
Tanpa Arga tahu, Karina sengaja pergi ke Lombok saat ia mengetahui jika Arga akan pergi kesana bersama keluarganya.
Bian yang sudah pergi ke luar negeri, membuat Karina bebas untuk pergi kemanapun yang dia mau, termasuk pergi menemui Arga di tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
"Apa kau disini bersama Bian?" tanya Arga pada Karina.
"Tidak, aku disini sendirian karena Bian pergi ke luar negeri," jawab Karina.
"Baguslah kalau begitu," ucap Arga dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kau mau pergi sekarang? bisakah kau memberi tahuku tempat makan yang enak di dekat sini? aku sedang berhemat jadi tidak bisa pergi jauh hanya untuk makan," tanya Karina beralasan.
"Aku tahu, ikutlah denganku kebetulan aku juga belum makan apapun pagi ini," jawab Arga lalu meraih tangan Karina dan membawa Karina masuk ke dalam mobilnya.
"Apa aku boleh disini bersamamu? bagaimana dengan Bianca dan mama papamu?" tanya Karina saat ia sudah berada di dalam mobil Arga.
"Mereka sedang berada di pantai, aku akan menyusul setelah aku mengantarmu kembali kesini," jawab Arga.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Bianca.
"Arga, kau dimana? kenapa lama sekali?"
Tanpa ragu Arga membalas pesan Bianca dengan berbohong.
"Kau bisa berangkat sendiri menggunakan taksi bukan? aku harus pergi ke suatu tempat, aku akan menyusul setelah aku menyelesaikan urusanku."
Arga kemudian menonaktifkan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku kemudian mengendarai mobilnya pergi bersama Karina yang duduk di sampingnya.
"Apa tidak sebaiknya kau menyusul keluargamu dulu Arga? aku tidak ingin mereka salah paham jika melihatmu bersamaku," tanya Karina pada Arga.
"Jangan khawatir, aku akan mengajakmu menikmati makanan dengan pemandangan yang indah," balas Arga dengan tersenyum pada Karina.
Sedangkan di sisi lain, Bianca yang menunggu di depan lobby hanya menghela nafasnya kesal setelah ia membaca pesan Arga.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya lalu keluar dari hotel untuk mencari taksi.
"Itu mobil Arga, kemana dia pergi?" tanya Bianca yang melihat mobil Arga baru saja keluar dari area hotel.
"Bagaimana jika mama dan papa menanyakan tentang Arga? apa yang harus aku katakan pada mereka jika aku saja tidak tau kemana Arga pergi!" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama menunggu, taksipun datang dan membawa Bianca pergi dari hotel. Beberapa lama dalam perjalanan, Bianca akhirnya sampai di pantai dimana ia akan bertemu mama dan papa Arga.
Dengan ragu Bianca membawa langkahnya menghampiri mama dan papa Arga.
"Bianca, dimana Arga? kenapa kau sendirian?" tanya Nadine yang melihat Bianca berjalan menghampirinya.
"Mmmm.... Arga.... Arga pergi sebentar ma, dia akan datang setelah dia menyelesaikan urusannya," jawab Bianca.
"Memangnya dia pergi kemana? urusan apa yang dia maksud?" tanya Nadine pada Bianca.
"Bianca lupa menanyakannya ma hehe...." balas Bianca dengan tersenyum canggung.
"Sudahlah, lebih baik mama bertanya langsung pada Arga saat dia datang, sekarang kita bersenang-senang saja disini," ucap David.
"Apa Arga terbiasa pergi tanpa memberi tahumu Bianca?" tanya Nadine pada Bianca.
"Arga selalu memberi tahu Bianca ma, tadi dia terburu-buru jadi tidak sempat mengatakannya pada Bianca," jawab Bianca beralasan.
"Mama akan menghubunginya!" ucap Nadine lalu mengambil ponselnya dari dalam tas, namun dicegah oleh sang suami.
"Biarkan Arga menyelesaikan urusannya ma, dia pasti akan segera kembali!" ucap David.
