
Lola dan Daffa masih berada di foodcourt, mereka sedang menikmati kentang goreng dan beberapa makanan ringan lainnya di hadapan mereka.
"Bagaimana menurutmu tentang hubungan Bianca dan Arga, Lola?" tanya Daffa pada Lola.
"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Lola bertanya.
"Bianca dan Arga sudah menceritakan semuanya padaku, tentang kesepakatan pernikahan mereka dan aku yakin kau sudah mengetahui hal itu," ucap Daffa.
"Aahhh kau sudah mengetahuinya rupanya," balas Lola dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Tapi kau tidak menceritakan hal itu pada orang lain bukan?" lanjut Lola bertanya.
"Tentu saja tidak, aku pastikan aku bisa menjaga rahasia mereka dengan baik, tetapi sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di pikiranku," ucap Daffa.
"Apa itu?" tanya Lola.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat Bianca menerima kesepakatan konyol itu, mereka bahkan baru bertemu dan belum saling mengenal dengan baik," jawab Daffa.
Lola hanya diam mendengar apa yang Daffa ucapkan, ia tidak mungkin mengatakan pada Daffa tentang hutang 50 miliar yang ditinggalkan oleh papa Bianca, yang membuat Bianca akhirnya menerima kesepakatan pernikahan itu.
"Kau pasti mengetahui hal itu bukan?" tanya Daffa pada Lola yang hanya terdiam.
"Aku tahu tapi aku tidak akan mengatakannya padamu, aku harap kau bisa mengerti," jawab Lola.
"Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal itu lagi, lagi pula aku juga tidak peduli apa alasan Bianca," ucap Daffa.
"Aku harap kau tidak akan berpikiran buruk tentang Bianca, aku sangat mengenalnya dan dia perempuan yang baik, hanya saja takdir memaksanya untuk menerima kesepakatan itu, tidak ada pilihan lain bagi Bianca selain menerima kontrak pernikahannya dengan Arga," ucap Lola.
"Aku mengerti, aku bahkan tidak setuju dengan kontrak pernikahan mereka dan berharap jika suatu saat mereka akan benar-benar jatuh cinta dan melanjutkan pernikahan mereka bahkan setelah kontrak itu berakhir," ucap Daffa.
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu?" tanya Lola.
"Tentu saja aku serius, aku sudah lama bersahabat dengan Arga, aku mengenalnya dengan sangat baik bahkan mungkin lebih baik dari orang tuanya dan bagiku hanya Biancalah perempuan yang pantas untuk Arga," jelas Daffa.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? kau bahkan tidak tahu apapun tentang latar belakang Bianca," tanya Lola.
"Aku tidak peduli bagaimana latar belakang Bianca, yang aku tahu dia adalah perempuan yang baik dan menyenangkan, keluarga Arga juga menyukainya, masalahnya hanya ada pada mereka berdua yang tidak saling mencintai," jawab Daffa.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu tetapi aku tidak yakin apa kau akan menjawabnya," ucap Lola.
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya jika aku mengetahuinya," balas Daffa.
"Sebenarnya apa alasan Arga membuat kontrak pernikahan itu dengan Bianca? apa benar hanya karena Arga ingin menghindar dari perjodohannya dengan Clara?" tanya Lola.
Daffa terdiam untuk beberapa saat, ia berpikir apakah ia harus memberitahu Lola tentang hubungan Arga dengan Karina atau tidak. Namun pada akhirnya Daffa memilih untuk tidak memberitahu Lola tentang hal itu.
"Seperti yang kau tahu Arga memang dijodohkan dengan Clara dan Clarapun menyetujui hal itu, tetapi Arga sama sekali tidak menyukai Clara jadi Arga harus mencari cara agar Clara berhenti mengejarnya dan orang tuanya berhenti menjodohkannya," jelas Daffa.
"Jadi benar hanya karena itu?" tanya Lola.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menyeruput minuman di hadapannya.
