Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Mengkhawatirkan Arga


__ADS_3

Bianca masih membantu Arga untuk berjalan ke arah kamar Arga. Namun saat ia akan menaiki tangga ke lantai 3, ia menghentikan langkahnya.


Bianca ragu untuk melanjutkan langkahnya mengingat Arga yang melarangnya untuk naik ke lantai 3, apa lagi masuk ke kamarnya.


Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga, Arga yang memahami apa yang Bianca pikirkan saat itu hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


Merasa mendapat persetujuan dari Arga, Biancapun melanjutkan langkahnya dengan masih membantu Arga untuk berjalan menaiki tangga sampai akhirnya mereka sampai di depan kamar Arga.


Bianca kemudian membuka pintu kamar Arga dan membantu Arga untuk berbaring di ranjangnya.


"Aku akan meminta bibi untuk menghubungi dokter keluarga, kau beristirahatlah dulu!" ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


Bianca kemudian membawa langkahnya menuruni tangga lalu memberitahu bibi untuk menghubungi dokter keluarga. Setelah itu Bianca meminta bibi untuk membawakan buah dan minuman ke kamar Arga.


Setelah beberapa lama menunggu, dokter yang ditunggupun datang. Bianca segera mempersilakan dokter untuk masuk ke kamar Arga. Setelah beberapa lama memeriksa keadaan Arga dokter itupun keluar dari kamar Arga.


"Bagaimana keadaan Arga dok? apa yang terjadi padanya?" tanya Bianca pada dokter.


"Dia baik-baik saja, bisa jadi dia merasa pusing karena tekanan dari pekerjaannya, setelah beristirahat dan minum obat rasa pusingnya pasti akan hilang," jelas dokter.


"Baik dok terima kasih," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh dokter.


Setelah dokter pergi, Bianca kemudian masuk ke kamarnya. Jika boleh jujur sebenarnya ia ingin menghampiri Arga untuk memastikan bagaimana keadaan Arga saat itu, tetapi ia tidak bisa masuk ke kamar Arga sembarangan, jadi tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Lola.


"Halo Lola, ada apa kau menghubungiku malam-malam seperti ini?" tanya Bianca setelah ia menerima panggilan Lola.


"Besok pagi ada acara pameran buku, pasti banyak buku-buku dengan harga miring, kau mau datang bersamaku bukan?"


"Mmmm..... sepertinya kali ini aku tidak bisa datang," balas Bianca.


"Kenapa? bukankah pameran buku itu sudah seperti surga bagimu?" tanya Lola.


"Kau benar, tapi..... mmmmm....."


"Ada apa Bianca? apa terjadi sesuatu padamu? apa Arga melarangmu untuk keluar dari rumah? katakan padaku jangan membuatku khawatir!" tanya Lola. mengkhawatirkan Bianca.


"Tidak, bukan seperti itu, hanya saja.... Arga sedang sakit jadi aku tidak bisa meninggalkannya," jawab Bianca.


"Arga sakit? Apa dia sedang ada di rumah sakit sekarang?" tanya Lola.


"Tidak, dia ada di rumah, dokter bilang kemungkinan dia merasa tertekan dengan pekerjaannya yang membuatnya merasa pusing dan lemas," jawab Bianca.


"Jadi kau tidak bisa datang ke pameran buku karena kau ingin menjaga suamimu yang sedang sakit itu?" tanya Lola.


"Apa menurutmu aku berlebihan jika aku melakukan hal itu?" balas Bianca bertanya.


"Tentu saja tidak, seorang istri memang wajar menjaga suaminya yang sedang sakit, tetapi bukankah hubunganmu dengan Arga bukan hubungan suami istri yang seperti itu!"


Bianca terdiam untuk beberapa saat, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Lola.


"Aku tidak akan memaksamu Bianca, jika kau mengkhawatirkan keadaan Arga memang lebih baik kau di rumah saja menjaganya," ucap Lola.


"Maafkan aku Lola, aku tidak bisa menemanimu ke pameran buku besok," ucap Bianca.


