih baik kita kembalikan saja atau....."
__ADS_1
"Simpan saja, aku membelinya untukmu," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
"Tapi aku tidak membutuhkannya Arga," ucap Bianca.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan dengan laptop itu? aku tidak mungkin mengembalikannya ke tempat aku membelinya, jika kau tidak suka buang saja!" balas Arga.
Lagi lagi Bianca hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap Arga.
"Baiklah, aku akan menyimpannya," ucap Bianca.
Arga dan Bianca kemudian meninggalkan restoran itu. Arga mengendarai mobilnya menjelajahi jalan raya bersama Bianca yang duduk di sampingnya.
"Apa kau senang malam ini?" tanya Arga.
"Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disini aku sudah sangat senang, walaupun tidak pernah ku bayangkan sebelumnya jika aku akan pergi kesini bersamamu, tapi aku berusaha untuk menikmatinya, karena ini adalah kali pertamanya aku datang kesini," jelas Bianca.
"Setelah beberapa hal yang terjadi di antara kita, apa yang kau pikirkan tentangku Bianca?"
"Mmmm.... entahlah, tapi yang pasti aku tau jika kau laki laki yang baik, kau bahkan memperlakukanku dengan baik walaupun pernikahan kita bukan pernikahan sungguhan," jawab Bianca.
"Bagaimana dengan kesalahpahaman yang pernah terjadi? apa kau tidak marah padaku?"
"Saat itu aku memang marah, tapi aku tidak pernah menyimpan kemarahanku dengan lama, kita belum lama bertemu dan saling mengenal, jadi wajar jika ada kesalahpahaman antara kita, asalkan kita bisa menyelesaikannya dengan baik itu bukan masalah buatku," jawab Bianca.
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Bianca. Dalam hatinya ia merasa beruntung karena ia tidak salah memilih Bianca sebagai istri sementaranya.
"Aku harap kau tidak terlalu membawa perasaanmu dalam hubungan kita yang hanya sebatas kontrak, apapun yang aku lakukan padamu hanya sebatas peran yang sudah kita sepakati," ucap Arga.
"Tenang saja, aku mengerti, kau sudah melakukan peranmu dengan baik, aku juga akan melakukan peranku dengan baik, waktu dua tahun akan terasa singkat jika kita bisa menjalankan peran kita dengan baik, benar begitu bukan?"
Arga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Meskipun ia baru bertemu dan mengenal Bianca, tak dapat dipungkiri jika Bianca memang gadis yang cantik dan menyenangkan.
Jika saja tidak ada Karina dalam hidupnya, bisa jadi ia akan dengan mudah jatuh cinta pada Bianca, tidak hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sikap dan sifatnya.
Setelah beberapa lama berkendara, Argapun mengendarai mobilnya kembali ke hotel. Arga dan Bianca kemudian bergantian masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Aku yang akan tidur di ranjang, sofa itu terlalu sempit untuk aku tidur!" ucap Arga sambil menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Jadi maksudmu aku yang harus tidur di sofa?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga yang sudah terpejam.
Tiba tiba Arga menarik tangan Bianca, membuat Bianca terjatuh tepat di atas Arga. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dengan saling menatap.
"Jika kau mau, kau bisa tidur di ranjang bersamaku," ucap Arga dengan senyum yang menggoda.
Biancapun segera beranjak dan menjauh dari Arga.
"Jangan harap itu akan terjadi," balas Bianca lalu membaringkan dirinya di atas sofa.
Ukuran sofa yang memang cukup pendek itu membuat Bianca harus menekuk kakinya. Tidur dengan posisi seperti itu di sofa yang pendek dan sempit tentu saja membuat Bianca tidak nyaman.
Namun karena terlalu lelah, Bianca bisa tertidur dengan cepat.
"Jika dipikir-pikir aku beruntung bisa bertemu denganmu malam itu, pertemuan kita yang tanpa di sengaja itu membuatku bisa terhindar dari masalah besar di hidupku," ucap Arga.
Hening, sama sekali tidak ada suara Bianca yang terdengar oleh telinga Arga.
"Bianca!" panggil Arga namun tidak ada jawaban.
"Bianca, kau sudah tidur?" tanya Arga sambil beranjak dari ranjangnya.
Arga tersenyum tipis melihat Bianca yang tampak nyenyak tertidur. Untuk pertama kalinya Arga melihat Bianca tertidur. Arga kemudian mengambil ponselnya, membawanya mendekat ke arah Bianca.
"Ini momen yang harus diabadikan," ucap Arga pelan sambil memotret Bianca yang sedang tertidur dengan mulut yang terbuka.
Seketika Arga menahan tawanya dengan menutup mulutnya saat ia melihat bagaimana Bianca tertidur dengan mulut yang terbuka.
"Bisa bisanya dia tetap cantik dengan posisi tidur yang seperti itu!" ucap Arga yang masih bisa melihat kecantikan Bianca meski tanpa make up di wajahnya.
Arga kemudian mengambil selimut dan menutup tubuh Bianca dengan selimut, sedangkan dirinya sendiri tidur di atas ranjang tanpa mengenakan selimut.
Malam yang panjang telah berlalu, Bianca mengerjapkan matanya lalu beranjak dari tidurnya. Dengan mata yang masih setengah terbuka, Bianca baru menyadari jika dirinya tidur dengan mengenakan selimut.
