
Bianca terdiam untuk beberapa saat ketika Arga benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.
Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak, membuatnya merasa sedih tanpa ia tahu penyebabnya.
"Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja, mungkin ada hal yang sangat penting yang membuatnya harus cepat pergi," ucap Bianca dalam hati sambil membawa langkahnya keluar melewati pintu utama perusahaan besar itu.
Bianca kembali memesan taksi yang akan mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, Bianca segera berganti pakaian lalu merebahkan badannya di ranjang.
"Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan hari ini? aku belajar memasak dari pagi sampai siang, aku mengkhawatirkannya dari matahari masih ada sampai terbenam, aku bahkan mencarinya ke kantor dan apa yang aku dapatkan? dia pergi begitu saja mengabaikanku," gerutu Bianca kesal.
Bianca memejamkan matanya, berusaha untuk segera tertidur. Namun rasa kesal dalam dadanya membuatnya susah untuk terlelap.
Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya, dengan malas ia membawa langkahnya ke arah kamar mandi lalu membasuh wajahnya, berusaha menghilangkan kekesalan dalam dadanya.
"Sudah kubilang aku pergi ke kantor hanya untuk memastikan jika dia baik-baik saja, seharusnya aku tidak kesal jika dia mengabaikanku seperti itu, bukankah dia memang sedang sibuk? lagipula dari dulu dia memang selalu pulang malam, jadi untuk apa aku sekarang mengkhawatirkannya?"
Bianca menghela nafasnya panjang lalu kembali membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan wajahnya Biancapun kembali membaringkan badannya di ranjang.
Namun sama seperti sebelumnya, Bianca masih susah untuk terlelap. Bianca kemudian mengambil ponsel yang ada di mejanya lalu menghubungi Lola.
"Astaga Bianca, kenapa kau menghubungiku tengah malam seperti ini?" tanya Lola dengan suara yang terdengar malas.
"Aku sedang kesal," jawab Bianca.
"Kesal kenapa?" tanya Lola.
"Aku baru saja mendatangi Arga di kantor, tapi setelah aku bertemu dia, dia pergi begitu saja dan mengabaikanku," jawab Bianca.
"Lalu masalahnya dimana Bianca?"
"Dia mengabaikanku Lola, dia....."
"Memangnya kenapa kau tiba-tiba ke kantornya?" tanya Lola memotong ucapan Bianca.
"Aku.... aku hanya memastikan jika dia baik-baik saja," jawab Bianca.
"Lalu apa yang kau harapkan darinya? apa kau berharap jika dia akan memelukmu saat melihatmu di kantor? atau kau berharap dia akan...."
"Tidak, aku tidak mengharapkan hal itu!" ucap Bianca cepat.
"Lalu kenapa kau kesal? tidak biasanya kau kesal sampai tidak bisa tidur seperti ini!"
"Aku.... aku hanya kesal saja," balas Bianca sekenanya.
"Kau tidak akan kesal jika kau tidak berharap lebih Bianca, kau pasti kesal karena kau sudah berekspektasi yang tinggi dan ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasimu," ucap Lola.
Untuk beberapa saat Bianca terdiam. Ia sadar apa yang Lola ucapkan memang benar. Seharusnya ia tidak perlu kesal jika memang ia hanya ingin memastikan keadaan Arga.
Tapi yang terjadi ia kesal karena Arga mengabaikannya.
"Sudahlah Bianca, tidurlah, temui Arga dan bicarakan padanya besok, aku.... benar-benar sudah mengantuk," ucap Lola sambil menguap.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Lola, Bianca kemudian menaruh ponselnya di meja. Ia terdiam untuk beberapa saat sambil menatap langit-langit kamarnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, membuat Bianca segera memeriksa ponselnya yang ternyata sebuah pesan masuk dari Lola.
"Tidurlah Bianca, kau akan jatuh cinta padanya jika terlalu lama memikirkannya!"
"Tidak mungkin," ucap Bianca kemudian mengirim stiker dengan wajah marah pada Lola.
