Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Pertanyaan Bianca


__ADS_3

Di tempat lain, Bianca masih berada di balkon. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku disana.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya, Bianca hanya diam mengabaikannya karena ia berpikir jika itu adalah Arga.


Namun tiba-tiba....


"Selamat pagi nyonya Arga," ucap Daffa yang sudah berdiri di pintu balkon.


Bianca yang terkejutpun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara.


"Selamat pagi," sapa Daffa mengulang ucapannya dengan menyunggingkan senyumnya.


"Selamat pagi Daffa, apa kau mencari Arga?" balas Bianca.


"Iya, apa dia ada di kamarnya?"


"Dia sudah keluar dari rumah sejak tadi pagi," jawab Bianca.


"Keluar rumah? kemana?" tanya Daffa sambil membawa langkahnya duduk di samping Bianca.


"Aku tidak tau, bukankah kau lebih tau banyak hal tentang Arga?" balas Bianca.


"Dia tidak mengatakan apapun padaku, mungkin ada pekerjaan yang....."


"Tidak mungkin masalah pekerjaan, dia hanya berpakaian santai saat keluar," ucap Bianca memotong ucapan Daffa.


"Kalau begitu aku akan menghubunginya," ucap Daffa sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Untuk apa?" tanya Bianca sambil menahan tangan Daffa.


"Memintanya pulang, jika tidak ada hal penting yang ia lakukan di luar lebih baik dia di rumah bersamamu bukan?"


"Tidak, biarkan saja dia di luar," balas Bianca.


"Kenapa?"


"Aku memang tidak tahu apa saja yang Arga lakukan di luar sana, tapi aku tidak peduli, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau, dia sudah dewasa, dia pasti bisa berpikir dulu sebelum bertindak," ucap Bianca.


"Apa dia tidak pernah mengatakan padamu kemana dia pergi?" tanya Daffa.


"Pernah beberapa kali, seperti saat dia bilang jika dia akan pergi ke luar kota selama beberapa hari," jawab Bianca.


"Aaahh... waktu itu," ucap Daffa dengan mengalihkan pandangannya dari Bianca.


Daffa tidak ingin Bianca melihat raut wajahnya yang sedang berusaha menutupi kebohongan Arga saat itu.


"Aku tau kalian berdua berteman dekat, banyak hal yang kalian lakukan berdua, jadi aku tidak akan heran jika mungkin kalian juga akan bekerja sama untuk menutupi kebohongan satu sama lain," ucap Bianca yang membuat Daffa segera membawa pandangannya pada Bianca.


"Apa maksudmu Bianca? kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Daffa.


"Aku tidak bermaksud apa-apa, bukankah partner in crime selalu seperti itu? aku dan Lola juga terkadang seperti itu, Lola membantuku berbohong pada tanteku yang selalu meminta uang padaku," jelas Bianca.


Daffa menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Bianca. Apa yang Bianca katakan memang benar. Ia dan Arga memang sering bekerja sama untuk saling menutupi kebohongan mereka dari orang lain.


"Ada beberapa hal yang memang lebih baik ditutupi dengan kebohongan Bianca, walaupun suatu hari nanti kebohongan itu pasti terungkap," ucap Daffa.


"Seperti pernikahanku dengan Arga, setiap mama dan papa Arga memberikan perhatian dan kasih sayang mereka padaku, dalam hati aku selalu merasa bersalah karena sudah berbohong pada mereka, aku tidak tau bagaimana jadinya jika suatu saat nanti kebohongan itu akan terungkap," ucap Bianca.


"Kenapa tidak kau jadikan kebohongan itu sebagai kebenaran?" tanya Daffa yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Daffa.


"Apa maksudmu?" tanya Bianca.


"Kau pasti mengerti maksudku," jawab Daffa dengan tersenyum.


"Kebohongan tidak pernah bisa dibenarkan Daffa, apapun alasannya," ucap Bianca.


