
Hari-hari berlalu. Bianca dan Arga menjalani hari mereka dengan penuh kebahagiaan, terlebih setelah Bianca mengandung buah hati mereka.
Sikap manja Bianca yang berbeda dari sebelum dia hamil memang cukup membuat seisi rumah sedikit repot, tetapi Arga selalu memperlakukan Bianca dengan sangat baik, begitu juga semua orang yang bekerja di rumah Arga.
Mereka semua memahami keadaan Bianca dan bisa lebih bersabar menghadapi Bianca karena mereka tau jika sebenarnya Bianca tetaplah majikan mereka yang baik hati.
Hari itu Bianca dan Arga meninggalkan rumah untuk pergi ke gedung pernikahan Lola dan Daffa.
Sesampainya disana, Bianca segera menemui Lola, sedangkan Arga segera menemui Daffa yang berada di ruangan terpisah dengan Lola.
"Apa kau gugup Lola?" tanya Bianca pada Lola.
"Sangat gugup Bianca," jawab Lola.
Bianca tersenyum lalu menggenggam tangan Lola.
"Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupmu Lola, kau adalah tokoh utama hari ini," ucap Bianca.
"Aku sudah melakukan hal yang benar bukan? aku pasti akan bahagia dengannya bukan?" tanya Lola yang segera dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Tentu saja Lola, aku yakin Daffa akan memperlakukanmu dengan sangat baik, aku dan Arga tidak akan tinggal diam jika dia berani menyakitimu," jawab Bianca.
Tak lama kemudian seseorang masuk ke ruangan Lola, meminta Lola untuk keluar dari ruangan karena acara akan segera dimulai.
Lolapun keluar dari ruangan itu dengan digandeng oleh Bianca. Lola kemudian duduk di samping Daffa.
"Tenang Daffa, kau pasti bisa," ucap Arga dengan menepuk pelan bahu Daffa yang tampak gugup saat itu.
Bersama detik jam yang berjalan tanpa henti, Daffa akhirnya mengikrarkan janji sucinya di hadapan semua orang yang ada disana.
Biancapun seketika memeluk Lola dengan penuh haru. Ia berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya yang ingin menangis saat itu.
"Selamat Lola, semoga kalian bisa menjaga rumah tangga kalian seumur hidup, semoga kalian selalu diliputi kebahagiaan dalam rumah tangga kalian," ucap Bianca.
"Terima kasih Bianca," balas Lola.
Setelah acara akad nikah selesai, Lola dan Daffapun segera duduk di pelaminan, menunggu para tamu undangan yang datang untuk memberi selamat pada mereka berdua.
"Ini adalah akhir dari pencarianku selama ini," ucap Daffa berbisik pada Lola.
"Apa benar aku yang selama ini kau cari?" tanya Lola.
"Aku tidak pernah tau perempuan seperti apa yang akan menjadi istriku nanti, aku bahkan tidak pernah memikirkannya, tapi sejak bertemu denganmu saat itu juga aku yakin jika kaulah yang akan menjadi akhir dari pencarianku," jelas Daffa.
"Kau terlalu pandai berbicara Daffa, sangat menggelikan," ucap Lola.
"Aku serius Lola," ucap Daffa.
"Eheemm, apa kita menganggu?" tanya Bianca yang sudah menaiki pelaminan bersama Arga.
"Tentu saja tidak," jawab Lola yang segera berdiri dari duduknya diikuti Daffa.
Mereka kemudian berfoto diikuti oleh tamu-tamu lain yang mulai menghampiri Lola dan Daffa di pelaminan untuk memberi selamat dan berfoto.
"Kau tidak bisa disini sampai acara selesai Bee, aku tidak ingin kau kelelahan," ucap Arga pada Bianca.
"Aku tidak akan lelah meskipun aku disini sampai malam Arga, aku hanya akan duduk disini," balas Bianca.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu Bianca, ada yang harus kau jaga sekarang," ucap Arga.
"Aku tau Arga, tapi ini adalah hari bahagia Lola, aku tidak mungkin pergi sebelum acara selesai," balas Bianca.