**
Di tempat lain, Arga sedang mengendarai mobilnya ke arah Karina membagikan lokasinya pada Arga.
Lokasi Karina saat itu cukup jauh dari perusahaan Arga. Dari layar ponselnya, tertulis lebih dari satu jam waktu yang Arga butuhkan untuk sampai di lokasi dimana Karina berada.
Beberapa kali Arga menghubungi Karina, meminta Karina untuk tetap menunggunya disana.
Tidak ada apapun yang Arga pikiran saat itu selain Karina. Ia benar-benar mengkhawatirkan gadis yang dicintainya itu.
"Setelah ini kau akan tau siapa laki-laki yang pantas untukmu Karina, aku harap kau akan menyelesaikan hubunganmu dengan Bian dan kembali padaku," ucap Arga sambil fokus mengendarai mobilnya di tengah malam.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, Arga akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Arga mengendarai mobilnya dengan pelan kemudian menepi ke arah mini market terdekat lalu menghubungi Karina.
Panggilan tersambung, namun tidak ada jawaban dari Karina. Arga yang semakin khawatirpun akhirnya keluar dari mobilnya lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Arga melihat Karina yang tampak bersitegang dengan seorang laki-laki yang merupakan tunangannya.
Argapun segera membawa langkahnya ke arah Karina dan Bian. Tepat saat Bian akan menampar Karina, Arga tiba dan membuat Bian mengurungnya niatnya untuk menampar Karina.
"Hentikan!" ucap Arga.
Melihat Arga datang, Bianpun membawa pandangannya pada Karina dengan tatapan tajam penuh amarah.
__ADS_1
"Kau yang memintanya datang?" tanya Bian pada Karina.
"Karina, ikut aku!" ucap Arga sambil menarik tangan Karina, namun Bian menahannya.
"Lepaskan dia!" ucap Arga pada Bian.
"Dia tunanganku, kau yang seharusnya melepaskannya!" balas Bian yang tak mau kalah dari Arga.
"Tunangan macam apa yang tega menyakiti tunangannya sendiri!" ucap Arga.
"Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan ikut campur!" balas Bian.
"Aku tidak ingin ada keributan disini, jadi lepaskan Karina dan pergilah!" ucap Arga dengan tegas.
Bian melepaskan tangan Karina darinya lalu membawa pandangannya pada Karina.
"Karina, sekarang kau yang harus memutuskan, kau akan ikut mantan pacarmu yang dulu selalu mengabaikanmu atau ikut bersamaku, tunanganmu!" ucap Bian pada Karina.
"Karina, aku akan mengantarmu pulang, apapun pilihanmu untuk saat ini jangan bersamanya, aku tidak ingin dia semakin berbuat buruk padamu," ucap Arga pada Karina.
"Karina, kau tau kau tidak bisa meninggalkanku bukan?" sahut Bian.
Karina terdiam untuk beberapa saat, membawa pandangannya pada Bian dan Arga bergantian.
"Karina, ayolah!" ucap Arga.
"Maafkan aku Arga," balas Karina lalu melepaskan tangan Arga darinya dan berjalan ke arah Bian.
"Karina, dia....."
"Sudah jelas bukan? dia memilihku, jadi sebaiknya kau pergi sekarang dan jangan pernah menemui Karina lagi!" ucap Bian lalu meraih tangan Karina dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Arga hanya diam di tempatnya berdiri sampai mobil Bian berlalu pergi dari hadapannya.
"Kenapa Karina? kenapa kau tetap memilihnya? tidak bisakah kau melihatku sebentar saja?" batin Arga bertanya-tanya.
"Aaargghhhhh!!!!!" teriak Arga kesal dengan mengacak-acak rambutnya.
Arga kemudian membawa langkahnya kembali masuk ke dalam mobil lalu mengendarai mobilnya pergi, bukan untuk pulang, melainkan pergi ke bar.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau kembali padaku Karina? harus seperti apa aku memperjuangkanmu?" tanya Arga dengan raut wajah memerah menahan emosi dalam dirinya.
