
Bianca menyelesaikan ceritanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air mata yang sudah memenuhi kedua matanya.
"Jika kau mau, aku bisa mengenalkanmu pada psikiater yang aku kenal," ucap Arga.
"Tidak perlu, aku bisa menanganinya sendiri, aku hanya butuh waktu," balas Bianca.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi kapanpun kau merasa membutuhkan psikiater, kau bisa memberi tahuku," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Sekarang kau tidurlah, aku pastikan tidak akan ada lagi lampu yang padam di rumah ini," ucap Arga.
Bianca kembali menganggukkan kepalanya lalu membaringkan dirinya di sofa yang ia duduki. Perlahan ia memejamkan matanya dan segera tertidur setelah rasa kantuk menyerangnya.
Sedangkan Arga, masih duduk di sofa yang sama dengan sofa yang Bianca tiduri. Kedua matanya masih menatap Bianca yang terpejam.
Ia tidak menyangka jika gadis ceria yang selalu ia lihat ternyata menyimpan rasa trauma yang besar dalam dirinya.
"Aku yakin kau pasti bisa melaluinya Bianca," ucap Arga dalam hati sambil menatap Bianca.
Waktupun berlalu, malam yang semakin larut membawa Arga ke dalam rasa kantuk yang mendorongnya untuk segera tertidur, hingga tanpa sadar iapun tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Malam yang panjang telah berakhir, Bianca mengerjapkan matanya dan tanpa sengaja kakinya menyentuh Arga yang masih tidur dengan posisi duduk.
Bianca yang terkejutpun segera beranjak dari tidurnya.
"Arga, kenapa dia tidur disini?" tanya Bianca menatap Arga yang terlihat tidur dengan nyenyak.
Bianca tersenyum tipis saat ia mengingat apa yang terjadi semalam. Setelah semua rasa takut dan sedihnya hilang bersama malam yang berganti pagi, Bianca kembali memulai harinya dengan penuh senyum seperti biasa.
"Mama dan papa hanya akan bahagia jika aku bisa menjalani hariku dengan bahagia," ucap Bianca dalam hati.
Untuk beberapa saat Bianca hanya terdiam menatap Arga yang masih tertidur di hadapannya.
"Benarkah dia mengkhawatirkanku? mungkinkah laki-laki angkuh dan sombong ini benar-benar mengkhawatirkanku?" batin bianca bertanya dalam hati.
Tanpa sadar Bianca tersenyum. Tak dapat dipungkiri laki-laki di hadapannya itu memang sangat tampan, bahkan ia terlihat masih tampan saat sedang tertidur.
"Sebagai laki-laki dia memang nyaris sempurna, dia tampan, kaya, pintar, menguasai banyak hal yang bahkan tidak berhubungan dengan dunia bisnis, dia juga pekerja keras," ucap Bianca dalam hati.
"Tidak heran jika banyak perempuan yang berusaha mendekatinya, hanya saja..... dia sangat angkuh dan sombong, sangat berbeda dengan kak Bara yang baik, penyayang dan penuh perhatian," lanjut Bianca dengan senyum mengembang di bibirnya saat sosok Bara kembali melintas di kepalanya.
Tiba-tiba Arga menggeliat, membuat Bianca begitu terkejut. Bianca kemudian membangunkan Arga dengan memanggilnya pelan.
Namun Arga masih tampak lelap dalam tidurnya, membuat Bianca akhirnya memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Arga.
"Arga, bangunlah!" ucap Bianca pelan sambil menyentuh tangan Arga.
Tiba tiba tangan Arga bergerak dan menggenggam tangan Bianca, membuat Bianca segera menarik tangannya dari genggaman Arga.
Argapun seketika terbangun dari tidurnya dan begitu terkejut saat melihat Bianca yang ada di tepat di hadapannya.
"Bianca! kau membuatku terkejut!" ucap Arga sambil memegang dadanya.
"Kau yang membuatku terkejut, kenapa kau tidur disini?" balas Bianca bertanya.
"Aku? aku...... tidak tahu," jawab Arga kemudian beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Aneh sekali," ucap Bianca dengan mengernyitkan keningnya.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah laundry room dengan membawa selimut milik Arga.