"Tapi Bee...."
"Kita lihat saja nanti, jika aku mulai lelah, aku akan pulang, bagaimana?"
Arga hanya menghela nafasnya panjang dengan menganggukkan kepalanya pelan, namun ia tidak akan membiarkan Bianca berada disana terlalu lama.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Bianca tiba-tiba memegang perutnya dengan satu tangannya memegang tangan Arga dengan kuat.
"Ada apa Bee? apa kau merasa sakit?" tanya Arga khawatir.
"Perutku sepertinya sedikit kram," jawab Bianca yang masih memegang tangan Arga dengan kuat.
"Kita ke rumah sakit sekarang, aku tidak menerima alasan apapun lagi sekarang!" ucap Arga yang segera mengangkat tubuh Bianca dan menggendong Bianca keluar dari gedung itu.
Arga segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Tenanglah Arga, perutku tidak benar-benar sakit, aku hanya sedikit merasa kram saja," ucap Bianca pada Arga.
Arga hanya diam, fokus mengendarai mobilnya dengan satu tangannya yang sesekali menggenggam tangan Bianca.
Setelah sampai di rumah sakit, Bianca segera menolak saat Arga akan menggendongnya lagi.
"Aku sudah baik-baik saja sekarang, aku sudah tidak merasakan kram lagi," ucap Bianca pada Arga.
__ADS_1
Namun Arga yang masih mengkhawatirkan Bianca segera mengambil kursi roda dan meminta Bianca untuk duduk di kursi roda.
"Tenanglah Arga, kau terlalu panik sampai berkeringat seperti ini," ucap Bianca sambil mengusap keringat di kening Arga.
"Aku tidak bisa tenang sebelum dokter memeriksa keadaanmu Bee," balas Arga.
Tak lama kemudian nama Bianca dipanggil, dokter segera memeriksa keadaan Bianca lalu menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
"Bagaimana dok? apa istri saya dan bayinya baik-baik saja?" tanya Arga tak sabar.
"Tidak perlu khawatir, dua-duanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," jawab dokter.
"Tapi dia tadi kesakitan dok," ucap Arga.
"Itu adalah kram perut yang biasa terjadi pada awal kehamilan, biasanya sampai usia kehamilan 12 minggu, itu hal yang wajar terjadi karena disebabkan oleh pembesaran rahim karena tubuh sang ibu sedang mempersiapkan tempat untuk janinnya tumbuh," jelas dokter.
Argapun bernafas lega setelah ia mendengar penjelasan dari dokter.
"Kondisi ibu dan janinnya sangat baik, tetapi tetap harus menjaga aktivitas fisik agar tidak berlebihan," ucap dokter.
"Baik dok, terima kasih," ucap Arga.
Arga dan Bianca kemudian meninggalkan rumah sakit. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Arga membawa dirinya menatap perut Bianca yang masih terlihat datar lalu mengusapnya.
"Kau sudah membuat papa sangat khawatir," ucap Arga.
Bianca hanya tersenyum melihat apa yang Arga lakukan padanya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk yang entah sudah ke berapa kali karena sejak tadi Arga hanya fokus pada Bianca dan sama sekali tidak mempedulikan panggilan masuk di ponselnya.
"Sepertinya dari tadi ponselmu berdering, apa kau tidak ingin memeriksanya?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
Arga kemudian mengambil ponselnya yang ada disaku dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Daffa.
"Daffa, dia pasti melihat kita yang tiba-tiba pergi," ucap Arga.
"Cepat hubungi Daffa lagi Arga, mungkin mereka khawatir," ucap Bianca.
Arga menganggukkan kepalanya lalu segera menghubungi Daffa.
"Astaga Arga, kau dari mana saja? kenapa tidak menerima panggilanku? apa terjadi sesuatu pada Bianca?" tanya Daffa yang terdengar khawatir.
"Aku....."
"Bianca baik-baik saja, maaf sudah membuat kalian khawatir," jawab Arga.
