
Riuh teriakan terdengar di sepanjang jalan yang ramai dengan orang-orang yang menyaksikan kecelakaan pagi itu.
Dua orang terbaring di jalan raya, menunggu bantuan datang setelah beberapa orang disana menghubungi ambulans dan polisi.
Setelah beberapa lama, salah satu dari korban kecelakaan itu tersadar dan mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.
Dengan menahan rasa sakit di seluruh badannya, ia berusaha beranjak saat melihat gadis cantik yang terkapar dengan darah yang sudah berceceran di sekitarnya.
"Bianca!" ucap Arga dengan suara bergetar.
Dengan tertatih Arga segera membawa dirinya pada Bianca yang sudah terpejam tak sadarkan diri.
Dadanya bergemuruh hebat, jantungnya berdetak semakin cepat saat melihat keadaan Bianca yang penuh darah saat itu.
Ambulanspun datang bersama polisi yang mulai mengamankan tempat kejadian. Bianca dan Arga segera mendapatkan penanganan pertama sebelum akhirnya Bianca dibawa masuk ke dalam ambulans.
Saat Arga akan dibawa masuk ke ambulans lain, ia menolak dan memilih untuk masuk ke ambulans yang sama dengan Bianca.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bisa ia pikirkan saat itu. Ia hanya merasakan rasa sakit yang begitu dalam menusuk jantungnya.
"Bianca....."
Hanya satu kata itulah yang bisa Arga katakan sepanjang jalan sebelum akhirnya ambulans berhenti di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Arga dan Bianca di bawa ke ruangan yang berbeda. Arga dibawa ke ruangan dimana dokter memeriksa dan mengobati luka yang ada di kepala, tangan dan kaki Arga.
"Tolong siapkan ruangan untuk MRI sus!" ucap dokter pada suster.
"Baik dok," balas suster.
"Tidak perlu dok, saya baik-baik saja," sahut Arga yang segera beranjak dari ranjang.
"Untuk memastikan keadaan secara keseluruhan lebih baik dilakukan MRI dulu agar...."
"Tidak perlu dok, istri saya membutuhkan bantuan dokter, jadi dokter jangan membuang waktu disini!" ucap Arga memotong ucapan dokter.
"Sudah ada dokter lain yang menanganinya, kita...."
Dokter menghentikan ucapannya saat Arga benar-benar pergi begitu saja. Dokter kemudian meminta suster untuk menemui Arga agar Arga menandatangani surat pernyataan jika Arga menolak untuk mendapat penanganan medis lebih lanjut.
Tanpa pikir panjang Argapun menandatanganinya tanpa ragu. Dengan beberapa luka di tubuhnya, Arga hanya diam menatap ke dalam ruangan Bianca.
Jantungnya masih berdetak kencang dengan perasaan gelisah yang membuatnya tidak tenang, perasaan itu bahkan membuatnya merasa sakit dalam hatinya.
"Aku tau kau kuat Bianca, aku mohon bertahanlah," ucap Arga dalam hati.
Setelah cukup lama menunggu, dokter dan beberapa susterpun keluar dari ruangan itu dan berlari pergi dengan raut wajah menegang, membuat Arga semakin khawatir.
Tak lama kemudian mereka kembali masuk dan setelah 1 jam berlalu, dokter keluar untuk menemui Arga.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? apa yang terjadi padanya?" tanya Arga pada dokter.
"Keadaan pasien saat dibawa ke rumah sakit sudah sangat parah, pasien terlalu banyak mengeluarkan darah dan sekarang kita sedang menunggu darah yang sesuai dengan pasien karena kebetulan stok darah yang sesuai sedang kosong," jelas dokter.
"Apakah saya bisa mendonorkan darah saya untuk istri saya dok?" tanya Arga.
"Lebih baik kita periksa terlebih dahulu, silakan ikut saya," jawab dokter lalu berjalan pergi dengan diikuti oleh Arga.