"Kau benar, tapi...."


"Jangan mengatakan hal yang mustahil Daffa, kau tau itu tidak mungkin terjadi," ucap Bianca memotong ucapan Daffa karena ia memahami apa maksud ucapan Daffa yang sebenarnya.


"Baiklah, mari kita lihat saja kemana takdir akan membawa kebohonganmu dan Arga pergi," ucap Daffa dengan menghela nafasnya panjang.


"Sepertinya beberapa hari ini Arga selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor, apa ada masalah?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Tidak ada, memang sedang banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan, terutama oleh Arga, aku masih bisa pulang tepat waktu setiap hari tetapi Arga selalu menghabiskan waktunya lebih lama di kantor," jelas Daffa


"Jadi benar Arga memang sibuk dengan pekerjaannya, tetapi tentang kejadian semalam? apa benar dia berada di restoran untuk bertemu kliennya?" batin Bianca bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa Bianca? apa kau kesal karena Arga selalu sibuk dengan pekerjaannya?" tanya Daffa yang melihat Bianca hanya diam.


"Tidak, aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu di perusahaan," jawab Bianca beralasan.


"Tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan, Arga bisa menangani semuanya dengan baik," ucap Daffa yang hanya dibalas anggukan dan senyum tipis oleh Bianca


"Kau suka membaca buku tentang bisnis rupanya," ucap Daffa saat ia melihat buku yang Bianca pegang.


"Aku suka membaca buku apapun, karena di rumah ini sangat banyak buku, jadi aku bisa membaca semuanya sepuasku," balas Bianca.


"Hobi orang pintar sepertimu memang berbeda dengan orang malas sepertiku, aku hanya suka jalan-jalan dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah!" ucap Daffa.


"Aahh ya, ada yang ingin aku tanyakan, aku pernah membaca tentang bagaimana kebiasaan pekerja di perusahaan saat meeting, selain di kantor, dimana lagi kau biasanya melakukan meeting?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Tergantung apa yang kita bahas dan dengan siapa kita melakukannya, ada beberapa klien yang lebih suka meeting dengan santai seperti di kafe jika memang hanya membahas hal yang sederhana," jawab Daffa.


"Jika kita membahas sesuatu yang penting dan melibatkan banyak orang, kita biasa melakukannya di board room hotel, terkadang aku dan Arga juga melakukan meeting di restoran jika kita sudah mengenal dekat klien kita," lanjut Daffa.


"Apa Arga selalu melakukan meeting bersamamu?" tanya Bianca.


"Mmmm.... hampir semua meeting dia lakukan bersamaku, tapi terkadang dia menemui klien sendirian jika hanya untuk membahas hal-hal kecil tentang kerja sama perusahaan," jelas Daffa.


Bianca menganggukkan kepalanya pelan mendengar semua penjelasan Daffa.


"Jadi Arga memang menemui kliennya di restoran kemarin? tapi kenapa dia terlihat gugup saat berbicara padaku? dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang....."


"Ada apa Bianca? kenapa kau tiba-tiba menanyakan semua itu padaku? apa ada sikap Arga yang membuatmu curiga?" tanya Daffa membuyarkan lamunan Bianca.


"Tidak, aku hanya bertanya karena ingin tahu, aku kuliah di bisnis karena aku ingin bekerja di perusahaan besar, tapi ternyata takdir tidak mendukungku, jadi tidak begitu banyak yang aku tau tentang dunia kerja yang sebenarnya," jawab Bianca beralasan.


"Kenyataan dunia kerja sangat berbeda dengan teori yang kita pelajari saat kuliah Bianca, praktek yang terjadi di lapangan jauh lebih berat dan juga lebih menyenangkan, semuanya akan terasa seimbang jika kita bisa menjalaninya dengan baik," ucap Daffa.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Daffapun segera beranjak dan membawa pandangannya ke bawah untuk memastikan siapa yang datang.