"Tidak masalah," balas Lola.


**


Waktu berlalu, mentari pagipun datang menyapa. Bianca bangun lebih pagi dari biasanya. Ia segera menemui bibi yang sedang memasak di dapur.


"Apa Arga sudah turun bi?" tanya Bianca pada bibi.


"Belum non, apa mau bibi panggilkan?" balas bibi.


"Tidak perlu bi, oh ya Bi apa bibi tahu makanan apa yang biasanya Arga makan saat dia sedang sakit?" jawab Bianca sekaligus bertanya.


"Tuan Arga biasanya menyukai sup hangat non, bibi selalu diminta membuatkan sup ayam hangat jika tuan Arga sedang tidak enak badan," jawab bibi.


"Apa bibi sedang membuatnya sekarang?" tanya Bianca


"Iya non, bibi sedang mempersiapkan bahan-bahannya sekarang," jawab bibi.


"Boleh Bianca membantu? Bianca ingin belajar membuat sup ayam hangat kesukaan Arga!"


"Tentu saja boleh, Tuan Arga pasti sangat senang jika tahu non Bianca yang memasaknya."


"Bianca hanya membantu bi, Bianca tidak ingin meracuni Arga dengan masakan buatan Bianca," ucap Bianca yang membuat bibi menahan tawanya.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur dengan bibi, sup ayam hangat buatan bibi dengan bantuan Biancapun selesai.

__ADS_1


Bianca kemudian membawa sup itu ke meja makan. Tak lama kemudian Bianca melihat Arga berjalan menuruni tangga dengan pakaian rapi seperti saat Arga akan berangkat ke kantor.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Bianca.


"Apa ada yang salah dengan pakaianku?" balas Arga bertanya


"Kau tidak akan berangkat ke kantor bukan?" tanya Bianca.


"Aku harus ke kantor, ada masalah yang harus segera aku selesaikan," jawab Arga.


"Tapi dokter mengharuskanmu untuk beristirahat Arga, setidaknya kau bisa libur beberapa hari saja," ucap Bianca.


"Aku baik-baik saja, aku tahu batas diriku sendiri," balas Arga.


"Tapi....."


"Aku harus pergi Bianca, kau tidak bisa menahanku!" ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil terus membawa langkahnya meninggalkan Bianca begitu saja.


Dengan cepat Bianca menahan tangan Arga, setidaknya ia harus memastikan Arga mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum Arga berangkat ke kantor.


"Aku sudah menyiapkan sup ayam hangat untukmu, kau harus memakannya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor!" ucap Bianca.


"Kau yang membuatnya?" tanya Arga.


"Tidak, aku hanya membantu bibi membuatnya, aku pastikan rasanya sama seperti yang biasa kau makan," jawab Bianca lalu menarik tangan Arga dan menggeser kursi agar Arga duduk.


"Aku tidak bisa menahanmu untuk melakukan apa yang kau inginkan, tetapi setidaknya habiskan makanan ini lalu minum obatmu!" ucap Bianca sambil menggeser mangkok sup ke hadapan Arga.


"Sejak kapan kau menjadi sangat peduli padaku?" tanya Arga sambil menyendok sup hangat dihadapannya.


"Aku..... aku tidak peduli padamu, aku hanya..... aku hanya tidak ingin Mama Nadine melihatku seperti istri yang tidak berguna," jawab Bianca beralasan.


"Apa kau memberitahu Mama apa yang terjadi padaku?" tanya Arga.


"Tidak, apa sebaiknya aku memberitahu Mama Nadine?"


"Jangan, lebih baik Mama tidak tahu karena itu hanya akan membuat mama mengkhawatirkanku," balas Arga.


Biancapun hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Arga. Ia hanya diam di tempat duduknya menemani Arga yang menikmati sup ayam hangat.


"Kau membawa obat yang dokter berikan padamu bukan?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku, kau akan jatuh cinta padaku nanti!" ucap Arga sambil menepuk-nepuk kepala Bianca lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja.