Dalam hatinya ia merasa bersalah karena sudah berbohong pada Lola, tetapi ia tidak punya pilihan lain, bagaimanapun juga ia harus tetap merahasiakan hubungan Arga dengan Karina.
"Bagaimana denganmu? apa kau akan setuju jika Bianca dan Arga akan benar-benar jatuh cinta suatu saat nanti?" tanya Daffa pada Lola.
"Sebenarnya Arga laki-laki yang baik, tetapi baik saja tidak cukup untuk bisa menjadi masa depan Bianca, banyak hal yang Arga rahasiakan dari Bianca atau bahkan mungkin Arga sudah berbohong pada Bianca tentang banyak hal," jawab Lola.
"Berbohong? kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Daffa.
"Entahlah, aku hanya merasa sepertinya Arga memiliki maksud lain di balik pernikahannya dengan Bianca, tapi apapun itu aku hanya berharap yang terbaik untuk mereka dan aku tidak ingin Bianca jatuh pada laki-laki yang salah Daffa," jawab Lola.
"Mereka baru mengenal selama beberapa bulan jadi bukankah wajar jika tidak semua hal Arga ceritakan pada Bianca, mungkin dengan seiring berjalannya waktu Arga bisa menjadi lebih terbuka pada Bianca!" ucap Dafa.
Lola hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.
Lola mengerti jika Arga dan Daffa memang bersahabat dekat jadi wajar jika Daffa ikut menutupi kebohongan yang Arga lakukan pada Bianca.
"Tapi Bianca tidak sedang dekat dengan siapapun bukan?" tanya Daffa yang membuat Lola seketika membawa pandangannya pada Daffa.
__ADS_1
"Aku ingin membuat mereka berdua semakin dekat, tapi sebelum itu aku harus memastikan jika Bianca tidak sedang dekat dengan laki-laki lain," ucap Daffa.
"Mmmm.... sebaiknya kau menanyakannya sendiri pada Bianca, dia tidak terlalu banyak bercerita tentang masalah pribadinya padaku," balas Lola beralasan.
"Aku tidak mungkin mengatakan pada Daffa tentang kak Bara, lagipula kak Bara juga belum memberikan kepastian apapun pada Bianca," ucap Lola dalam hati.
"Aku pikir kalian berdua sangat dekat, ternyata masih ada hal lain yang Bianca rahasiakan darimu," ucap Daffa.
"Kita memang bersahabat dekat, tapi kita juga memiliki beberapa rahasia yang kita simpan sendiri, bukankah kau dan Arga juga begitu?" balas Lola
"Kau benar, ada beberapa hal yang aku simpan sendiri dan mungkin Arga juga seperti itu," ucap Daffa.
Setelah beberapa lama menikmati waktu mereka, Lolapun mengajak Daffa untuk pulang. Lola dan Daffapun kembali ke tempat kos Lola dengan menggunakan taksi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat kost Lola.
"Apa kau yakin akan meninggalkan barang-barangmu disini?' tanya Lola saat ia dan Daffa sudah keluar dari taksi.
"Tentu saja, kau bisa memakainya sampai kapanpun kau mau," jawab Daffa tanpa ragu.
"Aku akan berusaha untuk menggunakannya dengan baik setelah aku bisa membelinya sendiri aku pasti akan segera mengembalikannya padamu," ucap Lola.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun, karena sebenarnya ia memang berniat untuk memberikan semua itu pada Lola tetapi Lola menolaknya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, semoga video yang aku buat sudah sesuai dengan yang kau inginkan," ucap Lola.
"Kau sudah melakukan yang terbaik Lola, jangan khawatir," balas Daffa lalu membuka pintu mobilnya.
"Daffa tunggu!" ucap Lola yang membuat Daffa kembali menutup pintu mobilnya dan membawa pandangannya pada Lola.
"Ada apa?" tanya Daffa.
