Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Sikap Kekanak-kanakan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara Bianca dan Arga, hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Arga segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bianca begitu saja.


Bianca yang hendak keluar dari mobil menyadari jika ponsel Arga tertinggal segera mengambil ponsel itu lalu berlari kecil mengikuti Arga, berniat untuk mengembalikan ponsel itu pada Arga.


"Arga!" panggil Bianca saat Arga menaiki lantai 3.


"Aku lelah Bianca," balas Arga tanpa menghentikan langkahnya.


"Ponselmu tertinggal di mobil," ucap Bianca yang membuat Arga menghentikan langkahnya.


Arga kemudian membalikkan badannya dan melihat Bianca yang hanya berdiri di bawah lantai 3 dengan mengulurkan tangannya yang memegang ponsel Arga.


Arga menghela nafasnya lalu menuruni tangga dan mengambil ponsel miliknya yang dibawa oleh Bianca.


"Apa kau marah padaku?" tanya Bianca yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Arga.


Bianca kemudian membawa langkahnya menuruni tangga tanpa mengatakan apapun lagi pada Arga, karena ia bisa melihat dengan jelas jika suasana hati Arga sedang tidak baik-baik saja saat itu.


Saat tengah berjalan menuruni tangga tiba-tiba Arga menarik tangan Bianca, membuat Bianca segera menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Arga.


"Aku tidak marah padamu Bianca, maafkan aku, aku hanya sedang lelah," ucap Arga.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu melepaskan tangannya dari Arga dan berjalan menuruni tangga untuk masuk ke kamarnya.


Arga masih berada di tangga, menghela nafasnya kasar saat melihat Bianca yang menuruni tangga dengan cepat seolah menghindar darinya.


"Bianca benar, aku memang sangat kekanak-kanakan, aku yang mengajaknya pergi ke bioskop dan tiba-tiba saja aku mendiamkannya hanya karena kekesalanku sendiri, dia pasti kesal padaku sekarang," ucap Arga dalam hati.


Arga kemudian membawa langkahnya menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya, menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu memejamkan matanya.


Entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa bersalah pada Bianca. Bukannya memikirkan Karina tetapi Arga kini malah memikirkan Bianca.


Sejak kebersamaan mereka di Tokyo, Arga sekarang lebih memperhatikan Bianca. Arga lebih berusaha untuk memahami Bianca dan berusaha untuk memperbaiki sikapnya pada Bianca.


Bagaimanapun juga Bianca adalah orang lain yang ia libatkan dalam masalahnya. Ia sendiri yang memutuskan untuk membawa Bianca dalam kehidupannya dan ia sadar jika apa yang ia lakukan telah merenggut kebebasan Bianca.


Sejak Arga bersama Bianca di Tokyo banyak hal baru yang Arga tahu tentang Bianca, hal-hal yang membuat Arga berpikir agar ia bisa memperlakukan Bianca dengan baik sebagai partnernya.


Meskipun pernikahan mereka tidak disadari oleh cinta tetapi Arga berpikir untuk bisa berhubungan baik dengan Bianca, terlepas dari kontrak pernikahan yang sudah mereka sepakati.


Arga menghela nafasnya panjang, membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


"Aku sendiri yang membawa Bianca dalam kehidupanku, dia tidak tahu apapun tentang kehidupan pribadiku, yang dia tahu dia hanya perlu menjadi istri yang baik untukku di depan semua orang meskipun sebenarnya dia terbebani dengan hal itu."


"Maafkan aku Bianca, aku terlalu mencintai Karina dan aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, maaf karena sudah melibatkanmu dalam masalah ini," ucap Arga.


Arga kemudian beranjak dari ranjangnya, membawa langkahnya ke dalam kamar mandi lalu membasuh wajahnya beberapa kali.


**


hari telah berganti, pagi itu Arga sedang memasak di dapur seorang diri. Ia sengaja meminta bibi untuk melakukan pekerjaan lain agar ia bisa menggunakan dapur sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Bianca yang baru bangun dari tidurnya segera membawa langkahnya keluar dari kamar setelah ia membasuh wajahnya.


Seperti biasa Bianca akan selalu pergi ke dapur untuk mengambil buah dan minuman. Namun ia begitu terkejut saat melihat Arga yang tampak sibuk di dapur.


"Arga, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Bianca.


"Membuat sarapan untukmu," jawab Arga sambil menuang nasi goreng di atas piring.


"Untukku?" tanya Bianca memastikan sambil membawa langkahnya mendekati Arga.


Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu mengambil sendok dan menyendok nasi goreng yang ada di hadapannya kemudian mengarahkan sendok itu pada Bianca.


Bianca hanya diam karena masih terkejut dengan apa yang Anda lakukan, terlebih setelah Arga mengatakan jika Arga sedang memasak untuknya.


"Ini enak, aku yakin kau akan menyukainya," ucap Arga yang merasa jika Bianca ragu untuk memakan masakannya.


Bianca kemudian membuka mulutnya, menerima suapan Arga.


"Bagaimana?" tanya Arga menunggu respon Bianca.