Bianca kemudian kembali ke dapur untuk menghampiri bibi, ia menanyakan pada bibi bahan apa saja yang bibi gunakan untuk membuat sup ayam yang Arga suka.


Bibi kemudian menjelaskan semuanya dengan detail pada Bianca dan Biancapun mencatat semua yang bibi ucapkan.


"Baik Bi, terima kasih sudah memberitahu Bianca," ucap Bianca kemudian berjalan masuk ke kamarnya.


"Aku tidak yakin apa aku bisa membuatnya dengan baik, tetapi tidak ada salahnya mencoba bukan?" ucap Bianca pada dirinya sendiri.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 siang. Saat itu Bianca masih berkutat di dapur dengan banyak sayur-sayuran di sekitarnya.


Sejak pagi Bianca belajar membuat sup ayam seorang diri. Ia sengaja tidak meminta bantuan pada bibi karena ia yakin dengan kemampuannya sendiri.


Tetapi sampai beberapa kali mencoba ia tidak bisa membuat sup ayam yang rasanya sama dengan rasa yang bibi buat.


"Waahh kau istri yang rajin sekali," ucap Lola yang sudah berdiri di belakang Bianca.


Biancapun segera membalik badannya dan begitu terkejut melihat keberadaan Lola di dapur.


"Lola, sejak kapan kau ada disini?" tanya Bianca.


"Sejak kau memotong wortel itu dengan penggaris," jawab Lola yang membuat Bianca segera menyembunyikan penggaris yang ada di dekatnya.


"Kau berlebihan sekali, kenapa memotong wortel saja harus menggunakan penggaris!" ucap Lola.


"Aku sudah membuat menu ini entah yang ke berapa kali dan selalu gagal, mungkin karena ukuran wortelku tidak tepat seperti ukuran wortel yang bibi buat, jadi aku harus mengukurnya dengan tepat agar rasanya bisa seperti buatan bibi," jelas Bianca yang membuat Lola tidak bisa menahan tawanya.


"Astaga Bianca, kau adalah perempuan paling pintar, paling cerdas yang pernah aku kenal, tetapi bisa-bisanya kau berpikir seperti itu, apa kau sedang bercanda hahaha....."


"Aku sedang berusaha Lola, bukan sedang bercanda," balas Bianca kesal.


"Ukuran wortel ini hanya akan mempengaruhi cepat atau tidaknya dia matang bukan mempengaruhi rasa!" ucap Lola.


"Aahhh entahlah aku lelah," ucap Bianca kemudian melepas celemek yang ia kenakan lalu berjalan ke arah ruang tengah dan menghempaskan dirinya di sofa yang ada disana.


"Sebenarnya kenapa kau sangat ingin bisa memasak Bianca, tidak mungkin karena Arga bukan?" tanya Lola.


"Tentu saja tidak, aku..... aku hanya ingin belajar memasak saja, bukankah kak Bara nanti akan semakin menyukaiku jika aku bisa memasak untuknya," balas Bianca beralasan.


"Hmmmm terserah kau saja, aku kesini untuk memberimu ini, kau pasti menyukainya," ucap Lola sambil memberikan sebuah kantong yang berisi buku yang baru saja ia beli di pameran buku.

__ADS_1


"Waaahh sudah lama aku mencari buku ini, aku bahkan tidak menemukannya di perpustakaan kota, apa kau serius memberikan buku ini untukku?"


"Tentu saja, aku membelinya karena aku tahu kau pasti menyukainya," balas Lola.


"Lolaaa......"


Biancapun memeluk Lola, ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat terbaik seperti Lola.


"Dimana suamimu? kenapa kau tidak menemaninya?" tanya Lola.


"Berhenti menyebutnya suamiku Lola, itu terdengar sangat aneh di telingaku!" ucap Bianca kesal.


"Hahaha baiklah," balas Lola.


"Dia sedang ada di kantor sekarang, aku sudah memintanya untuk libur tetapi sepertinya ada hal mendesak yang membuatnya tidak bisa libur, padahal dokter sudah memintanya untuk beristirahat," jelas Bianca.


