
Bianca hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya pelan mendengar apa yang Lola katakan.
"Itu tidak mungkin terjadi Lola, selain karena aku dan Arga sudah membuat kesepakatan, aku merasa aku bukan perempuan yang pantas untuk menjadi istrinya," ucap Bianca.
"Kenapa kau merasa seperti itu?" tanya Lola.
"Lihatlah Arga, Lola dia tampan, berasal dari keluarga kaya raya dan bahkan Arga memiliki bisnisnya sendiri yang berjalan dengan baik, pasti banyak perempuan yang setara dengannya yang menginginkannya," jawab Bianca.
"Kau tidak bisa menentukan pada siapa kau akan jatuh cinta Bianca, begitu juga dengan Arga!" ucap Lola.
"Arga yang nyaris sempurna tidak akan mungkin jatuh cinta padaku yang bukan siapa-siapa, aku hanya perempuan sebatang kara yang bahkan tidak memiliki masa depan yang pasti," balas Bianca dengan tersenyum tipis.
"Tapi bagaimana jika Arga benar-benar jatuh cinta padamu? lupakan tentang kontrak yang sudah kalian sepakati, berapapun denda yang harus Arga bayar jika dia melanggar kontrak kesepakatan itu dia pasti akan membayarnya dengan semua uang yang dia miliki!"
"Angan-anganmu terlalu jauh Lola, tidak mungkin hal itu terjadi, lagi pula aku masih menunggu kak Bara," ucap Bianca.
"Lagi-lagi kak Bara, bukankah kak Bara sudah mengabaikanmu? mungkin dia sudah memiliki kekasih di luar sana!"
"Jangan berbicara seperti itu, aku yakin kak Bara hanya sedang sibuk, walaupun sampai sekarang dia belum menghubungiku sama sekali," balas Bianca dengan menghela nafasnya.
"Lalu apa yang kau harapkan darinya Bianca? jika dia memang menyukaimu dia tidak mungkin menyampakkanmu seperti ini, sudah lebih dari 3 bulan dia sama sekali tidak menghubungimu, dia bahkan tidak menerima panggilanmu dan tidak membalas pesanmu bukan!"
Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia memang merasa seperti dicampakkan dengan tiba-tiba oleh Bara, apalagi saat dia menyadari jika ada perempuan yang sedang dekat dengan Bara.
"Tidak mungkin perempuan itu tidak dekat dengan kak Bara, dia bahkan memegang ponsel kak Bara dan menerima panggilanku, itu artinya mereka memang dekat dan....." Bianca menghentikan ucapan dalam hatinya.
Bianca hanya menghela nafasnya panjang, berusaha menghalau pikiran buruk tentang apa yang sebenarnya Bara lakukan di luar sana.
"Arga sudah berusaha menjadi suami yang baik untukmu Bianca, jadi kau juga harus berusaha menjadi istri yang baik untuknya, selama kau menjadi istri Arga kau adalah miliknya dan tidak seharusnya kau mengharapkan laki-laki lain," ucap Lola.
"Kenapa kau berlebihan sekali Lola, aku dan Arga memang menjadi suami istri tapi itu hanya sebatas kontrak dan sama sekali tidak ada cinta di antara kita berdua," balas Bianca.
"Lebih dari 3 bulan Arga menghabiskan waktunya di rumah sakit hanya untuk menemanimu, dia bahkan tidak pulang ke rumahnya sama sekali karena tidak ingin meninggalkanmu di rumah sakit, apa berlebihan jika kau juga bersikap baik padanya seperti dia bersikap baik padamu?" ucap Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.
"Apa kau serius dengan apa yang kau katakan?" tanya Bianca tak percaya.
"Untuk apa aku berbohong padamu Bianca, Arga benar-benar mengkhawatirkanmu lebih dari siapapun," jawab Lola.
Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia tidak menyangka jika Arga benar-benar menemaninya di rumah sakit selama lebih dari 3 bulan.
