
Bianca menangis dengan membenamkan kepalanya pada bantal, ia masih tidak menyangka Arga akan melakukan hal itu padanya.
Bianca merasa apa yang Arga lakukan sudah merendahkan harga dirinya. Meskipun hubungan mereka sudah semakin dekat, tetapi masih ada jarak yang harus mereka jaga, masih ada batas yang tidak bisa mereka lewati sebagai pasangan suami istri yang hanya sebatas kontrak.
Namun tak dapat dipungkiri apa yang Arga lakukan membuat Bianca berdebar, tapi Bianca berpikir jika apa yang dia rasakan saat itu karena kemarahannya dan kekecewaan yang terlalu besar pada Arga.
Setelah dirinya lebih tenang, Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya dan membawa langkahnya ke kamar mandi.
Bianca berdiri di bawah shower, membiarkan guyuran air shower membasahi tubuhnya.
Bianca tidak mungkin bisa melupakan dengan mudah apa yang baru saja Arga lakukan padanya karena itu adalah ciuman pertama baginya.
Disela air yang membasahi wajah dan tubuhnya, terselip air mata yang luruh bersama dengan segala rasa yang ia rasakan karena sikap Arga yang sudah berbuat di luar batas padanya.
"Apa yang sebenarnya Arga pikirkan? kenapa dia melakukan hal itu padaku?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Karena kesedihan dan kekecewaannya atas sikap Arga padanya, Bianca melupakan begitu saja tentang hubungannya dengan Bara yang beberapa saat lalu begitu menghancurkan hatinya.
Justru kini yang ada dalam kepalanya hanyalah Arga yang sudah mengecewakan dirinya.
"Apa kau tidak ingat semua hal yang terjadi pada kita saat kau mabuk?"
Tiba-tiba pertanyaan Arga kembali muncul di kepala Bianca.
"Kau mengatakan jika kau mencintaiku."
Bianca menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mempercayai apa yang Arga katakan padanya, karena ia yakin jika saat itu Arga berbohong padanya.
"Kau yang melakukan hal itu padaku lebih dulu, saat aku melakukannya padamu kau juga membalasnya dengan lebih dalam dan....."
Tiba-tiba Bianca terdiam dengan menyentuh bibirnya setelah ia teringat apa yang Arga katakan padanya setelah ia menampar Arga.
"Aku yang melakukannya lebih dulu? apa itu benar?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca kemudian berusaha untuk mengingat tentang apa yang terjadi malam itu.
"Aku ingat malam itu dia mengajakku ke bar, aku yang tidak mau minum tapi Arga memaksaku untuk minum agar tidak pusing, setelah itu aku meminta minuman itu lagi pada bartender, lalu....."
Bianca menghentikan ucapannya karena ia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, namun Bianca berusaha keras untuk bisa mengingatnya sampai akhirnya memorinya menangkap potongan kejadian yang malam itu terjadi.
"Jangan menggodaku, aku sudah memiliki suami yang sangat tampan, dia juga memiliki banyak uang yang tidak akan pernah habis jika aku menggunakannya seumur hidupku!"
Bianca menutup wajah dengan kedua tangannya saat ia mengingat apa yang ia ucapkan pada laki-laki yang tampak akan menggodanya malam itu.
Bianca juga mengingat saat Arga menggendongnya di trotoar jalan raya, namun Bianca tidak bisa mengingat apa yang membuatnya menangis saat itu, tapi yang dia ingat Arga terus menggendongnya dengan berlari.
"Dia melakukan apa yang papa dulu lakukan padaku," ucap Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Itu adalah hal terakhir yang Bianca ingat karena setelah itu tidak ada apapun lagi yang Bianca ingat.
Bianca bahkan tidak tahu jika arka membawanya ke hotel malam itu dan Bianca baru menyadarinya saat ia terbangun di pagi hari dengan keadaan kepalanya yang pusing.
