Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Fakta Menyakitkan (2)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Arga mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.


Saat akan menaiki tangga, Arga melihat Bianca yang berada di dapur. Argapun mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga, dengan tersenyum ia membawa langkahnya ke arah Bianca.


"Apa yang sedang kau lakukan Bee?" tanya Arga yang berdiri di belakang Bianca.


Bianca tidak menjawab pertanyaan Arga, ia masih mengaduk coklat hangat buatannya lalu membawanya pergi dari dapur dan mengabaikan Arga.


Merasa diabaikan oleh Bianca, Argapun segera berlari kecil mengikuti Bianca.


"Apa kau sedang marah padaku?" tanya Arga sambil berjalan mengikuti Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah datar tanpa mengatakan apapun, ia sedang berusaha keras untuk tidak menunjukkan kesedihan dan kekesalannya pada Arga.


Bianca merasa tidak memiliki alasan apapun untuk merasa sedih ataupun kesal pada Arga setelah ia mengetahui apa yang sebenarnya Arga lakukan di belakangnya selama ini.


"Aku minta maaf jika aku bersalah, tapi tolong katakan padaku apa kesalahan yang sudah aku buat," ucap Arga pada Bianca.


Bianca hanya terdiam tanpa mengatakan apapun lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya begitu saja.


"Bianca tolong jangan seperti ini, tolong katakan padaku kesalahan apa yang sudah aku lakukan yang membuatmu marah padaku seperti ini!" ucap Arga sambil mengetuk pintu kamar Bianca.


Tak ada jawaban apapun dari dalam kamar Bianca yang membuat Arga berusaha berpikir dengan keras tentang apa yang sebenarnya membuat Bianca tiba-tiba mengabaikannya.


"Bianca tolong buka pintunya, aku tidak ingin kau salah paham padaku jadi tolong katakan apa yang membuatmu mengabaikanku seperti ini!" ucap Arga yang berusaha mendapat jawaban dari Bianca.


Namun setelah cukup lama Arga berusaha, Bianca tidak juga membuka pintu kamarnya atau sekedar menjawab pertanyaannya.


Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Arga mandi dan berganti pakaian sembari memikirkan tentang apa yang membuat Bianca mengabaikannya.


"Apa aku melakukan kesalahan? Sepertinya tadi pagi dia baik-baik saja, apa yang membuatnya tiba-tiba berubah seperti ini?" tanya Arga pada dirinya sendiri.


Arga kemudian keluar dari kamarnya dan kembali menghampiri Bianca di kamarnya yang masih tertutup.


Arga mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali namun sama sekali tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar Bianca.


"Bianca keluarlah, kita harus bicara!" ucap Arga yang masih berada di depan kamar Bianca.


Arga kemudian memeriksa ponselnya, memastikan jika Bianca tidak mengirim pesan apapun padanya yang terlewat untuk ia baca.


"Tadi pagi dia baik-baik saja, dia juga tidak mengirim pesan apapun padaku, lalu apa yang membuatnya tiba-tiba mengabaikanku seperti ini? kesalahannya apa yang sudah aku perbuat hati?" batin Arga bertanya dalam hati.


Lebih dari 1 jam Arga menunggu di depan kamar Bianca, ia berdiri dan duduk untuk menunggu Bianca keluar dari kamarnya atau bahkan sekedar menjawab pertanyaannya


Namun sampai malam semakin larut tidak ada suara apapun yang Arga dengar dari dalam kamar Bianca, bahkan Bianca belum membuka pintu kamarnya sedikitpun.


Namun hal itu tidak membuat Arga menyerah, ia masih duduk di depan kamar Bianca dengan sesekali berdiri dan mengetuk pintu kamar Bianca, berharap Bianca akan segera membuka pintu kamarnya dan berbicara padanya.


Akhirnya penantian Arga tidak sia-sia, Bianca tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan membawa tas selempangnya.


"Kau mau ke mana Bee?" tanya Arga sambil menahan tangan Bianca.


"Ke tempat Lola," jawab Bianca dengan menarik tangannya dari Arga.

__ADS_1


"Ke tempat Lola? tapi ini sudah malam Bianca, untuk apa kau kesana malam-malam seperti ini?" tanya Arga.


Bukannya menjawab pertanyaan Arga, Bianca justru melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah, membuat Arga berlari kecil dengan menahan tangan Bianca untuk yang kedua kali.


"Jangan menyentuhku sembarangan Arga, kau membuatku sangat marah!" ucap Bianca dengan menatap Arga dengan tatapan kemarahan.


"Aku akan mengantarmu ke tempat Lola tapi katakan padaku apa yang membuatmu tiba-tiba bersikap seperti ini padaku," balas Arga yang masih menggenggam tangan Bianca.


"Bersikap seperti apa maksudmu? pernikahan kita bukan pernikahan sungguhan, jadi aku tidak perlu bersikap baik padamu saat tidak berada di depan orang lain," ucap Bianca sambil berusaha menarik tangannya dari Arga.


