Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kepanikan Arga


__ADS_3

Arga segera berjalan keluar dari ruangannya setelah ia menyadari jika Bianca sedang dalam bahaya.


"Ini berkas yang harus kau tanda tangani dan ini......"


"Letakkan saja di mejaku, aku harus pergi," ucap Arga memotong ucapan Daffa.


"Kau mau kemana? bukankah kita ada pertemuan setelah ini?" tanya Daffa.


"Batalkan saja," jawab Arga sambil berlari meninggalkan Daffa begitu saja.


Arga mengendarai mobilnya ke arah tempat kos Lola, tempat dimana pak Dodi meninggalkan Bianca disana.


Sesampainya Arga disana, ia hanya bertemu dengan Lola yang sedang duduk di depan tempat kosnya.


"Arga, kenapa kau kesini?" tanya Lola yang terkejut dengan kedatangan Arga.


"Dimana Bianca?" balas Arga bertanya.


"Aku tidak tahu, justru dari tadi aku menunggunya disini," jawab Lola.


"Apa dia tidak mengatakan apapun padamu?" tanya Arga.


"Dia hanya berkata ingin bertemu denganku dan menungguku disini, tapi dari tadi dia belum datang juga," jawab Lola.


"Apa disini ada CCTV?" tanya Arga sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari letak CCTV di sekitar tempat kos Lola.


"Tidak ada, memangnya kenapa? apa terjadi sesuatu pada Bianca?" tanya Lola khawatir.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya," jawab Arga lalu segera berlari ke arah toko yang berada di sebrang tempat kos Lola.


Beruntung, disana ada CCTV yang mengarah ke arah tempat parkir yang kemungkinan sedikit mengarah ke depan tempat kos Lola.


Setelah perdebatan panjang, akhirnya Arga diperbolehkan untuk melihat rekaman CCTV dengan beberapa lembar uang yang ia berikan pada penjaga toko itu.


Melalui rekaman CCTV itu Arga bisa melihat saat Bianca datang bersama pak Dodi, namun tak lama kemudian pak Dodi pergi meninggalkan Bianca.


Tak berselang lama terlihat sebuah mobil tampak berhenti di depan tempat kos Lola, namun tidak terlihat apa yang terjadi setelah itu tapi yang pasti Bianca sudah tidak terlihat lagi setelah mobil itu pergi.


Arga kemudian mencatat plat nomor mobil itu kemudian meminta seseorang untuk melacaknya.


Bersamaan dengan itu Arga memberi tahu Daffa jika Bianca menghilang. Ia meminta Daffa untuk menghandle semua pekerjaannya sampai ia bisa menemukan Bianca.


Beberapa lama Arga menghabiskan waktunya di sekitar tempat kos Lola untuk mencari CCTV lain yang mengarah ke depan tempat kos Lola.


Namun tidak ada petunjuk lain selain mobil hitam yang pertama kali dilihatnya melalui CCTV toko di sebarang tempat kos Lola.


Saat tengah berjalan untuk mencari CCTV, Arga mencoba untuk menghubungi Bianca, namun tiba tiba ia mendengar suara dering ponsel yang berada tidak jauh darinya.


Arga kemudian mengikuti sumber suara dering ponsel yang ia dengar dan mendapati ponsel Bianca yang tergeletak di jalanan sempit yang ada di dekat tempat kos Lola.


"Ponselnya ada disini, itu artinya dia berlari kesini dan......."


Arga menghentikan ucapannya saat ia melihat CCTV lain yang mengarah ke arah gang sempit itu.


Dengan segala macam cara Arga berusaha untuk mendapatkan rekaman tentang keberadaan Bianca dan dari beberapa rekaman CCTV yang Arga lihat dari beberapa tempat yang berbeda, mobil hitam yang ia curigai itu sempat berhenti di ujung gang kemudian melaju cepat mengarah ke perbatasan kota.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp biiiipp


Ponsel Arga berdering, orang suruhan Arga memberi tahu Arga jika plat nomor mobil itu tidak terdaftar, jadi sulit untuk mencari tahu siapa pemilik mobil itu.