"Tidak mungkin aku mengatakan hal itu pada Arga bukan? apalagi melakukan........ tidak mungkin!" ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Arga hanya terdiam di atas ranjangnya. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Bianca, ia merutuki kebodohannya karena sudah melakukan hal yang diluar batas pada Bianca yang membuat Bianca begitu marah padanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? karena kebodohanku sendiri aku membuat hubunganku dengan Bianca memburuk, padahal seharusnya aku bisa menemaninya saat dia sedang tidak baik-baik saja karena hubungannya dengan Bara!"
Arga kemudian mengambil ponselnya, mencari nama Daffa dan segera menghubungi Daffa untuk menceritakan tentang apa yang baru saja terjadi.
Setelah panggilannya diterima oleh Daffa, Argapun menceritakan pada Daffa tentang apa yang ia lakukan pada Bianca dan bagaimana Bianca terlihat sangat marah saat itu.
"Waaaahhh kau benar-benar sudah gila, Arga!" ucap Daffa setelah ia mendengar cerita Arga.
"Itu juga yang Bianca katakan padaku, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak berpikir dengan jernih saat itu," balas Arga.
"Memangnya apa yang membuatmu tiba-tiba melakukan hal itu? bukankah selama ini kau selalu menjaga hubunganmu dengan Bianca?" tanya Daffa.
__ADS_1
Arga kemudian menjelaskan pada Daffa tentang apa yang terjadi pada Bianca dan Bara. Arga juga menjelaskan bagaimana dia berusaha untuk menenangkan Bianca yang sedang hancur karena kedekatan Bara dan Luna.
Arga memberitahu Daffa bagaimana ia merasa kesal saat Bianca mengatakan tentang kontrak kesepakatan mereka yang akan berakhir dan bagiamana Bianca tidak mempercayai cinta yang ia rasakan pada Bianca.
"Jadi aku memberitahunya bahwa dia pernah mengatakan padaku jika dia mencintaiku saat dia mabuk, dia juga yang pertama kali melakukannya padaku dan membalas apa yang aku lakukan padanya dengan lebih jauh," ucap Arga di akhir penjelasannya.
"Lalu dia menamparmu setelah kau mengatakan hal itu?" tanya Daffa.
"Iya, dia menamparku 2 kali setelah aku mengatakan apa yang dia lakukan padaku saat dia mabuk, mungkin dia berpikir jika apa yang aku katakan itu adalah sebuah kebohongan padahal aku sengaja menyimpan semua itu sendiri agar dia tidak merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan," jawab Arga.
"Pasti sulit bagi Bianca untuk mempercayai hal itu jika dia sendiri tidak mengingatnya, karena sampai sekarang sepertinya dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu," ucap Daffa.
"Tapi aku yakin jika dia juga mencintaiku Daffa, dia tidak mungkin mengatakan padaku hal itu saat dia mabuk jika dia tidak mencintaiku," balas Arga.
"Mmmmm..... kau benar, mungkin Bianca hanya belum menyadarinya saja dan berusaha menepis semua yang dia rasakan padamu, karena mungkin dia masih mengharapkan Bara," ucap Daffa.
"Semua ini terlalu rumit, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Bianca dan juga Luna, apalagi aku tahu bagaimana Luna terlihat sangat menyukai Bara," ucap Arga.
"Sekarang selesaikan dulu masalahmu dengan Bianca, jika kau tidak ingin pernikahanmu berakhir, berusahalah agar Bianca memaafkanmu meskipun apa yang kau lakukan sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan!" ucap Daffa.
"Aku mengerti, aku memang salah karena terlalu memaksakan perasaanku pada Bianca," balas Arga.
"Tapi kau tidak akan menyerah untuk mempertahankan pernikahanmu bukan?" tanya Daffa.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkan Bianca pergi dariku," jawab Arga tanpa ragu.
**
Waktu berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Bianca masukkan ponselnya ke dalam tas selempang miliknya.
Dengan mengenakan celana jeans dan hoodie oversize, Bianca keluar dari kamarnya lalu membawa langkahnya melewati pintu utama rumah.
"Non Bianca mau kemana?" tanya Pak Dodi yang melihat Bianca akan keluar dari rumah.
"Bianca akan keluar sendiri Pak, jadi tidak perlu mengantar Bianca," jawab Bianca.
