Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Keputusan Tiba-tiba


__ADS_3

Lola masih berada di rumah Bianca, ia terus menggoda Bianca yang baru saja keluar dari kamar Arga.


"Apa yang kau pikirkan itu sangat berlebihan Lola, buang jauh-jauh pikiran kotor itu dari kepalamu!" ucap Bianca pada Lola.


"Ini bukan pikiran kotor Bianca, justru apa yang aku pikirkan itu adalah hal yang romantis," balas Lola.


"Terserah kau saja, tapi yang pasti tidak terjadi sesuatu yang kau pikirkan itu antara aku dan Arga," ucap Bianca.


"Baiklah, anggap saja aku mempercayaimu, tapi apa yang kau lakukan dengan Arga sampai lewat tengah malam? apa masalah perusahaannya belum selesai?" tanya Lola.


"Aku hanya membantunya mengerjakan beberapa hal, sepertinya masalah kali ini lebih rumit," jawab Bianca.


"Arga dan Daffa pasti semakin sibuk sekarang," ucap Lola.


"Kau benar, Arga bahkan baru pulang dari kantor saat hampir tengah malam dan ia masih harus mengerjakan banyak pekerjaan lainnya di rumah, paginya dia harus kembali ke kantor, sepertinya kali ini dia cukup tertekan dengan masalah pekerjaanmu," balas Bianca.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya Lola?" lanjut Bianca bertanya.


"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya, kau juga sangat peduli padanya," ucap Lola tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


"Perusahaan itu adalah milik orang tua Arga yang sudah sangat baik padaku Lola, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada perusahaan orang tua Arga," balas Bianca.


"Benarkah karena hal itu? bukan karena kau mengkhawatirkan Arga?" tanya Lola tak percaya.


Bianca terdiam untuk beberapa saat lalu menghela nafasnya.


"Apa aku salah jika aku mengkhawatirkannya?" tanya Bianca dengan nada suara yang cukup pelan, seolah ia tidak percaya diri dengan apa yang baru saja dia tanyakan pada Lola.


Lola tersenyum lalu memeluk Bianca.


"Tidak ada yang salah dengan hal itu Bianca, meskipun kalian tidak terikat pernikahan karena cinta tapi kalian tinggal dalam satu rumah yang sama, jadi wajar jika kau dan Arga akan saling peduli satu sama lain," ucap Lola.


"Bagaimanapun Arga di belakangku, dia tetap memperlakukanku dengan baik Lola, orang tuanya juga sangat baik padaku," ucap Bianca.


"Aku tau, aku juga tidak akan menyalahkanmu jika suatu saat nanti kau akan jatuh cinta pada Arga," balas Lola.


"Itu tidak mungkin terjadi Lola, kau jangan berpikir terlalu jauh," ucap Bianca.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Bianca," balas Lola.


"Tapi jatuh cinta pada Arga adalah hal paling mustahil dalam hidupku, selain karena perjanjian untuk membayar denda pada siapapun yang jatuh cinta, satu-satunya laki-laki yang aku harapkan hanyalah kak Bara," ucap Bianca.


"Tidak bisakah kau melupakan kak Bara? Kau bahkan tidak tau kapan kak Bara akan kembali!"


"2 tahun lagi Lola, bukankah kau tau itu!"


"Itu hanya janji manisnya saja Bianca, bukankah dulu kak Bara berjanji akan kembali pulang, tapi tiba-tiba dia merubah ucapannya dan mengatakan akan pulang 2 tahun lagi," ucap Lola.


"Kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kak Bara disana, pasti ada sesuatu yang membuat kak Bara menunda kepulangannya," balas Bianca yang tetap membela Bara.


"Lagi pula kak Bara sudah memberikan cincin itu padaku, apa kau lupa?" lanjut Bianca.