"Mmmm...... aku..... aku belum terlalu mahir mengedit video, jika ada waktu apa kau bisa membantuku untuk mempelajarinya?" tanya Lola.
Daffa tersenyum dengan menganggukkan kepalanya sambil menepuk pelan kepala Lola.
Setelah kepergian Daffa, Lolapun segera masuk ke dalam kamar kosnya.
**
Di tempat lain, Arga dan Bianca sudah sampai di kafe milik teman Arga yang baru saja melakukan opening.
"Arga, apa kau yakin mengajakku kesini?" tanya Bianca yang terdengar ragu.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" balas Arga.
"Aku hanya mengenakan pakaian seperti ini, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu untuk berganti pakaian?"
"Kau sudah cantik dengan pakaian ini, ayo kita turun," balas Arga lalu turun dari mobilnya bersama Bianca.
Seperti biasa Arga meraih tangan Bianca dan menggandengnya, membawanya masuk ke dalam kafe lalu memperkenalkan Bianca pada temannya yang merupakan pemilik kafe itu.
"Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini, aku pikir kau masih....."
"Bagaimana denganmu? kapan kau akan menikahi kekasihmu?" tanya Arga memotong ucapan temannya.
"Aku belum memiliki rencana itu, kita masih bersenang-senang dengan hubungan kita yang seperti ini," jawab teman Arga.
Setelah berbasa-basi singkat Arga dan Bianca kemudian duduk di salah satu bangku yang ada disana. Tak lupa mereka memesan makanan dan minuman yang direkomendasikan oleh teman Arga.
"Dia teman dekatmu?" tanya Bianca pada Arga sambil membawa pandangannya ke arah teman Arga yang sedang mengobrol bersama salah satu pengunjung kafe.
"Hanya teman kuliah dan tidak terlalu dekat," jawab Arga.
"Kenapa dia seperti terkejut melihatmu yang sudah menikah? apa dia tidak datang di pernikahan kita?" tanya Bianca penasaran.
"Dia masih berada di luar negeri saat itu dan dia baru pulang kembali bulan lalu," jawab Arga.
"Aaahh begitu," ucap Bianca dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian makanan dan minuman yang dipesan oleh Bianca dan Arga datang, merekapun menikmati makanan dan minuman mereka.
"Aaahh ya, tentang Daffa dan Lola, apa menurutmu Daffa benar-benar menyukai Lola?" tanya Bianca pada Arga.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Arga bertanya.
"Sejak mereka bertemu sepertinya Daffa tertarik pada Lola, tetapi kau bilang jika Daffa suka bermain perempuan jadi aku pikir Daffa tidak serius mendekati Lola tapi sekarang sepertinya Daffa menunjukkan keseriusannya," jelas Bianca.
"Bagaimana menurutmu jika Daffa dan Lola saling menyukai? apa kau akan mendukung mereka?" tanya Arga.
"Mmmm..... aku tidak bisa memutuskan dengan mudah karena aku tidak ingin Lola jatuh di tangan laki-laki yang salah, meskipun Daffa terlihat baik tetapi aku tidak tahu apakah dia bersungguh-sungguh dengan perasaannya pada Lola atau tidak," jawab Bianca.
"Aku setuju denganmu, kau harus memastikan bagaimana perasaan Daffa yang sebenarnya sebelum Lola memutuskan untuk membiarkan dirinya jatuh cinta pada Daffa, karena aku tahu bagaimana Daffa yang memang pandai menarik perhatian perempuan," ucap Arga.
"Jika diperhatikan Daffa memang laki-laki yang menyenangkan, dia tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, dia juga....."
"Apa kau menyukainya?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.
"Tentu saja, seperti yang aku bilang dia laki-laki yang menyenangkan dan bisa memperlakukan perempuan dengan baik, semua perempuan pasti akan dengan mudah menyukai laki-laki yang seperti Daffa," jawab Bianca tanpa ragu.
