
Bianca hanya terdiam di tempat ia duduk. Ia bahkan belum sempat bertanya kemana Arga akan pergi.
"Buru-buru sekali, kemana dia akan pergi?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Setelah makanan pesanannya datang, Biancapun menikmati makanannya. Sedangkan makanan Arga, ia biarkan berada di meja tanpa ia sentuh sedikitpun.
Menit demi menit berlalu, hingga lebih dari satu jam Bianca duduk terdiam menunggu Arga.
Semakin lama menunggu, Biancapun mulai kesal. Namun saat Bianca akan menghubungi Arga, ia baru sadar jika ponselnya lowbatt.
"Aaargghhh sial, aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mungkin berdiam disini lebih lama lagi," ucap Bianca kesal.
Bianca kemudian membawa pandangannya ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang bisa ia minta pertolongan.
Bianca tersenyum senang setelah ia mendapatkan ide yang baru saja muncul di kepalanya. Bianca kemudian beranjak dari duduknya lalu menghampiri salah satu waiters.
"Maaf kak, apa saya boleh meminta tolong sesuatu," ucap Bianca pada salah satu waiters.
"Iya kak, apa yang bisa saya bantu?"
"Jika nanti Arga datang, tolong katakan padanya jika saya sudah kembali ke hotel!"
"Oh baik kak, nanti akan saya sampaikan," balas si waiters.
__ADS_1
Setelah berterima kasih, Bianca kemudian membawa langkahnya meninggalkan tempat makan itu.
Ia berjalan kaki cukup jauh untuk bisa sampai di hotel tempat ia dan Arga menginap. Ia memang sengaja memilih untuk berjalan kaki sembari menikmati waktunya sendiri.
Sesampainya di hotel, Bianca merebahkan badannya di atas ranjang. Waktupun berlalu dengan cepat, tanpa sadar Bianca baru saja tertidur.
Saat Bianca bangun, jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, namun belum ada tanda tanda kedatangan Arga di kamarnya.
Bianca kemudian mengisi daya ponselnya. Ia kemudian mandi dan bersiap siap untuk menghabiskan malamnya di luar hotel.
Bianca tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang singkat dengan hanya berbaring di dalam kamar hotel.
"Kemana Arga pergi? dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali!"
Namun beberapa kali Bianca menghubungi Arga, tidak ada satupun panggilannya yang terjawab.
Bianca kemudian mengirim pesan pada Arga.
"Aku ingin berjalan jalan di sekitar pantai, tidak perlu mencariku, aku akan kembali ke hotel sebelum tengah malam!"
Bianca kemudian memoles wajah cantiknya dengan make up tipis, lalu menyambar tas kecilnya dan segera keluar dari kamar hotel.
Tanpa Bianca sadar, ia lupa membawa ponselnya. Dengan diantar oleh taksi, Bianca pergi ke pantai.
__ADS_1
Sesampainya di pantai, masih terlihat segaris jingga yang hampir padam.
"Yaaahhh, padahal aku ingin sekali melihat sunset disini," ucap Bianca dengan menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di tepi pantai.
Perlahan gelap benar benar menyelimuti langit malam. Meskipun begitu, masih ada beberapa orang yang tampak berlalu lalang di tepi pantai yang memang kawasan wisata itu.
Bianca terdiam, menatap ombak yang perlahan datang dan menyapu kakinya yang sengaja dibiarkan basah olehnya.
Dalam hatinya ada setitik kesedihan yang membuat kedua matanya berkaca-kaca. Namun dengan cepat Bianca segera membawa dirinya berdiri, menguatkan dirinya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dunianya akan selalu baik baik saja.
Bianca menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia kemudian membawa langkahnya pergi meninggalkan pantai.
Di sisi lain, Arga yang baru saja kembali segera berlari ke arah tempat makan untuk mencari keberadaan Bianca.
Melihat Arga datang, waiterspun memberi tahu Arga jika Bianca sudah kembali ke hotel.
"Wajar jika dia kembali lebih dulu, dia pasti marah padaku!" ucap Arga lalu segera mengendarai mobilnya ke arah hotel.
Sesampainya disana, Arga begitu terkejut karena tidak mendapati Bianca di dalam kamar hotel.
Arga kemudian menghubungi Bianca, tetapi ia malah mendapati ponsel Bianca yang berada di atas meja.
"Kemana dia pergi? apa dia benar benar marah padaku?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
__ADS_1