"Aku ingat dan dengan dia memberi cincin itu padamu aku jadi berpikir jika kak Bara sangat egois," balas Lola.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Karena kak Bara berusaha mengikatmu tanpa kepastian, kak Bara membuatmu tetap mempertahankan kak Bara padahal kak Bara sendiri tidak memberikan kejelasan apapun padamu," jelas Lola.


"Tapi bukankah cincin itu bentuk kejelasan kak Bara?"


"Tidak Bianca, dia hanya ingin menahanmu agar tidak bersama laki-laki lain," balas Lola.


"Sepertinya kau berpikir terlalu jauh Lola, kak Bara tidak seperti itu," ucap Bianca.


"Sebagai sahabatmu aku hanya ingin yang terbaik untukmu Bianca, entah itu bersama kak Bara ataupun Arga," ucap Lola.


Bianca hanya diam dan tak lama kemudian bibi datang membawakan makanan untuk Bianca sesuai dengan pesan Arga sebelum Arga berangkat ke kantor.


**


Di tempat lain, Karina sedang bersama Bian. Mereka sedang berbaring di atas ranjang yang ada di kamar Karina.

__ADS_1


"Kenapa kau tiba-tiba ingin berhenti memakainya? bukankah kau tau jika kau tidak bisa berhenti begitu saja, kecuali kau ingin menghabiskan waktumu di tempat rehabilitasi dan mendapat pandangan miring dari banyak orang!" tanya Bian pada Karina.


"Aku tau dan aku tidak ingin itu terjadi, tapi aku merasa semakin bergantung pada barang itu," jawab Karina.


"Aku akan memberikannya kapanpun kau mau, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Bian.


"Bagaimana dengan kejadian kemarin?" tanya Karina yang mengingat bagaimana Bian mengabaikannya yang hampir gila saat itu.


"Itu hanya hukuman kecil untukmu sayang, jadilah perempuanku yang baik dan penurut agar aku tidak harus memberikan hukuman padamu," jawab Bian.


Karina menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi diikuti oleh Bian yang juga masuk ke kamar mandi.


Tepat pukul 10 siang, Bian sudah meninggalkan rumah Karina. Setelah memastikan Bian pergi, Karina segera memesan taksi yang mengantarnya ke klinik psikiatri.


Disana Karina bertemu dengan seorang psikiater yang sudah beberapa kali Karina temui. Disana Karina menceritakan semua keresahannya pada psikiater itu.


Dari psikiater itu juga Karina mendapatkan saran untuk pindah ke luar negeri, tidak hanya menghindar dari Bian, tapi juga menghindar dari barang haram yang selama ini sudah membuatnya kecanduan.


Karina sadar apa yang ia lakukan dengan Bian adalah kesalahan besar, tapi ia merasa sangat sulit untuk terlepas dari Bian dan barang haram itu, terlebih hanya Bian yang bisa memberikan barang itu padanya.


Psikiater pernah memberi saran agar Karina mendatangi tempat rehabilitasi, tetapi ia menolak karena tidak ingin jika dirinya dipandang sebelah mata oleh banyak orang.


Dari situlah psikiater itu menyarankan agar Karina pindah ke luar negeri agar Karina bisa menyembuhkan dirinya di tempat rehabilitasi yang ada di luar negeri tanpa takut orang lain akan memandang rendah dirinya.


Karena sudah merasa jalan di hadapannya buntu, Karina akhirnya memutuskan untuk menemui Arga, berharap jika Arga bersedia untuk pergi ke luar negeri bersamanya karena tidak mungkin jika ia pergi ke luar negeri seorang diri.


Namun yang Karina dapat hanya rasa kecewa yang semakin membuatnya terluka karena Arga tetap memilih pekerjaan dibanding Karina yang sudah memohon padanya.


"Saya tidak bisa mengakhiri hubungan saya dengan Bian karena hanya dia yang bisa memberikan barang itu pada saya dok, sedangkan saya sangat ingin lepas dari Bian dan barang haram itu," ucap Karina dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu apa yang membuatmu tidak bisa pergi ke luar negeri? apa masalah biaya?" tanya psikiater yang hanya dibalas anggukan dengan pelan oleh Karina.


