Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Memberi Tahu Daffa


__ADS_3

Setelah beberapa lama menunggu, pintu kamar Biancapun terbuka. Entah untuk ke berapa kalinya Arga dibuat terkesima oleh kecantikan Bianca.


Gaun dan sepatu mahal yang dipakainya seolah tidak sebanding dengan kecantikan Bianca yang tanpa perlu menggunakan make up tebal di wajahnya.


"Aku tau aku cantik, jadi berhentilah menatapku seperti itu atau bola matamu akan lepas!" ucap Bianca.


"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tidak menyangka saja jika gadis secantik dirimu ternyata tidur dengan mulut terbuka hahaha...." balas Arga.


"Apa maksudmu? jangan berbicara sembarangan!"


"Aku tau kau pasti akan mengelak, tapi setelah kau melihat buktinya, kau sudah tidak bisa mengelak lagi," ucap Arga lalu mengambil ponselnya dan mencari foto Bianca yang tertidur dengan mulut terbuka.


Arga kemudian menunjukkan foto itu pada Bianca, membuat Bianca begitu terkejut dan segera merebut ponsel Arga, namun dengan cepat Arga kembali menyimpan ponselnya.


"Eeiittss, apa yang akan kau lakukan? ini adalah foto terbaik yang ada di ponselku, jadi aku akan menyimpannya dengan aman hahaha....."


"Hapus foto itu Arga, kau membuatku malu!"


"Hahaha..... aku tidak akan menghapus foto terbaikku hahaha...."


"Arga......"


"Hahaha......"


Arga hanya tertawa lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Bianca.


"Jika kau tidak menghapus foto itu aku bisa melaporkanmu karena mengambil fotoku diam diam, kau pasti tau tentang UU ITE bukan?" ancam Bianca.


"Tentu saja aku tau, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku tidak peduli, aku tidak akan membiarkan siapapun menghapus foto itu!" balas Arga.


Bianca hanya bisa menghela nafasnya kesal. Namun diantara kekesalannya terbesit sebuah rasa yang aneh dalam hatinya saat ia melihat Arga yang tampak tertawa puas di depannya.


Setelah beberapa lama berkendara, Argapun sampai di tempat tujuannya. Arga kemudian membuka pintu mobilnya untuk Bianca. Dengan menggandeng tangan Bianca, Arga berjalan masuk ke dalam gedung di hadapannya.


Disana sudah ada banyak orang yang datang, pria ataupun wanita. Dengan hanya melihatnya saja Bianca sudah bisa menilai jika mereka adalah orang orang terpandang yang memiliki kekuasaan, tidak jauh seperti laki laki yang menggandeng tangannya saat itu.


"Aku akan memperkenalkanmu pada mereka," ucap Arga lalu membawa Bianca menghampiri salah satu partner kerjanya.


Mereka berbasa-basi sebelum akhirnya Arga mengenalkan Bianca pada beberapa partner kerjanya. Hingga tiba tiba seseorang datang dengan memanggil nama Arga dengan manja.


"Argaaa...." panggilnya yang hendak melakukan cipika cipiki, namun Arga menolaknya.


"Kenalkan, ini istriku, Bianca," ucap Arga sambil memperkenalkan Bianca pada perempuan itu.


"Kau terlihat cantik, pasti karena pakaian mahal yang Arga berikan padamu," ucap perempuan itu pada Bianca.


"Mungkin kita harus bertemu lagi lain waktu agar kau tau jika aku memang cantik bahkan tanpa pakaian mahal ini," balas Bianca dengan tersenyum.


"Huh sombong sekali, apa istrimu memang selalu sombong seperti ini Arga?"


"Dia memang cantik, bahkan tanpa make up ataupun pakaian di tubuhnya," balas Arga yang membuat semua yang ada disana tertawa.


Sedangkan Bianca hanya tersenyum canggung dengan berusaha menahan emosi karena ucapan Arga.


"Kau lulus dari universitas mana? apa jangan jangan kau tidak menyelesaikan kuliahmu?" tanya perempuan itu berusaha merendahkan Bianca.


"Aku memang tidak menyelesaikan kuliahku, tapi....."