Di tempat lain, Arga mengendarai mobilnya ke arah salah satu restoran yang menyajikan pemandangan laut.
Dari tempat duduknya, Arga dan Karina bisa melihat gulungan ombak yang memecah karang.
"Kau bisa memesan apapun yang kau inginkan disini!" ucap Arga pada Karina.
"Terima kasih Arga," balas Karina.
Mereka kemudian menikmati makanan mereka dengan sesekali mengobrol, bercanda dan tertawa.
"Jika kau mau, aku bisa mengajakmu kesana," ucap Arga sambil membawa pandangannya pada pantai yang berada tidak jauh dari tempat mereka.
"Tentu saja aku mau, tapi bukankah kau harus segera pergi?" balas Karina.
"Aku tidak terburu-buru, ayo kita kesana sekarang," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya.
Akhirnya Arga dan Karina sampai di tujuan mereka, sebuah pantai dengan garis pantai yang tidak terlalu panjang ditemani gulungan ombak yang beberapa kali memercikkan dirinya karena menghantam karang besar yang ada di tepi pantai.
Arga dan Karina kemudian melepas alas kaki mereka lalu berlarian di sepanjang bibir pantai. Sesekali mereka bermain air dengan tertawa penuh keceriaan.
__ADS_1
Untuk sesaat Arga lupa jika dirinya sudah menikah dengan Bianca, waktu membawa dirinya menyelami kebersamaannya dengan Karina saat itu.
Begitu juga Karina yang untuk beberapa saat melupakan Bian, laki-laki yang sudah menjadi tunangannya.
Dalam hatinya ia merasa begitu bahagia karena bisa menikmati waktunya bersama Arga setelah beberapa hari sebelumnya Bian hampir membuatnya gila.
Setelah puas berlarian dan bermain air, Arga dan Karinapun beristirahat di bawah pohon kelapa yang ada di tepi pantai.
Pantai yang jarang didatangi pengunjung itu bak pantai eksklusif bagi mereka berdua karena hanya ada Arga dan Karina disana.
"Aku benar-benar bahagia hari ini," ucap Karina dengan penuh senyum.
"Aku bisa melihatnya, sepertinya sudah sangat lama aku tidak melihatmu ceria seperti ini," balas Arga.
"Itu karena kita jarang bertemu," ucap Karina.
"Apa kau juga seceria ini saat bersama Bian?" tanya Arga.
"Jangan membahas seseorang yang tidak ada disini," balas Karina.
"Oke baiklah, jadi kenapa kau bisa ada disini? apa kau pergi kesini karena kau tau aku juga disini?" tanya Arga.
"Jangan terlalu percaya diri Arga, kebetulan Bian menyiapkan liburanku disini sebelum dia pergi ke luar negeri," jawab Karina berbohong.
"Kebetulan sekali, berapa lama kau akan disini?" tanya Arga.
"Tidak akan lama, besok aku harus kembali," jawab Karina.
"Besok? cepat sekali!"
"Begitulah," balas Karina dengan tersenyum.
"Kalau begitu bagaimana jika nanti malam kita bertemu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah disini," ucap Arga.
"Benarkah? tapi bagaimana dengan....."
"Serahkan semuanya padaku, kau harus memanfaatkan waktumu disini dengan baik sebelum kau pulang," ucap Arga memotong ucapan Karina.
"Terima kasih banyak Arga, sepertinya liburanku kali ini akan sangat menyenangkan walaupun hanya sebentar," ucap Karina.
"Aku akan membuat kenangan indah yang tidak akan pernah kau lupakan selama kau disini," ucap Arga yang hanya dibalas senyum tipis oleh Karina.
Karina kemudian beranjak dari duduknya, diikuti oleh Arga yang kini sudah berdiri di samping Karina.
Seketika Arga terdiam, namun entah kenapa tiba-tiba bayangan Bianca memenuhi kepalanya saat itu.