Setelah mencurahkan semua keresahannya selama beberapa lama, Karina kemudian pulang, kembali ke rumahnya.


**


Di tempat lain, Arga dan Daffa baru saja keluar dari ruangan meeting. Arga menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya, sedangkan Daffa duduk di depan meja kerja Arga.


"Apa rencanamu sekarang Arga? kita tidak bisa berlama-lama seperti ini!" tanya Daffa pada Arga.


"Tidak mungkin, mamamu pasti tidak akan mengizinkan, orang tuamu juga pasti akan menanyakan alasanmu, kau tidak mungkin memberi tahu orang tuamu tentang apa yang terjadi bukan?"


"Aku akan pergi bersama Bianca, aku akan mengatakan pada mama jika aku ingin berlibur bersama Bianca ke luar negeri," jawab Arga.


"Dan kau akan menelantarkan Bianca disana, begitu?"


Arga terdiam, ia sama sekali tidak terpikirkan apa yang baru saja Daffa katakan padanya.


"Berhentilah bersikap egois dan memanfaatkan Bianca hanya demi dirimu sendiri Arga, dia sudah sangat baik padamu, apa kau tega menelantarkannya di negara orang selama berhari-hari?"


Arga menghela nafasnya kasar sambil memijit keningnya yang terasa pusing. Ia tidak berpikir jauh tentang keputusan yang akan ia ambil karena waktu yang terus mendesaknya agar segera menyelesaikan masalahnya.


"Kenapa bukan aku saja yang pergi? apa kau tidak mempercayaiku? apa kau meragukan kemampuanku?" tanya Daffa.


"Ini bukan soal percaya atau tidak Daffa, tapi ini lebih dari itu!" balas Arga.


"Percayalah padaku Arga, aku akan berusaha lebih dari yang aku bisa, aku akan melakukan apapun agar kembali dengan hasil yang kita harapkan," ucap Daffa.


"Kau tau resiko apa yang akan kau dapatkan jika rencana ini tidak berjalan dengan baik bukan?"


"Aku tau, aku tidak peduli jika namaku akan tercoreng karena melakukan hal yang bisa menjadi ilegal ini, lagi pula aku masih memilikimu, kau bisa menjamin masa depanku bukan? hahaha....."


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Rencana mereka memang sangat beresiko, jika mereka gagal mereka akan dianggap melakukan hal yang ilegal dan nama baik mereka pasti akan tercoreng.


"Aku hanya butuh izin darimu Arga, setelah itu kau bisa memberi tahu orang tuamu jika aku cuti dan pergi ke luar negeri, aku akan melakukan segala hal yang aku bisa dan aku siap jika apa yang aku lakukan nantinya membuatku harus keluar dari perusahaan ini," ucap Daffa dengan penuh keseriusan.


"Lakukan semuanya dengan baik dan jangan membuatku sendirian di perusahaan ini," ucap Arga yang akhirnya menyetujui ide gila Daffa.


"Apa itu artinya kau memberi izin padaku?" tanya Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya dua kali, aku akan pulang lebih cepat hari ini dan segera mencari penerbangan nanti malam," ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Apa kau yakin dengan hal ini Daffa?" tanya Arga yang juga beranjak dari duduknya.


"Tidak ada satu halpun yang membuatku ragu Arga, percayalah padaku, aku akan kembali dengan hasil yang kita harapkan, kau fokus saja menyelesaikan sisanya!" ucap Daffa penuh keyakinan.


"Aku percaya padamu, segeralah kembali karena aku selalu membutuhkanmu disini," ucap Arga yang dibalas senyum tipis oleh Daffa.


Daffa kemudian keluar dari ruangan Arga. Setelah jam makan siang selesai, Daffa segera merapikan meja kerjanya, bersiap untuk meninggalkan kantor.