"Kenapa itu penting sekali buatmu? aku dan keluargaku saja tidak mempermasalahkannya!" sahut Arga.


"Tentu saja itu penting Arga, kau pasti akan sangat kesusahan jika menikah dengan perempuan yang tidak selevel denganmu, dia tidak mengerti apapun tentang pekerjaanmu, tentang bootstarp, expense, stakeholder dan...."


"Jika hanya tentang hal hal dasar itu tentu saja aku tau," sahut Bianca yang kemudian menjelaskan dengan detail tentang maksud dari beberapa hal yang diucapkan oleh perempuan itu.


"Itu memang hal yang sangat mudah dan mendasar, semua orang pasti mengetahuinya, jadi kau tidak perlu menyombongkan hal itu," ucap perempuan itu.


Bianca tersenyum tipis kemudian membicarakan banyak hal tentang dunia bisnis yang sudah ia pelajari. Meskipun Bianca tidak menyelesaikan kuliahnya, tetapi ia selalu menyempatkan waktunya untuk mempelajari banyak hal baru dan membaca banyak buku tentang dunia bisnis.


Bahkan beberapa hal yang dibicarakan oleh Bianca adalah hal hal baru yang belum banyak orang tahu dalam dunia bisnis.


Semua yang ada disanapun dibuat terkesima oleh wawasan Bianca yang luas, termasuk Arga yang baru mengetahui jika Bianca adalah gadis cerdas yang tidak bisa diremehkan pengetahuannya.


Perempuan yang sedari tadi berusaha merendahkan Biancapun dibuat terdiam oleh penjelasan Bianca, alhasil perempuan itupun pergi begitu saja.


"Dari mana kau mengetahui tentang semua itu?" tanya Arga pada Bianca.


"Pengetahuan tidak hanya di dapat dari kuliah Arga, sekarang semua hal bisa kau dapatkan dari internet, selain itu di ruang baca juga banyak buku tentang bisnis bukan?" balas Bianca.

__ADS_1


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan, dalam hatinya ia sangat mengangumi sosok cantik dan cerdas di hadapannya.


Dari pertemuan itu, ada beberapa hal baru yang Arga ketahui tentang Bianca. Selain pengetahuannya yang cukup luas tentang dunia bisnis, Bianca juga fasih berbahasa Inggris dan beberapa bahasa asing lainnya, seperti bahasa Jepang, Korea dan Jerman.


Hal itu tentu saja membuat Arga semakin mengagumi Bianca. Gadis bar-bar yang ia temui di tengah malam tanpa alas kaki, ternyata adalah gadis penuh kejutan yang berhasil menarik perhatian Arga.


"Selamat pagi pak Arga," sapa seorang perempuan yang berjalan mendekati Arga.


Arga hanya sedikit menundukkan kepalanya tanpa senyum sedikitpun di wajahnya.


"Selamat atas keberhasilan proyek baru pak Arga," ucap perempuan itu.


"Terima kasih," balas Arga dengan raut wajah datar.


"Jika pak Arga berkenan, saya dan tim ingin mengundang pak Arga untuk makan malam bersama di....."


"Terima kasih, tapi maaf saya sudah ada janji dengan istri saya, ayo sayang," ucap Arga kemudian meraih tangan Bianca dan mengajak Bianca pergi begitu saja.


"Kenapa sikapmu dingin sekali? kau membuatnya malu Arga!"


"Biarkan saja!" balas Arga tidak peduli.


Bianca hanya menghela nafasnya melihat sikap Arga yang selalu tampak dingin di depan perempuan. Tidak hanya pada Clara, tapi juga pada Dokter Cindy dan beberapa perempuan lain yang berusaha mendekati Arga.


"Dia memang sangat sulit ditebak, dia selalu melakukan apapun yang ia mau tanpa memikirkan orang lain, tapi sikapnya yang dingin itu terkadang sangat jauh berbeda dengan saat dia bersamaku, terkadang aku seperti melihat dua orang yang berbeda dalam dirinya," ucap Bianca dalam hati sambil sesekali membawa pandangannya pada Arga yang berjalan di sampingnya.