"Arga sudah pulang, dia pasti akan kesal saat dia melihatku disini bersamamu," ucap Daffa yang kembali duduk di samping Bianca.


"Kenapa dia harus kesal?" tanya Bianca.


"Karena dia cemburu," jawab Daffa.


"Aahh ya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Daffa lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan komik lucu yang ada di sosial medianya.


Bianca yang membacanyapun seketika tertawa. Gambar sederhana yang ada di komik itu memiliki cerita komedi yang sangat lucu menurut Bianca.


Di sisi lain, Arga yang menaiki tangga mendengar suara tawa Bianca di balkon.


"Bianca, apa dia bersama Daffa?" tanya Arga yang segera membawa langkahnya ke arah balkon.


Arga terdiam dengan raut wajah kesal saat ia melihat Bianca yang duduk bersama Daffa disana. Di matanya, posisi Bianca dan Daffa saat itu sangat dekat, terlebih saat itu Bianca dan Daffa sama-sama memperhatikan ponsel di tangan Bianca dengan tertawa.


Entah apa yang sedang mereka tertawakan, tapi yang pasti hal itu membuat Arga semakin kesal.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Arga yang membuat Bianca dan Daffa segera membawa pandangan mereka pada Arga.


"Arga, kau sudah pulang?" balas Bianca bertanya.


Arga hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bianca. Ia segera membawa langkahnya mendekat lalu duduk diantara Bianca dan Daffa.


"Arga apa yang kau lakukan?" tanya Bianca kesal sambil menggeser posisi duduknya.


"Apa yang sedang kalian tertawakan?" tanya Arga sambil merebut ponsel yang ada di tangan Bianca.


"Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya," sahut Daffa sambil merebut ponsel miliknya dari tangan Arga.


"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca dan Daffa.


"Kau merusak suasana saja," ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Arga sambil menahan tangan Bianca.


"Pergi, kedatanganmu membuatku kesal," jawab Bianca lalu melepas tangan Arga yang menahannya lalu berjalan pergi begitu saja.


Argapun hanya diam membiarkan Bianca yang berjalan pergi meninggalkannya. Sedangkan Daffa hanya terkekeh melihat sikap Arga.


"Apa kau menertawakanku?" tanya Arga dengan menatap Daffa yang duduk di sampingnya.


"Tentu saja, kecemburuanmu itu terlihat sangat jelas Arga," jawab Daffa.

__ADS_1


"Aku tidak cemburu," ucap Arga.


"Tapi sikapmu sangat menunjukkan jika kau sedang cemburu," balas Daffa.


"Aku hanya kesal, bukan cemburu!" ucap Arga.


"Kesal? kenapa?" tanya Daffa.


Arga terdiam untuk beberapa saat. Ia seolah sedang mencari jawaban di kepalanya karena ia sendiripun tidak tau kenapa dia merasa begitu kesal.


"Kau tidak kesal Arga, kau cemburu!" ucap Daffa membuyarkan lamunan Arga.


"Tidak ada alasan yang membuatku cemburu Daffa," balas Arga.


"Kalau begitu sekarang katakan padaku kenapa kau kesal?" tanya Daffa.


"Aku.... aku hanya kesal karena ...."


"Karena Bianca bersamaku?" tanya Daffa memotong ucapan Arga.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia membawa pandangannya ke sekelilingnya, berusaha mengalihkan pandangannya dari Daffa


"Hahaha.... kau seperti remaja yang baru jatuh cinta Arga, apa jangan-jangan kau sedang puber kedua? hahaha....."


Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya.


"Kau sangat menyebalkan!" ucap Arga yang akan melangkah pergi, namun Daffa segera menarik tangan Arga, membuat Arga kembali terduduk di samping Daffa.


"Daffa, kau...."


"Kau berbohong lagi pada Bianca?" tanya Daffa memotong ucapan Arga.