Sesampainya di bar, Arga segera membawa langkahnya masuk dan memesan salah satu minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
Hal itu tentu saja membuat Arga mabuk dan seperti sebelumnya, Arga membuat keributan saat ia sedang mabuk.
Kebetulan saat itu ada Daffa yang baru saja masuk ke dalam bar. Melihat keadaan Arga yang sangat kacau, Daffapun segera membawa Arga keluar dari bar.
Di depan bar, Arga mendorong Daffa yang saat itu membantu Arga berjalan ke arah mobil.
"Kau brengsek, kau laki-laki brengsek, apa yang sudah kau lakukan pada gadisku? kenapa dia tidak bisa meninggalkanmu?" tanya Arga yang saat itu sudah benar-benar mabuk.
Arga kemudian menjatuhkan dirinya di dekat mobil. Duduk bersandar di samping mobil sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Aku tau aku bodoh.... tapi aku mencintainya..... aku tidak ingin dia bersama laki-laki lain....." ucap Arga sambil berkali-kali menghantamkan kepalanya di pintu mobil.
"Berdirilah Arga, kau benar-benar gila sekarang!" ucap Daffa sambil berusaha untuk membantu Arga berdiri.
Daffa kemudian membawa Arga masuk ke dalam mobilnya lalu segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Arga.
"Karina...... kenapa kau memanggilku jika kau memilih laki-laki itu..... kenapa Karina........."
"Arga diamlah, jangan sekali-kali menyebut nama Karina di depan Bianca!" ucap Daffa sambil menepuk-nepuk pelan pipi Arga.
"Aku mencintaimu Karina........."
Daffa yang kesal akhirnya hanya diam, membiarkan Arga meracau semaunya. Ia berharap jika Arga tidak akan menyebut nama Karina saat mereka sudah sampai di rumah nanti.
"Aku akan benar-benar menghajarmu jika kau menyebut nama Karina di depan Bianca!" ucap Daffa kesal.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffapun sampai di rumah Arga. Daffa segera membawa Arga masuk ke dalam rumah.
Di sisi lain, Bianca yang belum bisa tidur segera keluar dari kamarnya saat ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.
Namun ia begitu terkejut saat melihat Daffa datang bersama Arga yang saat itu terlihat sangat kacau.
"Daffa, apa yang terjadi pada Arga? kenapa dia seperti ini?" tanya Bianca khawatir.
"Dia baru saja membuat masalah di bar," jawab Daffa.
"Kau.... Kar..... hmmppp.... mmmpppp!!"
Daffa sengaja menutup mulut Arga saat Arga hampir saja mengucapakan nama Karina di depan Bianca.
"Apa yang dia katakan Daffa? kenapa kau menutup mulutnya?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Lebih baik bantu aku membawanya ke atas sebelum dia muntah disini," ucap Daffa tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
Bianca kemudian membantu Daffa membawa Arga menaiki satu per satu tangga hingga sampai di kamar Arga.
Daffa dan Biancapun akhirnya menjatuhkan Arga di atas ranjang.
"Kenapa Arga sampai seperti ini? apa ada masalah serius di kantor?" tanya Bianca sambil melepas sepatu Arga.
"Iya.... mmmm.... ada sedikit masalah," jawab Daffa ragu.
"Apa aku bisa minta tolong padamu Daffa?" tanya Bianca.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?" balas Daffa.
"Tolong ganti pakaian Arga dan jaga dia disini, jika dia bangun tolong jangan memberi tahunya jika aku masuk ke kamarnya, dia akan sangat marah jika dia tahu aku masuk ke kamarnya tanpa izin," ucap Bianca.
"Baiklah," balas Daffa sambil menganggukkan kepalanya.
Bianca kemudian keluar dari kamar Arga. Sedangkan Daffa segera mengganti pakaian Arga lalu keluar dari kamar Arga setelah memastikan Arga tertidur.