Setelah beberapa lama melakukan pemeriksaan, ternyata golongan darah Arga sesuai dengan golongan darah yang Bianca butuhkan.
Tanpa menunggu lama, dokter dan susterpun segera melakukan transfusi darah. Setelah proses transfusi darah selesai, Arga kembali menunggu di depan ruang UGD.
Namun tiba-tiba suster keluar dan membuka lebar-lebar pintu ruang UGD. Beberapa suster dan dokter kemudian keluar dengan mendorong ranjang Bianca, membawa Bianca pergi ke ruangan lain.
Argapun segera berlari mengikuti sampai akhirnya suster melarang Arga untuk masuk ke salah satu ruangan dimana ada Bianca di dalamnya.
Setelah cukup lama menunggu, dokterpun keluar menemui Arga.
"Apa yang terjadi padanya dok? dia baik-baik saja bukan?" tanya Arga pada dokter.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi untuk saat ini dia berada dalam masa kritis akibat benturan keras yang mengakibatkan pendarahan di otaknya, untuk saat ini kita hanya bisa menunggu, jika sampai besok pagi keadaannya masih kritis, kemungkinan besar dia akan koma dalam waktu yang belum bisa kami pastikan," jelas dokter.
Seketika Arga terdiam, tubuhnya terasa lemah setelah ia mendengar apa yang baru saja dokter jelaskan padanya.
__ADS_1
Arga jatuh terduduk di kursi tunggu dengan pandangan kosong, memikirkan hal buruk yang menimpa Bianca saat itu.
Tak lama setelah dokter pergi, mama dan papa Arga tiba-tiba datang setelah mereka mendengar apa yang terjadi pada anak dan menantu mereka.
"Arga, apa yang sudah terjadi? apa kau baik-baik saja? dimana Bianca sekarang? dia baik-baik saja bukan?" tanya Nadine panik melihat Arga yang penuh luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Bianca..... kritis ma," jawab Arga dengan suara bergetar.
Berat baginya untuk memberitahu sang mama bagiamana keadaan Bianca saat itu.
Seketika Nadine membawa pandangannya pada sang suami dengan kedua mata berkaca-kaca.
David hanya menghela nafasnya panjang lalu membawa sang istri ke dalam dekapannya.
"Papa yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap David dengan menepuk pelan punggung sang istri.
Tak dapat dipungkiri, apa yang terjadi pada Bianca saat itu memberikan kesedihan tidak hanya pada Arga, tapi juga pada mama dan papa Arga yang sudah sangat menyayangi Bianca.
David dan Nadine kemudian memutuskan untuk menemui dokter, meminta penjelasan secara langsung pada dokter mengenai keadaan Bianca saat itu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang pa?" tanya Nadine pada sang suami setelah mereka keluar dari ruangan dokter.
"Seperti yang dokter katakan, kita hanya bisa berdoa agar Bianca segera melewati masa kritisnya sebelum besok pagi," jawab David.
"Mama takut ma, mama tidak ingin kehilangan Bianca," ucap Nadine dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Mama jangan bicara seperti itu, mama harus yakin jika Bianca akan baik-baik saja, mama juga harus kuat menghadapi hal ini agar tidak membuat Arga semakin sedih," balas David sambil menghapus air mata di kedua pipi sang istri.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan David. Mereka kemudian kembali menemui Arga di depan ruangan Bianca.
Untuk sementara, tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke ruangan Bianca, membuat Arga hanya bisa melihat Bianca dari celah kaca yang ada di pintu ruangan Bianca.
Berkali-kali Arga melakukan hal itu, ia hanya akan duduk beberapa saat lalu kembali berdiri dan melakukan hal yang sama, berharap jika Bianca akan segera melewati masa kritisnya.
"Ma, pa, Arga sudah memikirkannya, Arga akan membawa Bianca ke rumah sakit yang ada di luar negeri!" ucap Arga pada mama dan papanya yang baru saja datang.