Kilasan memorinya seolah memutar kembali kecupan singkat yang Bianca lakukan padanya saat Bianca tengah mabuk, membuat dadanya seketika bergemuruh dengan detaknya yang begitu cepat.
"Arga....."
"Aku akan mengantarmu kembali ke hotel sekarang," ucap Arga memotong ucapan Karina.
"Ke hotel? sekarang?" tanya Karina yang seolah tidak setuju dengan apa yang Arga katakan.
"Iya, aku harus menemui mama dan papa sebelum mereka mencurigaiku," jawab Arga lalu berjalan pergi begitu saja.
Karina menghela nafasnya kesal lalu berjalan mengikuti Arga. Sepanjang perjalanan untuk kembali ke hotel, Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Bayangan Bianca masih terngiang di kepalanya. Semua yang Bianca lakukan malam kemarin terekam dengan jelas di kepalanya dan hal itu membuat Arga tanpa sadar mengabaikan Karina yang duduk di sampingnya.
"Arga, apa kau marah padaku?" tanya Karina pada Arga yang sedari tadi hanya diam sejak mereka meninggalkan pantai.
Hening, tak ada jawaban apapun dari Arga.
"Arga, kau tidak mendengarku?" tanya Karina dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Aahh iya, apa?" tanya Arga yang terkejut karena sedari tadi ia hanya fokus menyetir dengan Bianca yang selalu menghantui pikirannya.
"Kau mengabaikanku," ucap Karina kesal.
"Aku tidak mengabaikanmu Karina, aku hanya..... memikirkan masalah pekerjaan saja," balas Arga berasalan.
"Lagi-lagi masalah pekerjaan, aku pikir kau sudah berubah Arga, tetapi ternyata kau tetap saja seperti dulu, bagimu pekerjaan adalah sesuatu yang paling penting dalam hidupmu!" ucap Karina yang semakin kesal.
"Aku....."
"Apa kau sadar jika apa yang kau lakukan itu bisa membuat pasanganmu sangat kesal? kau selalu saja seperti ini sejak kita bersama dulu, yang ada dalam kepalamu hanya pekerjaan dan pekerjaan!" ucap Karina memotong ucapan Arga dengan emosi.
"Kenapa kau selalu marah hanya karena masalah sepele seperti ini Karina? tidak bisakah kau memahami pekerjaanku sedikit saja?" balas Arga yang mulai terpancing emosinya.
"Turunkan aku disini!" ucap Karina dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Karina, aku minta maaf, aku...."
"Aku bukan lagi kekasihmu Arga, kau tidak berhak membentakku!" ucap Karina dengan mengalihkan pandangannya dari Arga.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Arga dengan meraih tangan Karina.
Karina hanya diam, berusaha menjatuhkan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Aku minta maaf Karina, tolong lupakan perkataanku tadi," ucap Arga pada Karina yang akhirnya berhasil menjatuhkan air mata di pipinya.
Arga yang merasa bersalahpun menghapus air mata di pipi Karina lalu menggenggam kedua tangan Karina.
"Aku akan benar-benar membuatku bahagia selama kau disini, aku yakin nanti malam akan menjadi malam yang indah untukmu," ucap Arga yang berusaha memperbaiki keadaan.
"Bagaimana jika kau membatalkannya karena masalah pekerjaan?" tanya Karina.
"Tidak mungkin, aku sudah menyerahkan semua pekerjaanku pada Daffa," jawab Arga.
"Tapi kenapa dari tadi kau mengabaikanku? kau hanya diam memikirkan pekerjaanmu tanpa memperdulikanku!"
"Maafkan aku, ini tidak akan terulang lagi, aku janji," ucap Arga berusaha meyakinkan Karina.
Setelah suasana hati Karina mulai membaik, Argapun melanjutkan perjalannya untuk mengantar Karina kembali ke hotel.
"Kau tidak akan mengingkari janjiku bukan nanti malam?" tanya Karina sebelum ia keluar dari mobil Arga.