Di sisi lain, Arga yang baru saja masuk ke kamarnya segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tiba-tiba saja bau parfum Bianca seperti menyapa hidungnya, membuatnya teringat kejadian semalam yang terjadi antara dirinya dan Bianca.
"Dia perempuan pertama yang masuk ke kamarku, jika bukan karena keadaanya yang seperti itu aku tidak mungkin membawanya kesini," ucap Arga sambil beranjak dari ranjangnya kemudian melepas bed cover dan semua yang melekat di atas ranjangnya lalu menggantinya dengan yang baru.
Namun saat ia kembali merebahkan badannya di ranjang, entah kenapa bayangan Bianca yang ketakutan masih terngiang di kepalanya.
Ia masih bisa mengingat dengan jelas semua hal yang Bianca ceritakan padanya malam itu.
"Apa selama ini dia berpura-pura untuk terlihat ceria?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
"Menyedihkan sekali hidupnya, tapi.... masa bodoh, aku tidak peduli!" ucap Arga kemudian beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi.
"Tunggu dulu, dia menyebut 'kak Bara', siapa dia? sepertinya dia seseorang yang sangat perhatian pada Bianca? apa dia kekasihnya?" tanya Arga saat ia mengingat nama "Bara" yang Bianca sebut dalam ceritanya.
"Tapi sepertinya Bianca tidak memiliki kekasih, dia..... aaargghhh kenapa aku memikirkan hal itu!" ucap Arga kesal pada dirinya sendiri yang membuatnya tanpa sadar membuka botol shampo dan mengeluarkannya di atas sikat giginya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Arga tersadar dengan rasa aneh dan pahit yang ia rasakan saat ia mulai menggosok gigi.
"Ini bukan pasta gigi.... astaga.... kenapa aku bodoh sekali!"
Arga segera berkumur lalu menggosok giginya dengan pasta gigi.
"Untung saja tidak tertelan," ucap Arga kemudian membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi setelah ia menyelesaikan urusan mandinya.
Setelah selesai bersiap, Arga kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Namun saat melewati meja makan, Bianca tiba tiba memanggilnya.
"Aku sudah menyiapkannya untukmu, kau harus memakannya," ucap Bianca sambil menunjuk sepiring nasi goreng di atas meja makan.
"Kau sendiri yang membuatnya?" tanya Arga sambil membawa langkahnya ke arah meja makan.
"Iya, aku sudah mempelajari banyak resep dari YouTube dan ini adalah hasil terbaikku," jelas Bianca.
"Terlihat cantik, tapi bagaimana dengan rasanya?"
"Kau akan tau setelah kau mencobanya, duduklah!" jawab Bianca sambil menggeser kursi agar Arga duduk.
"Ini adalah nasi goreng pertama yang aku buat, sebagai bentuk terima kasih karena kau sudah mendengar ceritaku semalam, aku harap kau tidak akan menceritakan hal itu pada orang lain," ucap Bianca.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian menyendok sedikit nasi goreng di hadapannya dengan ragu.
Akhirnya satu suapanpun masuk ke mulut Arga. Untuk beberapa saat Arga terdiam, merasakan rasa garam yang seolah memenuhi seluruh mulutnya saat itu.
"Kenapa kau tidak mengambil minum untukku?" tanya Arga berusaha menahan respon wajahnya atas rasa asin yang mendominasi lidahnya saat itu.
"Aahhh iya aku lupa, aku akan mengambilnya," ucap Bianca lalu segera berlari ke dapur untuk mengambil minuman.
Tepat saat Bianca kembali, ponsel Arga berdering, sebuah panggilan dari Daffa yang mengharuskan Arga agar segera datang ke kantor.
"Good job Daffa," batin Arga bersorak dalam hati.
"Bee, aku harus segera pergi, terima kasih untuk nasi gorengnya," ucap Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu meminum minuman yang baru saja Bianca taruh di atas meja.
Arga meminumnya sampai habis tak bersisa, agar rasa asin dalam lidahnya sedikit berkurang.