"Dokter meminta kita menunggunya sampai besok Arga, masih ada kemungkinan jika Bianca akan sadar setelah dia melewati masa kritisnya," balas Nadine.
"Tapi bagaimana jika Bianca tidak sadar sampai besok? dia akan koma sampai waktu yang bahkan tidak bisa dokter tentukan!"
"Arga percaya pa, Arga hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Bianca, Arga...."
"Tenanglah Arga, kita tunggu sampai besok pagi dan semoga saja Bianca akan melewati masa kritisnya sebelum pagi," ucap Nadine sambil memeluk Arga.
Arga hanya terdiam dalam pelukan sang mama tanpa mengatakan apapun.
Di sisi lain, David membawa langkahnya menjauh dari Arga dan sang istri untuk menghubungi Daffa.
"Halo Daffa, om ingin meminta tolong padamu untuk menghandle pekerjaan Arga di kantor besok," ucap David setelah Daffa menerima panggilannya.
"Baik om, tapi kenapa? apa Arga akan cuti lagi?" balas Daffa bertanya.
"Arga dan Bianca mengalami kecelakaan Daffa, sepertinya keadaan Arga tidak memungkinkan untuk berangkat ke kantor besok," jawab David yang membuat Daffa begitu terkejut.
"Kecelakaan? apa yang terjadi pada Arga dan Bianca om? bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Arga hanya mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, tapi keadaan Bianca saat ini kritis dan Arga terlihat sangat terpukul, jadi om minta tolong padamu untuk menghandle pekerjaan Arga sementara," jelas David.
"Dimana Arga dan Bianca di rawat om? Daffa akan kesana sekarang!"
Panggilan berakhir setelah David memberi tahu Daffa dimana rumah sakit tempat Bianca di rawat.
David kemudian kembali menghampiri sang istri dan Arga.
Waktu berlalu membawa malam tiba, namun tidak ada tanda apapun dari Bianca. Tak lama kemudian terlihat Lola dan Daffa yang berjalan cepat ke arah Arga dan orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Bianca, Arga?" tanya Lola pada Arga dengan mata yang sudah sembab karena menangis sejak Daffa memberi tahunya tentang apa yang terjadi pada Bianca.
Arga hanya diam dengan membawa pandangannya menatap Bianca dari depan pintu ruangan Bianca.
"Tenanglah Lola, Bianca pasti baik-baik saja," ucap Daffa berusaha menenangkan Lola.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Bianca, kau harus bertanggung jawab, Arga!" ucap Lola pada Arga dengan emosi.
__ADS_1
"Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, kita semua disini sedang bersedih jadi jangan menambah keributan disini!" sahut Nadine berbicara pada Lola.
"Arga yang sudah membawa Bianca dalam kehidupannya Tante, jika bukan karena Arga yang....."
"Cukup Lola, tenangkan dirimu, ini bukan waktunya untuk mencari siapa yang salah," ucap Daffa memotong ucapan Lola sebelum Lola mengatakan hal yang lebih jauh pada Nadine.
"Sebaiknya om dan Tante pulang dulu, Daffa dan Lola yang akan menemani Arga disini," ucap Daffa pada Nadine dan David.
"Tidak, Tante tidak akan pergi dari sini!" balas Nadine.
"Apa yang Daffa katakan benar, lebih baik kita pulang dulu, besok pagi kita yang akan menjaga Bianca disini dan Arga yang akan pulang untuk beristirahat," ucap David pada sang istri.
Setelah cukup lama membujuk sang istri, David akhirnya berhasil membawa sang istri pulang, membiarkan Arga tetap disana bersama Daffa dan Lola.
Untuk beberapa lama mereka semua hanya diam, sama sekali tidak ada yang mereka bicarakan sampai larut malam.
Arga seperti kehilangan seluruh tenaganya, tidak ada apapun yang bisa ia pikirkan saat itu. Ia hanya berharap agar Bianca segera melewati masa kritisnya sebelum hari berganti.