"Hmm.... enak sekali, kau sendiri yang memasaknya?" jawab Bianca sekaligus bertanya.


"Tentu saja, bukankah kau tahu aku memiliki bakat dalam hal ini?" balas Arga sambil menaruh telur mata sapi di atas nasi goreng.


"Apa ini telur setengah matang?" tanya Bianca menunjuk telur yang berada di atas nasi goreng.


"Iya, nasi goreng akan lengkap dengan telur setengah matang," jawab Arga.


"Tapi aku lebih suka telur mata sapi yang matang sempurna," ucap Bianca.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan membuatnya lagi," ucap Arga lalu kembali memasak telur mata sapi dengan tingkat kematangan yang sempurna, sesuai dengan apa yang Bianca suka.


Bianca hanya tersenyum tipis melihat apa yang Arga lakukan, ia tidak tahu kenapa sikap Arga sangat berbeda dengan semalam saat mereka baru saja selesai menonton film.


Setelah selesai memasak, Argapun membawa dua piring nasi goreng buatannya ke meja makan lalu menikmatinya bersama Bianca.


"Kenapa kau tiba-tiba memasak untukku?" tanya Bianca.


"Sebagai bentuk permintaan maafku atas sikapku semalam," jawab Arga tanpa basa-basi.


"Kau benar, memang terkadang aku sangat kekanak-kanakan dan aku minta maaf untuk hal itu," lanjut Arga.


"Aku pikir kau kesal padaku karena aku sudah membuat kesalahan," ucap Bianca.


"Tidak, kau sama sekali tidak membuat kesalahan," balas Arga.


"Lalu kenapa kau tiba-tiba terlihat kesal?" tanya Bianca penasaran.


Arga terdiam untuk beberapa saat, ia tidak mungkin mengatakan pada Bianca apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


"Baiklah tidak perlu menjawabnya jika kau tidak ingin menjawabnya," ucap Bianca melihat Arga hanya diam.


"Maafkan aku Bianca," ucap Arga dalam hati.


"Aku sudah memesan hadiah untukmu," ucap Arga.


"Hadiah apa?" tanya Bianca.


"Kau akan tahu nanti," jawab Arga.


"Berhentilah menghamburkan uangmu untuk hal tidak penting seperti itu Arga, kau sudah memberikan banyak sekali barang untukku, dan menurutku semua itu sangat berlebihan," ucap Bianca.


"Apa kau tidak menyukai semua barang yang aku berikan padamu?" tanya Arga.


"Ini bukan soal suka atau tidak Arga, kau tidak perlu membeli banyak barang untukku jika kau ingin meminta maaf padaku," ucap Bianca.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arga.


"Entahlah tapi yang pasti aku tidak suka melihatmu menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting seperti itu," jawab Bianca.


"Tapi bagiku mendapatkan maaf darimu adalah hal yang penting," ucap Arga.


"Oke baiklah, anggap ini adalah hadiah terakhir untukmu sebagai bentuk permintaan maafku," ucap Arga .


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menikmati nasi goreng buatan Arga.


**


Hari-hari telah berganti, Bianca dan Arga masih menjalani peran mereka sebagai sepasang suami istri di depan banyak orang.


Meskipun begitu Arga tetap memperlakukan Bianca dengan baik, membuat Bianca dengan perlahan bisa menyesuaikan dirinya pada takdir yang membawanya pada jalan yang tidak dia inginkan.


Hari itu adalah hari ulang tahun Bianca. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Bianca sudah tidak pernah lagi merayakan ulang tahunnya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Dering ponsel membuat Bianca mengerjapkan matanya. Dengan malas Bianca meraih ponselnya yang ada di meja lalu menggeser tanda panah hijau tanpa ia tahu siapa yang menghubunginya pagi itu.


"Selamat pagi Bianca!"


Mendengar suara laki-laki yang sudah lama tidak menghubunginya, Biancapun seketika terbangun dari tidurnya. Ia segera beranjak melihat layar ponselnya untuk memastikan suara yang ia dengar.


"Kak Bara," ucap Bianca senang.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Bara.


"Tidak, sama sekali tidak," jawab Bianca.


"Apa kau tahu tanggal berapa sekarang Bianca? aku tidak akan mengatakan apapun karena aku tahu kau tidak menyukainya!"


Bianca kemudian kembali melihat layar ponselnya dan baru menyadari jika hari itu adalah hari ulang tahunnya.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu jika hari ini adalah hari dimana mamamu bertaruh nyawa untuk membawamu hadir ke dunia, aku yakin mama dan papamu sangat bahagia setelah mereka memilikimu," ucap Bara.


Bianca hanya terdiam, kedua matanya berkaca-kaca namun ia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.


"Aku tidak tahu sampai kapan kau akan membenci hari ini, tapi aku yakin hari ini adalah hari paling bahagia bagi orang tuamu dan aku berharap suatu hari nanti kau juga akan berbahagia saat kau melewati hari ini," ucap Bara.


"Apa yang terjadi terlalu menyakitkan untuk Bianca kak," balas Bianca dengan suara bergetar.


"Aku mengerti, aku juga tidak memaksamu untuk bisa berbahagia hari ini," ucap Bara.