"Apa dia melakukan hal itu karena merasa bersalah atau karena dia ingin semua orang melihat jika dia adalah suami yang baik?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Ayo kita kembali, mereka pasti sudah menunggu!" ucap Lola membuyarkan lamunan Bianca.
Bianca menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari toilet dengan menggandeng tangan Lola.
"Jangan bosan berjalan denganku karena langkahku memang seperti siput," ucap Bianca pada Lola.
"Apa kau juga seperti ini jika bersama Arga?" tanya Lola.
"Tentu saja, aku bahkan heran kenapa dia sangat sabar menghadapiku," jawab Bianca.
"Itu karena dia mencintaimu," ucap Lola.
"Berhentilah berkata seperti itu Lola, kau menyebalkan sekali!" balas Bianca sambil memukul tangan Lola.
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang berjalan dengan terburu-buru dan tanpa sengaja menyenggol Bianca.
Bianca yang keadaan kakinya belum benar-benar pulih seketika terjatuh di lantai dengan menarik tangan Lola, membuat beberapa orang disana seketika membawa pandangan mereka pada dua gadis cantik yang terjatuh itu.
Sedangkan perempuan yang menabrak Bianca hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya ke arah toilet.
"Maafkan aku Lola, aku tidak sengaja menarik tanganmu!" ucap Bianca pada Lola.
"Apa kau baik-baik saja Bianca? apa kau bisa berdiri?" tanya Lola mengkhawatirkan Bianca.
Di sisi lain, Arga yang melihat hal itu segera beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Bianca.
"Apa kau bisa berdiri Bianca?" tanya Arga pada Bianca yang masih duduk dengan memegangi kakinya.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya lalu berusaha untuk berdiri dengan memegang tangan Lola dan Arga.
__ADS_1
Namun karena tidak bisa menjaga keseimbangannya, Bianca hampir saja terjatuh sebelum ia bisa berdiri dengan tegak, beruntung Arga bisa dengan sigap menahan Bianca.
Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca lalu membawa Bianca untuk duduk di kursi.
"Ada apa Lola? kenapa Bianca bisa terjatuh?" tanya Arga pada Lola.
"Ada perempuan yang menabraknya, tetapi perempuan itu malah pergi sebelum dia meminta maaf pada Bianca, menyebalkan sekali!" jawab Lola.
"Dimana dia sekarang?" tanya Arga.
"Dia pergi ke toilet," jawab Lola yang membuat Arga segera beranjak dari duduknya namun dengan cepat ditahan oleh Bianca.
"Kau mau kemana Arga?" tanya Bianca dengan menahan tangan Arga.
"Tentu saja menemui perempuan yang menabrakmu, dia harus meminta maaf padamu," jawab Arga dengan emosi.
"Duduklah, kau tidak perlu melakukan hal itu, lagi pula dia hanya menyenggolku sedikit, aku saja yang tidak bisa menjaga keseimbanganku dan terjatuh!" ucap Bianca.
"Setidaknya dia harus meminta maaf karena sudah membuatmu terjatuh Bianca," balas Arga sambil menarik tangannya dari Bianca lalu berjalan cepat ke arah toilet.
"Lola tolong tahan Arga, cepatlah aku tidak ingin dia membuat keributan disini!" ucap Bianca pada Lola yang membuat Lola segera berlari mengejar Arga.
Namun bukannya menghentikan Arga, Lola justru memberitahu Arga siapa perempuan yang sudah menabrak Bianca.
Arga kemudian menarik tangan perempuan itu dengan kasar dan menyeretnya ke arah Bianca.
Bianca yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dengan menghela nafasnya karena ia sudah tidak bisa menahan apa yang Arga lakukan.
"Minta maaf padanya sekarang juga!" ucap Arga pada perempuan itu dengan tetap mencengkeram tangannya.
"Apa-apaan ini, kenapa aku harus meminta maaf padanya?" tanya perempuan itu sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Arga.
"Kau sudah menabraknya dan membuatnya terjatuh, apa itu bukan alasan yang cukup untuk membuatmu harus meminta maaf padanya?" balas Arga.
