
Hari telah berganti, Arga mengerjapkan matanya dan begitu terkejut saat ia menyadari jika ia terlambat bangun.
Argapun segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Tidak seperti biasanya, hari itu Arga tidak membuat sarapan untuk Karina, ia juga tidak membantu Karina membersihkan dan mengobati luka di kepalanya.
Dengan terburu-buru Arga segera masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Karina.
Sesampainya di kantor, Arga segera mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena konsentrasinya yang hilang akibat ucapan Daffa padanya tentang Bianca.
"Hari ini aku harus bisa fokus menyelesaikan pekerjaanku, sejak kapan aku menjadi tidak profesional seperti ini? ini sama sekali bukan gayaku!" ucap Arga lalu memulai kesibukannya dengan beberapa berkas yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Waktu berlalu dan Arga baru menyadari jika ada satu berkasnya yang tertinggal di rumah Karina.
Di sisi lain Karina yang baru terbangun dari tidurnya cukup terkejut saat ia menyadari jika Arga sudah tidak berada di rumahnya.
Karina bahkan memastikannya dengan memeriksa mobil Arga yang sudah tidak ada di halaman rumahnya.
"Dia benar-benar sudah pergi rupanya, kenapa dia tidak membangunkanku? dia juga tidak membuat sarapan untukku!"
Karina menghela nafasnya kesal lalu membawa pandangan menatap barang-barang Arga yang ada di meja ruang tamu.
Matanya tertuju pada sebuah map yang terjatuh di lantai, Karina kemudian mengambilnya dan membukanya.
"Sepertinya dia terburu-buru, mungkin aku harus pergi ke kantornya untuk memberikan berkas ini!" ucap Karina.
Karina kemudian kembali masuk ke kamarnya, mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor Arga dengan membawa berkas Arga yang terjatuh di lantai.
Sesampainya di kantor Arga, Karina segera membawa langkahnya memasuki lift ke lantai 7, tempat ruangan Arga berada.
Setelah lift berhenti di lantai 7, tanpa ragu Karina berjalan ke arah ruangan Arga. Namun tiba-tiba seseorang menarik tangan Karina dengan kasar dan membawa Karina menjauh dari ruangan Arga.
"Daffa, apa yang kau lakukan?" tanya Karina sambil menarik tangannya dari Daffa.
"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini?" balas Daffa bertanya.
"Aku kesini untuk bertemu dengan Arga, bukan denganmu," ucap Karina lalu membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari hadapan Daffa, namun dengan cepat Daffa menahannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menemui Arga!" ucap Daffa dengan tatapan tajam pada Karina.
"Aku menemui Arga untuk memberikan berkas ini, bukan untuk hal lain," balas Karina sambil menunjukkan berkas yang ia bawa.
Daffapun segera merebutnya lalu membuka isi berkas itu dan membacanya.
"Kenapa berkas ini bisa ada padamu?" tanya Daffa.
Karina tersenyum tipis lalu membawa kakinya mendekat satu langkah pada Daffa. Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke dalam mata Daffa dengan tatapan tajam.
"Sebaiknya kau tanyakan saja pada Arga, kenapa berkas itu bisa ada padaku, sepertinya temanmu yang bodoh itu belum bisa melupakanku, bahkan setelah dia menikah!" ucap Karina dengan penuh senyum.
"Jaga ucapanmu Karina, mungkin Arga memang sedang berada di rumahmu selama beberapa hari ini, tapi aku pastikan kebodohan Arga akan segera berakhir, aku yakin lambat laun dia akan benar-benar melupakanmu dan saat itulah dia akan sadar jika perempuan sepertimu sama sekali tidak pantas untuknya," balas Daffa.
"Kita lihat saja sejauh mana kegilaan Arga untuk bisa mendapatkanku kembali!" ucap Karina lalu berjalan meninggalkan Daffa begitu saja.
Daffa hanya menghela nafasnya kasar lalu berjalan ke arah ruangan Arga dengan membawa berkas yang Karina bawa.
Tanpa mengetuk pintu Daffa masuk ke ruangan Arga lalu melempar berkas itu di meja kerja Arga.
"Apa maksudmu Daffa? dimana sopan santunmu?" tanya Arga yang terkejut sekaligus kesel dengan sikap Daffa.
Daffa hanya diam tanpa mengatakan apapun, membiarkan Arga memeriksa isi berkas yang ada di hadapannya.
"Kenapa berkas ini bisa ada padamu?" tanya Arga setelah ia memeriksa berkas yang baru saja Daffa lemparkan padanya.
Lagi-lagi Daffa hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Apa Karina baru saja kesini? apa Karina yang memberikan berkas ini padamu?" tanya Arga.
"Jika kau terus mengejarnya aku pastikan kau akan benar-benar menyesal Arga!" ucap Daffa tanpa menjawab pertanyaan Arga lalu berjalan keluar dari ruangan Arga begitu saja.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya dengan kasar setelah melihat sikap Daffa padanya.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang saat Arga meninggalkan meja kerjanya.