Daffa kemudian berjalan menghampiri Bianca yang saat itu masih duduk di ruang tengah.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja," ucap Daffa pada Bianca.
"Sepertinya kau sudah mengetahuinya," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya.
"Mengetahui apa maksudmu?" tanya Daffa tak mengerti.
"Tentang hubunganku dengan Arga, kau sahabat dekatnya, dia pasti sudah menceritakannya padamu bukan?"
Daffa hanya diam dengan menganggukan kepalanya pelan.
"Hanya kau dan Lola yang mengetahui hal ini, jadi aku sangat berharap kau bisa merahasiakannya dari semua orang," ucap Bianca.
"Tenang saja, aku mengerti, kau bisa mempercayaiku," ucap Daffa menyakinkan Bianca.
"Terima kasih," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daffa.
"Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, mungkin ini akan sedikit membuatmu tidak nyaman, kau boleh untuk tidak menjawabnya," ucap Daffa.
"Apa kau mencintai Daffa?" lanjut Daffa bertanya.
Bianca tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Tidak pernah terbesit dalam kepalanya jika ia akan jatuh cinta pada Arga.
"Sudah ada dalam kesepakatan bahwa antara aku dan Arga tidak akan ada yang namanya cinta," ucap Bianca.
"Apa selama ini Arga tidak memperlakukanmu dengan baik?" tanya Daffa
"Dia baik, bahkan bisa dibilang dia sangat baik untukku yang sebenarnya bukan istri yang dicintainya, tapi terkadang dia sangat egois, tapi aku harus bisa menerimanya karena menjalani semua ini adalah keputusanku sendiri," jelas Bianca.
"Bertahanlah Bianca, aku yakin kalian pasti akan saling jatuh cinta suatu hari nanti," ucap Daffa dalam hati.
Karena malam sudah semakin larut, Bianca kemudian masuk ke kamarnya, sedangkan Daffa kembali masuk ke kamar Arga dan tidur di sofa yang ada di kamar Arga.
**
Malam telah berlalu, berganti pagi. Arga mengerjapkan matanya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing
"Kau sudah bangun?" tanya Daffa yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Daffa, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga yang terkejut dengan keberadaan Daffa di kamarnya
"Apa kau tidak ingat kejadian semalam?"
"Kejadian semalam........"
Arga menggantung kalimatnya, berusaha mengingat kejadian semalam yang seolah terpotong dari memorinya karena ia hanya mengingat saat ia pergi ke bar setelah menemui Karina.
Ia memesan jenis alkohol yang belum pernah ia minum sebelumnya.
"Apa yang terjadi di bar? apa aku......"
"Kau membuat keributan di bar, sekarang aku harus pergi kesana untuk menyelesaikan masalah yang kau buat," ucap Daffa memotong ucapan Arga.
"Benarkah? aku tidak mengingatnya sama sekali!"
"Apa yang sebenarnya membuatmu pergi ke bar? tidak mungkin hanya karena masalah kantor bukan?" tanya Daffa.
"Semalam aku menemui Karina," jawab Arga dengan pandangan kosong.
"Sudah ku duga, apa lagi yang kau harapkan darinya Arga? apa kau tau jika Bianca sangat mengkhawatirkanmu kemarin? dia bahkan menghubungiku untuk menanyakan keadaanmu!"
"Bianca?"
"Temui dia, melihatmu pulang dengan keadaan yang sangat kacau membuatnya sangat khawatir, dia berpikir jika kau pergi ke bar karena masalah kantor," ucap Daffa.
__ADS_1
"Aahhh ya satu lagi, dia membantuku membawamu masuk ke kamar, dia juga melepas sepatumu, tapi dia tidak ingin aku memberi tahumu agar kau tidak memarahinya yang masuk ke kamarmu tanpa izin," lanjut Daffa sambil mengikat dasinya di depan cermin.
"Sangat kekanak-kanakan sekali," ucap Daffa dengan tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari kamar Arga.