Arga menghela nafasnya panjang lalu mencengkeram tangan Bianca dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu rumahnya.


"Apa kau sekarang akan mengunciku di rumah ini? apa kau akan benar-benar mengurungku sekarang?" tanya Bianca yang semakin marah dengan sikap Arga.


"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini sebelum kau menjelaskan padaku apa yang membuatmu tiba-tiba marah padaku, katakan apa kesalahanku agar aku mengerti dan tidak mengulanginya lagi!" ucap Arga dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


"Tidak ada yang harus aku jelaskan Arga, jalani saja hidupmu sesuai dengan yang kau mau, aku juga akan menjalani kehidupanku sesuai dengan yang aku mau tanpa mengingkari kontrak kesepakatan yang sudah kita buat!" balas Bianca.


"Aku hanya akan menjalani hidupku bersamamu Bianca dan aku sudah tidak peduli lagi dengan kontrak kesepakatan itu, aku akan membayar berapapun denda yang sudah kita sepakati agar aku bisa tetap bersamamu," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


Bianca seketika terdiam mendengar ucapan Arga, sebagai orang dewasa ia mengerti maksud dari ucapan Arga. Namun ia tidak bisa menelan mentah-mentah tentang apa yang baru saja Arga katakan, karena bisa jadi apa yang ia pikirkan berbeda dengan apa yang sebenarnya Arga pikirkan.


"Tidak bisakah kau mengetahuinya Bianca? tidak bisakah kau merasakan bagaimana selama ini aku berusaha untuk menunjukkan perasaanku padamu?" tanya Arga dengan memegang kedua bahu Bianca.


"Berhenti mengatakan omong kosong Arga, aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu apa saja yang selama ini kau lakukan di belakangku dan aku tahu apa sebenarnya niatmu menikah denganku!" ucap Bianca sambil melepaskan kedua tangan Arga dari bahunya.


"Apa maksudmu Bianca? aku....."


"Karina, aku sudah tahu tentang hubunganmu dengan Karina," ucap Bianca memotong ucapan Arga, membuat Arga begitu terkejut dan hanya bisa terdiam.


"Sekarang aku mengerti kenapa kau memintaku untuk menjauhi Karina, kau pasti tidak ingin jika Karina memberitahuku tentang bagaimana hubungan kalian di belakangku, benar begitu bukan?" lanjut Bianca.


"Jangan mengatakan apapun lagi padaku Arga, aku sama sekali sudah tidak mempercayai ucapanmu," ucap Bianca yang enggan mendengar ucapan Arga.


"Dengarkan aku dulu, terserah kau akan percaya padaku atau tidak tapi aku mohon biarkan aku mengatakan yang sebenarnya sebelum kau pergi ke tempat Lola," ucap Arga sambil meraih tangan Bianca.


Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun dan menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu, diikuti Arga yang duduk di sampingnya.


Bagaimanapun juga Bianca ingin tahu apa yang akan Arga katakan padanya tentang hubungan Arga dengan Karina.


"Aku dan Karina memang pernah memiliki hubungan, aku juga pernah mengenalkan Karina pada mama dan papa, tapi hubunganku dengan Karina berakhir karena dia berselingkuh dariku dan lebih memilih untuk bertunangan dengan selingkuhannya daripada melanjutkan hubungannya denganku," ucap Arga memulai ceritanya.


"Pada awalnya aku memang tidak bisa menerima kepergiannya dan aku berusaha untuk membuatnya kembali padaku, walaupun aku mendapat pertentangan dari semua orang termasuk Daffa dan orang tuaku," lanjut Arga.


"Dan itu yang membuatmu menikah denganku, agar Mama dan papa berpikir jika kau sudah melupakan Karina padahal di belakang semua orang kau tetap berhubungan dengannya," ucap Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar cerita Arga tentang hubungannya dengan Karina.


"Pada awalnya memang seperti itu, aku memanfaatkanmu agar aku bisa mendekati Karina dan berusaha untuk membuatnya kembali padaku, aku sudah banyak melakukan kebodohan selama kita menikah dan aku baru menyadarinya," ucap Arga.


Bianca hanya diam mendengar ucapan Arga, ia berusaha untuk menahan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


"Aku minta maaf karena sudah bersikap bodoh selama ini, aku minta maaf karena sudah banyak berbohong padamu, tapi setelah aku sadar jika perempuan yang aku cintai bukan Karina aku benar-benar sudah melepaskannya dan mengakhiri semuanya," ucap Arga.


"Kau tidak perlu menjelaskan semuanya padaku Arga, aku sama sekali tidak peduli bagaimana hubunganmu dengannya lagi pula kita tidak benar-benar berada dalam ikatan pernikahan yang didasari oleh cinta," balas Bianca lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Tidak Bianca, aku mencintaimu dan aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku," ucap Arga sambil menahan tangan Bianca.