"Kenapa dia memberikan selimutnya padaku?" tanya Bianca dengan membawa pandangannya ke arah Arga yang masih tampak nyenyak dalam tidurnya.
Bianca kemudian melipat selimut itu, menaruhnya di atas ranjang kemudian membawa langkahnya ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Bianca membasuh dirinya di bawah guyuran air shower sampai beberapa lama hingga akhirnya ia menyadari jika dirinya lupa membawa pakaian ganti.
"Sial, aku belum membawa pakaian ganti," ucap Bianca kesal pada dirinya sendiri.
"Semoga saja Arga masih tidur," ucap Bianca kemudian mengambil handuk dan melilitkannya di tubuhnya.
Bianca kemudian membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan untuk mengintip, apakah Arga masih tertidur atau sudah terbangun.
Setelah memastikan Arga masih tertidur nyenyak, Bianca kemudian keluar dari kamar mandi.
Dengan perlahan Bianca membuka lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya. Tanpa Bianca tau, Arga yang tiba tiba terbangun begitu terkejut saat melihat Bianca yang berdiri membelakanginya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.
Handuk itu bahkan tidak cukup panjang untuk menutup bagian paha Bianca. Saat melihat Bianca yang menutup pintu lemari dengan pelan, Argapun segera memejamkan matanya untuk kembali berpura-pura tidur.
"Dia pasti sudah gila!" ucap Arga dalam hati dengan kedua mata yang terpejam.
Sedangkan Bianca kembali masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian barunya kemudian keluar untuk menyisir rambutnya yang basah seolah tidak terjadi apapun.
Arga kemudian menggeliat dan berpura-pura menguap agar Bianca tidak mencurigainya.
"Kau baru bangun?" tanya Bianca.
"Hmmmm...." balas Arga dengan hanya berdehem kemudian turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Saat Arga keluar dari kamar mandi, Arga melihat Bianca yang sedang berjongkok dengan membelakanginya.
Karena mini dress yang dipakainya cukup pendek, tanpa sadar bagian belakang Bianca semakin terlihat saat ia sedang berjongkok untuk mengambil ikat rambutnya yang terjatuh.
Arga yang melihat hal itu untuk beberapa detik membeku, namun ia segera sadar dan melemparkan handuk basah ke arah Bianca, membuat Bianca cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Arga padanya.
"Kenapa kau melemparnya padaku?" tanya Bianca kesal.
"Aku ingin handuk baru," jawab Arga sekenanya.
"Kau pikir aku staff hotelmu!" balas Bianca lalu melempar handuk itu ke arah Arga yang tengah berdiri di depan lemari.
"Ganti pakaianmu, itu sangat tidak cocok untukmu!" ucap Arga sambil melemparkan pakaian lain ke arah Bianca.
"Kenapa? bukankah kau juga membelikanku pakaian yang semacam ini?" tanya Bianca.
"Jangan banyak bertanya" balas Arga.
Bianca hanya menghela nafasnya kemudian masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian. Sebenarnya, Bianca memang sudah biasa menggunakan pakaian sedikit terbuka di depan Arga.
Meskipun itu bukan jenis pakaian kesukaannya, tetapi Bianca memakainya karena Arga membelikannya banyak pakaian semacam itu agar Bianca terbiasa untuk berpakaian feminim.
Namun setelah Arga melihat Bianca berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan handuk, membuat pikiran kotor Arga tiba tiba saja aktif.
Karena tidak ingin semakin larut dalam pikiran kotornya, Argapun meminta Bianca untuk mengenakan pakaian lain yang lebih tertutup.
Bagaimanapun juga Arga adalah laki-laki normal yang kapan saja bisa terpengaruh oleh pikiran kotornya sendiri.
"Kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Bianca.
"Ke tempat yang akan memacu adrenalinmu!" jawab Arga kemudian berjalan keluar dari kamar hotel, diikuti oleh Bianca.
Arga mengendarai mobilnya ke arah pantai dengan ombak yang cukup besar, pantai yang dikenal sebagai tempat para wisatawan melakukan selancar.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Bianca saat mereka sampai di pantai.
"Tunggu sebentar," jawab Arga kemudian pergi untuk berganti pakaian dan mengambil papan selancarnya.
Dengan bertelanjang dada, Arga membawa langkahnya ke arah Bianca sambil membawa papan selancar miliknya.
Untuk beberapa saat Bianca hanya terdiam, laki laki di hadapannya itu tiba tiba terlihat begitu menarik perhatiannya.
"Jaga pandanganmu, matamu terlihat hampir keluar hahaha....." ucap Arga yang membuat Bianca seketika mengalihkan pandangannya dari Arga.
"Aku pasti sudah gila!" batin Bianca merutuki dirinya sendiri.
"Apa yang akan kau lakukan? memangnya kau bisa berselancar?" tanya Bianca tanpa membawa pandangannya ke arah Bianca.
"Tunggu disini dan perhatian saja, jaga hatimu agar tidak jatuh cinta padaku hahaha....." jawab Arga lalu berlari pergi dengan membawa papan selancarnya.
Bianca hanya tersenyum tipis memperhatikan Arga yang sudah berjalan memasuki air. Menit menit berlalu, Bianca dibuat terkesima melihat bagaimana Arga bermain selancar dengan ombak besar yang sesekali menjatuhkannya.
__ADS_1
Tanpa ia sadar, bibirnya tersenyum mengagumi indah ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.