"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Arga pada Daffa.


"Iya, aku sudah mendapatkan tiket untuk penerbangan nanti malam, jadi aku harus segera bersiap," jawab Daffa.


"Ingat Daffa, kau harus tetap bekerja disini selama aku masih menjadi CEO disini!" ucap Arga.


"Baik bos," balas Daffa dengan memberi hormat pada Arga.


Daffa kemudian berjalan pergi, meninggalkan Arga yang masih berdiri di tempatnya.


"Dia memang sahabat yang selalu bisa diandalkan!" ucap Arga dalam hati lalu membawa langkahnya masuk ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaan lain yang harus segera ia selesaikan.


Di sisi lain, Daffa mengendarai mobilnya bukan untuk pulang ke rumahnya, melainkan ke arah sebuah perusahaan yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja.


Sesampainya disana, ia menghentikan mobilnya tepat di depan seorang gadis yang tampak sudah menunggu kedatangannya.


Gadis itupun lalu masuk dan duduk di samping Daffa.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Daffa pada Lola yang duduk di sebelahnya.


"Belum lama, tapi kenapa kau bisa menjemputku? bukankah jam makan siang sudah selesai?" jawab Lola sekaligus bertanya.


"Aku pulang lebih awal hari ini," jawab Daffa.


"Pulang lebih awal? memangnya bisa begitu?"


"Tentu saja bisa, hanya jika kau berteman dengan CEO tempatmu bekerja hahaha...."


Lola hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Daffa.


"Bagaimana dengan tes terakhirmu? apa kau lolos?" tanya Daffa.


Seketika Lola menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum karena ia lolos pada tes terakhirnya dan akan mulai bekerja di perusahaan Minggu depan.


"Waaahhh selamat Lola, aku sudah menduganya, kau pasti lolos!" ucap Daffa senang.


"Tapi jangan memberi tahu Bianca karena aku ingin memberinya kejutan nanti," ucap Lola yang dibalas anggukan kepala oleh Daffa.


"Karena kau lolos, bagaimana jika kita pergi ke kafe untuk merayakannya? sebentar saja, tidak akan lama," tanya Daffa yang disetujui oleh Lola.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Daffa sampai di kafe, dimana dia akan merayakan hari bahagia Lola saat itu.


"Kau bisa memesan apapun yang kau mau," ucap Daffa sambil memberikan buku menu pada Lola.


"Waaahh.... kau belum kapok rupanya, baiklah aku akan memesan banyak menu yang aku inginkan," balas Lola lalu memesan beberapa menu yang ada di kafe itu.


Lola dan Daffa kemudian menikmati makanan dan minuman yang sudah memenuhi meja mereka setelah beberapa lama menunggu.


"Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu karena ada yang ingin katakan padamu," ucap Daffa.


"Katakan saja," balas Lola sambil menikmati ice creamnya.


"Aku akan pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan masalah perusahaan," ucap Daffa yang membuat Lola tiba-tiba menghentikan tangannya yang akan menyendok ice cream di hadapannya.


"Kapan kau akan pergi?" tanya Lola.


"Nanti malam," jawab Daffa.


"Kau akan pergi nanti malam dan kau baru memberi tahuku sekarang?"


"Ini adalah keputusan mendadak Lola, Arga baru saja memberi izin padaku untuk pergi ke luar negeri," jawab Daffa.


"Berapa lama kau disana? 2 hari? 3 hari? 5 hari?" tanya Lola dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah dingin.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memastikannya, tapi yang pasti lebih dari satu Minggu, entah dua Minggu atau mungkin satu bulan," jawab Daffa yang semakin membuat Lola kesal.


Entah kenapa Lola merasa tidak rela jika Daffa harus pergi dengan tiba-tiba seperti itu. Ada sebuah rasa tidak nyaman dalam dadanya yang membuatnya bersedih, namun ia berusaha menyembunyikannya dari Daffa.


__ADS_2