"Berhenti mencuri pandang padaku jika kau tidak mau membayar 100 miliar karena jatuh cinta padaku!" ucap Arga yang membuat Bianca segera mengalihkan pandangannya dari Arga.


Merekapun masuk ke dalam mobil, di dalam mobil Bianca segera melepas sepatu hak tingginya karena sejak tadi ia merasakan perih di kakinya.


"Apa kakimu terluka lagi?" tanya Arga yang melihat tumit Bianca berdarah.


"Hanya luka kecil," jawab Bianca.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku Bianca?" tanya Arga lalu mengambil tissue kemudian sedikit berjongkok untuk membersihkan darah di kaki Bianca.


Namun dengan cepat Bianca merebut tissue itu dari tangan Arga.


"Aku bisa sendiri," ucap Bianca lalu membersihkan darah di kakinya dengan tissue.


"Sepertinya kakiku sedikit bertambah besar karena suntikan yang dokter berikan saat kakiku terluka," ucap Bianca.


"Apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Arga.


"Tidak perlu, dokter bilang dalam waktu satu bulan ini akan kembali normal," balas Bianca.


"Baiklah, tapi jika lebih dari satu bulan kakimu masih seperti itu maka kau harus kembali ke rumah sakit!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Aku hanya tidak ingin orang orang berpikiran yang tidak tidak tentangku jika mereka melihatmu tidak baik baik saja," lanjut Arga.


"Aku mengerti," balas Bianca.


"Semuanya hanya tentangmu, semuanya hanya demi kau, keluarga dan perusahaanmu, hanya itu yang sebenarnya kau khawatirkan, bukan aku," ucap Bianca dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Saat Arga baru saja membawa masuk mobilnya, ia melihat mobil Daffa yang terparkir di halaman rumahnya.


"Apa aku harus mengenakan sepatu ini lagi?" tanya Bianca.


"Tidak perlu, aku akan menggendongmu masuk," jawab Arga lalu keluar dari mobil.


Biancapun segera mengenakan sepatunya, tidak peduli pada luka di tumitnya, ia tidak ingin Arga menyentuhnya lagi, apa lagi menggendongnya.


"Kenapa kau...."


"Aku bisa berjalan sendiri," ucap Bianca memotong ucapan Arga kemudian berjalan mendahului Arga.


"Hai Daffa," sapa Bianca.


"Hai nona cantik," balas Daffa.


Bianca hanya tersenyum tipis kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Daffa dan Arga.


"Ada apa kau kesini?" tanya Arga pada Daffa.


"Laporan yang kau minta," jawab Daffa sambil memberikan sebuah map pada Arga.


"Thanks," ucap Arga.

__ADS_1


"Bagaimana pertemuan tadi? sepertinya berjalan lancar!" tanya Daffa.


"Tentu saja, Bianca ternyata....."


"Minuman!" ucap Bianca sambil memamerkan nampan berisi minuman dan makanan ringan lalu menaruhnya di meja yang ada di teras rumah.


"Waahhh nyonya Arga sudah menyiapkan minuman rupanya," ucap Daffa yang berjalan ke arah meja untuk mengambil minuman.


"Aku masuk dulu, kalian mengobrol saja!" ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga dan Daffa.


"Terima kasih nona cantik," bala Daffa yang segera mendapat pukulan dari Arga.


"Apa kau sedang menggodanya?" tanya Arga.


"Hahaha.... tentu saja tidak, rupanya kau pencemburu sekali tuan muda hahaha....." balas Daffa.


"Aku cemburu? tentu saja tidak," ucap Arga.


"Apa yang ingin kau katakan tadi? ada apa dengan Bianca di pertemuan tadi?" tanya Daffa.


"Dia ternyata cukup pintar, dia menguasai beberapa bahasa asing, dia juga memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang dunia bisnis, dia benar benar membuatku bangga!" jelas Arga dengan penuh senyum.


"Sepertinya kau sangat bangga padanya," ucap Daffa memperhatikan raut wajah Arga yang tampak bersemangat menceritakan tentang bianca.


"Tentu saja, dia....." Arga menghentikan ucapannya, ia sadar jika ia terlalu berlebihan.