"Apa Bianca bersamamu? aku ingin berbicara dengannya!"
Arga kemudian memberikan ponselnya pada Bianca agar Lola berbicara dengan Bianca.
"Halo Lola, maaf karena tiba-tiba pergi tanpa pamit, Arga terlalu panik jadi tidak sempat mengatakan apapun padamu dan Daffa sebelum pergi," ucap Bianca.
"Apa kau sungguh baik-baik saja Bianca? tidak ada sesuatu yang terjadi bukan?"
"Aku baik-baik saja Lola, hanya kram perut biasa dan dokter bilang itu hal yang wajar," jawab Bianca.
"Syukurlah kalau begitu, aku sangat mengkhawatirkanmu Bianca, aku juga sudah berkali-kali menghubungimu tapi tidak pernah terjawab."
"Aku tidak membawa ponselku Lola, aku meninggalkannya di rumah," balas Bianca.
"Pantas saja, jadi dimana kau sekarang?" tanya Lola.
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit, tapi sepertinya aku tidak bisa kembali ke tempatmu, maaf Lola," jawab Bianca.
"Kau memang harus pulang Bianca, kau harus beristirahat di rumah, aku akan mengusirmu jika kau berani datang lagi kesini," balas Lola yang membuat Bianca terkekeh.
Panggilan berakhir setelah Daffa dan Lola memastikan jika Bianca baik-baik saja. Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arga menahan Bianca yang akan turun dari mobil. Arga segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobilnya untuk Bianca lalu mengangkat tubuh Bianca dan menggendongnya sampai ke dalam kamar.
Dengan pelan dan hati-hati Arga membaringkan Bianca di atas ranjang.
"Beristirahatlah Bee," ucap Arga sambil memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.
**
Hari telah berganti. Malam itu Bianca dan Arga meninggalkan rumah, mereka mendapat undangan makan malam dari Lola dan Daffa.
Tepat pukul 7 malam, Argapun mengendarai mobilnya ke arah alamat yang sudah diberikan oleh Daffa.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di depan sebuah rumah mewah yang kini menjadi tempat tinggal Lola dan Daffa.
Dengan penuh senyum Lola dan Daffa menyambut kedatangan Bianca dan Arga. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka kemudian menikmati makan malam bersama.
__ADS_1
"Apa kau akan tetap bekerja Lola? atau menjadi ibu rumah tangga sepertiku?" tanya Bianca pada Lola.
"Untuk saat ini aku masih ingin bekerja dan Daffa juga tidak keberatan dengan keputusanku itu," jawab Lola.
"Aku tidak akan membatasi Lola untuk melakukan banyak hal yang dia suka, Bianca," sahut Daffa.
"Apa kalian sudah ada persiapan untuk bulan madu?" tanya Arga.
"Belum, aku baru bisa cuti beberapa bulan lagi jadi aku dan Lola masih belum terlalu memikirkan hal itu," jawab Daffa.
Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca, Biancapun hanya tersenyum dengan sedikit menganggukan kepalanya.
"Aku dan Bianca sudah menyiapkan semuanya," ucap Arga dengan membawa pandangannya pada Daffa dan Lola.
"Mempersiapkan apa maksudmu?" tanya Daffa tak mengerti.
"Tiket pesawat, hotel dan beberapa tempat liburan yang ada di Eropa, kalian bisa menikmati waktu kalian bersama selama dua Minggu di Eropa," jawab Arga.
"Tidak mungkin, kau pasti bercanda bukan?" tanya Daffa tak percaya.
Arga hanya tersenyum dengan membawa pandangannya pada Bianca.
"Apa ini serius Bianca?" tanya Lola pada Bianca.
"Tentu saja serius, anggap itu adalah hadiah pernikahan untuk kalian berdua," jawab Bianca.
"Tunggu.... tunggu..... dua Minggu di Eropa? bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Daffa.
"Aku akan menghandle nya sendiri, lagi pula selama ini aku sudah banyak membuatmu sibuk Daffa, ini adalah waktunya kau bisa menikmati hari liburmu," jawab Arga.