Arga berjalan ke arah pantry untuk membuat minuman yang bisa menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
Namun saat ia baru saja memasuki pantry, ia mendapati Daffa yang sedang mengobrol melalui sambungan ponselnya.
"Terima kasih banyak Bianca, kau memang bisa diandalkan!" ucap Daffa yang bisa terdengar dengan jelas oleh Arga.
Arga hanya terdiam di tempatnya berdiri, mendengarkan semua percakapan Daffa dengan Bianca.
__ADS_1
Sesekali Daffa tampak tertawa dan melontarkan candaan konyolnya pada Bianca. Karena sudah terlalu kesal mendengar semua ucapan Daffa pada Bianca, Arga akhirnya dengan sengaja membanting pintu pantry dengan keras.
Daffa yang begitu terkejutpun segera membawa pandangannya ke arah pintu masuk pantry dan mendapati Arga yang sedang berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang tampak begitu kesal.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Daffa lalu mengakhiri panggilannya pada Bianca.
Daffa hanya tersenyum tipis sambil menyeruput minumannya, memperhatikan Arga yang tampak sedang membuat minuman di hadapannya.
"Apa kau tahu jika perempuan yang kau goda itu adalah istri temanmu?" tanya Arga sambil mengaduk minuman yang baru saja ia buat.
"Apa kau baru saja menguping pembicaraanku dengan Bianca?" balas Daffa bertanya.
"Aku mendengarnya bukan menguping," ucap Arga dengan raut wajah menegang menahan emosi yang ada dalam dadanya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau masih tergila-gila pada Karina yang sudah jelas-jelas meninggalkanmu, padahal ada Bianca dalam kehidupan barumu, Bianca yang jauh lebih cantik dan menyenangkan daripada Karina," ucap Daffa.
Arga hanya terdiam sambil meneguk minuman yang baru saja ia buat, mendengar ucapan Daffa membuatnya semakin kesal pada Daffa.
"Apa kau tahu Bianca adalah tipe perempuan yang diincar banyak laki-laki, setelah kontrakmu berakhir dengannya aku yakin dia akan lebih bahagia dan menemukan laki-laki yang tepat untuknya!" ucap Daffa lalu berjalan keluar dari pantry.
Sedangkan Arga masih berada di tempatnya dengan mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalannya pada Dafa.
"Dia benar-benar ingin merebut Bianca dariku, dia memang laki-laki brengsek, seharusnya aku tidak berteman terlalu dekat dengannya," ucap Arga dalam hati dengan kekesalan yang sudah memenuhi dirinya.
**
Waktu berlalu, Arga sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Arga meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah rumah Karina.
Sesampainya disana Arga segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel miliknya.
"Arga, kau sudah pulang? aku...."
"Sepertinya keadaanmu sudah membaik, itu artinya aku harus pulang!" ucap Arga memotong ucapan Karina.
"Apa kau akan meninggalkanku?" tanya Karina yang berdiri tepat dihadapan Arga.
Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu memegang kedua bahu Karina dan menatapnya dengan tatapan mata yang begitu dalam.
"Kau yang meninggalkanku Karina, bukan aku," ucap Arga lalu meraih tas ranselnya dan membawanya keluar dari rumah Karina.
Karinapun segera berlari mengejar Arga, menahan tangan Arga lalu memeluk Arga dari belakang.
Mendapat pelukan dari Karina yang tiba-tiba membuat Arga terdiam mematung. Gadis yang dicintainya itu tiba-tiba saja memberikan angin sejuk pada hatinya yang sudah lama tandus.
Arga kemudian membalikkan badannya dan membawa Karina ke dalam dekapannya.
"Jaga dirimu baik-baik Karina, jangan biarkan Bian menyakitimu lagi," ucap Arga dengan masih memeluk Karina.
"Apa aku tetap bisa menghubungimu jika aku membutuhkanmu? aku tidak punya siapapun yang bisa membantuku selain kau Arga!"
"Seperti yang selalu aku katakan padamu Karina, aku akan selalu ada untukmu, kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkanku," balas Arga.
Karina kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Arga lalu dengan cepat memberikan kecupan singkatnya tepat di pipi Arga.
"Terima kasih Arga!" ucap Karina dengan penuh senyum.
Seketika Arga membeku di hadapan Karina, ia tidak menyangka jika Karina akan melakukan hal itu padanya, terlebih saat Karina sudah memiliki Bian sebagai tunangannya.
"Pulanglah, istrimu pasti sudah menunggumu di rumah!" ucap Karina membuyarkan lamunan Arga.
"Iya.... aku... aku pergi dulu!" ucap Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Karina.
Arga kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Karina untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Arga melihat Bianca yang sedang menikmati acara TV di ruang tengah.
Bianca yang melihat kedatangan Arga hanya diam tanpa bertanya atau mengatakan apapun pada Arga.
"Dia masih tidak peduli padaku, dia bahkan sama sekali tidak menoleh padaku saat aku melewatinya!" ucap Arga kesal dalam hati.