"Bagaimana dengan Bara? bukankah kau menyukainya?" tanya Arga berusaha untuk menahan emosi yang tiba-tiba meradang dalam dadanya.
"Kenapa tiba-tiba membahas kak Bara? Daffa dan kak Bara adalah dua laki-laki yang berbeda, lagi pula aku hanya menyukai Daffa sebatas teman yang menyenangkan," balas Bianca.
"Baguslah kalau begitu, jangan sampai sikap Daffa yang terlihat manis itu membuatmu jatuh cinta padanya!" ucap Arga.
"Memangnya kenapa jika aku jatuh cinta pada Daffa? apa kau cemburu?" tanya Bianca yang membuat Arga tiba-tiba terbatuk karena tersedak makanannya.
Bianca hanya tertawa kecil melihat Arga yang tiba-tiba terbatuk, iapun segera menggeser minuman Arga agar Arga segera minum.
"Jangan khawatir, aku tidak mungkin jatuh cinta pada Daffa, bukankah kau tahu siapa laki-laki yang aku sukai!" ucap Bianca.
"Bara?" tanya Arga menerka.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum, baginya hanya Baralah satu-satunya laki-laki yang menjadi harapan masa depannya.
"Jangan terlalu berharap padanya, kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya padamu, kau hanya akan terluka jika harapanmu terlalu besar pada sesuatu yang belum pasti," ucap Arga.
"Bagaimana aku tidak berharap, kak Bara bahkan memberikanku cincin dan memintaku untuk memakainya," ucap Bianca dalam hati sambil mengaduk minuman di hadapannya.
"Bisa jadi dia sudah memiliki kekasih sekarang, bukankah kau tahu di luar negeri banyak perempuan cantik yang jauh lebih cantik darimu!" ucap Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga dengan tatapan kesal.
"Aku sangat mengenal kak Bara, dia tidak mungkin memiliki kekasih hanya karena fisiknya saja, kecantikan tidak akan abadi, semua orang akan menua secantik apapun dia saat masih muda," balas Bianca.
Arga hanya tersenyum tipis melihat Bianca yang kesal. Setelah menghabiskan makanan dan minuman, merekapun meninggalkan kafe itu. Tak lupa mereka juga berpamitan pada teman Arga, pemilik kafe.
Arga kemudian mengendarai mobilnya untuk kembali pulang ke rumah bersama Bianca yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengan masalah pekerjaanmu? apa semuanya sudah baik-baik saja?" tanya Bianca pada Arga.
"Masalah pekerjaan apa maksudmu?" balas Arga bertanya.
"Bukankah beberapa hari setelah kau pulang dari luar kota kau tertekan dengan masalah pekerjaanmu? atau mungkin ada masalah lain yang kau pikirkan?" balas Bianca.
"Aaahhh masalah itu, aku sudah menyelesaikannya," ucap Arga berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya karena sebenarnya sama sekali tidak ada masalah dalam pekerjaannya.
"Sepertinya kau berhutang banyak pada Daffa, sebagai sahabat dia tidak hanya membantumu tapi juga menghandle pekerjaanmu dengan baik," ucap Bianca.
"Kau benar, dia memang sahabat yang bisa diandalkan walaupun terkadang dia sangat menyebalkan," balas Arga.
"Sepertinya benar apa yang pernah Daffa katakan padaku, kalian berdua bersahabat dalam segala kondisi, kalian adalah partner in crime," ucap Bianca.
Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia gugup, khawatir jika Bianca mengetahui kebohongannya dari Daffa.
"Entah sedekat apa persahabatan kalian yang sebenarnya tapi Daffa bahkan menutupi kebohonganmu dariku," ucap Bianca dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Saat Bianca baru saja turun dari mobil, Arga segera berlari kecil lalu meraih tangan Bianca.
"Bianca maafkan aku," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca, membuat detik waktu seolah berhenti tiba-tiba.
__ADS_1