__ADS_1


"Maaf kak ponsel Bianca lowbat, mungkin lain kali kak Bara bisa menghubungi Bianca lagi," ucap Bianca mengakhiri panggilan Bara begitu saja.


Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Bianca selalu mengakhiri panggilan Bara jika Bara sudah membicarakan tentang hari ulang tahunnya.


Bagi Bianca hari ulang tahunnya adalah hari dimana kesedihannya dimulai, hari dimana dunianya terasa berakhir saat itu juga, karena hari itu adalah hari dimana kedua orang tuanya meninggalkannya selamanya.


Hal yang lebih membuatnya bersedih adalah karena pada kenyataannya kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuanya melibatkan dirinya.


Rasa bersalah selalu menghantui Bianca, karena saat kecelakaan itu terjadi papa Bianca sedang menerima panggilan darinya. Bianca merasa kecelakaan itu terjadi karena dirinya yang menghubungi orang tuanya saat itu.


Seketika semua kesedihan yang Bianca rasakan saat itu kembali memeluk erat dirinya. Rasa menyakitkan yang melemahkannya seolah tidak akan pernah hilang dari dalam dirinya, terlebih saat hari ulang tahunnya.


Bianca kembali membaringkan badannya, memeluk guling yang ada di atas ranjangnya dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


"Maafkan Bianca ma, pa, maafkan Bianca," ucap Bianca dengan berusaha menahan isak tangisnya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, kali ini sebuah pesan masuk dari Bara.


"Orang tuamu hanya ingin melihatmu bahagia Bianca, ingatlah itu!"


Bianca kemudian menghapus air mata yang membasahi pipinya, ia kembali beranjak dari ranjangnya, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


"Sudah cukup Bianca, kau harus bisa menjalani hidupmu dengan bahagia," ucap Bianca lalu beranjak dari ranjangnya, berjalan masuk ke kamar mandi.


Bianca habiskan waktu yang cukup lama untuk membiarkan dirinya basah karena guyuran shower.


Setelah dirinya lebih tenang, Biancapun mengakhiri kegiatan mandinya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Lola.


"Halo Bianca, bisakah kau ke tempatku sekarang? aku merasa sedang tidak enak badan," tanya Lola setelah Bianca menerima panggilannya.


"Kau sakit?" tanya Bianca.


"Entahlah, aku merasa kepalaku sangat pusing bisakah kau kesini sekarang?"


"Baiklah aku akan segera kesana," balas Bianca lalu segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke tempat kost Lola.


Dengan diantara oleh Pak Dodi, Biancapun pergi ke tempat kost Lola. Sebelumnya ia sudah mengirim pesan pada Arga jika ia pergi ke tempat kost Lola.


Sesampainya di tempat kost Lola, Biancapun segera mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.


Bianca kemudian memberikan obat dan makanan yang baru saja dibelinya untuk Lola.


"Cepat makan dan minum obatmu," ucap Bianca pada Lola.


"Terima kasih Bianca, kau memang sahabatku yang selalu bisa diandalkan," balas Lola lalu menikmati makanan yang Bianca bawa.


"Tentu saja, hanya aku sahabat terbaik yang kau miliki," balas Bianca yang membuat lelah terkekeh.


Pagi itu Bianca memutuskan untuk menemani Lola, tetapi entah kenapa Lola yang sedang sakit tampak sibuk dengan ponselnya yang beberapa kali berdering.


"Beristirahatlah Lola, jangan menghiraukan pesan yang masuk ke ponselmu," ucap Bianca mengingatkan Lola.


Lola hanya menganggukkan kepalanya, namun ia tetap sibuk dengan ponselnya.


"Bianca, bagaimana jika kita ke rumahmu sekarang?" tanya Lola yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.


"Kau sedang sakit Lola, kenapa kau malah mau ke rumahku?" Balas Bianca bertanya.


"Aku hanya merasa bosan dengan kamar sempit ini, tidak bolehkah aku menginap di rumahmu saja? hanya satu malam," balas Lola beralasan.


"Baiklah kita ke rumahku sekarang," ucap Bianca.


Bianca dan Lola kemudian masuk ke dalam mobil Bianca, meminta Pak Dodi untuk mengantarnya kembali pulang.


Sepanjang perjalanan Lola masih tampak sibuk dengan ponselnya yang membuat Bianca penasaran.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah Bianca. Bianca dan Lola keluar dari mobil lalu berjalan ke arah pintu utama rumah mewah itu.


Saat Bianca baru saja membuka pintu, ia begitu terkejut saat taburan confetti menyambutnya diiringi dengan nyanyian selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh Daffa dan Arga.


Seketika Bianca terdiam, terlebih saat ia melihat Arga yang berdiri dengan memegang sebuah kue ulang tahun di hadapannya.


"Selamat ulang tahun Bianca," ucap Arga dengan penuh senyum karena berhasil membuat kejutan untuk Bianca.


Bianca yang terkejut hanya terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca, rasa sesak kembali memenuhi dadanya membuat bulir air mata akhirnya menetes membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


__ADS_2