"Bianca sudah meminta izin pada Arga, apa Pak Dodi tidak mempercayai Bianca?" ucap Bianca sekaligus bertanya memotong ucapan Pak Dodi.
Pak Dodi hanya diam dengan membawa pandangannya pada satpam yang berdiri di sampingnya, ia ragu untuk membiarkan Bianca pergi tanpa dirinya karena Arga memintanya untuk selalu mengantarkan Bianca ke manapun Bianca pergi.
"Bianca istri Arga Pak, jadi bukankah seharusnya Pak Dodi juga mendengarkan ucapan Bianca?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
Meskipun sedikit sombong, Bianca tetap harus mengatakannya karena hanya itulah satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari rumah Arga tanpa Pak Dodi.
Tanpa menunggu balasan dari Pak Dodi, Bianca segera berlari cepat meninggalkan rumah lalu menaiki taksi yang sudah menunggunya di tempat yang sedikit jauh dari rumah.
Bianca sengaja melakukan hal itu agar taksi itu tidak terdeteksi pada CCTV di rumah. Tanpa Bianca tahu, Pak Dodi segera menghubungi Arga, memastikan jika Bianca benar-benar pergi atas izin dari Arga.
Arga yang mendengar Bianca pergi dari rumahpun begitu terkejut, ia segera berlari keluar untuk menemui Pak Dodi.
"Kemana Bianca pergi Pak? apa yang Bianca katakan pada Pak Dodi?" tanya Arga pada Pak Dodi
"Non Bianca hanya memberitahu jika nom Bianca pergi atas izin Tuan Arga dan saya tidak tahu kemana non Bianca pergi," jawab Pak Dodi.
Arga kemudian melihat rekaman CCTV dan hanya melihat Bianca yang berlari meninggalkan gerbang rumah setelah itu sudah tidak terlihat lagi kemana dan dengan siapa Bianca pergi.
Arga kemudian segera menghubungi Lola untuk menanyakan keberadaan Bianca yang mungkin saja berada di rumah Lola, meskipun Bianca baru keluar dari rumah beberapa menit yang lalu.
"Dia tidak ada disini, memangnya apa yang terjadi? apa kalian bertengkar?" jawab Lola sekaligus bertanya.
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi jika Bianca datang ke tempatmu tolong beritahu aku, aku akan berusaha mencarinya ke tempat lain yang mungkin dia datangi," ucap Arga.
"Baiklah, aku akan menghubungimu jika dia datang kesini," balas Lola.
Setelah mengakhiri panggilannya pada Lola, Arga segera keluar dari rumahnya dengan menggunakan mobil.
Arga menyusuri sepanjang jalan yang ia lewati untuk mencari keberadaan Bianca.
__ADS_1
"Kau boleh pergi hanya untuk menenangkan dirimu Bianca, setelah itu kau harus kembali dan aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku!" ucap Arga dalam hati.
Setelah beberapa lama mencari keberadaan Bianca, tiba-tiba ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Lola.
"Bianca sedang bersamaku sekarang, sepertinya dia tidak sedang baik-baik saja, tapi jangan khawatir aku akan menjaganya disini."
Arga bernafas lega karena sekarang ia tahu jika Bianca baik-baik saja dan sedang bersama Lola. Arga kemudian mengendarai mobilnya kembali pulang ke rumahnya.
**
Di tempat lain, Bianca sedang duduk bersama Lola di tempat kost Lola. Bianca tidak punya tujuan lain selain Lola sebagai tujuan pelariannya dari rumah Arga.
"Kau pasti baru saja bertengkar dengan Arga bukan?" tanya Lola pada Bianca.
"Apa sangat terlihat jelas?" balas Bianca bertanya.
"Tentu saja, wajahmu terlihat sangat sedih."
"Arga sudah melakukan hal yang di luar batas padaku Lola, aku tidak hanya sedih tapi juga sangat marah padanya, aku benar-benar kecewa pada sikapnya," ucap Bianca.
"Memangnya apa yang dia lakukan padamu?" tanya Lola.