Pada akhirnya malam membawa Daffa dan Lola tertidur di kursi ruang tunggu, sedangkan Arga masih terus memperhatikan Bianca dari pintu.
"Bangunlah Bianca, aku mohon," ucap Arga dalam hati bersama rasa sesak dalam dadanya.
Menjelang pagi, Arga kembali duduk di kursi ruang tunggu. Dalam pejam matanya ia melihat Bianca yang duduk di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan disini Arga?" tanya Bianca dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.
"Aku menunggumu Bianca," jawab Arga dengan menatap wajah cantik namun pucat itu.
"Kenapa kau melakukan hal ini? apa karena kau mencintaiku?" tanya Bianca dengan tersenyum.
"Tidak, aku.... aku hanya merasa bersalah karena sudah membuatmu seperti ini," jawab Arga ragu.
"Aaahhh begitu, tenyata bukan karena kau mencintaiku, kenapa Arga? apa karena aku tidak cukup baik untukmu? atau karena ada perempuan lain yang kau cintai?"
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu Bianca, aku...."
"Aku tau Arga, aku tau kau sudah banyak berbohong padaku, aku tau ada perempuan lain dalam hidupmu dan sepertinya kau memang sangat mencintai perempuan itu," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
Arga hanya terdiam tanpa mengatakan apapun hingga tiba-tiba sebuah suara yang terdengar lembut berbisik di telinganya.
"Bangunlah Arga!"
Seketika Arga membuka matanya dengan memanggil nama Bianca.
"Bianca!"
"Dokter baru saja masuk untuk memeriksa keadaan Bianca," ucap Daffa yang melihat Arga baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ternyata aku hanya bermimpi," ucap Arga dalam hati lalu beranjak dari duduknya dan berdiri untuk melihat Bianca dari celah kaca pintu.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter dan susterpun keluar sambil mendorong ranjang Bianca untuk dipindahkan ke ruangan lain.
"Ada apa dok? kenapa Bianca dipindahkan lagi?" tanya Arga pada dokter.
"Pasien belum bisa melewati masa kritisnya sampai saat ini dan seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, pasien sekarang mengalami koma," jawab dokter.
"Kapan dia akan sadar dok? tolong berikan kepastian sekarang juga!"
"Tidak ada yang tau kapan komanya akan berakhir, kita juga tidak bisa memastikan apakah keadaannya akan berakhir dengan sadar dari koma atau justru..... berakhir sepenuhnya," jawab dokter.
"Apa maksud dokter? tugas dokter adalah menyembuhkannya, jika dia tidak bisa sadar dari komanya, saya akan menuntut dokter dan rumah sakit ini!" ucap Arga penuh emosi sambil menarik kerah kemeja Dokter.
"Arga tenanglah, jangan bertindak bodoh!" ucap Daffa yang segera menarik tangan Arga dari kerah kemeja Dokter.
"Kami akan terus berusaha yang terbaik untuk kesembuhan pasien, tapi takdir hidup dan mati bukan milik kami, kita hanya bisa berdoa dan menunggu," ucap dokter.
"Saya akan membawanya pergi dari rumah sakit ini jika dokter tidak bisa menyembuhkannya!" ucap Arga yang masih dipenuhi oleh emosi.
"Memindahkan pasien saat dalam keadaan koma justru sangat membahayakan nyawanya, sebagai dokter saya sama sekali tidak menyarankan hal itu," balas dokter.
"Kalau begitu lakukan sesuatu agar dia segera sadar dok!" ucap Arga penuh emosi.
"Terima kasih atas penjelasannya dok, saya minta maaf atas sikap teman saya," ucap Daffa pada dokter sambil menahan Arga agar tidak melakukan hal yang di luar batas pada dokter.
__ADS_1
Dokterpun membawa langkahnya pergi, meninggalkan Arga yang masih belum menerima apa yang terjadi pada Bianca.