"Sepertinya dia sangat haus," ucap Bianca pelan sambil menatap Arga yang berlari keluar dari rumah.
"Ada tamu non," ucap bibi pada Bianca yang hendak memakan nasi goreng buatannya.
"Selamat pagi Tuan Putri," sapa Lola dengan melambaikan tangannya.
"Selamat pagi dayang-dayangku, kenapa kau kesini pagi-pagi sekali?"
"Kau harus membantuku merevisi skripsiku sebelum aku membawanya ke kampus nanti siang," jawab Lola kemudian duduk di samping Bianca dan merebut sendok dari tangan Bianca.
"Baiklah, tapi setelah aku menyelesaikan sarapanku," balas Bianca.
Lola hanya menganggukkan kepalanya lalu menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke mulutnya.
Seketika Lola memuntahkan seluruh nasi goreng yang baru saja menyentuh lidahnya. Ia segera berlari ke dapur dan meminta minuman pada bibi.
"Astaga Bianca, siapa yang memasak nasi goreng beracun itu?" tanya Lola setelah menghabiskan satu gelas penuh air minum.
"Nasi goreng beracun? apa maksudmu? kenapa kau memuntahkannya?" balas Bianca bertanya
"Apa kau sudah makan nasi goreng itu?" tanya Lola yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bianca
"Lebih baik kau tidak memakannya atau lidahmu akan rusak karenanya," ucap Lola yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Apa rasa nasi goreng ini sangat buruk?" tanya Bianca.
"Lebih dari buruk Bianca, ini makanan beracun, tidak pantas dimakan oleh manusia, bahkan hewan sekalipun!" jawab Lola yang membuat Bianca kesal.
"Memangnya siapa yang memasak nasi goreng itu? apa mungkin bibi yang memasaknya?" lanjut Lola bertanya.
"Aku yang memasaknya," jawab Bianca pelan lalu mencicipi nasi goreng buatannya.
Benar saja, Biancapun sama seperti Lola. Bianca segera memuntahkan nasi goreng yang baru menyentuh lidahnya karena rasa asin yang kini memenuhi seluruh mulutnya.
"Astaga ini asin sekali!" ucap Bianca yang segera meminum segelas air.
"Kau yang membuatnya Bianca? astaga.... apa kau tidak mencicipinya terlebih dulu? apa jangan-jangan kau tidak bisa membedakan garam dan gula?" tanya Lola.
__ADS_1
"Aku memang tidak mencicipinya karena aku pikir aku sudah membuatnya dengan sempurna," jawab Bianca yang tiba-tiba kehilangan semangatnya.
"Lagi pula kenapa kau memasak, bukankah sudah ada bibi yang memasak untukmu?"
"Sebenarnya aku sengaja memasak untuk Arga, tapi dia terburu-buru berangkat ke kantor jadi hanya memakannya sesuap," jelas Bianca.
"Kau memberikan masakan beracun ini pada Arga? lalu apa yang dia katakan padamu? seperti apa dia memakimu Bianca, katakan padaku!"
Bianca menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, karena Arga sama sekali tidak berkomentar apapun tentang nasi goreng buatannya.
"Kenapa kau hanya menggelengkan kepalamu Bianca? katakan padaku ucapan kasar seperti apa yang Arga katakan padamu?"
"Dia tidak mengatakan apapun tentang nasi goreng itu, padahal dia sudah memakannya sesuap," jawab Bianca yang membuat Lola begitu terkejut.
"Apa kau serius Bianca?" tanya Lola tak percaya.
"Aku juga heran kenapa dia tidak berkomentar apapun, padahal nasi goreng ini sangat buruk, tidak mungkin lidahnya sakit bukan?"
"Hmmm.... sepertinya ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua, ceritakan padaku, apa kalian sudah saling jatuh cinta?" ucap Lola sekaligus bertanya dengan membawa wajahnya mendekat tepat di depan wajah Bianca.
"Apa yang kau bicarakan, tidak akan ada hal seperti itu antara aku dan Arga," balas Bianca sambil menyingkirkan wajah Lola dari hadapannya.