Bianca kemudian menjelaskan tentang bagaimana Arga yang tiba-tiba menciumnya.
"Dan yang lebih membuatku marah adalah saat dia mengatakan jika aku yang lebih dulu memulainya, aku bahkan melakukan dengan lebih jauh saat aku sedang mabuk," ucap Bianca di akhir penjelasannya.
"Jadi ciuman pertamamu sudah diambil oleh Arga?" tanya Lola dengan penuh senyum.
"Aku sedang bersedih dan marah Lola, kenapa kau bertanya dengan tersenyum seperti itu? kau membuatku semakin marah sekarang!" balas Bianca kesal.
"Hehehe maafkan aku, aku hanya tidak menyangka saja jika sahabatku sekarang sudah kehilangan keperawanan bibirnya," ucap Lola yang segera mendapatkan pukulan dari Bianca.
"Inti dari ceritaku bukan tentang itu Lola, yang membuat aku sangat bersedih dan marah karena Arga sudah melakukan hal yang di luar batas padaku, bukankah itu sebuah pelecehan seksual!" ucap Bianca.
"Dia adalah suamimu Bianca, dari mana itu bisa disebut sebagai pelecehan seksual?" balas Lola yang tidak setuju dengan ucapan Bianca.
"Tapi pernikahan kita bukan pernikahan sungguhan, kita menikah hanya karena kontrak kesepakatan yang sudah kita tanda tangani," ucap Bianca.
"Tapi pernikahan kalian sah di mata hukum dan agama, Bianca," balas Lola.
"Sepertinya kedatanganku kesini adalah pilihan yang tidak tepat, lebih baik aku pergi saja," ucap Bianca sambil beranjak dari duduknya namun segera ditahan oleh Lola.
"Jangan marah padaku Bianca, duduklah!" ucap Lola sambil menarik tangan Bianca agar kembali duduk.
"Aku sedang marah dan sedih Lola, Arga sudah bersikap kurang ajar padaku, dia sudah melukai harga diriku dan dia sudah melakukan hal yang di luar batas!" ucap Bianca.
"Tapi bagaimana jika apa yang Arga katakan benar? bagaimana jika memang kau yang lebih dulu memulainya saat kau mabuk? bukankah itu artinya kau yang lebih dulu bersikap kurang ajar pada Arga?" tanya Lola.
"Itu tidak mungkin Lola, aku tidak mungkin melakukan hal gila itu," balas Bianca penuh keyakinan.
"Dari mana kau tau? apa kau bisa mengingat semua yang terjadi saat kau mabuk?" tanya Lola.
Bianca terdiam lalu menggelengkan kepalanya pelan. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari depan kamar Lola yang membuat Lola dan Bianca kompak menatap pintu kamar Lola.
Saat Lola dan Bianca masih terdiam, pintu kamar Lola tiba-tiba terbuka dan terlihat Daffa yang sudah berdiri di depan kamar kos Lola.
"Daffa, apa yang kau lakukan disini? sepertinya kau tidak menghubungiku jika kau ingin datang," tanya Lola yang terkejut melihat kedatangan Daffa.
"Sebenarnya aku datang untuk memberikan kejutan padamu, tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian sejak tadi," jawab Daffa.
"Lalu apa yang akan kau katakan sekarang Daffa? apa kau akan tetap membela temanmu itu?" tanya Bianca.
"Aku tidak bermaksud untuk membela Arga, tapi apa yang Arga katakan padamu adalah hal yang sebenarnya Bianca," balas Daffa.
"Apa maksudmu?" tanya Lola.
"Aku sangat mengenal Arga, aku tahu bagaimana baik dan buruknya Arga, dia tidak akan mungkin melakukan hal yang diluar batas pada perempuan manapun, apalagi perempuan yang sangat disayanginya," jawab Daffa.
__ADS_1
"Dan tentang apa yang Arga katakan saat Bianca mabuk, itu memang hal yang sebenarnya terjadi, Bianca yang lebih dulu melakukannya pada Arga, itu kenapa Arga berani melakukannya kembali pada Bianca," lanjut Daffa yang membuat Bianca dan Lola begitu terkejut.