"Aku hanya senang karena dia tidak membuatku malu," lanjut Arga dengan nada suara yang tiba tiba menjadi pelan.


"Hmmm.... sepertinya kau mulai jatuh cinta padanya," ucap Daffa.


"Tidak mungkin, aku hanya tidak menyangka saja jika di dalam kepalanya yang kecil itu dia menyimpan banyak hal yang membuatku terkejut," balas Arga.


"Aku sangat mengenalmu Arga, aku bisa melihat bagaimana kau sangat khawatir saat Bianca menghilang, bahkan saat Bianca keluar dari ruangannya di rumah sakit kau tampak sangat khawatir, padahal Bianca hanya berjalan-jalan bersama Lola," ucap Daffa.


"Tidak, aku tidak seperti itu," balas Arga tidak menyetujui ucapan Daffa.


"Kau sangat panik saat Bianca tidak ada di ruangannya, kau takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, kau bahkan....."


"Aku hanya tidak ingin media membuat berita yang tidak tidak, aku terlalu malas berurusan dengan media," ucap Arga memotong ucapan Daffa.


"Tapi aku melihat yang lain di wajahmu, aku benar benar melihat kau sedang mengkhawatirkannya saat itu!" ucap Daffa.


"Semua yang aku lakukan padanya hanya demi diriku sendiri, demi keluarga dan perusahaan, jadi aku harus menjaganya dengan baik agar dia tidak membuat masalah, hanya sebatas itu," jelas Arga.


"Apa kau masih menutup hatimu karena Karina?" tanya Daffa.


"Aku tidak akan membiarkannya bersama laki laki lain Daffa, hanya aku yang pantas untuknya," jawab Arga


"Tapi dia sudah mengkhianatimu Arga, lagi pula dia sudah memiliki tunangan dan akan menikah dengan tunangannya!"


"Aku yakin dia masih mencintaiku, kau tau kenapa? karena aku sudah bertemu dengannya beberapa kali setelah aku menikah dengan Bianca, aku yakin dia sedang bimbang sekarang, dia pasti menyesal karena sudah melepaskanku!" ucap Arga.


"Apa Bianca tau tentang hal itu?" tanya Daffa.


"Tentu saja tidak, tidak ada yang tau kecuali kau, jadi jika ada orang lain yang tau itu pasti karenamu," jawab Arga.


"Apa kau sadar kau sudah menyakiti Bianca? lihatlah, apa yang kurang dari Bianca? dia baik, dia cantik dan memiliki wawasan yang luas, dia...."


"Aku hanya jatuh cinta pada Karina, bukan pada Bianca," ucap Arga memotong ucapan Daffa.


"Lalu kenapa kau menikahi Bianca? apa kau sadar jika kau sudah mempermainkan hidup seseorang?" tanya Daffa tak mengerti.


"Ikut aku!" ucap Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah ruang kerjanya dengan diikuti oleh Daffa.


Arga kemudian menunjukkan kontrak kesepakatannya dengan Bianca pada Daffa.


"Apa-apaan ini? kalian berdua sudah mempermainkan semua orang!"


"Aku hanya melakukan apa yang membuat orang tuaku senang, agar mereka tidak menjodohkanku dengan Clara, agar mereka tidak terus mengawasiku dan agar aku bisa bebas mendekati Karina lagi," balas Arga.


"Lagipula ini adalah kesepakatan antara aku dan Bianca, tidak ada yang dirugikan dalam kesepakatan ini, karena Bianca juga sudah mendapatkan uang yang dia butuhkan," lanjut Arga.


"Anggap saja Karina kembali padamu dan hubunganmu dengan Bianca berakhir, lalu apa yang akan kau lakukan? orang tuamu saja tidak menyukai Karina!"


"Aku yakin Karina bisa merebut hati mama dan papa jika dia sudah kembali padaku, sekarang aku hanya perlu menyadarkan Karina jika pilihannya untuk meninggalkanku adalah sebuah kesalahan besar!" balas Arga.


Daffa hanya menghela nafasnya kasar. Ia tidak habis pikir dengan apa yang sudah Arga lakukan di belakang semua orang.

__ADS_1


__ADS_2