"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya," ucap Lola.


"Bukan begitu, jika ada sesuatu yang buruk terjadi padanya pasti Mama Nadine akan menanyakan banyak hal padaku, aku hanya menghindari hal itu saja," balas Bianca.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang saat Bianca duduk di teras rumah. Sejak 1 jam yang lalu ia menunggu kedatangan Arga, namun sampai langit hampir gelap tidak ada tanda-tanda kepulangan Arga.


"Kenapa dia belum pulang? apa aku harus menghubunginya?" tanya Bianca pada dirinya sendiri sambil menimang-nimang ponsel yang ada di tangannya.


"Apa yang harus aku katakan jika aku menghubunginya? tidak mungkin aku bilang jika aku mengkhawatirkannya bukan?"


"Aaargghhh menyebalkan sekali, dia membuatku gelisah!"


Sampai langit benar-benar telah gelap seluruhnya, Bianca masih mondar-mandir di teras untuk menunggu kedatangan Arga.


Hingga akhirnya Bianca memutuskan untuk menghubungi Arga, namun tidak ada jawaban dari Arga.


"Apa dia sedang sibuk? apa ada masalah yang sangat berat di kantor? atau mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya?" tanya Bianca yang semakin mengkhawatirkan Arga.


"Tidak..... dia pasti baik-baik saja, dia pasti tahu kapan dia harus beristirahat dan kapan dia harus tetap bekerja, iya.... dia pasti baik-baik saja," ucap Bianca berusaha untuk berpikir positif.


Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan lewat pukul 09.00 malam namun Arga belum juga pulang, membuat Bianca semakin khawatir.


"Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus menghubungi Daffa!" ucap Bianca kemudian mencari nama Daffa di penyimpanan kontaknya.


"Nomor yang Anda tuju sedang......."


Bianca menghela nafasnya kesal lalu mengakhiri panggilannya pada Daffa. Bianca kemudian mengirim pesan pada Daffa untuk menanyakan keberadaan Arga, tetapi sampai lebih dari 30 menit belum ada balasan dari Daffa.


Tanpa Bianca tahu, Daffa yang sedang berada dalam perjalanan saat itu tidak menyadari jika ponselnya dalam keadaan mati.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak bisa diam saja menunggunya disini!" ucap Bianca yang semakin gelisah.


"Apa aku harus ke kantornya? apa boleh aku mendatanginya kesana? jika aku tidak mencarinya di kantor aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, setidaknya aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja," ucap Bianca kemudian segera berjalan masuk ke kamarnya.


Setelah berganti pakaian, Biancapun segera meninggalkan rumah dengan menggunakan taksi.


Di tempat lain, ponsel Arga berdering beberapa kali, namun Arga sengaja mengabaikannya.


Arga sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda karena masalah lain yang dia hadapi.


Namun saat Arga melihat nama Karina di layar ponselnya, Argapun segera menggeser tanda panah hijau di ponselnya.


"Halo Karina, ada....."


"Argaaa......" panggil Karina dengan terisak.


"Kau menangis? ada apa Karina? dimana kau sekarang? cepat katakan padaku!" tanya Arga khawatir.


"Aku di jalan raya.... Bian menurunkanku di jalan raya yang tidak aku tau," jawab Karina dengan terisak.


"Bagikan lokasimu padaku, aku akan segera kesana sekarang juga!" ucap Arga.


Setelah mendapatkan lokasi Karina, Argapun segera meninggalkan ruangannya. Arga berlari melewati lobby hingga akhirnya seseorang memanggil namanya.


"Arga!"


Arga begitu terkejut saat melihat Bianca berdiri di depan meja resepsionis.


"Arga, kau baik-baik saja? aku....."


"Apa yang kau lakukan disini Bianca?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.


"Aku mencarimu, aku....."


"Aku harus pergi, kau cepatlah pulang!" ucap Arga sebelum Bianca menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Kau mau kemana Arga?" tanya Bianca setengah berteriak karena Arga sudah berlari meninggalkannya.


__ADS_2