Namun orang itu bisa memberi tahu Arga kemana arah mobil itu pergi. Argapun segera mengendarai mobilnya pergi ke arah mobil hitam mencurigakan itu pergi.


Arga juga meminta beberapa orang suruhannya untuk pergi ke tempat yang sama dengannya. Arga meminta mereka untuk menyebar agar lebih mudah menemukan Bianca.


Arga sengaja tidak melaporkan kejadian itu pada pihak kepolisian karena ia tidak ingin membuat keributan atas berita hilangnya istrinya.


**


Di sisi lain, Bianca yang baru saja tersadar dari pingsannya begitu terkejut karena ia merasa kesulitan membuka matanya.


Dengan sedikit pergerakan Biancapun akhirnya bisa membuka matanya, namun hanya gelap yang terlihat olehnya.


"Kau sudah sadar rupanya, tunggu saja, sebentar lagi bos akan datang!" ucap salah satu pria yang menyadari pergerakan Bianca.


"Mereka menutup mataku, siapa mereka sebenarnya? dan siapa bos yang mereka maksud? sepertinya aku sudah tidak punya masalah dengan siapapun, Arga bahkan sudah memberikan lebih dari 50 miliar untuk melunasi hutang papa!" batin Bianca bertanya dalam hati.


Tak lama kemudian Bianca mendengar suara langkah kaki yang seperti baru saja memasuki ruangan itu. Langkah kaki itu terdengar pelan namun tegas.

__ADS_1


Hingga tiba tiba sebuah tangan menyentuh pipi Bianca, membuat Bianca begitu terkejut dan segera mengalihkan wajahnya.


Kedua kaki dan tangan yang terikat, membuat Bianca tidak bisa banyak melakukan pergerakan saat itu.


"Akhirnya kita bertemu lagi cantik," ucap pria di hadapan Bianca.


Bianca yang mulutnya ditutup lakban hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Ia hanya bisa berharap akan ada seseorang yang datang membantunya, meskipun itu sedikit mustahil bagi Bianca.


Tiba tiba.....


KRAAAAAKKKKKKK


Pria itu membuka lakban di mulut Bianca dengan kasar, membuat Bianca meringis kesakitan dengan kedua mata yang masih tertutup.


"Siapa kau? apa yang kau mau dariku?" tanya Bianca.


"Siapa aku? kau akan tau nanti saat kita sudah berada di atas ranjang hahaha....." jawab pria itu dengan tertawa puas.


"Jangan macam-macam denganku, suamiku tidak akan tinggal diam jika dia tau apa yang kau lakukan padaku!" ucap Bianca berusaha menyembunyikan ketakutannya.


"Suamimu? maksudmu Arga Narendra? apa kau pikir dia akan datang kesini dan menolongmu? jangan harap sayang, dia tidak akan bisa datang kesini," balas pria itu sambil membelai wajah Bianca.


"Kau akan benar benar hancur jika kau berani menyentuhku!" ucap Bianca penuh emosi lalu meludah ke arah depan tanpa ia bisa melihat pria di hadapannya.


Pria itupun begitu emosi dengan apa yang baru saja Bianca lakukan padanya. Tanpa ragu, iapun segera melayangkan tamparannya pada Bianca.


PLAAAAAKKKKK


Tamparan keras menggema di ruangan kosong itu. Namun hal itu tidak membuat Bianca gentar, ia berusaha untuk terus melawan pria di hadapannya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel pria itu berdering, ada hal penting yang membuatnya harus menunda rencananya untuk "bersenang-senang" bersama Bianca.


"Aku akan memberimu waktu untuk beristirahat," ucap pria itu kemudian berjalan pergi.


"Pastikan dia tetap seperti itu, aku akan kembali kesini nanti malam!" ucap pria itu pada beberapa pria suruhannya.


Pria itu kemudian pergi, meninggalkan Bianca bersama beberapa pria lainnya.