"Sepertinya aku hanya menyentuhnya sedikit, dia saja yang sangat lemah!" ucap perempuan itu sambil membawa pandangannya pada Bianca dengan pandangan tak suka.
"Jadi kau tidak akan meminta maaf padanya?" tanya Arga dengan semakin erat mencengkeram tangan perempuan itu.
"Apa kau memaafkannya Bee?" tanya Arga pada Bianca.
"Iya aku memaafkannya, biarkan dia pergi," jawab Bianca tanpa ragu.
Argapun melepaskan tangannya dari perempuan itu dan tanpa menunggu lama perempuan itupun segera pergi dengan menggerutu.
"Kau sangat berlebihan Arga, kau membuatnya malu di depan semua orang!" ucap Bianca pada Arga.
"Dia yang sudah keterlaluan karena membuatmu terjatuh dan tidak meminta maaf padamu," balas Arga.
"Perempuan seperti itu memang harus diberi pelajaran Bianca!" sahut Lola.
"Aku setuju," balas Daffa.
**
Hari-hari telah berlalu, Arga semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Bianca. Biancapun mulai terbiasa dengan semua perhatian Arga padanya.
Meskipun begitu, Bianca belum menyadari jika apa yang Arga lakukan adalah usaha Arga untuk membuat Bianca jatuh cinta padanya.
Meskipun Bianca sering merasa berdebar saat bersama Arga, namun Bianca selalu menepis semua perasaan aneh yang ia rasakan dalam hatinya.
Bianca masih menunggu kabar dari Bara, meskipun sampai detik itu juga Bara sama sekali belum menghubunginya, bahkan belum membalas pesan yang terakhir Bianca kirim.
Bagi Bianca tidak ada laki-laki yang lebih baik untuk menjadi masa depannya selain Bara, entah kenapa ia merasa hatinya telah tertutup selain untuk Bara.
Satu tahun pernikahannya dengan Arga sudah dilaluinya dengan banyak hal yang terjadi, kini ia semakin mengenal Arga dan Argapun semakin mengenal dirinya.
Tetapi hal itu tidak membuat Bianca menjatuhkan hatinya pada Arga, karena baginya Arga hanyalah laki-laki yang singgah untuk sementara dalam hidupnya.
Meskipun terikat oleh pernikahan tetapi Bianca menganggap hubungan mereka hanya sebatas kontrak yang sudah mereka berdua sepakati.
Bagi Bianca, dirinya dan Arga sangat berbeda dunia, Arga yang nyaris sempurna sudah seharusnya mendapatkan perempuan yang sama sempurnanya dengannya, sangat berbeda dengan dirinya yang hanya seorang gadis sebatang kara tanpa masa depan yang pasti.
__ADS_1
Meskipun begitu Bianca masih menjaga hubungan baiknya dengan Arga, bagaimanapun juga ia adalah istri Arga sampai kontrak mereka berakhir.
Perhatian yang Arga berikan pada Bianca membuat Bianca lebih membuka dirinya pada Arga, membuat keduanya saling memberikan perhatian meskipun Bianca belum menyadari cinta yang hadir dalam hubungan mereka berdua.
Di sisi lain, Clara yang masih mengejar Arga tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Arga, meskipun ia tahu jika Arga tidak pernah menoleh sedikitpun padanya.
Entah kenapa perempuan cantik itu sangat tergila-gila pada Arga yang dinilainya sebagai sosok laki-laki sempurna yang pantas untuk bersanding dengannya dibanding dengan laki-laki lain yang dekat dengannya.
Karena melihat Arga yang semakin menunjukkan kemesraannya dengan Bianca, Clara seolah sudah kehilangan cara untuk bisa merebut Arga.
Alhasil Clarapun melakukan pilihan terakhirnya, yaitu memberitahu orang tua Arga tentang apa yang ia ketahui tentang hubungan Arga dan Karina.
Sore itu Clara mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tua Arga dan bertemu Nadine disana.
"Tante senang melihat karirmu yang semakin bersinar Clara, tante bangga padamu!" ucap Nadine pada Clara yang baru saja pulang dari luar negeri untuk urusan pekerjaan.