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamarnya, menaruh tas ranselnya di lantai lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Astaga apa yang sebenarnya terjadi padaku? sepertinya aku terlalu memikirkan Bianca karena ucapan Daffa kemarin, kenapa aku harus peduli jika Bianca sama sekali tidak memperdulikanku, bukankah dari awal dia memang tidak pernah peduli padaku!"
Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Di bawah guyuran air shower Arga masih memikirkan kebodohannya yang terlalu berlebihan memikirkan Bianca dan Daffa.
"Sebenarnya aku tidak peduli apakah Daffa menyukai Bianca atau tidak, aku juga tidak peduli jika mereka ternyata memiliki hubungan di belakangku, tapi aku yakin itu tidak mungkin terjadi karena aku tahu sudah ada laki-laki lain yang Bianca sukai," ucap Arga.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Arga membasuh wajahnya di wastafel, ia menatap wajah tampannya pada pantulan cermin di hadapannya.
"Aku lebih tampan daripada Daffa, kalaupun Bianca menyukai laki-laki lain selain Bara, laki-laki itu pasti aku bukan Daffa," ucap Arga penuh percaya diri.
Di sisi lain Bianca sedang menikmati makan malamnya di meja makan, tiba-tiba Arga datang lalu duduk di dekatnya.
"Kau selalu makan malam tanpa mengajakku!" ucap Arga sambil menyendok nasi ke atas piringnya.
"Selama aku tinggal disini aku lebih sering makan malam sendiri karena kau yang jarang makan malam di rumah," balas Bianca.
"Mulai sekarang kau tidak boleh makan malam sendiri, kau harus menungguku!" ucap Arga.
"Kenapa?" tanya Bianca.
"Jangan banyak bertanya, kau hanya harus melakukan apa yang aku katakan!" balas Arga.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari Lola, Biancapun segera membuka pesan itu lalu seketika terkekeh setelah ia membaca pesan Lola tentang hal lucu yang Lola ceritakan padanya.
"Apa kau tahu jika berhubungan dengan laki-laki lain saat kau sudah memiliki suami itu dinamakan perselingkuhan?" tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
"Berhubungan seperti apa yang kau maksud?" balas Bianca bertanya.
"Apapun itu, bahkan sekedar saling berkirim pesan itu sudah termasuk dalam perselingkuhan," jawab Arga.
"Perselingkuhan itu hanya ada dalam pernikahan sungguhan, bukan pernikahan kontrak seperti yang kita lakukan sekarang!" balas Bianca lalu beranjak dari duduknya sambil membawa ponselnya.
"Kau mau kemana?" tanya Arga.
Bianca hanya menoleh pada Arga untuk beberapa saat lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apapun.
Bianca masih terkekeh sampai dia tertawa cukup keras saat dia melanjutkan membaca cerita Lola.
Arga yang merasa sudah begitu kesal segera beranjak dari duduknya meskipun ia belum menyelesaikan makan malamnya. Arga berjalan cepat mengikuti Bianca lalu merebut ponsel dari tangan Bianca.
"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Bianca kesal pada Arga yang tiba-tiba merebut ponsel miliknya.
"Jangan mengganggu Daffa, dia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan....."
"Daffa? siapa yang mengganggu Daffa?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.
"Kau, kau sedang membalas pesan Daffa buka?" balas Arga.
Bianca menghela kesal lalu merebut ponselnya dari tangan Arga, namun dengan cepat Arga menarik tangannya dan membaca pesan yang ada di ponsel.
"Lola!"
"Iya Lola, apa kau pikir Daffa yang mengirim pesan padaku?" tanya Bianca.
Arga terdiam untuk beberapa saat lalu segera mengembalikan ponsel Bianca.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan terlalu sering mengirim pesan pada Daffa, karena.... karena dia sangat sibuk dengan pekerjaannya jadi aku tidak ingin kau mengganggunya," ucap Arga lalu berjalan pergi begitu saja.
"Astaga aku bodoh sekali, apa yang baru saja aku lakukan!" batin Arga merutuki kebodohannya.
Sedangkan Bianca hanya diam di tempatnya berdiri, menatap Arga yang berjalan pergi meninggalkannya begitu saja. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Arga, karena sikap Arga terlihat sangat aneh di matanya.
"Sepertinya pekerjaanya benar-benar membuatnya stres," ucap Bianca sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca kembali berdering, kali ini sebuah pesan masuk dari Daffa.
"Bianca, bisakah aku bertemu denganmu saat jam makan siang besok? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu tentang produk baru yang harus kau review!"
Tanpa ragu Biancapun membalas pesan Daffa.
"Tentu saja bisa, dimana kita akan bertemu?"
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Dengan cepat balasan pesan dari Daffapun masuk.
"Di kafe dekat kantor, tapi bisakah kau mengajak Lola juga!"
Bianca tersenyum tipis lalu membalas pesan Daffa
"Oke baiklah!"
__ADS_1