
Bianca dan Arga masih saling menatap tanpa ada kata yang terucap dari mereka berdua, sampai akhirnya pintu ruangan terbuka dan masuklah kedua orang tua Arga.
Mama Arga segera mempercepat langkahnya menghampiri Bianca saat ia melihat Bianca yang sudah duduk di atas ranjangnya.
"Bianca......"
Nadine segera memeluk Bianca dengan penuh syukur karena akhirnya penantian panjang Arga benar-benar sudah berakhir.
"Jangan terlalu erat memeluknya ma, dia bisa kesakitan," ucap Arga pada sang mama.
"Aaahh iya maafkan mama, mama hanya terlalu senang," balas Nadine sambil melepaskan Bianca dari pelukannya.
"Apa ada yang kau keluhkan Bianca? apa dokter sudah memeriksamu?" tanya David pada Bianca.
"Bianca hanya merasa tangan Bianca lemah dan Bianca tidak bisa menggerakkan kaki Bianca pa, tapi Dokter bilang itu hal yang wajar dan agar segera pulih setelah Bianca melakukan terapi," jawab Bianca.
"Baguslah kalau begitu, mama dan papa senang melihatmu yang sudah berhasil memperjuangkan hidupmu," ucap David.
"Terima kasih ma, pa, Bianca minta maaf jika selama Bianca disini Bianca banyak merepotkan mama dan papa," ucap Bianca.
"Jangan berbicara seperti itu Bianca, bagi Mama dan papa kau sudah seperti anak kandung kami," balas Nadine.
"Terima kasih banyak ma," ucap Bianca.
"Mereka terlihat sangat tulus menyayangiku, bagaimana bisa aku menyakiti mereka saat mereka tahu jika pernikahanku dengan Arga bukanlah pernikahan sungguhan, semoga ini tetap menjadi rahasia selamanya, karena aku tidak ingin mengecewakan mama dan papa Arga," ucap Bianca dalam hati.
"Kau sudah bisa bernafas lega Arga, kau bisa menjalani hari-harimu dengan tenang sekarang," ucap David pada Arga yang hanya dibalas senyum tipis oleh Arga.
"Kenapa papa berbicara seperti itu? apa yang terjadi pada Arga? apa Arga mengalami cedera karena kecelakaan itu?" tanya Bianca khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja, aku hanya mendapatkan luka kecil karena kau yang menyelamatkan hidupku," sahut Arga menjawab.
"Kau harus tahu Bianca, sejak kau dirawat di rumah sakit, Arga....."
"Sebaiknya kau beristirahat Bianca, Mama dan papa pulang saja!" ucap Arga memotong ucapan sang mama.
"Kenapa kau tiba-tiba mengusir mama dan papa? kita bahkan baru saja sampai," protes Nadine.
"Bianca harus beristirahat ma, dia baru saja sadar dan dia tidak boleh kehilangan banyak tenaganya," balas Arga beralasan.
"Aku hanya duduk Arga, bagaimana mungkin aku kehilangan banyak tenaga sedangkan aku hanya dengan duduk seperti ini!" sahut Bianca.
"Tetap saja Mama dan papa harus pulang!" ucap Arga sambil mendorong mama dan papanya keluar dari ruangan Bianca.
"Baiklah kalau begitu, kau beristirahatlah Bianca, mama dan papa akan kembali lagi kesini!" ucap Nadine sambil berjalan keluar dari ruangan Bianca karena didorong oleh Arga.
Bianca hanya tersenyum dengan melambaikan tangannya pada Nadine. Saat itulah Bianca menyadari jika di sofa yang ada di ruangannya terdapat banyak barang-barang yang Bianca terka jika semua itu adalah milik Arga.
"Apa semua itu barang-barang milik Arga? tapi kenapa ada disini? dia bahkan seperti memindahkan seluruh isi kamarnya kesini," batin Bianca bertanya dalam hati setelah ia melihat banyak barang-barang yang ada di sofa, meja dan rak yang ada di dalam ruangannya.