"Terima kasih Tante," balas Clara senang.
"Ada apa kau tiba-tiba kesini tanpa mengabari tante, Clara?" tanya Nadine.
"Clara kesini karena ingin memberitahu tante, Clara tidak tahu apakah tante akan mempercayai Clara atau tidak, tapi Clara merasa harus memberitahukan hal ini," jawab Clara.
"Apa maksudmu Clara? katakan saja pada tante!"
"Sebenarnya Clara pernah melihat Arga bersama Karina, mereka berdua mengunjungi klinik psikiatri Tante," ucap Clara yang membuat Nadine begitu terkejut.
"Mungkin kau hanya salah paham Clara, tidak mungkin Arga bersama Karina," balas Nadine yang berusaha untuk tetap tenang.
"Sebenarnya Clara melihatnya sudah lama, tetapi Clara baru berani memberitahukan hal ini karena Arga yang mengancam Clara jika Clara memberitahu hal ini pada tante," ucap Clara berusaha meyakinkan Nadine.
"Apa kau menceritakan tentang hal ini pada orang lain?" tanya Nadine.
"Tidak Tante, Clara baru memberitahu Tante," jawab Clara.
"Kalau begitu simpan saja cerita ini untukmu sendiri, jangan memberitahu orang lain apalagi Bianca, tante tidak ingin Bianca salah paham dan membuat rumah tangga mereka berantakan," ucap Nadine.
"Tapi apa Tante akan membiarkan Arga tetap berhubungan dengan Karina? mereka....."
"Tante tahu maksudmu baik dengan memberitahu hal ini pada tante, tapi Tante percaya pada Arga, meskipun dulu dia berhubungan diam-diam dengan Karina tetapi tante yakin jika Arga sudah mengakhiri semuanya sekarang," ucap Nadine memotong ucapan Clara.
"Bagaimana jika ternyata mereka masih berhubungan tante?" tanya Clara.
"Tante mempercayai Arga lebih dari siapapun Clara, tante yakin Arga tidak akan mengecewakan tante dan tante yakin dia pasti bertanggung jawab dengan pernikahannya," jawab Nadine.
"Tapi Tante...."
"Tante mengerti kau masih menyukai Arga, mungkin sulit untuk melupakannya apalagi tante sendiri yang memintamu untuk mendekati Arga, tapi semuanya sudah berlalu Clara, Arga sudah memiliki Bianca jadi tante mohon lupakan perasaanmu padanya," ucap Nadine memotong ucapan Clara.
Clara hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia tidak menyangka jika Nadine akan mengatakan hal itu padanya.
Clara kemudian berpamitan untuk pulang dengan rasa kesal dalam dirinya karena tidak berhasil untuk mempengaruhi Nadine.
Sepeninggalan Clara, Nadine segera menghubungi Arga, meminta Arga untuk datang ke rumahnya setelah Arga pulang dari kantor untuk memastikan tentang apa yang Clara katakan padanya.
**
Di tempat lain, Bianca sedang bersama Lola, mereka berada di kafe tempat Bianca pernah bekerja.
"Apa kau akan mengantarku pulang setelah ini?" tanya Lola pada Bianca setelah mereka mendapatkan kue yang mereka pesan.
"Tentu saja, aku sudah menjemputmu dari kantor jadi aku juga harus mengantarmu pulang," jawab Bianca.
Saat baru saja melewati pintu kafe, Bianca tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ia melihat gadis cantik yang berjalan memasuki kafe.
Bianca tersenyum sambil melambaikan tangannya pada gadis cantik itu. Mereka kemudian berpelukan sambil menanyakan kabar masing-masing.
"Kenalkan ini temanku, Lola," ucap Bianca gadis cantik itu.
"Karina," ucap Karina sambil mengulurkan tangannya pada Lola.
Lola hanya tersenyum tipis sambil menerima uluran tangan Karina tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
Lola berusaha untuk menggali ingatannya tentang perempuan yang ada di hadapannya saat itu, karena entah mengapa ia merasa seperti pernah melihat perempuan itu.