"Lalu kenapa seorang Bianca yang sama sekali tidak bisa memasak ini tiba-tiba memasak untuk suaminya, kenapa? kenapa? kenapa?"
"Aku memasak untuknya sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah mendengar ceritaku semalam," jawab Bianca.
"Cerita apa?" tanya Lola penasaran.
"Sebaiknya kita bicara di kamarku saja," balas Bianca lalu pergi ke kamarnya diikuti oleh Lola.
Bianca kemudian menceritakan pada Lola tentang apa yang terjadi semalam. Tentang lampu kamarnya yang tiba-tiba padam, tentang Arga yang masuk ke kamarnya dan membawanya ke kamar Arga hingga tentang ia yang menceritakan tentang kejadian yang membuatnya trauma dengan ruangan gelap.
"Aku tidak tau kenapa aku menceritakan semua itu pada Arga, mungkin karena aku terlalu terbawa suasana malam itu," ucap Bianca di akhir penjelasannya.
Seketika Lola menggenggam tangan Bianca, ia mengerti ketakutan seperti apa yang Bianca rasakan saat itu.
Ia mengerti betapa sulitnya bagi Bianca bahkan hanya untuk mengulas kembali masa-masa sulit itu.
"Apa kau sekarang baik-baik saja?" tanya Lola.
Bianca menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum.
"Kapanpun kau membutuhkan teman untuk bercerita, jangan pernah lupa jika kau memilikiku Bianca, tapi aku juga senang jika kau bisa berbagi ceritamu dengan Arga," ucap Lola.
"Terima kasih Lola," balas Bianca lalu menyandarkan kepalanya di bahu Lola.
Di tempat lain, Arga sedang mengadakan meeting di kantornya. Beberapa kali ia tampak meregangkan badannya yang terasa kaku. Hal itu tentu saja disadari oleh Daffa.
"Kenapa kau terlihat sangat lelah sekali? apa terjadi sesuatu?" tanya Daffa setelah Arga mengakhiri meetingnya.
"Sepertinya karena aku tidur di sofa semalam," jawab Arga sambil memijit pundaknya.
"Memangnya kenapa kau tidur di sofa? bukankah kau tidak bisa tidur jika tidak di ranjang yang luas?"
"Aku tidak sengaja tertidur saat menemani Bianca, semalam dia......"
Arga menghentikan ucapannya. Ia sadar jika ia tidak boleh menceritakan apa yang terjadi semalam pada orang lain.
"Dia? dia kenapa? kenapa kau menemani Bianca tidur di sofa?" tanya Daffa tak sabar mendengar kelanjutan ucapan Arga.
"Aahhh sudahlah, kau kepo sekali, cepat selesaikan pekerjaanmu sebelum aku menambahnya dengan pekerjaan lain!" ucap Arga mengalihkan pembicaraan kemudian berjalan cepat meninggalkan Daffa.
Sedangkan Daffa segera berlari mengikuti Arga dan mencecar Arga dengan banyak pertanyaan tentang Bianca.
Namun Arga sama sekali tidak menjawab pertanyaan Daffa, membuat Daffa akhirnya menyerah.
Dalam hatinya ia senang jika Arga menjadi lebih dekat dengan Bianca. Sebagai sahabat, Daffa tidak ingin Arga jatuh ke tangan yang salah.
Meskipun ia tahu jika Arga sangat tergila-gila pada Karina, tetapi ia yakin jika Arga pasti bisa membuka hatinya untuk Bianca jika Arga semakin lama semakin dekat dengan Bianca.
Daffa sangat tau pengkhianatan seperti apa yang sudah Karina lakukan pada Arga dan ia tidak ingin jika Arga jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Itu kenapa selama ini Daffa selalu bekerja sama dengan orang tua Arga untuk mendekatkan Arga dengan Clara, berharap Arga akan membuka hatinya untuk Clara.
Namun ternyata kini Arga sudah memilih Bianca yang ia biarkan masuk ke dalam kehidupannya, membuat Daffa berpikir untuk berusaha menjaga hubungan Arga dengan Bianca.
__ADS_1