Di sisi lain Arga memang sengaja meminta kedua orang tuanya untuk keluar dari ruangan Bianca sebelum kedua orang tuanya memberitahu Bianca tentang apa yang terjadi padanya saat Bianca koma.
"Maaf ma, pa, Arga sengaja memaksa mama dan papa untuk keluar dari ruangan Bianca," ucap Arga pada mama dan papanya saat mereka sudah berada di luar ruangan Bianca.
"Ada apa Arga? kenapa kau tiba-tiba mengusir Mama dan papa?" tanya Nadine.
"Arga hanya ingin memberitahu mama dan papa agar tidak menceritakan apapun pada Bianca, terlebih tentang bagaimana sikap Arga selama Bianca dirawat di rumah sakit," jawab Arga.
"Kenapa? kenapa Mama dan papa tidak boleh memberitahu Bianca?" tanya Nadine tak mengerti.
"Arga....... Arga hanya tidak ingin Bianca merasa bersalah, Mama dan papa tahu bukan bagaimana Bianca merasa jika dirinya sudah merepotkan mama dan papa, Arga tidak ingin Bianca juga berpikir seperti itu pada Arga," jawab Arga beralasan.
"Aaahhh iya kau benar, dia pasti akan merasa sangat bersalah jika dia tahu bagaimana kau berusaha mempertahankannya saat dokter akan mencabut alat penunjang hidupnya," ucap Nadine dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi itu akan membuat Bianca yakin jika kau benar-benar mencintainya Arga, apa kau tidak ingin Bianca mengetahui hal itu?" sahut David bertanya.
__ADS_1
"Setelah Bianca bangun dari tidur panjangnya Arga akan berusaha untuk semakin menunjukkan pada Bianca bagaimana Arga sangat mencintai Bianca tanpa harus dia tahu apa yang terjadi pada Arga saat dia koma, dengan begitu dia tidak akan merasa bersalah pa," balas Arga.
"Mama setuju denganmu Arga, kau hanya perlu menunjukkan padanya bagaimana kau sangat mencintainya dan perlakukan dia dengan lebih baik lagi!" ucap Nadine.
"Iya ma, Arga akan berusaha untuk memperlakukan Bianca dengan jauh lebih baik dari sebelumnya, Arga akan lebih menjaganya kali ini karena Arga tidak ingin hal yang sama terulang lagi," balas Arga.
"Baiklah jika itu memang keputusanmu," ucap David dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Mama tahu kau sangat mencintainya Arga dan mama percaya jika dia adalah perempuan yang terbaik untukmu," ucap Nadine.
Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun, membuat Nadine kemudian memeluk Arga dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan sikap Mama dan papa yang pernah hampir menyerah pada Bianca, jika bukan karena keyakinanmu saat itu entah apa yang terjadi pada Bianca sekarang," ucap Nadine.
"Jangan pernah membahas hal itu lagi ma, Arga sudah melupakannya, Mama dan papa juga harus melupakannya, jangan sampai Bianca tahu tentang hal itu," balas Arga.
Nadine menganggukkan kepalanya lalu melepaskan Arga dari pelukannya.
"Sekarang dia telah kembali padamu Arga, jaga dia baik-baik dan jangan biarkan siapapun merebutnya darimu," ucap Nadine.
"Kaupun harus bisa menjaga hatimu dengan baik Arga, jangan biarkan masa lalu membuatmu goyah, ikuti apa yang kau yakini dalam hatimu dan jangan pernah melakukan apapun yang membuatmu bimbang karena itu hanya akan menyisakan penyesalan bagimu," ucap David.
"Terima kasih ma, pa, maaf jika Arga sempat bersikap kekanak-kanakan kemarin," ucap Arga.
Mereka bertiga kemudian berpelukan sebelum akhirnya mama dan papa Arga pergi. Arga kemudian kembali masuk ke ruangan Bianca dan mendapati Bianca yang sedang berjongkok untuk mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.
Melihat hal itu Arga segera berlari menghampiri Bianca, memegang kedua bahu Bianca dan mengambil ponsel Bianca yang terjatuh.