"Cinta? tahu apa kau tentang cinta, Arga? kau hanya laki-laki yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan ambisimu pada masa lalu yang sudah meninggalkanmu," ucap Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Kau tidak akan marah, kau tidak akan sedih dan kau tidak akan menangis karena hal ini jika kau tidak mencintaiku, katakan saja dengan jujur Bianca, kau juga mencintaiku bukan?"


Bianca menghela nafasnya panjang bersama air mata yang sudah benar-benar luruh membasahi kedua pipinya.


Rasa sakit yang ia rasakan semakin menusuknya dengan dalam, membuatnya tidak bisa lagi membendung kesedihannya di depan Arga.


Bianca kemudian berlari keluar dari rumah dan segera masuk ke dalam mobil setelah ia memanggil Pak Dodi.


"Aku sungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan Bianca, aku pastikan aku akan membuatmu mempercayainya," ucap Arga dari depan kaca jendela mobil yang sudah Bianca tutup.


Bianca hanya diam dengan terus menghapus air mata yang luruh tanpa bisa ia tahan. Ia merasa sangat bodoh karena sudah menangis di hadapan Arga, namun ia tidak bisa menghentikan air mata yang terus saja membasahi kedua pipinya.


Melihat Arga dan Bianca yang tampak sedang bertengkar, Pak Dodipun ragu untuk masuk ke dalam mobil.


"Tolong antarkan Bianca ke tempat Lola Pak, pastikan dia sampai di tempat Lola dengan aman," ucap Arga pada Pak Dodi.


"Baik Tuan," balas Pak Dodi.


"Aku akan memberimu waktu untuk menyendiri Bianca, besok aku akan menjemputmu di tempat Lola," ucap Arga saat perlahan mobil mulai berjalan keluar dari rumah.


Arga hanya terdiam menatap kepergian Bianca, ia tidak menyangka jika Bianca akan mengetahui rahasia terbesarnya selama ini.


Bangkai memang tidak bisa disimpan terlalu lama, karena bau busuknya pasti akan tercium, namun Arga tidak menyangka jika akan secepat ini rahasianya diketahui oleh Bianca.


Di sisi lain, Bianca berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sampai ia tiba di tempat kost Lola.


"Pak Dodi pulang saja, Bianca akan menginap disini," ucap Bianca pada Pak Dodi lalu keluar dari mobil dan membawa langkahnya ke arah kamar kost Lola.


Bianca mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka. Lola yang melihat keadaan Bianca yang tampak kacau begitu terkejut dan segera membawa Bianca masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang terjadi padamu Bianca? apa Arga menyakitimu?" tanya Lola mengkhawatirkan Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


"Jangan menahan air matamu Bianca, kau bisa menangis sepuasnya disini," ucap Lola sambil memeluk Bianca.


Seketika Bianca menumpahkan seluruh air matanya dalam pelukan Lola, ia terisak dalam dekapan sahabatnya tanpa ia tahu kenapa ia bisa merasakan rasa sedih yang sebesar itu.


Setelah Bianca lebih tenang, Bianca mulai mengatakan pada Lola tentang pertemuannya dengan Clara dan tentang apa yang Clara katakan padanya.


"Jadi masa lalu yang dimaksud Karina itu adalah Arga? apa kau yakin Bianca?" tanya Lola tak percaya karena ia pikir jika masa lalu Karina itu adalah Daffa.


"Arga bahkan sudah mengakuinya sendiri Lola," jawab Bianca dengan pandangan kosong.


"Lalu apa yang Arga katakan padamu?" tanya Lola.


"Aku tidak mendengarkan ucapannya, yang aku tahu dia hanya mengakui hubungannya dengan Karina di belakangku, selebihnya aku sudah tidak ingin mendengarkannya lagi, aku benar-benar sudah tidak mempercayai semua ucapannya sekarang," jawab Bianca dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


"Sejauh aku mengenalmu aku tidak pernah melihatmu sesedih ini selain karena kepergian orang tuamu, jadi apa yang membuatmu sangat bersedih seperti ini Bianca?" ucap lelah sekaligus bertanya yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.


"Lola benar, kenapa aku harus merasa sangat sedih saat aku mengetahui bagaimana sikap Arga di belakangku? tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang saat ini benar-benar terasa hancur, aku bahkan merasa sangat lemah," ucap Bianca dalam hati dengan kedua air mata yang kembali menetes.

__ADS_1


Bianca yang selalu ceria dan bisa menyembunyikan kesedihannya kini tampak berbeda, Bianca kini seperti bunga yang sedang layu, ia bahkan tidak punya semangat untuk bisa berdiri dengan tegak.


"Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini Lola, aku tidak bisa mengendalikan apa yang aku rasakan, aku hanya merasa sangat sedih dan hatiku terasa sangat sakit, aku bahkan seperti kehilangan arah dan tidak tahu harus bersikap seperti apa," Bianca dengan air mata yang membasahi pipinya.


__ADS_2