"Tentu saja tidak, aku akan menghubungimu nanti malam, sekarang beristirahatlah!" balas Arga.
Karina menganggukkan kepalanya lalu memberikan kecupan singkatnya di pipi Arga sebelum ia turun dari mobil Arga.
Arga hanya tersenyum tipis lalu mengusap pipinya. Entah kenapa yang ada dipikirkannya saat itu hanya Bianca. Ia bahkan merasa tidak nyaman dengan apa yang Karina lakukan padanya.
"Aku pasti sudah gila!" ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu mengendarai mobilnya ke arah pantai, dimana orang tuanya dan Bianca berada.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat tujuannya. Tak lupa ia membawa paper bag yang berisi 2 buah topi pantai yang baru saja dia beli.
Arga membawa langkahnya menuju ke tepi pantai sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bianca.
Arga tersenyum tipis saat matanya menangkap Bianca yang tampak sedang bercanda dan tertawa bersama mama dan papanya.
Dengan pelan, Arga berjalan mendekati Bianca dan memeluk Bianca dari belakang. Hal itu tentu saja membuat Bianca terkejut dan segera melepaskan dirinya lalu dengan cepat menendang Arga yang ada di belakangnya sampai Arga terjatuh terduduk di pasir pantai.
"Aaaargghh Bianca....." ucap Arga merintih sambil memegangi perutnya.
"Arga!"
Bianca yang terkejut segera menghampiri Arga dan membantu Arga berdiri.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Bianca merasa bersalah, terlebih ada mama dan papa Arga disana.
"Ini sama sekali tidak sakit, aku hanya berpura-pura," balas Arga sambil mengusap perutnya yang sebenarnya sangat sakit saat itu.
Melihat hal itu, mama dan papa Arga hanya tertawa kecil melihat apa yang Arga dan Bianca lakukan.
"Kau dari mana saja Arga? memangnya hal penting apa yang membuatmu membiarkan Bianca kesini sendirian?" tanya Nadine pada Arga.
"Arga mencari ini," jawab Arga sambil memakaikan topi pantai di atas kepala Bianca lalu memainkannya juga pada sang mama.
"Kenapa kau tiba-tiba membeli topi ini?" tanya Bianca yang merasa geli dengan topi berwarna pink yang ia kenakan saat itu.
"Tentu saja agar matahari tidak mengganggumu," jawab Arga.
Setelah semuanya berkumpul, tak lama kemudian mereka pergi ke salah satu kedai makanan laut yang ada disana untuk makan siang.
Setelah puas menikmati makanan laut, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat lain sampai matahari semakin turun ke peraduannya.
Mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke hotel sebelum gelap dan akan keluar untuk makan malam setelah beristirahat sejenak.
"Sepertinya kau pergi tidak hanya untuk membeli topi ini," ucap Bianca pada Arga saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.
"Apa maksudmu?" tanya Arga berusaha menyembunyikan kegugupannya, takut Bianca mengetahui kebohongannya.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Bianca.
"Tidak ada masalah apapun Bianca, aku memang pergi untuk mencari topi ini," jawab Arga.
"Baiklah, kau hanya perlu ingat, kau bisa memberi tahuku jika ada masalah dengan pekerjaanmu, aku mungkin tidak banyak membantu, tapi setidaknya aku bisa memberimu sudut pandang yang berbeda dari masalahmu," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
Arga kemudian membawa langkahnya masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Arga hanya diam menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Bianca dan Karina benar-benar berbeda, meskipun aku sering mengabaikannya, tapi dia tetap peduli padaku, dia bahkan sudah melakukan hal besar untuk membantuku menyelesaikan masalah perusahaan," ucap Arga dalam hati.
Arga menghela nafasnya panjang lalu berdiri di bawah guyuran air shower.
__ADS_1
"Bara pasti sangat beruntung karena bisa mendapatkan gadis secantik dan sebaik Bianca," ucap Arga dengan rasa iri yang datang tanpa ia sadar.