Para pria itu hanya tertawa tidak mempedulikan ucapan Bianca.


"Aku serius, suamiku adalah Arga Narendra, dia bisa memberi kalian berapapun yang kalian minta!" ucap Bianca berusaha meyakinkan para pria itu.


"Sudahlah, diam saja dan jangan banyak bicara!" balas salah satu pria itu.


"Sial, kenapa mereka sama sekali tidak terpengaruh, aku memang tidak berbakat seperti Arga!" batin Bianca kesal dalam hati.


Bianca pikir, ia bisa lolos dari para pria itu dengan cara yang sama seperti yang pernah Arga lakukan. Namun ternyata ia salah, para pria itu tetap tidak mau melepaskannya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mungkin berdiam diri menunggu bantuan!" batin Bianca bertanya dalam hati sambil memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.


"Aaahhh aku tau!" batin Bianca dengan tersenyum senang.


Bianca kemudian menggerakkan kedua kakinya seperti sedang menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan dengan cepat.


"Diamlah, jangan berisik!" bentak salah satu pria itu.


"Aku ingin buang air kecil, apa disini ada toilet?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Toilet? ini bangunan kosong di hutan, tidak ada toilet disini!" jawab salah satu pria yang membuat Bianca begitu terkejut.


"Hutan? mereka membawaku ke hutan? astaga, apa yang harus aku lakukan, siapa yang akan menolongku disini!" batin Bianca panik.


"Tapi aku benar benar ingin buang air kecil, aku tidak bisa menahannya lagi, apa aku harus melakukannya disini?"


"Tunggu, tunggu dulu!" ucap salah satu pria.


"Bagaimana ini?" tanya pria itu pada temannya yang lain.


"Kita tidak mungkin membiarkannya melakukan hal itu disini, pasti bos akan sangat marah jika melihatnya bau!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan? apa mungkin kita melepaskan ikatannya?" tanya pria yang lain.


"Hei, cepatlah, ini sudah sedikit keluar, aku benar benar tidak bisa menahannya lagi sekarang!" ucap Bianca yang membuat para pria itu semakin panik.


"Tidak ada pilihan, kita harus membiarkannya melakukan hal itu di luar," ucap salah satu pria yang kemudian melepaskan tali yang mengikat di kaki dan tangan Bianca serta penutup mata Bianca.

__ADS_1


"Jangan coba coba untuk kabur, tempat ini jauh dari jalan raya dan pemukiman, lagipula di depan gedung ini sudah ada banyak orang yang berjaga!" ucap salah satu pria pada Bianca.


"Aku hanya ingin buang air kecil, dimana toiletnya?"


"Tidak ada, kau harus melakukannya disana!" jawab salah satu pria sambil menunjuk ke arah semak semak yang ada di dekat bangunan itu.


"Kau gila!" bentak Bianca.


"Tidak ada toilet ataupun air disini, cepat pergi kesana, kita akan menunggumu disini!" ucap salah satu pria itu.


"Kalian benar benar keterlaluan!" ucap Bianca kemudian berjalan keluar dari ruangan itu bersama seorang pria yang mengantarnya.


Benar saja, ternyata banyak pria lain yang berjaga di tempat itu. Bahkan ada 2 orang pria yang berjaga di depan pintu masuk dan beberapa pria lainnya tampak berjaga di gerbang tinggi yang sudah tampak korosi itu.


"Tempat apa ini dan dimana aku sebenarnya?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Cepatlah, tidak ada gunanya memperhatikan tempat ini, ada banyak penjaga yang berjaga disini!" ucap pria yang bersama Bianca.


Bianca hanya diam kemudian berjalan ke arah semak semak.


"Tunggu disana, jangan mengintipku atau aku akan mengadukannya pada bosmu!" ucap Bianca ngancam.


Pria itupun berdiri dibalik dinding, sedangkan Bianca berjalan memasuki semak semak. Meskipun tidak sedang buang air kecil, tetapi Bianca berjongkok di semak semak itu sembari berpikir apa yang harus ia lakukan.