"Apa maksudmu?" balas Arga bertanya.


"Bianca tiba-tiba menanyakan banyak hal padaku, tentang tempat meeting dan beberapa hal lainnya," jawab Daffa.


"Lalu apa hubungannya denganku? kenapa kau menuduhku berbohong pada Bianca?" tanya Arga tak mengerti.


"Tidak biasanya Bianca membicarakan hal itu padaku, tiba-tiba saja dia menjadi penasaran dengan hal itu, mungkin kau sudah berbohong padanya dengan beralasan meeting," jelas Daffa yang membuat Arga terdiam untuk beberapa saat


"Benar apa yang aku katakan? kau berbohong lagi padanya?" tanya Daffa yang melihat Arga hanya diam.


"Apa saja yang dia tanyakan padamu?" balas Arga bertanya.


"Dia bertanya dimana biasanya kita meeting, apa kau selalu meeting bersamaku atau tidak, dia juga tiba-tiba mengatakan jika kau dan aku sama-sama akan menutupi kebohongan masing-masing karena kita bersahabat," jelas Daffa.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Arga.


"Aku mengatakan yang sebenarnya tentang dimana kita biasanya meeting, aku juga memberi tahunya jika tidak semua pertemuan dengan klien selalu ada aku," jawab Daffa.


"Bagaimana tentang kebohongan yang dia katakan?" tanya Arga.


"Aku tidak bisa menyangkalnya, semua orang pasti seperti itu bukan?" balas Daffa.


"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Arga penasaran.


"Dia dan Lola juga seperti itu, tapi kau harus tau satu hal Arga, selama ini Bianca selalu merasa bersalah pada mama dan papamu karena dia merasa sudah membohongi mereka," ucap Daffa.


Arga hanya menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan dirinya pada sandaran sofa yang ia duduki.


"Dia perempuan yang baik Arga, sangat baik, bahkan kedua orang tuamu juga menyukainya, tidak bisakah kau melupakan Karina dan mencoba untuk jatuh cinta pada Bianca?" ucap Daffa sekaligus bertanya.


"Kau benar, Bianca memang sangat baik, bahkan mungkin lebih baik dibanding Karina, tapi itu tidak akan menjadi alasan bagiku untuk melupakan Karina, aku tidak bisa jatuh cinta pada seseorang hanya karena dia baik Daffa," balas Arga.


"Aku mengerti, tapi setidaknya jangan menyakiti Bianca hanya demi Karina, sampai kapanpun Karina tidak akan pernah kembali padamu Arga, dia sudah memilih laki-laki lain!" ucap Daffa.


"Aku masih memiliki waktu untuk berusaha membuatnya kembali padaku Daffa dan aku akan berusaha untuk memanfaatkan waktu itu dengan baik," balas Arga.


"Kau memang sangat keras kepala, sudah ada berlian di hadapanmu tetapi kau malah memilih batuan kali yang sudah dimiliki orang lain!" ucap Daffa.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tanpa Daffa memberi tahunya pun ia sadar jika Bianca memang gadis yang baik.


Namun kebaikan Bianca tidak akan mengubah apa yang sudah menjadi rencananya, terlebih ia tahu jika Bianca sudah menyukai laki-laki lain sejak lama.


"Ini adalah peringatan terakhir dariku Arga, jangan membuat dirimu sendiri jatuh ke lubang yang sama, perhatikan dan jaga dengan baik apa yang sudah kau miliki saat ini sebelum seseorang mengambilnya!" ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya.


"Aaahhh ya satu lagi, aku harap kau berhenti berbohong pada Bianca, dia diam bukan karena dia tidak tahu, dia hanya diam karena dia tidak peduli dan entah sampai kapan ketidakpedulian itu akan membuatnya tetap diam," ucap Daffa lalu berjalan pergi meninggalkan Arga.

__ADS_1


__ADS_2