"Apa yang kau lakukan Bianca? apa kau sadar kau membahayakan dirimu sendiri?" tanya Arga dengan nada suara yang sedikit meninggi karena mengkhawatirkan Bianca yang bisa saja terjatuh dari ranjang saat itu.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu merebut ponsel miliknya yang ada di tangan Arga.
"Ternyata kau masih sama seperti Arga yang ku kenal," ucap Bianca.
"Apa maksudmu?" tanya Arga.
Melihat hal itu Arga segera merebut ponsel dari tangan Bianca dan mengakhiri panggilan pada Bara.
"Tidak bisakah kau membedakan apakah aku marah atau mengkhawatirkanmu? bagaimana jika tadi kau terjatuh? bagaimana jika keadaanmu memburuk? bagaimana jika......"
"Bagaimana jika keadaanku memburuk dan semakin merepotkanmu? seperti itu?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.
Arga terdiam dengan menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dari Bianca.
"Maaf jika aku sangat merepotkanmu Arga, mungkin seharusnya kau membiarkanku terbaring di jalan raya saat itu dan jangan membiarkan siapapun menolongku," ucap Bianca yang kembali merebut ponselnya dari tangan Arga.
Arga hanya diam dengan pandangannya yang masih enggan untuk menatap Bianca karena ia sedang berusaha untuk menyembunyikan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca saat itu.
"Kau tidak tahu betapa aku sangat mengkhawatirkanmu Bianca, kau tidak tahu bagaimana aku berusaha untuk mempertahankanmu disaat semua orang sudah tidak memiliki harapan apapun atas hidupmu," ucap Arga dalam hati lalu membawa langkahnya keluar dari ruangan Bianca.
Melihat Arga yang pergi tanpa mengatakan apapun, Bianca hanya diam. Entah kenapa dalam hatinya ada rasa sedih yang tiba-tiba ia rasakan.
Ia bahkan tidak sadar jika tiba-tiba kedua matanya terasa perih dan berkaca-kaca.
"Ada apa denganku? kenapa aku merasa sangat bersedih? apa ucapanku sudah keterlaluan?" batin Bianca bertanya dalam hati sambil berusaha menahan air matanya agar tidak menetes membasahi pipinya.
Bianca menghela nafasnya panjang dan menatap ponsel yang kini ada di tangannya. Namun bukannya kembali menghubungi Bara, Bianca justru mengembalikan ponsel itu di meja lalu membaringkan badannya.
"Sepertinya aku yang salah, dia bukan marah padaku, dia hanya mengkhawatirkanku, dia takut aku terjatuh dari ranjang, Arga mengkhawatirkanku karena aku baru saja sadar dari koma setelah 3 bulan," ucap Bianca dalam hati, menyesali apa yang sudah ia katakan pada Arga.
Bianca kemudian menatap pintu ruangannya, berharap Arga akan segera kembali menghampirinya dan tak lama kemudian pintu terbuka, tanpa sadar Bianca tersenyum saat ia melihat Arga yang berjalan menghampirinya.
Biancapun segera berusaha untuk beranjak, membuat Arga segera berlari kecil dan membantu Bianca untuk kembali duduk di atas ranjangnya.
"Kenapa kau kembali duduk? tidurlah jika kau lelah," tanya Arga sambil menarik selimut Bianca.
__ADS_1
"Aku minta maaf jika ucapanku tadi sedikit berlebihan," ucap Bianca.
"Aku juga minta maaf jika ucapanku tadi terlihat seperti sedang marah, tapi sungguh aku tidak marah sedikitpun padamu, aku hanya mengkhawatirkanmu Bianca," balas Arga.
Arga sengaja kembali masuk ke ruangan Bianca meskipun belum lama ia keluar, ia tidak ingin kekesalannya membuatnya menyesali apa yang sudah ia lakukan.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Bianca dengan tersenyum
Argapun tersenyum sambil menepuk pelan kepala Bianca dan membelai lembut rambutnya.
"Aahh ya, apa semua itu barang-barangmu?" tanya Bianca sambil menunjuk barang-barang yang ada di sofa, rak dan meja yang ada di ruangan itu.
"Iya, Daffa yang membawa semua itu kesini," jawab Arga.