"Apa kau serius Arga? dua Minggu bukan waktu yang singkat, aku sama sekali tidak keberatan jika hanya diberi cuti 3 hari seperti saat ini!"
"Aku tau Daffa, aku pasti bisa menangani semuanya sendiri, jadi kau tidak perlu khawatir dan berhenti memikirkan pekerjaanmu saat kau sedang menikmati bulan madumu bersama Lola," balas Arga.
"Tapi bagaimana denganmu Bianca? Arga akan sangat sibuk di kantor selama dua Minggu jika dia harus bekerja tanpa Daffa," tanya Lola pada Bianca.
"Aku tidak keberatan Lola, aku yakin Arga bisa membagi waktunya dengan baik dan aku pikir waktu dua Minggu itu tidak sebanding dengan banyak hal yang sudah Daffa lakukan untuk Arga, begitu juga kau yang sudah melakukan banyak hal untukku Lola," jelas Bianca.
"Bianca, Arga....."
"Kalian harus menerimanya karena aku dan Bianca sudah menyiapkan semuanya dengan baik, kalian hanya perlu mempersiapkan diri untuk berangkat," ucap Arga.
"Aaahhh ya, Arga juga sudah menyiapkan transport kalian selama kalian di Eropa," ucap Bianca.
"Terima kasih Arga, Bianca, aku dan Lola benar-benar sangat berterima kasih pada kalian berdua," ucap Daffa yang hanya dibalas senyum oleh Bianca dan Arga.
**
Hari telah berganti. Seperti beberapa hari sebelumnya, Arga berangkat ke kantor setelah ia memastikan keadaan Bianca sudah baik-baik saja.
Sesampainya di kantor, Arga segera mengerjakan pekerjaannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Tiba-tiba ada sebuah panggilan dari anak perusahaan sang papa yang berada di luar kota yang mengharuskan Arga untuk pergi kesana.
Karena tidak mungkin meninggalkan Bianca ke luar kota, Argapun menghubungi sang papa dan memberi tahu sang papa tentang hal itu.
"Papa sedang berada di Singapura untuk masalah lain Arga, tidak bisakah kau menghandle nya sendiri?" ucap David sekaligus bertanya.
"Tapi bagaimana dengan Bianca pa?" balas Arga mengkhawatirkan Bianca.
"Kau tidak akan lama meninggalkannya Arga, besok kau pasti sudah bisa pulang," jawab David.
Setelah mengobrol beberapa lama bersama sang papa, tidak ada jalan keluar lain selain Arga yang harus pergi ke luar kota.
Arga kemudian segera meninggalkan meja kerjanya, pulang ke rumah dan memberi tahu Bianca tentang apa yang terjadi.
"Apa aku tidak bisa ikut denganmu Arga?" tanya Bianca dengan raut wajahnya yang sedih.
"Dokter tidak mengizinkanmu untuk perjalanan jauh Bianca, maafkan aku," jawab Arga.
"Kau akan pulang setelah menyelesaikan pekerjaanmu disana bukan?" tanya Bianca dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Tentu saja Bee, jika bisa aku akan pulang malam ini juga," jawab Arga sambil membawa Bianca ke dalam dekapannya.
Biancapun hanya menangis dalam dekapan Arga, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan Arga pergi karena itu adalah bagian dari tanggung jawab Arga.
Setelah mempersiapkan semuanya, dengan berat hati Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah
Sepanjang jalan Arga terus memikirkan Bianca, meninggalkan Bianca yang masih menangis benar-benar membuatnya tidak fokus.
Berkali-kali Arga mendapat klakson dari mobil di belakangnya karena ia yang berkendara dengan kecepatan yang sangat pelan.
"Fokus Arga, selesaikan semuanya dengan cepat dan segera pulang!" ucap Arga lalu mulai menginjak pedal gasnya.
Namun bayang-bayang Bianca yang sedih membuat Arga kehilangan fokusnya dan......
__ADS_1
BRAAAAAAAKKKKK