"Sepertinya aku berada di ujung bukit," ucap Bianca dalam hati sambil membawa pandangannya ke arah jurang yang ada di dekatnya.


"Ini cukup tinggi, aku tidak mungkin menjatuhkan diriku kesana," batin Bianca sambil memperhatikan jurang curam di dekatnya.


Namun tiba tiba Bianca membelalakkan matanya saat ia menyadari jika ada jalan beraspal yang berada di bawah jurang curam itu.


Bianca kemudian melihat ke arah pria yang mengikutinya untuk memastikan apakah pria itu memperhatikannya atau tidak.


"Dia tidak melihatku, ini satu satunya kesempatan yang aku punya, meskipun jurang itu cukup curam, tapi aku tidak akan mati bukan jika aku menggelinding ke bawah?" batin Bianca sambil memperhatikan jurang di dekatnya.


"Hei cepatlah!" ucap pria itu membuyarkan lamunan Bianca.


"Iya sebentar, aku sedang mencari daun yang basah," balas Bianca beralasan.


"Oke Bianca, kau hanya perlu menggelinding ke bawah, ini akan menyenangkan, pasti menyenangkan!" ucap Bianca dalam hati lalu memantapkan dirinya untuk benar benar menggelinding ke bawah jurang.


Bianca berusaha untuk tidak bersuara saat dirinya semakin menggelinding ke bawah. Tanaman tanaman rambat yang ada disanapun mulai melukai beberapa bagian tubuh Bianca.


Bahkan beberapa kali kepala Bianca sempat menghantam bebatuan, hingga akhirnya ia berhasil mendarat di bagian paling bawah jurang itu.


Dengan rasa pusing yang membuat kepalanya berputar, Bianca berusaha untuk tetap tersadar.


Dengan sisa tenaganya yang ada, Bianca beranjak dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Itu jalannya, aku harus pergi ke jalan itu!" ucap Bianca dalam hati sambil membawa langkanya ke arah jalanan beraspal yang berada beberapa meter di depannya.


Dengan langkah yang tertatih-tatih karena luka di kakinya, Bianca berjalan dengan memegangi kepalanya hingga ia sadar jika ada sesuatu yang basah merembes di kepalanya.


Bianca kemudian melihat tangannya yang sedari tadi memegang kepalanya.


"Sepertinya kepalaku berdarah," ucap Bianca lalu kembali memegangi kepalanya dengan langkah yang tertatih.


"Tidak mungkin Arga melewati jalan ini, tidak mungkin dia mencariku sampai kesini, tapi aku masih berharap jika dia akan datang dan......"


Bianca menghentikan ucapannya. Kepalanya semakin terasa sakit bersama darah yang sudah benar benar membasahi seluruh tangan kanannya hingga menetes ke sikunya.


Di sisi lain, pria yang menunggu Bianca baru sadar jika Bianca sudah tidak ada di tempatnya. Iapun segera melapor pada teman temannya yang lain.


Tak lama kemudian, tiba tiba bos mereka datang dengan penuh senyum.


"Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan cepat, aku sudah tidak sabar untuk bersenang-senang dengannya," ucap bos itu sambil membawa langkahnya masuk.


"Maaf bos, kita kehilangan perempuan itu," ucap salah satu pria yang membuat si bos meradang.


"Apa maksudmu? bagaimana mungkin kau kehilangan dia? bukankah sudah ada penjagaan di gerbang dan di depan pintu?"


Salah satu pria itupun menjelaskan apa yang baru saja terjadi dan tanpa ragu bos itupun melayangkan pukulannya pada beberapa pria di hadapannya.


"Bodoh, kalian benar benar bodoh sekali!"


"Maaf bos, kita tidak tahu jika dia akan nekat menjatuhkan diri ke jurang!" ucap salah satu pria itu.


"Sekarang cepat tinggalkan tempat ini, sebelum itu bereskan semuanya dan pastikan tidak ada jejak apapun yang tertinggal!" ucap si bos kemudian mengendarai mobilnya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2