"Benarkah? tapi kenapa?" tanya Bianca.
"Mmmm.... entahlah, aku....."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Arga menghentikan ucapannya saat ponselnya berdering, membuatnya bersyukur karena tidak harus menjawab pertanyaan Bianca.
"Halo Daffa, ada apa?" tanya Arga menerima panggilan Daffa.
"Kenapa kau belum memberitahuku jika Bianca sadar? bagaimana keadaannya sekarang? apa dia baik-baik saja? apa semuanya sudah kembali normal?" tanya Daffa yang tidak memberi celah pada Arga untuk menjawab pertanyaannya.
"Aaahh ya aku lupa memberitahumu, aku juga belum memberitahu Lola dan hanya memberitahu mama papa," jawab Arga.
"Jika bukan Tante Nadine yang memberitahuku, aku tidak akan tahu jika Bianca sudah sadar, tapi bagaimana keadaannya? kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Kemarilah jika kau ingin melihat keadaannya dan jangan lupa mengajak Lola, dia pasti senang melihat Bianca yang sudah sadar," balas Arga.
"Aku sudah di jalan dan sebentar lagi akan sampai," ucap Daffa lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Baru saja Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku, tiba-tiba pintu ruangan Bianca terbuka dan terlihat Daffa yang berjalan masuk ke ruangan Bianca bersama Lola.
"Bianca....." teriak Lola sambil berlari kecil menghampiri Bianca, sedangkan Daffa hanya berjalan ke arah Arga dengan tersenyum tipis.
Lolapun segera memeluk Bianca, mereka saling menumpahkan rindu satu sama lain meskipun sebenarnya Bianca tidak merasa jika ia sudah tertidur selama lebih dari 3 bulan.
"Aku pikir kau masih di jalan," ucap Arga pada Daffa.
"Di jalan ke ruangan Bianca hahaha...." balas Daffa.
"Bagaimana keadaanmu Bianca? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Lola mengkhawatirkan Bianca.
"Aku hanya merasa beberapa bagian tubuhku terasa lemah, tetapi Dokter bilang itu hal yang wajar dan akan segera pulih setelah aku melakukan terapi setiap hari," jawab Bianca.
"Aku sangat merindukanmu Bianca, cepatlah pulih dan segera pulang!" ucap Lola yang masih memeluk Bianca dengan erat.
"Aku merasa bersyukur sekali ternyata semua orang mengkhawatirkanku," ucap Bianca dengan tersenyum.
"Setelah ini kau harus benar-benar menjalani kehidupanmu dengan lebih bahagia Bianca, jangan sampai hal seperti ini terulang lagi, aku akan benar-benar sangat marah padamu jika kau terluka dan yang pasti aku juga akan sangat marah pada Arga!" ucap Lola sambil membawa pandangannya pada Bianca dan Arga bergantian.
"Jangan khawatir, Arga pasti bisa menjaga Bianca dengan lebih baik kali ini," sahut Daffa sambil menepuk pelan bahu Arga.
"Tidak perlu repot-repot menjagaku, aku bisa menjaga diriku dengan baik," balas Bianca yang membuat Lola dan Daffa hanya saling pandang tanpa mengatakan apapun.
"Aaahh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu tentang kak Bara, apa kak Bara sama sekali tidak menghubungimu selama aku disini Lola?" tanya Bianca pada Lola.
"Kak Bara....." Lola menggantung kalimatnya dengan membawa pandangannya pada Arga.
"Aku sudah berada disini lebih dari 3 bulan bukan? aku tidak melihat pesan ataupun panggilan masuk dari kak Bara di ponselku, apa mungkin kak Bara menghubungimu?' ucap Bianca mengulang pertanyaannya pada Lola.
"Kak Bara sama sekali tidak menghubungiku Bianca, sepertinya dia sangat sibuk," balas Lola.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, dia bahkan tidak menerima panggilanku dan belum membaca pesan yang aku kirim padanya," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.
"Untuk saat ini lupakan kak Bara dan fokus pada pemulihanmu agar kau bisa segera meninggalkan rumah sakit," ucap Lola yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.